Anda di ->Depan : Pusat Artikel : DINAS : Dinas Kebudayaan & Pariwisata : MAMPAKANAN SAHUR DAN MAMAPAS LEWU
 
 
 Menu Utama
 
  Depan
      Sekapur Sirih: KALTENG
  Kategori Info
      Berita
      Bulletin Isen Mulang
      Pemberitahuan
      ASISTEN
      BADAN
      DINAS
      BIRO
      Unit Pelaksana Teknis
      Kantor Penghubung
      Opini Publik
      Good Governance
      KAPET KAKAB
      BULOG Kalteng
      Logo Asli Kalteng
      PERATURAN WEBSITE
      DIREKTORI APPSI
      STAF AHLI GUBERNUR
      PERATURAN
      TPKUPD (Keuangan)
      Masa Ke Masa
      Topographi
      Sosial Ekonomi
      Agama, Adat dan Budaya
      Fasilitas
      Pariwisata
  Gallery
  Forum
  Iklan
  Situs Lama
  Manual Situs
 
 
 
 
Hai Tamu! di sini tempat:
[Mendaftar] [Login]
 
 
 Jejak Bacaan
 
» Tiada Jejak Tercatat!
 
 
 Tampilan
 
Pilih tampilan
 
 
 Modul
 
XML - Sumber Berita
Ceritakan kepada teman Anda tentang situs ini
 
 
 Jajak Mingguan
 
Kalteng menjadi lokasi dunia untuk proyek perintis menjaga paru-paru dunia. Central Kalimantan has been become a world pilot project in protecting the LUNG OF THE WORLD.
 
Most agreable / Sangat Setuju
Agree / Setuju
Moderate / Kurang Setuju
Disagree / Tidak Setuju
Referensi Jajak/Poll Reference
Tampilkan Semua Polling Aktif
 
 
 MAMPAKANAN SAHUR DAN MAMAPAS LEWU
 
  •  
  •  

Ceritakan kepada teman Anda tentang situs ini

Upacara Adat Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu di Kabupaten Kotawaringin Timur

ISTILAH MAMPAKANAN SAHUR

Upacara Mampakanan Sahur merupakan warisan agama Hindu Kaharingan yang dilaksanakan untuk memberikan persembahan atau sesajen kepada “Sahur” atau roh-roh gaib. “Sahur” artinya kelompok roh gaib yang mempunyai kekuatan dan kemampuan supranatural, merupakan manifestasi dari kekuasaan Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa) yang disebut “Tampung Sahur Baragantung Langit Tundun Parapah Baratupang Hawun” (Sahur Parapah). Kelompok ini ada yang bersemayam di langit, di bumi dan di bawah bumi/air. Dari sejumlah kekuatan itu masing-masing mempunyai nama di antaranya “Sahawung Bulau” yang bertahta di langit “Jata Kalang Labehu” dan “Naga Galang Petak” yang masing-masing bertahta di air dan di bawah air, serta “Tamanggung Tungku Watu” dan “Kameluh Nyaring Bawin Kalasi” yang berkuasa di bumi.

Di antar roh-roh gaib inilah dikatakan “Patahu” yang melakukan penjagaan terhadap kelestarian kehidupan alam semesta (Patahu Penjaga Lewu). Batu Patahu adalah symbol kekuatan supranatural yang diyakini dapat membantu, melindungi, menolong dan memberi berkah, umur panjang kepada umat manusia secara keseluruhan, khususnya untuk masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur sehingga disebut “Sahur Parapah” Kabupaten Kotawaringin Timur.

Pada intinya upcara ini merupakan syukuran dan menjadi kebiasaan para leluhur suku Dayak secara turun temurun, dengan memberikan persembahan (sesajen) secukupnya dari sebagian hewan kurban berupa ayam, babi, sapi bahkan kerbau serta makanan dan minuman lainnya sesuai kemampuan. Sesajen tersebut diletakkan di suatu tempat yang disebut “Balai Keramat” (Pasah Patahu). Karena diyakini tempat tersebut merupakan tempat kehadiran bahkan tempat bersemayamnya roh-roh gaib. 

 

ISTILAH UPACARA MAMAPAS LEWU

 Upacara ini seyogianya dilaksanakan setiap tahun meskipun dengan istilah tata cara yang berbeda seperti “Mamapas Lewu”, Manyanggar Lewu”, “ Membayar Hajat”, dll.

Mamapas Lewu merupakan manifestasi tatanan kehidupan masyarakat Dayak dalam berinteraksi dengan komunitas sesama, ini merupakan gambaran kehidupan masyarakat dari sejak nenek moyang suku dayak dulu yang memang cinta damai, terbuka, suka brgaul serta dapat menjalin persatuan dan kesatuan (falsafah Rumah Betang) secara utuh.

Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan alam dan lingkungan hidup (Petak Danum) beserta segala isinya dari berbagai sengketa, mara bahaya, sial wabah penyakit (Rutas Pali), untuk menciptakan suasana panas jadi dingin, gerah menjadi sejuk.

Upacara ini juga dapat berkonotasi doa yang dipanjatkan kepada Sang Maha Pencipta agar terciptanya kehidupan yang abadi di muka bumi ini, terhindar dari segala musibah, pertikaian, iri dan dengki, sehingga terciptalah kerukunan dan keharmonisan hidup antar sesame umat manusia dan alam lingkungannya, saling mengasihi, saling menghormati dan saling menghargai antar sesama.

Diharapkan bagi segenap umat manusia dapat menjalin keseimbangan dan kelestarian alam dan lingkungan sekitarnya dengan tidak merusak tatanan habitat alam, flora dan  fauna serta menjaga kelestarian, keseimbangan ekosistem kehidupan yang berkesinambungan.

 

PROSESI MAMPAKANAN SAHUR DAN MAMAPAS LEWU

Kegiatan Upacara Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Pariwisata Kabupaten Kotawaringin Timur bekerja sama dengan Majelis Adat Kabupaten Kotawaringin Timur, telah dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi suatu atraksi budaya yang diharapkan dapat menarik minat para pengunjung.

Prosesi ini diawali dengan penjemputan ”Pisor” (Rohaniwan Hindu Kaharingan) yang akan memimpin seluruh rangkaian upacara satu hari sebelum upacara dilaksanakan. Pada petang harinya Pisor melaksanakan ”Munduk Manawur Tamparan Gawi”. Yang dimaksudkan untuk mengundang roh para leluhur untuk hadir dan memberkati upacara yang akan dilaksanakan sehingga dapat berjalan dengan lancar.

Pada malam harinya, Pisor dan tamu yang hadir manasai, manganjan mabinih keramat (menari mengelilingi Balai Keramat).  Menjelang fajar pada hari puncak, diadakan penyembelihan hewan kurban berupa kerbau/sapi, babi dan ayam. Darah hewan kueban tersebut ditampung untuk dipergunakan pada waktu upacara, sedangkan dagingnya sebagian dimasak untuk ”sesajen” dan selebihnya sebagai hidangan untuk menjamu para tamu yang hadir.

Sesajen yang dipersembahkan untuk para roh diletakkan di suatu tempat yang dinamakan ”Balai Keramat” / ”Pasah Patahu”. Pisor ”munduk manawur” dengan membaca doa-doa yang dipanjatkan dalam bahasa ”Sangiang”, yang pada intinya memohon berkah, rezeki, umur panjang serta kekuatan hidup (Batuah barajaki belum panju panjang kilau pisau tangan tarung, tatau sanang ureh ngalawan kilau asang suhun danum, raja manggigih tingkah lawang baun andau).

Selanjutnya Pisor beserta rombongan berangkat untuk ”Mamapas Lewu”. Media yang dipergunakan untuk mamapas yaitu air yang sudah didoakan dan Daun Sawang yang dipakai untuk memercik-mercikkan air. Mamapas Lewu dilakukan di 3(tiga) bundaran dan diakhiri di Pelabuhan Sampit dengan membuang sisa air ke Sungai Mentaya, ini dimaksudkan untuk membuang segala sial.Rombongan kembali ke tempat upacara dilanjutkan dengan manasai, manganjan mabinih keramat (menari mengelilingi Balai Keramat). Upacara inti berakhir.

 Sebagai penutup seluruh rangkaian upacara, pada keesokan harinya dilaksanakan Upacara Melai Mahaga Palin Gawi dan Manipas Palin Gawi, yang dimaksudkan untuk melepaskan masa pantangan setelah melaksanakan upacara.

 

WAKTU PELAKSANAAN

 Upacara Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu dilaksanakan pada bulan September setiap tahunnya.

 

TEMPAT PELAKSANAAN

 Rangkaian Upacara Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu dipusatkan di Taman Miniatur Budaya Kabupaten Kotawaringin Timur Jl. Jendral Sudirman Km. 3,2 Sampit.

 
 
 
 
 
Tulisan Lain dari gebriely
 
 
 Artikel/Berita lainnya
 
 
 
 Komentar Pembaca
 

Komentar menunjukkan dedikasi kita...
 
 
 
 
Kembali ke Dinas Kebudayaan & Pariwisata
Kembali ke Depan
 
 
 Statistik Situs
 
Menu Utama Terbagi: [ 65 ] / Jumlah Artikel Dalam Kategori Info: [ 314 ]
Jumlah penyelia lokal terdaftar: [ 1996 ]
Total Pengunjung: [ 19565810 ] /  Pemakai online:  2  / informasi lanjut
 
 
 
 
Pemprov KaltengLama membuka halaman : [0,093750] detik
Gunakan Internet Explorer 6.0, Mozilla Firefox 1.5.0.7!
:: Manual :: Email Administrator ::