Anak merupakan titipan Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan bukan semata-mata tugas orang tua tetapi juga peran guru. Kendati demikian, pendidikan tidak hanya bisa didapat di dalam rumah, sekolah melainkan di luar sekolah dalam wujud pendidikan ekstra kurikuler. Dan selama ini, ketiga kegiatan pendidikan tersebut belum maksimal. Untuk memantapakan ketiganya, diperlukan komunikasi yang intensif antara orang tua dan guru.

            Demikian sambutan tertulis Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, SH yang dibacakan Staf Ahli Gubernur bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Hj. Noorhayati pada acara Seminar, Pembinaan Mental Kepribadian Anak yang mengambil tema,”Terbentuknya Kepribadian dan Watak Anak Indonesia Yang Mampu Menciptakan Dirinya Sebagai Kader-Kader Bangsa Yang Berkualitas”., di Aula Jayang Tingang Kantor Gubernur, Kamis (16/12) .Orang nomor satu di Kalteng ini  juga mengungkapkan, seperti yang diutarakan Kak Seto, dunia anak dunia bermain. Ini bisa menjadi satu diantara cara untuk melupakan kegiatan lain yang bersifat negatif.

            Masih menurut orang nomor satu di Kalteng, kecerdasan ada tiga , yakni kecerdasan intelektual, emisional dan spiritual. Kecerdasan intelektual berpengaruh pada kesuksesan hidup hanya sekitar 20%, bahkan ada pendapat lain, kecerdasan ini hanya berepengaruh pada hidup sekitar 8%. Kecerdasan emosional berpenaruh pada kehidupan sekitar 30% sedangkan kecerdasan spiritual sekitar 50% mempengaruhi keberhasilan hidup. Dan ketihga kecerdasan ini harus seimbang. Dengan pembinaan mental yang prima, Indonesia akan jaya, karena generasi penerusnya mempunyai mental yang baik, positif. Untuk itu, Gubernur meminta, agar peran orangtua dan guru lebih dioptimalkan dan disinergikan dalam pendidikan anak.

            Sementara itu, M. Kholik, Kasubag Bina Mitra Polda Kalteng, satu diantara nara sumber dalam kegiatan tersebut meminta, para guru dan pelajar dapat bekerja sama menciptakan situasi kamtibmas melalui organisasi pelajar seperti PKS dan Kepramukaan.  Dia juga berharap, kegiatan yang melibatkan guru dan pelajar selalu melakukan koordinasi dengan POLRI setempat, guna kelancaran kegiatan belajar mengajar, dalam rangka menciptakan sitkamtibmas yang aman dan kondusif.

            R.A. Setyo Hidyowati, Ketua  Yayasan Perlindungan Anak Indonesia Palangka Raya mengungkapkan, perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Untuk itu, negara dan pemerintah berkewajiban serta bertanggung jawab menghormati dan menjamin hak asasi anak tanpa perbedaan.

             Pembinaan mental kepribadian anak jika dipandang dari ajaran agama seperti yang dituturkan, H.Moh. Asbli, S.Sos, MHI dari Kanwil Kementerian Agama Kalteng yakni, orang tua harus mengetahui beberapa kebutuhan kewajiban pokok yang penting untuk pembentukan dan perkembangan anak. Sementara untuk membina mental anak diarahkan kepada empat macam  sasaran pokok, diantaranya, memberikan pandangan hidup sebagai landasan utama, mengisi pengetahuan, baik ilmu agama dan umum, pembinaan akhlakul karimah yang termasuk didalamnya suci, bersih, pemurah adan adil,  mendidik anak menjadi orang yang bertaqwa. Dengan demikian, pendidikan akan lebih berhasil. Karena pada hakekatnya hati anak masih suci, dan tinggal bagaimana cara kita menanganinya.(BIM)

 

Staf Ahli Gubernur Pemerintahan dan Kesejahteraan rakyat, Hj.Noorhayati bersama R.A. Setyo Hidyowati (Ketua YPAI Palangka Raya) dalam Kegiatan pembinaan Mental kepribadian Anak Tahun 2010 Kamis (16/12) (foto.Noval)