Anda di ->Depan : Pusat Artikel : Opini Publik : KEBAKARAN .......KEBAKARAN........ KEBAKARAN...........
 
 
 Menu Utama
 
  Depan
      Sekapur Sirih: KALTENG
  Kategori Info
      Berita
      Bulletin Isen Mulang
      Pemberitahuan
      ASISTEN
      BADAN
      DINAS
      BIRO
      Unit Pelaksana Teknis
      Kantor Penghubung
      Opini Publik
      Good Governance
      KAPET KAKAB
      BULOG Kalteng
      Logo Asli Kalteng
      PERATURAN WEBSITE
      DIREKTORI APPSI
      STAF AHLI GUBERNUR
      PERATURAN
      TPKUPD (Keuangan)
      Masa Ke Masa
      Topographi
      Sosial Ekonomi
      Agama, Adat dan Budaya
      Fasilitas
      Pariwisata
  Gallery
  Forum
  Iklan
  Situs Lama
  Manual Situs
 
 
 
 
Hai Tamu! di sini tempat:
[Mendaftar] [Login]
 
 
 Jejak Bacaan
 
» Tiada Jejak Tercatat!
 
 
 Tampilan
 
Pilih tampilan
 
 
 Modul
 
XML - Sumber Berita
Ceritakan kepada teman Anda tentang situs ini
 
 
 Jajak Mingguan
 
Kalteng menjadi lokasi dunia untuk proyek perintis menjaga paru-paru dunia. Central Kalimantan has been become a world pilot project in protecting the LUNG OF THE WORLD.
 
Most agreable / Sangat Setuju
Agree / Setuju
Moderate / Kurang Setuju
Disagree / Tidak Setuju
Referensi Jajak/Poll Reference
Tampilkan Semua Polling Aktif
 
 
 KEBAKARAN .......KEBAKARAN........ KEBAKARAN...........
 
  •  
  •  

Ceritakan kepada teman Anda tentang situs ini

  • Penulis: Dara Borneo Club
  • Di kirim oleh: Ory
  • diserahkan: 28/01/2007 20:03:57
  • Peremajaan terakhir: 28/01/2007 20:03:57
  • Di baca: 2921 kali
  • Jenis_isi: text/html (46788 Bytes = 0 * 1 MB + 46788 Bytes)
  • Bertempat di: Pusat Artikel : Opini Publik

1. Kilas Balik

Waktu t + 0????

?Kebakaran?., kebakaran??..kebakaran ?, kata Satpam sebuah perusahaan agribisnis, berteriak-teriak di suatu sore, sekitar pukul 17.35.. Dengan tergopoh-gopoh, Asisten Manager Keamanan dan Perlindungan Tanaman menyambar handy talky (HT) dan menanyakan ke Asisten Wilayah ? Kebakarannya di petak berapa?. Dari nun jauh di sana, terdengan suara jawaban ?Kayaknya melihat sumber asap, kebakaran di petak 63?. Dengan serabutan, satgas pemadam kebakaran hutan (Satgas Damkarhut) mengemasi mesin dan alat-alat , kemudian menaruh di mobil Pickup. Untuk mengangkat water pump merk Alcon, dua orang belum terangkat, apalagi postur tubuhnya kecil-kecil, perlu tambahan satu orang lagi. Tak lama kemudian meluncurlah Satgas menuju sasaran?..Ternyata petak 63 yang dikira tempat terjadinya kebakaran, masih aman-aman saja. Ternyata kebakaran terjadi di petak 34, yang jarak datarnya dari petak 63 sekitar 550 m ?saja?, namun karena tidak ada jalan tembus, kendaraan harus melambung dulu kembali ke jalan cabang dan baru dapat masuk ke jalan inspeksi, kemudian menuju petak 34 yang terbakar. Total jarak melambung ini mencapai 2,2 km. Disini terjadi kehilangan waktu 15 menit, yang akibatnya lebih dari 2 hektar tanaman sudah ?gosong?.

Waktu t + 4 jam ???..

Api disana sini masih menyala, walaupun sudah mengecil, karena tertahan di batas guntung (Banjar: sungai/rawa kecil di pinggir-pinggir petak), yang dapat berfungsi sebagai sekat bakar alami. Api juga tertahan di jalan cabang, sebagai sekat bakar buatan. Petak 34 dan 35 dengan luas 74 hektar sudah menjadi korban. Walaupun api masih menyala, bara api masih terlihat di sana-sini, satgas nampaknya sudah menyerah, pasrah, karena kehabisan tenaga dan kebingungan apa yang harus diperbuat. Badan dan wajah mereka penuh jelaga , daun-daunan kering dan lumpur, serta mata merah, berair. Boro-boro mengangkat dan mengoperasikan Water pump ? Alcon, untuk mengangkat badan saja sudah terasa berat. Senjata serbu : kepyok, parang, Alcon, hose , nozzle, dan sebagainya berserakan di dekat tim satgas, yang duduk istirahat di jalan pinggir petak..

Waktu t + 5 jam??..

Atas inisiatif sendiri-sendiri, anggota satgas mulai beringsut-ingsut meninggalkan arena pertempuran. Komandan pertempuran tidak mencegah. Mungkin karena ia tidak mempunyai alasan untuk mencegah atau ia berfikir api toh sudah mulai padam serta tertahan di guntung dan jalan cabang. Komandan pun menyusul meninggalkan tempat pertempuran. Beberapa saat kemudian petak 34 dan 35 menjadi sunyi kembali.

Pagi hari???..

? Pak, kebakaran bukan hanya terjadi di petak 34 dan 35 saja, tapi ternyata petak 32 dan 33 juga terbakar?, laporan Mandor Pemeliharaan kepada Asisten Wilayah. Tenyata api yang dikira sudah ?jinak?, memakan korban lagi.

Kata Kunci

Kata kunci untuk menelaah kejadian tersebut antara lain adalah : segitiga api, managemen bahan bakar, dadakan, presisi, mekanisme kerja, efektifitas alat tempur dan mop-up.

2. Segitiga Api

Kebakaran terjadi bila terpenuhi persyaratan adanya bahan bakar, panas dan udara. Secara teori dengan memotong salah satu unsur tersebut maka tidak akan terjadi kebakaran. Tingkat resiko tersulit memadamkan kebakaran di Indonesia adalah pada saat sekitar pukul 14.00 Karena pada saat itu udara mencapai panas tertinggi, dengan angin yang besar, sehingga potensi kobaran api sangat besar. Oleh Jules Gingras (Canada, konsultan kebakaran di Indonesia), teori ini dikenal sebagai teori 10.00 am, yaitu awal mulai permukaan tanah memanas karena sinar matahari dan mencapai puncaknya pada pukul 02.00 pm.

3. Managemen Bahan Bakar

Dari segitiga api yang dapat direkayasa dan relevan dikendalikan oleh manusia hanya mengurangi dan mengeliminir bahan bakar. Panas dan udara sangat sulit bahkan mendekati mustahil untuk direkayasa oleh manusia. Pada musim kemarau yang panjang, bahan bakar dapat dijumpai di mana-mana, baik pada tanaman yang masih hidup maupun tanaman atau bagian tanaman yang sudah mati. Pada bahan bakar tumbuhan yang sudah kering, tinggi api yang dihasilkan dapat 5 sampai 10 kali tebal bahan bakar tersebut. Misalnya alang-alang/gulma tebal, hasil roundup 3 bulan sebelumnya, kering, dengan tinggi sekitar 1 meter, bila terjadi kebakaran , lidah apinya dapat setinggi 5 meter. Tingginya lidah api ini dapat memicu perubahan kebakaran dari ground fire menjadi crown fire.

Pada kebakaran hutan tahun 1983, pada saat penulis di Kalimantan Timur, hutan dapat membara selama lebih dari 3 bulan. Hal ini dikarenakan bahan bakar yang tersedia sangat melimpah. Kayu-kayu log, pada awalnya sulit terbakar, namun kalau sudah terbakar sulit dipadamkan. Hujan sesaat tidak menjamin api padam, karena api sudah menyusup ke lapisan tengah kayu (berlobang), sehingga air hujan tidak sampai ketempat tersebut.

Menurut Grahame Applegate,et al (CIFOR, 2001), kebakaran di lahan gambut saat ini menyumbang 80 % masalah asap di Indonesia. . Masalah ini dapat dihindari dengan menerapkan kebijakan yang layak dalam penggunaan lahan. Pengendalian kebakaran di gambut, hanya dapat dilakukan dengan tindakan preventif, yaitu mempertahankan atau memperbaiki perendaman permanen. Sekali lahan gambut dibuka, diikuti pembuatan drainase, maka top layer menjadi kering, tidak dapat kembali seperti semula. Oleh karena itu lahan gambut termasuk sebagai ekosistem rapuh (fragile ecosystem). Karena berupa bahan organic, lahan gambut kering ini menjadi sumber bahan bakar yang sangat potensial dengan jumlah melimpah (Pearce 1998; Liew et al,1998 ).

4. Dadakan

Dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan, api diibaratkan sebagai musuh. Semakin dini kebakaran dapat dideteksi , maka semakin tinggi peluang Satgas untuk mengantisipasinya, sehingga kondisi dadakan tidak berlaku lagi. Deteksi dini yang dapat dilakukan pada umumnya menggunakan sistem deteksi melalui menara api dan patroli darat/air.

Pada luasan 1500-2000 ha diperlukan 1 menara api, dengan tinggi sekitar 12-14 meter , jarak pandangan dapat mencapai 3-5 km. Beberapa perusahaan, menggunakan menara api permanen dari besi, dengan ketinggian sekitar 25 meter.

Menara api ini dibuat secara layak, dengan ruang pemantauan diberi dinding transparan, sehingga dapat leluasa memantau lapangan, juga melindungi pemantau dari terpaan angin, udara dingin dan serangan nyamuk. Pada musim kering yang panjang, menara api ini dioperasikan 24 jam. Menara api, patroli darat/air dan posko pengendali (operation room), merupakan satu kesatuan terpadu . Laporan melaui HT/Rig dari menara api dan patroli diolah di Posko untuk menentukan alternatif tindakan lebih lanjut.

5. Presisi

Kesalahan perkiraan penentuan petak/blok yang terbakar dapat diperkecil dengan cara memanfaatkan bidikan Allidade dari sekurang-kurangnya pengamatan dua menara api.

? Posko, Posko, pada azimuth 235 ada asap?, teriak petugas jaga menara A. ? Dari menara B, asap terlihat pada 189?, petugas jaga menara B menimpali. Sejenak kemudian terdengar instruksi dari Posko ? Asap di luar areal tanaman, dekat dengan Petak 123, patroli I segera meluncur ke lokasi untuk tindak pengawasan ?. Demikian gambaran sekilas komunikasi pemantauan kebakaran.

6. Mekanisme Kerja

? Hari ini aku tidak dapat mengawasi LC. Badanku sakit semua, sudah hampir satu bulan jaga api terus?, lontaran keluh kesah Hasan, supervisor LC ke temannya. ? Aku juga, seluruh tenaga dan waktuku habis untuk nangani kebakaran, sampai-sampai urusan keluarga juga terbengkelai?, Koko menimpali.

Apa yang terjadi, bila keadaan ini dibiarkan terus menerus, misalnya musim kemarau panjang sampai 3-4 bulan. Stamina, semangat dan kepedulian satgas terhadap kebakaran menurun, sehingga kinerjanya juga menurun. Pekerjaan pokok seperti persiapan lahan, pembibitan, pemeliharaan, dan sebagainya, tidak mencapai target baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Mekanisme kerja harus disusun sedemikian rupa untuk efektifitas dan efisiensi kerja. Satgas dibentuk, diberi tugas dan wewenang yang jelas sesuai prosedur kerja, jadual kerja jelas, dilatih dengan tepat, dan diberi sarana prasarana yang sesuai dengan tugasnya. Kemudian pimpinan tinggal mengawasi dan mengevaluasi kinerjanya.

Pada musim kemarau yang kering dan panjang, setiap shift, dengan luasan sekitar 4000 ha tanaman, 2 menara api, diperlukan Satgas dengan anggota sekitar 24 orang. Satgas ini terdiri dari crew leader (1 orang), staf Posko (2 orang), pemantau di menara (4 orang, untuk 2 menara), patroli darat/air (5 orang) dan fire fighters (12 orang, termasuk operator kendaraan). Sambil menunggu instruksi, fire fighters stand by di posko atau tempat tertentu lainnya, bisa sambil istirahat, tapi tetap waspada dan siap tempur.

Pada saat terjadi kebakaran, yang turun bertempur adalah fire fighters, dipimpin kepala regu. Bila diperlukan, beberapa petugas patroli dapat membantu fire fighters. Pemantau di menara api tetap ditempat, terus mengamati dan melaporkan keadaan sekitarnya. Crew leader terus memantau dan turut mengendalikan pertempuran yang terjadi dari posko, sambil mewaspadai ancaman kebakaran di lokasi lain.

Dalam prakteknya, agar lebih sinergi dengan komunitas setempat, Satgas Damkarhut sebagian berasal dari penduduk setempat sebagai tenaga kerja musiman.

7. Efektifitas Alat Tempur

Dalam kegiatan pemadaman Satgas memerlukan mobilitas tinggi. Agar dapat bergerak cepat maka peralatan kerja baik yang bersifat regu (misalnya water pump) atau personal use (back pack pump, kepyok dan parang), sedapat mungkin praktis, ringan dan mempunyai daya pukul tinggi.

Sampai tahun 2000 (tidak tahu perkembangan saat ini) portable water pump merk Wajax (ex Canada dan Switzerland) merupakan alat yang sangat disukai oleh fire fighters. Alat ini mempunyai keunggulan antara lain ringan, bisa digendong, pengoperasiannya mudah, daya semprotnya tinggi. Alat ini bermesin 2 tak, bahan bakar premium, bila dioperasikan suaranya seperti Yamaha RX King tanpa sarangan (di dalam knalpot), melengking ringan dan galak. Dengan hose disambung sampai 500 meter dan bercabang dua, pada daerah landai- berombak, alat ini masih mampu menyemburkan air sepanjang 6 meter. Perlengkapan standar alat ini antara lain nozzle berfungsi ganda, sebagai nozzle tembak dan sekaligus dapat diubah sebagai nozzle payung. Nozzle payung sangat penting terutama untuk melindungi fire fighters dari api balik.

8. Mop-up

Kejadian terbakarnya petak 32 dan 34 setelah satgas pulang ke base camp, sebetulnya dapat dihindari bila dilakukan mop-up. Kegiatan mop-up adalah upaya untuk memadamkan sisa-sisa api atau bara api pada areal yang baru saja terjadi kebakaran. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan alat kepyok dan semburan air dari back pack pump. Bila diperlukan dapat ditambah penggunaan water pump untuk memadamkan sisa-sisa api secara tuntas.

9. Penutup

Tulisan ini merupakan refleksi pengalaman sebagai bagian dari Satgas Damkarhut, dengan areal tanaman sekitar 16.000 ha, petak tanaman sudah tertata , aksesibilitas lokasi cukup baik, areal datar sampai berombak. Areal ini dikelilingi semak belukar, ladang masyarakat, dan kandang-kandang sapi/kerbau (ranch tradisional). Masyarakat setiap tahun mempunyai tradisi pembersihan lahan secara bakar, untuk ladang dan ternaknya. Setelah dilakukan pelatihan pengendalian kebakaran hutan pada tahun 1995 oleh Jules Gingras (Canada, konsultan ADB di Indonesia), kejadian kebakaran dapat diminimumkan.

Dalam skala kebakaran yang lebih luas , diperlukan peralatan dan regu kerja yang lebih banyak lagi. Beberapa tambahan equipment yang diperlukan antara lain bulldozer, shovels, water pump besar (160 psi), chainsaw, dll.

Semoga bermanfaat.


 
 
 
 Artikel/Berita lainnya
 
 
 
 Komentar Pembaca
 

Komentar menunjukkan dedikasi kita...
 
 
 
 
Kembali ke Opini Publik
Kembali ke Depan
 
 
 Statistik Situs
 
Menu Utama Terbagi: [ 65 ] / Jumlah Artikel Dalam Kategori Info: [ 314 ]
Jumlah penyelia lokal terdaftar: [ 1995 ]
Total Pengunjung: [ 19562867 ] /  Pemakai online:  1  / informasi lanjut
 
 
 
 
Pemprov KaltengLama membuka halaman : [0,078125] detik
Gunakan Internet Explorer 6.0, Mozilla Firefox 1.5.0.7!
:: Manual :: Email Administrator ::