IDHUL FITRI DALAM DIMENSI SOSIAL DAN SPIRITUAL 

Oleh

zainul Karoman

Wakil Ketua Umum IWI Daerah Lampung dan Anggota ICMI Orda Kota Bandar Lampung

           

Tinggal 1 hari lagi, umat muslim akan mengakhiri ibadah Shaum 1431 Hijriah.  Ramadhan secara alamiah akan berakhir 1 Syawal 1431 dan tanpa terasa kita sudah memasuki babak ketiga pelaksanaan ibadah puasa. Secara physicly sesungguhnya kita sedang berlatih untuk menggembeleng raga seperti bangun sahur ditengah suasana, yang amat sangat mengantuk. Lalu menahan haus dan lapar pada pagi dan siang harinya.  Secara psikis kita juga menempa mental untuk menahan amarah dan senantiasa bersikap sabar dalam menghadapi situasi apapun di bulan Ramadhan.  

 

Kalau kita umpamakan dalam kehidupan dunia insect atau serangga, maka  puasa yang kita lakukan tak ubahnya seperti berada pada fase pupa atau kepompong dalam proses serangga, itulah yang dikenal dengan

 

Selanjutnya,muncul pertanyaan, apakah output pasca Ramadhan itu? Apa yang menjadi indikator, bahwa seseorang  itu dapat dikatakan sukses dalam menjalani Ramadhan? Bagaimana kita bisa memaknai  Idul Fitri dalam karakter atau pribadi yang baik - hasil sebuah yang menarik bagi Penulis untuk mengekplorasi Idul Fitri dalam dimensi sosial dan spiritual.

 

Payung Hukum Ibadah Shaum?

Dalam Al Qur’an dijelaskan pada surat Al Baqarah ayat 183 Yahayuhalladzi na’amanu, kutiba alaikum mushiam. Kamma kutiba alalladzi namin kublikum la’alalakum tataqun. Ayat tersebut merupakan instruksi Allah secara langsung kepada hambaNYA untuk menjalani ibadah Shaum.  Allah menciptakan dua belas bulan dalam setahun dan hanya satu bulan, insan manusia menjalani ibadah puasa dan hanya untuk KU, kata Allah. Tentu instruksi itu ada maksudnya.  Karena Allah langsung yang akan memberi evaluasi kepada setiap hambaNYA yang menjalankan ibadah puasa. Dalam surat tersebut  ada hal penting, yang dapat digaris bawahi bahwa puasa itu hukumnya wajib bagi setiap muslim dan  hanya diperuntukan bagi orang-orang yang beriman. Jadi  bukan sembarang individu yang dapat  melakukan ibadah puasa. Karena seruannya Yahayuhalladzi dan bukan yahuyannas. Tujuannya sangat jelas untuk membentuk pribadi yang Taqwa.   Lalu bagaimana indikator orang yang ber taqwa itu ?

 

Karakter individu yang terlahir pada  saat Idul Fitri

Idul Fitri secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu hari,manusia kembali pada fitrahnya. Fitrah dapat dipahami sebagai sebuah stadium dimana nurani manusia mencapai titik kesucian. Pada hari yang fitri, manusia diibaratkan lahir kembali dengan segala bentuk kepolosannya, laksana awal ia menatap dunia. Ramadhan beserta ibadah Shaum adalah media pergulatan guna mencapai kefitrian tersebut. Sehingga Idul Fitri adalah momen kemenangan dari perjuangan spiritual yang berat yang dijalankan umat Islam selama Ramadhan.

Jika puasa dipahami sebagai media mencapai kemenangan berupa kefitrian. Ini artinya bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, juga diperlukan perjuangan serupa demi tergapainya semua cita-cita kebangsaan dan kenegaraan.  Namun mengapa? Setelah Ramadhan, kasus korupsi tidak cenderung menurun, tetapi sebaliknya. Bahkan kasus perampokan semakin merajalela dibulan suci. Apa yang salah dengan puasa kita? Dalam hal ini,diperlukan sebuah perjuangan keras, yang itu harus dilakukan secara konsisten dan dalam waktu yang tidak sebentar. Karena jika cita-cita tersebut tercapai, itu artinya bahwa sebuah bangsa dan negara mencapai tingkat kefitrian.

Perjuangan untuk mencapai itu, harus dilakukan serentak dalam segala dimensi,mulai dari dimensi sosial -kemasyarakatan, politik, budaya dan juga pada tataran spiritual. Momen idul fitri sebagai titik awal bagi  kita untuk memulai langkah guna memberikan sumbangsih bagi tercapainya kefitriaan pada tingkat bangsa dan negara. Dan itu dapat dilakukan, hanya cukup dengan berusaha untuk menjadi sosok individu berbangsa dan bernegara yang senantiasa menjaga kefitriaan.

Idul Fitri dalam dimensi sosial dapat dicermati dari karakter yang melahirkan perilaku yaitu Alladzina yunfiqu fiss sorrooi waddhorohi, artinya orang siap menafkahkan  sebagian rizkinya dalam keadaan lapang dan sempit. Jadi tidak tergantung yang namanya bulan tua dan muda. Kemudian Wal kazhimiinnal ghoizho wal aafin aninas yaitu orang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan sesama. Selain itu, masing-masing individu telah menanggalkan segala bentuk dendam, perangai buruk dan sentimen masa lalu, guna senantiasa manatap masa depan serta berorientasi pada kebersatuan dan kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara.

 

Rekonsiliasi dan konsolidasi dimulai dari sebuah tingkat kefitrian atau kesuciaan.

Selanjutnya dalam dimensi spiritual Idul Fitri memberi makna yaitu dzalikal kitabullah ghoiba fihi hudalil muttaqin. Alladzi nayu’minu nabil ghoibi wa yuqimus sholata wamima rozaqna hum yunfiqun. Yaitu orang yang meyakini tidak ada keraguan pada Kitabullah (Al Qur’an) yang merupkan petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Lalu percaya kepada yang Ghaib  dan mendirikan sholat sebagaimana petunjuk Rasulullah.  

Demikia tulisan yang dapat disajikan mudah-mudahan, dapat memberi manfaat dan pencerahan bagi kita semua. Insja Allah, IWI Daerah Lampung dan ICMI akan menampilkan yang terbaik bagi masyarakat. Terima Kasih.