Kelautan dan Perikanan

 

 

 Pada tahun 2001 produksi mencapai 94.256,3 ton, mengalami kenaikan 2.918,4 ton atau 3,19% dari tahun 2000 sebesar 91.337,9 ton. Konsumsi ikan penduduk Kalimantan Tengah pada tahun 2001 masih dapat dipertahan, yaitu 40 kg/kapita/tahun, yang berarti masih jauh di atas rata-rata konsumsi ikan/kapita/tahun Nasional, yang pada tahun 2000 hanya sebesar 26,5 kg/kapita/tahun.

        Perdagangan antar pulau komoditi hasil perikanan pada tahun 2001 tercatat sebanyak 34.525kg dengan nilai sebesar Rp 925.937.500,00. Dibandingkan dengan tahun 2000 terdapat kenaikan sebesar 14.436 ton (70,67%) dengan nilai Rp46.687.500,00 (5,31%). Selain itu, diantarpulaukan sebanyak 986.500 ekor ikan hias botia dengan nilai Rp986.500.000,00. Sedangkan ekspor dalam bentuk udang beku dari  PT Ujung Timur, Kumai, sebesar 42.130 kg dengan nilai Rp1.999.446.500,00 Ekspor udang beku mengalami penurunan 67,63% dibandingkan dengan tahun 2000, dengan nilai Rp5.062.914.360,00 (71,69%). Penurunan ekspor udang beku diakibatkan oleh resesi ekonomi nasional yang berkepanjangan.

 

         Program tahun 2001

         Program pembangunan yang dilaksanakan pada tahun  2001 meliputi :

(1)  Program pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan

(2)  Program konservasi sumberhayati perikanan

(3)  Program pengembangan kelembagaan, sentra produksi budidaya dan pemasaran hasil perikanan

(4)  Program peningkatan kualitas sumberdaya aparatur perikanan.

 

               Program-program tersebut diatas dilaksanakan melalui kegiatan pembangunan yang pada tahun 2001 meliputi antara lain :

               (1)    Pemberdayaan nelayan di desa pantai

               (2)    Intensifikasi budidaya tambak dan mina padi

               (3)    Pemberdayaan petani budidaya karamba dan jaring apung

               (4)    Pengembangan produksi perikanan perairan umum

               (5)    Peningkatan produksi budidaya air tawar

               (6)    Pelaksanaan program manajemen mutu terpadu

               (7)    Pengembangan sumberdaya manusia perikanan

               (8)    Pengembangan sarana dan prasarana perikanan

               (9)    Pembinaan kelompok petani nelayan dan kelembagaan

               (10)  Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan laut

               (11)  Pelestarian dan perlindungan sumberdaya perikanan

               (12)  Penyempurnaan statistik perikanan.

 

         c)  Kondisi awal tahun  2001

Kondisi pada awal tahun 2001, pada saat kegiatan-kegiatan dari program pembangunan tersebut mulai dilaksanakan, gambaran dari keadaan produksi, ekspor dan perdagangan antar pulau komoditas hasil perikanan, konsumsi ikan dan kelembagaan perikanan serta penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dapat dikemukakan sebagai berikut :

(1) Produksi perikanan.

Produksi perikanan Kalimantan Tengah sampai akhir tahun 2000 baru mencapai 91.337,9 ton, yang terdiri dari produksi  perikanan  laut sebesar 53.017,5 ton dan produksi perikanan darat (perair­an  umum)  sebesar  36.421,1  ton  dan produksi budidaya sebesar  1.899,3 ton.

(2)  Konsumsi ikan

Dari jumlah konsumsi  ikan pada akhir tahun 2000 mencapai 72.948,6 ton yang berarti konsumsi ikan perkapita/tahun penduduk Kalimantan Tengah sebesar   40 Kg. Jumlah konsumsi ikan secara keseluruhan setiap tahunnya selalu meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi.

(3)   Perdagangan antar pulau dan ekspor

Perdagangan  antar pulau komoditas hasil perikanan sampai dengan akhir tahun 2000 mencapai 20.425 Kg dengan nilai sebesar Rp. 879.250.000,- sedangkan dari jenis ikan hias jenis Botia diantar pulaukan sebanyak 975.000 ekor dengan nilai sebesar  Rp. 975.000.000,-  kemudian  ekspor  dalam bentuk udang beku sebanyak 130.141,60 Kg dengan nilai Rp. 7.062.387.800,-

(4)   Kelembagaan perikanan

Keberadaan kelembagaan   perikanan   seperti Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Balai Benih Ikan (BBI) dan Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP), sebenarnya sangat diharapkan perannya untuk menunjang perkembangan usaha para petani/nelayan namun pada kondisi awalnya peran tersebut masih sangat kurang.

(5)   Penerimaan PAD

Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari  sub  sektor kelautan dan perikanan  yang dipungut melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi sampai dengan akhir tahun 2000 tercatat sebesar Rp. 9.877.500,- atau 109,86 % dari target semula sebesar Rp. 9.000.000,- Untuk   tahun 2001 penerimaan PAD ditargetkan sebesar Rp. 12.500.000,-

 

d)   Realisasi

Sebagai hasil dari pelaksanaan kegiatan yang tertuang dalam program pembangunan perikanan Kalimantan Tengah pada tahun 2001, yang nampak dalam perkembangan realisasi produksi, perdagangan antar pulau dan ekspor, konsumsi ikan serta kelembagaan perikanan dapat dijelaskan dengan data sebagai berikut :


 

(1)  Produksi perikanan.

Produksi perikanan Kalimantan Tengah pada akhir tahun 2001 tercatat sebesar 94.256,3 ton, yang terdiri dari produksi  perikanan laut sebesar 55.911,3 ton dan produksi perikanan darat (perair­an umum)  sebesar  36.447,1  ton  serta hasil budidaya mencapai  1.897,9 ton.

 

(2)  Konsumsi ikan

Jumlah konsumsi  ikan penduduk Kalimantan Tengah pada akhir tahun 2001 tercatat sebesar 75.727,96 ton, dengan demikian berarti konsumsi ikan rata-rata perkapita pertahun masih dapat dipertahankan yaitu sebesar   40 Kg/kapita/tahun.

(3)   Perdagangan antar pulau dan ekspor

Volume perdagangan  antar pulau komoditas hasil perikanan sampai dengan akhir tahun 2001 tercatat sebanyak 34.525 Kg, dengan nilai sebesar Rp. 925.937.500,- selain itu diantar pulaukan juga sebanyak 986.500 ekor ikan hias botia dengan nilai sebesar  Rp. 986.500.000,-  sedangkan ekspor dalam bentuk udang beku dari PT.Ujung Timur Kumai sebesar 42.130 Kg dengan nilai Rp. 1.999.446.500,-

(4)   Kelembagaan Perikanan

Untuk menunjang perkembangan usaha perikanan di Kalimantan Tengah pada tahun 2001, maka kelembagaan perikanan yang ikut berkiprah untuk menunjang usaha tersebut dan masih operasional terdiri dari PPI sebanyak 2 buah, Pelabuhan Perikanan Pantai 1 buah serta beberapa buah BBI yang tersebar di Kalimantan Tengah yakni di Kabupaten Kapuas 4 buah, Kota Palangka Raya 2 buah, serta di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kotawaringin Barat masing-masing 1 buah, kemudian LPPMHP 1 buah di Palangka Raya.

(5)   Realisasi Penerimaan PAD

           Sampai dengan akhir tahun 2001 tercatat realisasi penerimaan PAD  yang dipungut melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Kalimantan Tengah sebesar Rp. 15.387.500,- atau 123,10 % dari target yang direncanakan semula sebesar Rp. 12.500.000,-

 

e)  Penilaian antara Program dan Realisasi

        Berdasarkan  gambaran dari kondisi awal tahun 2001 dan realisasi yang dapat dicapai pada akhir tahun 2001 sebagaimana yang telah dilaksanakan diatas, maka dapatlah dilakukan evaluasi atas keberhasilan ataupun kelemahan/kekurangan dalam pelaksanaan program pembangunan perikanan yang telah ditetapkan.

        Adapun keberhasilan maupun kegagalan didalam mencapai sasaran dari program pembangunan perikanan Kalimantan Tengah pada tahun 2001 dan alasan-alasan mengapa sasaran tersebut dapat terealisir demikian dapatlah dijelaskan sebagai   berikut :

(1)  Produksi perikanan.

Produksi perikanan Kalimantan Tengah tahun 2001 mencapai 94.256,3 ton, hal ini mengalami kenaikan sebesar 2.918,4 ton atau 3,19 % dari tahun 2000 yang hanya sebesar 91.337,9 ton. Kenaikan produksi tersebut ysebagai akibat dari kenaikan produksi tangkap perikanan laut yang mencapai 55.911,3 ton (5,45 %), perikanan darat (perairan umum) mencapai 36.447,1 ton (0,07 %) walaupun produksi dari usaha budidaya menurun sebesar 1,4 ton (0,07 %) karena hanya mencapai 1.897,1 ton saja.

Menurunnya produksi dari usaha budidaya ini karena berkurangnya unit usaha yang melakukan budidaya sebagai akibat dari relatif mahalnya harga pakan dan masih kurang tersedianya benih ikan bagi para petani ikan dimaksud.

 

(2)   Konsumsi ikan

Konsumsi  ikan penduduk Kalimantan Tengah pada tahun 2001 masih dapat dipertahankan yaitu sebesar 40 Kg/kapita/tahun, yang berarti masih jauh diatas rata-rata konsumsi ikan perkapita/tahun nasional yang pada tahun 2000 hanya sebesar 26,5 Kg/kapita/tahun.

Namun diakui bahwa penyebaran konsumsi ikan pada semua daerah tidak merata, terutama pada daerah pedalaman terasa masih kurang, sehingga produksi ikan guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat masih diperlukan seiring dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi.

(3)   Perdagangan antar pulau dan ekspor

Volume perdagangan  antar pulau komoditas hasil perikanan pada tahun 2001 mencapai 34.861 Kg dengan nilai sebesar Rp. 925.937.500,- hal ini berarti ada kenaikan sebesar 14.436 ton (70,67 %) dan nilainya naik sebesar Rp. 46.687.500 (5,31 %);  selain itu baik volume maupun nilai perdagangan antar pulau dari ikan hias botia mengalami kenaikan sebesar 1,18 % jika dibandingkan tahun 2000.

Untuk volume ekspor  udang beku pada tahun 2001 mengalami penurunan sebesar 88.011,6 ton (67,63 %) sedangkan nilainya menurun sebesar Rp. 5.062.914.360 (71,69 %) jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2000.

Penurunan baik volume maupun nilai dari ekspor dalam bentuk udang beku dari PT. Ujung Timur Kumai pada tahun 2001 ini sebagai akibat resesi ekonomi nasional yang berkepanjangan dan pasokan bahan baku yang sangat kurang sehingga pengiriman ekspor ke manca negara juga semakin berkurang.

(4)  Kelembagaan perikanan

Kelembagaan perikanan seperti PPI, TPI, BBI, Pelabuhan Perikanan Pantai, LPPMHP, yang semula sangat diharapkan perannya untuk menunjang perkembangan usaha petani/nelayan dan para pengusaha yang bergerak dibidang perikanan pada tahun 2001, namun karena keterbatasan biaya operasional maka perannya masih belum optimal, sehingga hal ini masih memerlukan perhatian dimasa mendatang dalam melengkapi sarana dan prasarana dengan penyediaan pembiayaan yang memadai agar dapat operasional dan memberikan kontribusi secara lebih optimal.

(5)  Penerimaan PAD

Perkembangan penerimaan PAD dari sub sektor kelautan dan perikanan setiap tahunnya selalu menunjukan peningkatan, dimana realisasi penerimaan yang dipungut melalui Dinas Kelautan dan Perikanan selalu melebihi target dari yang ditetapkan semula pada setiap tahun anggaran.

Sasaran/target penerimaan PAD tahun 2001 sebesar 12.500.000,- naik sebesar 38,89 % dari target tahun 2000 dan realisasinya pada akhir tahun 2001 mencapai Rp. 15.387.500,- atau 123,10 %.

Penerimaan PAD ini diharapkan dapat meningkat lagi pada tahun-tahun mendatang dengan operasionalnya secara lebih baik dari beberapa kelembagaan perikanan yang merupakan sumber untuk tempat  pemungutan retribusi guna mengintensifkan penerimaan PAD.

 

f)  Permasalahan dan Rencana Penanggulangan

(1)  Permasalahan yang dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan Pembangunan sub sektor kelautan dan perikanan Perikanan antara lain adalah :

(a)  Kegiatan budidaya ikan air tawar :

̃    Relatif mahalnya harga pakan ikan,karena didatangkan dari luar Kalimantan Tengah.

̃    Kurang tersedianya benih ikan secara kuantitatif maupun kualitatif.

̃    Kekeruhan air sungai tertama pada musim kemarau mengakibatkan di beberapa daerah aliran sungai terpaksa menghentikan kegiatan budidaya.

 

(b)   Kegiatan budidaya ikan di tambak (air payau) :

̃    Relatif mahalnya harga pakan                           

̃    Belum adanya Balai Benih Udang (BBU) sehingga untuk pemenuhan kebutuhan benih ikan bandeng dan udang masih didatangkan dari pulau Jawa.

̃    Panjang jaringan irigasi/saluran tambak belum memadai.    

̃    Sarana/prasarana yang belum memadai                    

̃    Lemahnya permodalan, pengetahuan dan ketrampilan petani ikan.

(c)  Kegiatan penangkapan ikan :

                            Penangkapan di laut :

̃    Mahalnya harga suku cadang dan bahan alat perika­nan serta armada perikanan nelayan di Kalimantan Tengah sebagian besar  masih berkekuatan   0 - 5 GT

̃    Lemahnya permodalan, pengetahuan dan  ketrampilan nelayan

    Penangkapan di perairan umum :

̃    Menurunnya kualitas perairan akibat adanya pence­maran  limbah  industri dan  rumah  tangga  serta kegiatan penambangan emas yang menggunakan  bahan air  raksa  (mengandung merkuri)  yang  berbahaya bagi kesehatan.

̃    Masih  adanya  cara-cara  penangkapan  ikan  yang menggunakan bahan-bahan beracun dan listrik.

(2) Rencana penanggulangan

        Dalam rangka untuk memenuhi komsumsi ikan dan  meningkat­kan pendapatan petani / nelayan  serta  membuka  lapangan kerja/usaha dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :

 

 

(a)  Pengembangan usaha budidaya yang meliputi :

̃       Usaha budidaya ikan di karamba/jaring apung di  per­airan umum.

̃       Usaha budidaya ikan di kolam.

̃       Usaha budidaya ikan dan udang di tambak 

̃       Mengoptimalkan fungsi BBI sebagi unit penghasil benih  dan mengembangkan UPR-UPR ditiap Kabupaten/Kota.

̃       Membangun Balai Benih Ikan Pantai  (BBIP) agar tidak lagi ada ketergantungan dengan pasokan benur dari luar propinsi (P.Jawa).

̃       Memperpanjang saluran tambak di daerah pertambakan yang potensial dan didaerah kawasan sentra produksi.

̃       Membudidayakan  beberapa jenis ikan lokal. 

(b) Pengembangan penangkapan ikan.

̃    Membangun PPI/TPI di daerah Bahaur untuk memberikan fasilitas/kemudahan bagi para nelayan untuk memperoleh es dan menjual hasil tangkapannya di TPI dan menjual langsung ke Palangka Raya.

Dengan memperhatikan produksi perikanan di  perairan umum  dari tahun ke tahun yang cenderung menurun, maka untuk  menanggulangi  hal tersebut di  lakukan upaya-upaya yaitu :

̃    Membangun Reservaat (Suaka Perikanan)                                   

̃    Mengadakan Restocking  jenis-jenis ikan yang telah menunjukkan  gejala kepunahan.                               

̃    Mengadakan  upaya   penyuluhan   kepada  semua     lapisan masyarakat untuk memelihara kelestarian     perairan (Sumberdaya Ikan).

Upaya-upaya  tersebut diatas perlu terus dilanjutkan  dan ditingkatkan terutama dalam pengembangan teknologi  budi­daya perikanan di Kalimantan Tengah.

a.  Program Tahun 2002

Program pembangunan Sub Sektor Kelautan dan Perikanan yang dilaksanakan pada tahun 2002 meliputi :

1).  Program Pengelolaan dan Pengembangan Pemanfaatan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan.

a).     Pengembangan sarana dan prasarana perikanan.

b).    Peningkatan usaha budidaya perikanan.

c).     Pengembangan teknologi pasca panen.

d).    Pengembangan keanekaragaman produksi, ketersediaan, distribusi dan konsumsi ikan.

 

2).  Program Pengawasan, Pengendalian dan Konservasi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan.

a).     Pemantapan rencana tata ruang pesisir.

b).    Penguatan Institusi dan aparat penegak hukum.

c).     Pengembangan sistem pengawasan dan pengendalian sumberdaya kelautan dan perikanan.

d).    Rehabilitasi kawasan pesisir, laut dan pulau-pulau kecil.

 

3).  Program Pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi Kelautan dan Perikanan.

a).     Pengembangan statistik perikanan.

b).    Pembuatan multi media profil potensi investasi lestarian dan perlindungan sumberdaya perikanan

c).     Pengembangan SIMKANAS (Sistim Informasi Perikanan Nasional)

 

4).  Program Peningkatan Kualitas Sumberdaya Aparatur Perikanan.

a).     Peningkatan kualitas sumberdaya aparat perikanan.

b).    Peningkatan ketrampilan dan penge-tahuan nelayan/pembudidaya ikan.

 

Dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut diatas terdapat dua sumber pembiayaan yaitu APBN Murni dan APBD Propinsi, yang tertuang dalam pembiayaan melalui beberapa proyek yaitu :

a.  APBD Propinsi :

·        Proyek Pembinaan dan Pengembangan Perikanan Kalimantan Tengah Tersebar di 6 (enam) Kab/Kota yang bersumber dari APBD Propinsi dengan pembiayaan sebesar Rp. 1.200.000.000,-

 

b.  APBN Murni :

·        Proyek Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kalimantan Tengah, dengan jumlah dana sebesar Rp. 970.088.000,-

·        Bagian Proyek Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tangkap dengan jumlah dana sebesar Rp. 1.193.350.000,-

·        Bagian Proyek Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Budidaya dengan jumlah dana sebesar Rp. 1.996.001.000,-

·        Bagian Proyek Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dengan jumlah dana sebesar     Rp. 847.411.000,-

 

b.  Kondisi awal tahun 2002

 

Kondisi pada awal tahun 2002 yang terdiri dari produksi perikanan, konsumsi ikan, perdagangan antar pulau dan ekspor, komoditas hasil perikanan, penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pelayanan perizinan dan kelembagaan perikanan dapat dikemukakan sebagai berikut :

 

1).        Produksi Perikanan

Produksi perikanan Kalimantan Tengah sampai akhir tahun 2001 mencapai 94.256,3 ton, yang terdiri dari produksi perikanan laut sebesar 55.911,31 ton,  produksi perikanan darat (perairan umum) sebesar 36.447,1 ton dan produksi budidaya sebesar 1.897,9 ton.

 

2).        Konsumsi Ikan

Dari jumlah konsumsi ikan pada akhir tahun 2001 mencapai 75.727,96 ton yang berarti konsumsi ikan perkapita/tahun penduduk Kalimantan Tengah sebesar 40 Kg. Jumlah konsumsi ikan secara keseluruhan setiap tahunnya selalu meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk.

 

3).        Perdagangan Antar Pulau dan Ekspor

Perdagangan antar pulau komoditas hasil perikanan sampai dengan akhir tahun 2001 mencapai 34.525 Kg dengan nilai sebesar Rp. 925.937.500,-. Sedangkan dari jenis ikan hias jenis biotia diantar pulaukan sebanyak 986.500  ekor dengan nilai sebesar Rp. 986.500.000,-  kemudian ekspor yang dilakukan melalui pelabuhan Pontianak (Kalimantan Barat) dalam bentuk udang beku sebanyak 42.130 Kg dengan nilai Rp. 1.999.446.500,00

 

4).        Penerimaan PAD

Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sub sektor kelautan dan perikanan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi sampai dengan akhir tahun 2001 tercatat sebesar Rp. 15.387.500,00 atau 123% dari target semula sebesar Rp.12.500.000,00. Tahun 2002 penerimaan PAD ditargetkan sebesar Rp.25.000.000,00

 

5).        Pelayanan Perizinan Usaha Perikanan

Dalam rangka menunjang pengembangan usaha dibidang perikanan, maka perizinan usaha perikanan yang telah diterbitkan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi sampai dengan akhir tahun 2001 sebanyak 39 buah.

 

6).        Kelembagaan Perikanan

Keberadaan kelembagaan perikanan seperti Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Balai Benih Ikan (BBI) dan Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) sebenarnya sangat diharapkan perannya untuk menunjang perkembangan usaha para petani/nelayan namun pada kondisi awalnya peran tersebut masih sangat kurang.

 


 

c.   Realisasi

 

Sebagai hasil dari pelaksanaan kegiatan yang tertuang dalam program pembangunan perikanan Kalimantan Tengah pada tahun 2002, yang nampak dalam perkembangan realisasi produksi, konsumsi ikan, perdagangan antar pulau dan ekspor, Penerimaan PAD, Pelayanan Perizinan Usaha Perikanan dan kelembagaan perikanan dapat dijelaskan sebagai berikut :

 

1).  Produksi Perikanan

Produksi perikanan Kalimantan Tengah pada akhir tahun 2002 tercatat sebesar 95.286,64 ton, yang terdiri dari produksi perikanan laut sebesar 56.373,56 ton,   produksi perikanan darat (perairan umum) sebesar 36.080,88 ton dan hasil budidaya mencapai 2.832,20 ton.

 

2).  Konsumsi Ikan

Jumlah konsumsi ikan penduduk Kalimantan Tengah pada akhir tahun 2002 tercatat sebesar 94.166,47 ton, dengan demikian berarti konsumsi ikan rata-rata perkapita pertahun masih dapat dipertahankan yaitu sebesar 48,36 Kg/kapita/tahun.

 

3).  Perdagangan Antar Pulau dan Ekspor

Volume perdagangan antar pulau komoditas hasil perikanan sampai dengan akhir tahun 2002 tercatat sebanyak 89.841,5 Kg, dengan nilai sebesar   Rp. 1.621.620.247,00 selain itu diantar pulaukan juga sebanyak 157.304 ekor ikan hias botia dengan nilai sebesar Rp. 98.000.750,00 sedangkan ekspor dalam bentuk udang beku dari PT.Ujung Timur Kumai melalui pelabuhan di Pontianak Kalimantan Barat sebesar  63.510 Kg dengan nilai  Rp. 1.543.175.000,00

 

4).  Realisasi Penerimaan PAD

Sampai dengan akhir tahun 2002 tercatat realisasi penerimaan PAD melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Kalimantan Tengah sebesar Rp. 18.360.000,00 atau 73,44 % dari target yang direncanakan semula sebesar Rp. 25.000.000,00

 

5).  Pelayanan Perizinan Usaha Perikanan

Izin Usaha Perikanan yang diterbitkan sampai dengan akhir tahun 2002 sebanyak 23 buah atau mengalami penurunan sebesar 41 %.

 

6).  Kelembagaan perikanan

Untuk menunjang perkembangan usaha perikanan di Kalimantan Tengah pada tahun 2002, maka kelembagaan perikanan yang ikut berkiprah untuk menunjang usaha tersebut dan masih operasional terdiri dari PPI sebanyak 1 buah, BBI Sentral di Barito Selatan dan 10 (sepuluh) buah BBI Lokal yang tersebar di Kabupaten/Kota serta Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) 1 buah di Palangka Raya.

 

7).  Pelestarian dan Pengawasan Sumberdaya Perairan.

Dalam rangka menjaga dan memelihara kelestarian Sumberdaya ikan serta untuk mengendalikan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya di Kalimantan Tengah telah dilaksanakan beberapa langkah antara lain sebagai   berikut :

a).     Menetapkan danau-danau penyangga sebagai suaka perikanan yang telah ditetapkan melalui Keputusan Gubernur dan Keputusan Bupati/Walikota dalam sistem yang disebut reservaat.

b).    Tindakan penegakan hukum sebanyak 2 Kasus yaitu kasus penyetruman ikan dengan hukuman 5 bulan penjara sebanyak 8 orang dan 5 bulan penjara sebanyak 7 orang.

 

d.  Penilaian antara Program dan Realisasi

 

Berdasarkan gambaran dari kondisi awal tahun 2002 dan realisasi yang dapat dicapai pada akhir tahun 2002 sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, maka dapatlah dilakukan evaluasi atas keberhasilan ataupun kelemahan/ kekurangan dalam pelaksanaan program pembangunan perikanan yang telah ditetapkan.

 

Adapun hasil yang dicapai dari sasaran program pembangunan perikanan Kalimantan Tengah pada tahun 2002 dapat dijelaskan sebagai berikut :

 

1)        Produksi perikanan

Produksi perikanan Kalimantan Tengah tahun 2002 mencapai 95.286,64 ton, hal ini mengalami kenaikan sebesar 1.581,29 ton (1,69 %) dari tahun 2001 yang hanya sebesar 93.705,35 ton . Kenaikan produksi tersebut sebagai akibat dari kenaikan produksi tangkap perikanan laut yang mencapai 56.373,56 ton (0,83 %), walaupun pada saat yang sama hasil tangkapan di perikanan darat (perairan umum) menurun yaitu hanya mencapai 36.080,88 ton (-1,0) % dan adanya kenaikan dari produksi usaha budidaya yang mencapai 2.832,20 ton (32,65 %).

2)        Konsumsi ikan

Konsumsi ikan penduduk Kalimantan Tengah pada tahun 2002 mengalami peningkatan sebesar 48,36 kg/kapita/tahun, yang berarti masih jauh diatas rata-rata konsumsi ikan perkapita/tahun nasional yang pada tahun 2002 hanya sebesar 29 kg/kapita/tahun. Namun diakui bahwa penyebaran konsumsi ikan pada semua daerah tidak merata, terutama pada daerah pedalaman terasa masih kurang, sehingga produksi ikan guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat masih diperlukan seiring dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi.

 

3)        Perdagangan Antar Pulau dan Ekspor

a).     Perdagangan antar pulau pada tahun 2002 masing-masing adalah hasil perikanan sebesar 99.020 Kg dengan nilai sebesar Rp. 1.674.960.247,00 ikan hias botia 357.304 Ekor dengan nilai Rp.168.000.750,00 dan udang beku sebesar 27.122 Kg dengan nilai Rp.813.660.000,00 Sehingga keseluruh-an berjumlah  126.142 Kg dan 357.304 ekor dengan nilai  Rp. 2.656.620.997,00

b).    Ekspor udang beku melalui pelabuhan Pontianak sebesar 63.510 Kg dengan nilai Rp. 1.543.175.000,00 Sehingga demikian volume dan nilai keseluruhan produk komoditas perikanan sebesar 189.652 Kg, 357.304 ekor dengan nilai Rp. 4.199.795.997,00. Dibandingkan dengan tahun 2001, sebesar 76.655 Kg dengan nilai Rp. 2.925.384.000,-terdapat kenaikan sebesar  112.997 Kg (147,41%) dan kenaikan nilai sebesar Rp. 1.274.411.997(43,56%).

 Lanjut ......