KOTA PALANGKA RAYA

 

 

Link up to date, data kota Palangka Raya: http://www.palangkaraya.go.id

Peta Wilayah Kota Palangka Raya (administrasi dan penggunaan lahan). Untuk peta berikut, agar dibesarkan (zoom) untuk dapat dlihat lebih jelas.Kota Palangka Raya adalah salah satu dari 14 Daerah otonom Kalimantan Tengah di mana ibu kota Kalimantan Tengah berada. Kota ini apabila di lihat dari atas / dari pesawat terbang akan seolah-olah berada dikerimbunan hutan rimba Kalimantan dan ditepi sungai besar yang berkelok-kelok. Terbangun di tepi Sungai Kahayan. Palangka Raya terdiri dari dua Kecamatan yaitu Pahandut dan Bukit Batu (sebelum otonomi daerah tahun 2001), sekarang terdapat 5 (lima Kecamatan). Kota Palangka Raya merupakan kota terbesar luasnya di Indonesia yaitu 2.400.000 hektare. Sebagian arealnya masih ditutupi hutan. Hutan di kota ini mencakup hutan berfungsi lindung 17.594 hektare meliputi 2.061 hektare Konservasi Alam, 389 hektare Taman Nasional Tangkiling dan lainnya areal konservasi alam di Marang.

 

T.T. Suan (Januari 2001) seorang wartawan senior Kalteng menulis dalam Kalteng Pos: SEJAK 1 Januari 1957 di Banjarmasin dibentuk kantor persiapan pembentukan propinsi Kalteng dan penunjukkan Gubernur Kalteng RTA Milono selaku Gubernur Pembentukan Propinsi Kalteng itu. Telah dimulai perencanaan pembangunan jalan-jalan, terusan/kanal, dermaga, pelabuban dan lapangan terbang. Pahandut telah dipilih sebagai ibukota dan oleh pemerintah pusat untuk tahap pertama pembangunannya, disediakan biaya/dana sebesar Rp 25 juta (harian pagi nasional Yogyakarta edisi 23 April 1957). Panitia kerja mencari nama bagi ibukota Kalteng telah berhasil serta disetujui oleh pemerintah pusat, namanya Palangka Raya. Pembangunan kota Palangka Raya dilaksanakan oleh tenaga bangsa Indonesia sendiri. Akan dibangun jalan dari Palangka Raya menuju Kasongan-Sampit-Pangkalan Bun-Sukamara (ke arah Barat), ke Pulang Pisau-Kuala Kapuas terus ke Banjarmasin (ke arah Selatan) dan ke Kuala Kurun-Muara Teweh-Puruk Cahu -Ampah­Buntok (ke arah Utara dan Timur) dan lain-lain jurusan.

Pembangunan lapangan terbang mulai di Palangka Raya. Pada tahap pertama "kota terbangun" seluas 10 kali 10 km, "isinya" berupa pembuatan jalan-jalan, berbagai gedung/ perumahan, fasilitas jasa seperti jaringan distribusi telepon, instalasi listrik, instalasi air minum dan lain-lain (Tjilik Riwut Kalimantan Memanggil 1958 halaman (174).

Memulai pelaksanaan pembangunan kota Palangka Raya dan daerah Kalimantan Tengah dihadapi serba keterbatasan serta rasa kesulitan berupa: kekurangan tenaga trampil, ketiadaan dana/biaya, ketiadaan prasarana/sarana dan fasilitas kerja, sedangkan wilayah sangat luas dengan alamnya yang dahsyat dan jumlah penduduk sangat sedikit.

"Aset awal" yang menonjol yang dimiliki, 11 buah sungai besar/panjang berfungsi sebagai prasarana transportasi di perairan. Jalan darat hanya ada sepanjang kurang lebih 40 Km (Ampah-Tamiang Layang) sambungan dari Kalsel, adalah jalan peningggalan zaman Belanda. Dalam keadaan yang demikian serta keterbatasan dan kekurangan itu, "berjalan beriring" menyertai semangat pembangunan lapangan terbang dan lain-lain dibayang-bayangi "rasa" pesimistis yang bisa-bisa berupa hanya angan-angan. Sungguh, hanya berbekalkan semangat, ikrar bersama seluruh peserta pertemuan akbar, yang dicetuskan dalam Kongres Rakyat Kalteng pertama; 2-5 Desember 1956 di Banjarmasin. Cetusan tekad disertai semboyan Isen Mulang meningkatkan harkat dan martabat Rakyat Indonesia di Daerah Kalteng....

 

KLIK ARSIP

INFORMASI KOTA PALANGKA RAYA

 

Kecamatan Pahandut terdiri dari 8 Desa dan satu wilayah adat / kedamangan. Bukit Batu terdiri dari 10 Desa dan satu desa adat (data sebelum otonomi daerah 2001). Lihat data baru ke situs Kota Palangka link tersebut di atas.

Kota Palangka Raya adalah kota yang amat khas, pada pusat kota lahannya didominasi pasir kuarsa putih. Pembangunan kota dimulai oleh Presiden pertama RI DR. Ir. Soekarno pada tahun 1957 (UU Darurat No. 10/1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah). Setelah persiapan dan perjuangan berat, maka pada tanggal 23 Mei 1957 Propinsi Kalimantan Tengah dicetuskan para tokoh masyarakat dan diresmikan oleh Presiden Soekarno dan ditetapkan beribu kota Pahandut yang kemudian berubah menjadi Palangka Raya (tempat yang suci dan besar). Kota Palangka Raya di bangun dari hutan belantara yang di buka melalui Desa Pahandut di tepi Sungai Kahayan. Desa Pahandut sekarang ini menjadi bagian pinggiran kota Palangka Raya di tepi Sungai Kahayan.

Sisa-sisa "makam keramat" yang konon tidak dapat dipindahkan karena setiap kali akan di bongkar selalu menimbulkan berbagai bencana kepada pihak yang ingin membongkarnya, tetap tinggal lestari di halaman depan gedung DPRD Propinsi Kalimantan Tengah yang megah. Di kota ini pula terletak ruang rahasia Presiden pertama RI yang saat ini kurang terpelihara karena berada di bawah tanah.

Sejak Tahun 2001, di tengah kota Palangka Raya terbangun jembatan Kahayan yang melintasi sungai Kahayan sepanjang 640 meter dengan konstruksi baja Australia. Lengkung busur berwarna kemerahan pada bagian atas jembatan memberi ciri khas jembatan besar ini yang akan menghubungi beberapa Kabupaten di Kalimantan Tengah. Jembatan besar ini diresmikan langsung oleh Presiden RI Megawati Soekarno Putri pada tanggal 18 Januari 2001.

Kota Palangka Raya dengan posisi sentralnya menjadi titik magnetik pemerintahan Daerah. Kota yang amat jauh dari pesisir laut Jawa ini memberikan harapan bagi terciptanya simpul utama pembangunan Daerah Kalimantan Tengah yang menuju ke daerah terpencil wilayah ini.

Pusat Pemerintah yang dahulunya di sebut Kotamadya Palangka Raya yaitu Perkantoran Kotamadya Palangka Raya mengalami kebakaran hebat pada tahun 1999. Hampir seluruh Kantor Dinas dan Instansi lainnya musnah terbakar. Pada Tahun 1998 dan 2000 terjadi kebakaran pada dua bagian dari kota ini, yaitu pada pusat permukiman penduduk yang menyebabkan 20.000 orang kehilangan rumahnya.

Kota Palangka Raya terdiri dari permukiman penduduk terapung dan di atas tanah. Perumahan terapung ini di bangun di tepi Sungai Kahayan yang sekarang ini menjadi salah satu tempat bagi masyarakat untuk berternak ikan secara alami pada sungai air tawar.

Masalah transportasi antara desa yang ada di kota Palangka Raya masih terjadi karena buruknya kondisi jalan perdesaan, terutama desa sekitar wilayah aliran Sungai Rungan. Pembangunan transportasi yang lamban dari awal pembangunan kota ini dikarenakan memang kondisi Kalteng yang terbelakang dalam pembangunan infrastruktur fisik dan dana yang ada amat minim.

Wilayah administrasi pemerintahan tidak hanya mencakup wilayah perkotaan, melainkan juga kawasan perdesaan yang dominan dengan hutan dan semak belukar. Kota Palangka Raya bukan merupakan kota industri, karena dominan di huni oleh pegawai negeri sipil yang menyelenggarakan pemerintahan Daerah. Para investor masih belum memandang kota ini menjadi tempat investasi, karena sulitnya transportasi menjangkau jarak dalam tingkat ekonomi yang masih mahal.

Namun dengan fungsinya sebagai pusat pemerintahan Kalteng, prospek pembangunannya lebih baik dibandingkan ibu kota propinsi yang berada di pesisir, karena memungkinkan kota ini dalam jangka panjang membentuk dan menjadi titik tumbuh pembangunan jalur transportasi yang berimbang antara dan dengan seluruh Kabupaten di Kalimantan Tengah.