Anda di ->Depan : Pusat Artikel : DINAS : Dinas Perkebunan : PENYAKIT LAYU KALIMANTAN PADA TANAMAN KELAPA
 
 
 Menu Utama
 
  Depan
      Sekapur Sirih: KALTENG
  Kategori Info
      Berita
      Bulletin Isen Mulang
      Pemberitahuan
      ASISTEN
      BADAN
      DINAS
      BIRO
      Unit Pelaksana Teknis
      Kantor Penghubung
      Opini Publik
      Good Governance
      KAPET KAKAB
      BULOG Kalteng
      Logo Asli Kalteng
      PERATURAN WEBSITE
      DIREKTORI APPSI
      STAF AHLI GUBERNUR
      PERATURAN
      TPKUPD (Keuangan)
      Masa Ke Masa
      Topographi
      Sosial Ekonomi
      Agama, Adat dan Budaya
      Fasilitas
      Pariwisata
  Gallery
  Forum
  Iklan
  Situs Lama
  Manual Situs
 
 
 
 
Hai Tamu! di sini tempat:
[Mendaftar] [Login]
 
 
 Jejak Bacaan
 
» Tiada Jejak Tercatat!
 
 
 Tampilan
 
Pilih tampilan
 
 
 Modul
 
XML - Sumber Berita
Ceritakan kepada teman Anda tentang situs ini
 
 
 Jajak Mingguan
 
Kalteng menjadi lokasi dunia untuk proyek perintis menjaga paru-paru dunia. Central Kalimantan has been become a world pilot project in protecting the LUNG OF THE WORLD.
 
Most agreable / Sangat Setuju
Agree / Setuju
Moderate / Kurang Setuju
Disagree / Tidak Setuju
Referensi Jajak/Poll Reference
Tampilkan Semua Polling Aktif
 
 
 PENYAKIT LAYU KALIMANTAN PADA TANAMAN KELAPA
 
  •  
  •  

Ceritakan kepada teman Anda tentang situs ini

  • Penulis: DISBUN
  • Di kirim oleh: Disbun
  • diserahkan: 8/2/2008 11:52:55 AM
  • Peremajaan terakhir: 05/08/2008 8:33:25
  • Di baca: 4402 kali
  • Jenis_isi: text/html (27190 Bytes = 0 * 1 MB + 27190 Bytes)
  • Bertempat di: Pusat Artikel : DINAS : Dinas Perkebunan

PENYAKIT LAYU KALIMANTAN PADA TANAMAN KELAPA

(Dr. Ir. J. Sonny Warroka)
 
RINGKASAN
 
Penyakit layu Kalimantan merupakan penyakit berbahaya yang menyerang Kelapa di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Kelapa yang terserang penyakit akan mati dan belum ada yang dapat disembuhkan. Proses kematian tanaman yang terserang penyakit berkisar antara 4 – 31 bulan. Penyakit ini disebabkan oleh Phytoplasma australiensis (16SrXII group) dan Phytoplasma oryzae (16SrXI group). Pola sebaran penyakit pada awalnya cenderung tersebar secara acak satu pohon terserang dalam plot, kemudian menginfeksi pohon yang berada disekitarnya dan membentuk sarang penyakit, dan secara cepat menyerang dan mematikan tanaman adalam plot, sehingga membentuk kelompok-kelompok sarang. Beberapa jenis serangga yang potensial sebagai vektor/penular penyakit layu Kalimantan adalah dari ordo Homoptera seperti Sophonia spp., Idioscopus clypealis, dan Nisia nervosa. Upaya pengendalaian yang dapat dilakukan yaitu dengan menebang dan membakar pohon terserang, membersihkan gulma dipertanaman kelapa, dan menanam kultivar kelapa yang resisten.
 
PENDAHULUAN
 
Kelapa merupakan tanaman perkebunan terluas di Indonesia dibanding tanaman perkebunan lainnya seperti karet dan kelapa sawit. Kelapa menempati 3,7 juta dari 14,2 juta hektar areal perkebunan atau 26% dari total areal.. Sekitar 97% merupakan perkebunan rakyat yang diusahakan secara monokultur, kebun campuran atau perkarangan. Penanaman kelapa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia dengan peran yang berbeda-beda, termasuk pemenuhan kebutuhan sosial dan budaya. Kelapa ditemukan hampir di semua agroekosistem, baik yang dihuni maupun yang tidak dihuni manusia karena penyebarannya juga terjadi secara alamiah. Sumatera merupakan daerah yang terluas pertanaman kelapanya mencapai 1,20 juta ha (32,9%), disusul Jawa seluas 0,90 juta ha (8,2%) Sulawesi 0,72 juta ha (19,3%), kepulauan Bali, NTB, NTT 0,30 juta ha (8,2%), Maluku dan Papua 0,29 juta ha (7,8%) dan Kalimantan 0,28 juta ha (7,5%).
 
Berdasarkan luas areal, perkelapaan di Indonesia menduduki posisi pertama di dunia yaitu mencapai 31,2%, disusul Filipina 25,8%, India 16,04%, Sri Lanka 3,7%, Thailand 3,1% dan negara-negara lainnya 20,04%. Namun bila dilihat dari posisi penghasil minyak kelapa, Indonesia hanya menduduki peringkat kedua, yaitu sebesar 25,5%, peringkat pertama adalah Filipina yang mengahasilkan 41,2% dari total produksi minyak kelapa dunia (Anonim, 2002). Rendahnya produktifitas merupakan resultante dari berbagai faktor, antara lain umur tanaman yang sudah tua, rendahnya tingkat adopsi petani terhadap teknologi pengusahaan kelapa, dan adanya kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit.
 
Tanaman Kelapa adalah tanaman perkebunan yang merupakan salah satu sember lemak nabati yang penting bagi manusia, selain itu dari seluruh tanaman mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Dalam pengembangan tanaman kelapa selalu dihadapkan pada berbagai kendala, diantaranya serangan organisasi pengganggu tanaman (OPT), salah satunya adalah Penyakit Layu. Penyakit Layu Kelapa ini dikenal secara Internasional dengan nama ”Penyakit Layu Kalimantan” (Kalimantan wilt, Warokka, 1999).
 
Penyakit layu Kalimantan merupakan salah satu penyakit berbahaya yang menyerang tanaman kelapa karena setiap pohon yang terserang dipastikan akan mati. Penyakit ini pertama kali dilaporkan ke Balitka Manado pada tahun 1988, menyerang kelapa di Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Kotawaringin Timur. Penyakit ini pertama kali dilihat petani pada tahun 1978. Kerugian yang diakibatkan oleh penyakit ini meningkat terus setiap tahun, disebabkan karena belum adanya pengendalian efektif yang dapat mencegah penyebaran penyakit.
 
Ledakan penyakit layu Kalimantan terjadi di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Sitepu et al, 1988; Varghese dan Sukmaraganda, 1989). Di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan penyakit ini muncul di beberapa desa seperti Samuda Kecil, Palingkau, Sei Ijum, Handil Sohor, Parebok Tengah, Samuda Besar, Parebok Timur, Besawang dan di Kecamatan Pulau Hanaut seperti desa Handil Pala, Kelampan, Bapinang Hilir, Handil Pandan, Bapinang Hilir Laut, Hantipan dan Handil Teguh. Akibat serangan penyakit ini banyak pertanaman kelapa sudah digantikan dengan komoditi lainnya seperti karet dan rotan.
 
Hasil survey yang dilaksanakan Desember 1997, diketahui bahwa penyakit ini sudah meyerang lebih dari 100 ribu pohon, di antaranya lebih dari 47 ribu pohon sudah mati. Persentase serangan penyakit berkisar antara 18,5 sampai 36,1 persen (Warokka dan Jones, 1998). Kematian tanaman dalam jumlah yang banyak telah mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi ekonomi petani karena sebagaian besar menggantungkan hidupnya dari hasil kelapa.
GEJALA PENYAKIT
Gejala penyakit layu Kalimantan pertama pelepah-pelepah daun tua yang paling bawah layu dan mengering, kemudian diikuti daun-daun muda di atasnya, akhirnya seluruh daun dan buah kering mengakibatkan pohon mati. Biasanya daun-daun yang kering menggantung diseputar batang.
Gejala lainnya adalah petiol dari pohon yang terserang patah dekat pangkalnya di ikuti dengan tandan buah. Buah dari pohon yang terserang umumnya menjadi lonjong, di antaranya ada yang hanya berisi sabut, tidak terbentuk tempurung dan daging buah. Proses kematian tanaman kelapa sejak gejala penyakit terlihat berlangsung antara 4 sampai 31 bulan.
Penyakit sejenis layu Kalimantan yang dilaporkan menyerang kelapa di luar negeri seperti Lethal Yellowing, merupakan penyakit berbahaya, pertama kali dilaporkan menyerang kelapa di pantai barat Jamaika tahun 1834. Lethal Yellowing telah mematikan ratusan ribu kelapa dan palma lainnya di Karibia (Jamaika, Hispaniola, Kuba), USA, Meksiko, Belize (Plavsic-Banjac et al., 1972; Robert and Zizumbo, 1990). Sedangkan yang dilaporkan di Afrika adalah penyakit Lethal Disease di Tanzania (Schuiling et al., 1981; Nienhaus et al., 1982), Cape St. Paul Wilt (CSPW) di Ghana (Johnson and Harries, 1976; Dabek et al., 1976), Kaincope disease di Togo (Nienhaus and Steiner, 1976), Kribi diseae di Kamerun (Dollet et al., 1977) dan Awka atau bronze leaf wilt di Nigeria (Ekpo and Ojomo, 1990). Semua penyakit layu yang muncul setelah LY secara kolektif disebut Lathal Yellowing-type diseases (LYD) (Schuiling et al., 1992; Eden-Green, 1993).
PENYEBARAN PENYAKIT
Penelitian untuk mengidentifikasi penyebab penyakit layu Kalimantan menggunakan teknik konvensional diperoleh beberapa patogen seperti bakteri, cendawan, virus, dan soil-borne patogen seperti nematoda tetapi tidak ada yang secara konsisten berasosiasi dengan jaringan tanaman yang terserang penyakit. Oleh karena itu dilakukan identifikasi menggunakan teknik biologi molekuler dengan melakukan ekstraksi DNA, amplifikasi DNA dan analisis RFLP ( restriction fragment length polymorphism).
Hasil penelitian menunjukan bahwa penyebab penyakit layu Kalimantan adalah phytoplasma. Phytoplasma adalah patogen dari golongan prokaryote yang tidak memiliki dinding sel yang hidup sebagai parasit obligat, merupakan organisme paling kecil dan membelah diri secara sederhana. Phytoplasma yang berasosiasi dengan penyakit layu Kalimantan ada dua jenis yaitu Phytoplasma australiensis (16SrXI group) yang menyerang berbagai jenis tanaman di Australia, dan Phytoplasma oryzae (16SrXI group) banyak menyerang padi dan tebu di Thailand dan Papua New Guinea (Warokka, 2005).
Selain menyerang kelapa, phytoplasma dilaporkan telah menyerang lebih dari 35 juta jenis tanaman palma lainnya, termasuk kelapa sawit. Pada kelapa sawit phytoplasma dilaporkan menyerang pertanaman kelapa sawit di Papua New Guinea (Jones and Turner, 1979), India (Babu and Nair, 1993), Kolombia (Alvarez andClalros, 2005). Hingga saat ini phytoplasma diketahui menyebabkan penyakit pada ratusan jenis tanaman dan berasosiasi dengan sejumlah jenis serangga. Phytoplasma biasanya hidup dan menginfeksi jaringan floem tanaman.
PENYEBARAN DAN PENULARAN
Hasil pengamatan dilapangan menunjukan bahwa pola sebaran penyakit pada awalnya cenderung tersebar secara acak satu pohon terserang dalam plot. Kemudian berawal dari pohon terserang terifeksi pohon yang berada sekitarnya dan membentuk sarang penyakit, dan secara cepat menyerang dan mematikan tanaman dalam plot, sehingga membentuk kelompok-kelompok sarang. Setelah sarang-sarang penyakit terbentuk, ledakan penyakit terjadi di seluruh hamparan kebun, dan proses ini akan berlangsung terus dari satu tempat ke tempat yang lain.
Penularan phytoplasma dari tanaman satu ke tanaman lainnya secara alamiah melalui serangga vektor dan umumnya serangga yang sifatnya dapat menusuk dan menghisap dari ordo Homoptera. Hasil penelitian pada penyakit layu Kalimantan diperoleh beberapa jenis serangga wereng (Homoptera) yang positif membawa phytoplasma seperti Shiponia spp., Idioscopus clypealis, dan  Nisia nervosa. Serangga-serangga tersebut kemungkinan sebagai vector penular penyakit layu Kalimantan.
UPAYA PENGENDALIAN
Sampai saat ini phytoplasma belum dapat dikulturkan dalam media tumbuh sehingga penelitian berbagai aspek yang berkaitan dengan pengendaliannnya masih sangat terbatas. Beberapa upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah :
1.     Eradikasi tanaman penyerang
Menebang dan membakar semua pohon yang menunjukan gejala penyakit. Hal ini dilakukan untuk mengilangkan sumber penyakit/patogen dilokasi tanaman kelapa.
2.     Pengendalian gulma
Areal pertanaman kelapa di Kalimantan Tengah berada di daerah pasang surut, di daerah tersebut pertumbuhan rerumputan/gulma sangat cepat dan kompak. Kondisi ini sangat cocok sebagai tempat hidup dan berkembang biak berbagai jenis serangga termasuk serangga-serangga wereng yang dikenal sebagai vektor/penular phytoplasma. Hasil penelitian pengendalian gulma secara mekanis maupun penyemprotan dengan herbisida dapat mencegah munculnya serangan penyakit apabila dilakukan secara berkala tiap dua bulan. Pengendalian gulma bertujuan untuk mengurangi tanaman inang dari serangga vektor.
3.     Kultivar resisten
Untuk jangka panjang penggunaan kultivar resisten merupakan salah satu cara pengendalian yang dapat menekan berkembangnya penyakit tetapi cara ini tidaklah mudah karena harus melalui pengujian lapangan. Pada tahun 2005 Balitka sudah memulai penelitian pengujian resistensi terhadap 35 kultivar kelapa yang dikoleksi dari berbagai wilayah di Indonesia.

 

 
 
 
 
 
Tulisan Lain dari Disbun
 
 
 Artikel/Berita lainnya
 
  - LAKIP 2013
  - LRA 2014
 
 
 Komentar Pembaca
 

Komentar menunjukkan dedikasi kita...
 
 
 
 
Kembali ke Dinas Perkebunan
Kembali ke Depan
 
 
 Statistik Situs
 
Menu Utama Terbagi: [ 65 ] / Jumlah Artikel Dalam Kategori Info: [ 314 ]
Jumlah penyelia lokal terdaftar: [ 2050 ]
Total Pengunjung: [ 19733276 ] /  Pemakai online:  3  / informasi lanjut
 
 
 
 
Pemprov KaltengLama membuka halaman : [0,078125] detik
Gunakan Internet Explorer 6.0, Mozilla Firefox 1.5.0.7!
:: Manual :: Email Administrator ::