Festival Seni Budaya Isen Mulang, representase seni budaya Dayak dan kultur pembauran dijiwai semangat Bhinneka Tunggal Ika Indonesia. Agenda seni budaya tahunan di Propinsi Kalimantan tengah yang selalu dilakukan dalam kesederhaan dan jauh dari kehidupan glamour.

 

Jadilah diri Anda sendiri dan temukanlah khazasah budaya dan seni tradisonal khas Dayak Kalimantan Tengah pada sekitar Bulan Mei setiap tahunnya di Palangka Raya.

 

Isen Mulang is an Art and Cultural Event Calendar, it is the representation of the Dayak art and culture, it is also the blending of Indonesian art and culture under the spirit of Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity). It is an annual agenda in Central Kalimantan province that is always conducted in the spirit of simplicity and away from the glamorous living.

 

Be yourself and let’s go to discover the unique world of art and traditional culture of Dayak in Central Kalimantan at  the month of May  every year in Palangka Raya city, the capital of central Kalimantan Province - Indonesia.

 

City Map.

Link to the Palangka Raya web site.

 

Kalimantan Tengah (Central Kalimantan) is in the centre of Borneo Island. It is the o­ne of Indonesian provinces. In comparison to the other provinces of Indonesia, this province is relatively in backward of the physical development stages. However, it has been a place of peaceful and lovely place for living. Geologically its area is far away from many natural disaster effects such as earthquakes / tsunami, land slides and others. The problem of smog during long summer days is o­nly a temporary of extreme cause to affect the small portion of the most of natural living style of local community. This area has been able to be stable and recover from an internal ethnical riot in year 2001.

 

Central Kalimantan is still the o­ne of largest area of Indonesian provinces. It has been number four among the provinces of Papua Barat, Papua and East Kalimantan.

The province was borne as the result of reorganization of Indonesian provinces in Kalimantan. It used to be a part of South Kalimantan Province.

 

Most of the land of the province is still mysterious, Southern part in general is cover by peat land and tidal areas. Across to the North, the landscapes come to the mountainous area of the Muller Schwanner mountain belt. This also is still to be a mysterious place for people.

 

Capital of the province is Palangka Raya. This city is in the centre from the all districts in the province. There is no so much different level of the development stages between the province and the districts; instead many of districts have been able to achieve a relatively bigger progress of development than the province, such as district of Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat and Barito Utara. This is caused by the leading position of Palangka Raya in the centre of province to bring about better simultaneous growing stages to the hinterland areas. Nowadays, inhabitants of this province are o­nly about 12 percent per square kilometers and they are multi ethnic and multi cultural from all over Indonesian. However the first native inhabitant is the Dayak tribes.

 

Whenever you take a look from the window of a plane to the land surface of Central Kalimantan, you have to find a way to disclose the almost forever silvery clouds in the blue sky that always cover sky of the “Isen Mulang” (or no retreat land). If it is enable, with a curious and distinctive effort, at first, you may be able to have a look to the almost virgin and silent shoreline of the province in the beach of Java Sea along 750 kilometers, there the downstream of big rivers comes to the end as just look like the head of big dragon in a never ending body. There are 11 big rivers and thousands of tributaries and small rivers. By the time you will see the hearth of Central Kalimantan, the province’s capital of Palangka Raya that lied down almost in the centre of Borneo Island.

 

Palangka Raya is a small city that has been created from nothing, as a result of grand design of Republic of Indonesia in the earlier time of Indonesian independence. The city was erected by the first President of Indonesia, Mr. Soekarno in togetherness with Mr. Tjilik Riwut and the local leaders of native people of Dayak. However, the city has been built hand in hand by almost all of the peoples of Indonesian. This is the o­nly o­ne of first city that has been planned and built from nothing in Indonesia. The city can be said as a nice gift of the earlier time of Indonesian independence that is in 1957.

 

Palangka Raya city can bee seen as a corner stone of a city development in Indonesia, because it was borne as the result of the fruit of Indonesian independence. It is from nothing to anything.

This is the o­ne reason for annually event in the city has been arranged in an annual festival of Art and Culture of Dayak that is so called Isen Mulang Festival. This is an agenda of art and culture of the traditional Dayak tribes and their cultural blending to the outsides of their world.

 

The festival is of course, away from glamorous utopia art and culture dreams. This is o­nly a representation of the native original simplicity of the tribal living of Dayak in the natural harmony and the philosophy of Indonesian Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity). This event is seldom and may be stranger for outside world, but we are exist and reachable for all who want to have in touch. …… So let’s go to discover Central Kalimantan in Palangka Raya through Isen Mulang Art and Cultural Festival. Come to the “the lung of the world” and the home of “orang hutan”, the most exotic and closer big ape or primate to human being.

 

Kalimantan Tengah yang masih tertinggal pembangunan fisiknya dibandingkan berberapa daerah di Indonesia, sejauh ini merupakan tempat yang cukup damai dan tentram. Secara geologis ancaman bencana alam gempa bumi / tsunami tanah longsor atau banjir besar belum pernah terjadi di daerah ini. Persoalan kabut asap yang terjadi pun hanya bersifat temporer dan dalam kemarau yang amat ekstrim saja. Wilayah ini telah mampu memulihkan diri dari masalah internal etnisitas yang dahulu pernah terjadi. Kalimantan Tengah sekarang masih merupakan Propinsi terluas nomor 4 (empat) di Indonesia setelah Papua Barat, Papua, dan Kaltim.

 

Propinsi ini lahir dari penataan kembali Propinsi di Kalimantan, di mana dahulunya propinsi ini merupakan wilayah Kalimantan Selatan. Lahan Kalteng sebagian besar masih misterius, pada bagian Selatan pada umumnya adalah rawa-rawa dan gambut dan makin ke utara menanjak menuju jajaran pegunungan Muller Schwaner yang sampai sekarang juga masih misterius.

 

Ibu kota propinsi Palangka Raya terletak di tengah-tengah seluruh ibu kota Kabupaten atau berada di titik sentral semua ibu kota Kabupten yang ada di Propinsi ini. Pembangunan daerah antara Propinsi dan Kabupaten berlangsung dalam derajad yang hampir sama, bahkan beberapa Kabupaten telah lebih cepat berkembang dibandingkan Propinsi sendiri, seperti Kotawaringin Timur, Barito Utara dan Kotawaringin Barat. Hal ini dimungkinkan karena letak strategis kota Palangka Raya di tengah Propinsi yang membuka peluang tumbuhnya wilayah-wilayah secara simultan. Propinsi ini di huni oleh hampir seluruh anak suku bangsa yang ada di Indonesia sekitar 12 orang per kilometer persegi dan mereka “multi etnis” dan multi budaya. Namun di sana masih hadir etnis awal yaitu suku Dayak.

 

Apabila anda melihat dari jendela pesawat ke permukaan daratan Kalteng, anda harus menyibak awan keperakan yang selalu berarak di atas bumi “Isen Mulang”. Dari atas sana dengan seksama dan teliti, anda akan melihat garis pantai Propinsi Kalimantan Tengah di Laut Jawa sejauh 750 km yang masih sunyi sepi dan muara sungai-sungai besar seolah kepala ular naga yang tanpa ujung. Ada 11 sungai besar dan ribuan cabang dan anak sungai. Pada saatnya Anda akan menemukan jantung Kalimantan Tengah ibu kota Propinsi Palangka Raya hampir berada di tengah-tengah Pulau Kalimantan.

 

Kota Palangka Raya adalah kota yang lahir dari suatu grand desain asli Republik Indonesia, yaitu kota ini di bangun oleh prakarsa Presiden RI pertama Bapak Soekarno bersama dengan tokoh-tokoh putera daerah yang diwakili oleh Bapak Tjilik Riwut. Kota yang di bangun oleh beragam tangan kebersamaan anak suku bangsa. Inilah satu-satunya kota pertama yang direncanakan dan di bangun dari tiada. Kota yang dapat dikatakan lahir dari buah tangan di masa-masa awal kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1957.

 

Kota Palangka Raya dapat dikatakan sebagai tonggak sejarah pembangunan kota bagi Indonesia, karena kota ini dilahirkan melalui buah tangan kemerdekaan dari tiada menjadi nyata. Di kota inilah secara teratur setiap tahunnya diadakan secara sederhana Festival Seni Budaya Dayak “Isen Mulang”. Agenda seni budaya yang merepresentasikan sebagian kecil khazasanah seni budaya tradisional suku Dayak dan akulturasi budaya masyarakatnya dengan masyarakat pendatang yang lainnya.

 

Festival ini jauh dari khayalan utopis glamour seni budaya. Hanya sebuah cerminan orisinalitas kehidupan anak bangsa yang sederhana dan bersatu dalam harmoni alam dan Bhinneka Tunggal Ika Republik Indonesia. Jarang terdengar dan dipromosikan, namun kami eksis dan terjangkau oleh semua orang yang berkeinginan menyentuhnya. So let’s go to discover Central Kalimantan in Palangka Raya through Isen Mulang Art and Cultural Festival. Come to the “the lung of the world” and the home of “orang hutan”, the most exotic and closer big ape or primate to human being.


Inilah keunikan pakaian dan gaya penari tradisional Kalteng.

Kalimantan Tengah merupakan Daerah yang potensial kegiatan pariwisata, seni dan budaya. Berbagai jenis potensi wisata alam seperti satwa langka orang-hutan, hutan hujan tropis yang masih alamiah, air terjun / riam yang masih alami, danau-danau yang masih alami, 11 sungai yang panjang dan lebar ditepinya ditumbuhi hutan tropis yang menghijau dengan faunanya yang kadang-kadang dengan mudah dilihat ketika melewati aliran sungai menggunakan perahu.

Berbagai jenis torehan budaya tradisional seperti tarian, pemakaman kuno, tempat-tempat keramat, pakaian adat, rumah adat, kerajinan rakyat, pusaka dan lain-lainnya masih merupakan potensi sumber daya yang terpendam dan belum banyak diketahui masyarakat lainnya.

Pengelolaan Pemerintah Daerah masih amat terbatas, mengingat kegiatan wisata, seni dan budaya itu memerlukan berbagai infrstruktur penunjang, apabila ingin dijadikan komoditas menggali pendapatan bagi masyarakat dan daerah.



Komentar menunjukkan dedikasi kita...

Mari Berpartisipasi


Ikut berpartisipasi dengan mengirimkan artikel maupun berita sangat diharapkan demi kemajuan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.

Namun sebelumnya Anda harus melakukan login/mendaftar terlebih dahulu sebagai User.

Login Mendaftar Manual