TANAMAN PANGAN & HORTIKULTURA

  Realisasi luas panen padi pada tahun 2001 adalah 155.796 Ha atau 105,1% dari angka sasaran 148.725%. Produksi padi mencapai 382.012 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau 96% dari sasaran program 395.896 ton. Sedangkan produktivitas padi pada tahun 2001 sebesar 2.493 kg/ha atau mengalami kenaikan 3,1% dibandingkan tahun 2000. Didalam perhitungan angka total produksi beras tahun 2001 sebanyak 246.280 ton, maka kekurangan beras untuk Kalimantan Tengah tahun 2001 sebesar 19.067 ton, sedangkan pada tahun 2000 kekurangan beras 23.383 ton.

         Masih rendahnya tingkat produksi, produktivitas dan luas panen khususnya komoditi padi, antara lain diakibatkan oleh lemahnya kemampuan modal petani dalam pengadaan saprodi, masih lemahnya manajemen pemanfaatan alsintan, masih belum intensifnya pembinaan usaha tani oleh para penyuluh, dan masih tingginya tingkat kehilangan hasil pada proses panen dan perlakuan pasca panen.

     Untuk mengatasi permasalahan tersebut, antara lain diupayakan :

a.     Mengoptimalisasi pemanfaatan lahan melalui Peningkatan Mutu Intensifikasi (PMI) dan Perluasan Areal Tanaman (PAT);

b.     Menyelenggarakan pelatihan pengelolaan alsintan dan meningkat- kan penyuluhan dan bimbingan alsintan;

c.      Meningkatkan kinerja penyuluh;

d.     Memagangkan petani ke daerah yang lebih maju untuk mempelajari proses produksi sekaligus pemasaran hasil.

 

Program Tahun 2001 

Dalam menyelenggarakan tugas pokok dan fungsi di bidang Sub Sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kalimantan Tengah Tahun 2001 di impelementasikan dalam 2 program utama, yakni Pengembangan Agribisnis dan Peningkatan  Ketahanan Pangan, yang mengacu pada pola dasar dan Propeda dengan tujuan :

1.      Meningkatkan ketersedian produksi Tanaman Pangan utama khususnya padi, jagung, dan kedelai dalam rangka memperkuat Ketahanan Pangan di daerah.

2.      Mendorong pengembangan sentra produksi unggulan daerah berskala ekonomi yang berbasis agribisnis.

3.      Meningkatkan pendapatan petani pangan dan kesempatan kerja dipedesaan.

 

Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, maka sasaran program utama produksi komoditas pangan tahun anggaran 2001, di Propinsi Kalimantan Tengah ditetapkan sebagai berikut:

-     Produksi padi   395.896 ton,  dengan luas panen   175.107  ha.

-     Produksi jagung   28.667 ton,  dengan luas panen   11.671  ha

-     Produksi Kedelai   8.095  ton,  dengan luas panen   7.753   ha

-     Produksi ubikayu 106.548  ton,   dengan luas panen  9.842  ha.

-     Produksi ubijalar 8.222  ton,   dengan luas panen  1.086    ha

-     Produksi kacang tanah 1.748 ton,   dengan luas panen  1.850  ha

-     Produksi kacang hijau 541  ton,   dengan luas panen  717  ha

-     Produksi sayuran 79.153  ton,   dengan luas panen  37.870  ha

-     Produksi buah-buahan 103.974  ton,   dengan luas panen 20.589  ha

 

Kebijaksanaan yang ditempuh dalam upaya peningkatan ketahanan pangan dan pengembangan agribisnis tersebut ditetapkan sebagai berikut :

(1)       Peningkatan ketersedian produksi pangan dan hortikultura  dalam rangka memperkuat ketahanan pangan daerah.

(2)       Mendorong berkembangnya sentra produksi unggulan daerah berskala ekonomi yang berbasis agribisnis.

(3)       Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani serta memperluas kesempatan dan kesejahteraan petani serta memperluas kesempatan kerja dan berusaha di pedesaan.

(4)       Berkembangnya usaha agribisnis di Sub Sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura, baik itu melalui kemitraan, wirausaha, maupun pola usaha kerjasama lainnya antara pelaku agribisnis.

Sedangkan sasaran yang ingin dicapai dari 2 program tersebut dalam tahun 2001 adalah :

(1)       Program Pengembangan Agribisnis  :

-    Meningkatnya produktivitas, kualitas dan produksi komoditas yang dapat dipasarkan sebagai bahan baku industri pengolahan  maupun ekspor.

-    Meningkatnya kesempatan kerja produktif di pedesaan pada on-farm dan off-farm  memberikan nilai tambah.

-    Perkembangnya berbagai kegiatan usaha berbasis pertanian dengan wawasan agribisnis yang mampu memberikan keuntungan yang wajar.

-    Lebih melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan agribisnis dan memajukan perekonomian di pedesaan.

-    Terpeliharanya produktivitas sumber daya alam, berkembangnya usaha pertanian konservasi dan terjaganya kualitas lingkungan hidup.

 

(2)  Program Peningkatan Ketahanan Pangan:

v     Meningkatnya produksi dan ketersediaan beras secara berkelanjutan dan komsumsi pangan sumber sumber karbohidrat non beras dan pangan sumber protein.

v     Meningkatnya keanekaragaman dan kualitas konsumsi pangan masyarakat.

v     Meningkatnya skor mutu pola pangan harapan dan berkurangnya keluarga rawan pangan dan gizi.

v     Berkembangnya teknologi produksi pertanian dan pengolahan bahan pangan.

v     Berkembangnya kelembagaan pangan yang partisipatif.

v     Meningkatnya produktivitas dan kualitas pangan yang dipasarkan

v     Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan

 

b)                             Kondisi Awal Tahun 2001

Pada akhir tahun 2000 kondisi luas Produksi, Luas Panen dan produktivitas tanaman pangan dan hortikultura masing-masing ; padi 362.630 ton dari luas panen 161.616 ha dengan produktivitas 22,44 ku/ha, jagung 9.962 ton dari luas panen 6.262 ha dengan produktivitas 15,91 ku/ha, kedelai 4.719 ton dari luas panen 4.719 ha dengan produktivitas 10,00 ku/ha, ubi kayu 106.805 ton dari luas panen 9.655 ha dengan produktivitas 110,62 ku/ha, ubi jalar 13.952 ton dari luas panen 2.059 ha dengan produktivitas 87,76 ku/ha, kacang tanah 2.355 ton dari luas panen 2.369 ha dengan produktivitas 9,94 ku/ha, kacang hijau 68.681 ton dari luas panen 610 ha dengan produktivitas 7,57 ku/ha, buah-buahan 15.837 ton dari luas panen 21.591 ha dan sayur-sayuran 68.681 ton dari luas panen 7.335 ha.

Kemampuan penyediaan pangan utama (beras) tahun 2000 sebesar 217.780 ton. Dengan dasar perhitungan penduduk Kalimantan Tengah pertengahan tahun 2000 sebesar 1.804.925 jiwa, maka kekurangan beras masih sebesar 23.383 ton.

Untuk mendukung pelaksanaan program pembangunan pertanian tanaman pangan  dan hortikultura selama tahun anggaran 2001, perkembangan berbagai  masukan (input)  yang telah dilaksanakan dapat dijelaskan sebagai berikut :

(1)  Proyek pendukung dari APBN dan APBD untuk memfasilitasi  pencapaian sasaran program tersebut untuk tahun anggaran  2001 di Propinsi Kalimantan Tengah terdiri dari 11 (sebelas) proyek APBN, dengan nilai Rp. 6.929.992.000,- dan 3 (tiga) proyek APBD I dengan nilai Rp. 700.000.000 -. Dalam proyek APBN Tahun Anggaran 2001 tersebut  terdapat 2 (dua) bagian Proyek Pemberdayaan Kelembagaan Pangan di Pedesaan Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kapuas (dana ABT) yang besar dananya  Rp. 2.910.545.000,- diterima pada bulan September 2001.

(2)    Jumlah tenaga pembina dan Pelaksana Pembangunan Pertanian TPH terdiri dari tenaga struktural dan fungsional dimana sebagian besar telah ditingkatkan pendidikannya melalui program D III, S1 dan  S 2. Jumlah tenaga pembina dan pelaksana sebanyak 269 orang terdiri dari struktural 213 orang, Penyuluh Pertanian  2  orang,  Pengamat Hama 35 Orang,  Pengawas Benih  19 orang, dan keberadaanya tersebar di 5  Kabupaten dan 1  Kota serta di Balai Benih.

(3)    Kelompok tani sebagai pelaku utama  pembangunan pertanian di lapangan tercatat sebanyak 3.788 kelompok tani , dan kelas kelompok tani tersebut didominasi kelas pemula 2.638  kelompok  (69,64 %), selain itu terdapat kelompok tani yang spesifik antara lain UPJA , Kelompok Wanita Tani, Taruna Tani  dan P3A.

(4)    BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) sebagai pusat pembangunan pertanian dan pusat kegiatan penyuluhan pertanian, dari 85 Kecamatan tercatat ada  53 buah BPP.

(5)       Tersedianya Kredit Ketahanan Pangan (KKP) sebesar  Rp. 611.000.000,-  dan  kredit Pengadaan Pangan Rp. 511.000.000,-.

(6)        Paket teknologi spesifik lokalita telah tersedia, baik untuk teknologi padi, palawija dan hortikultura. Beberapa varietas  baru yang sesuai untuk lokasi pasang surut dan lahan kering telah diperbanyak, dan sebagian besar telah disalurkan kepada daerah sentra-sentra produksi unggulan.

 

Dari pelaksanaan pengembangan agribisnis dan peningkatan ketahanan pangan tahun 2001 beberapa Kelompok keluaran yang cukup menonjol dapat disampaikan sebagai berikut :

(1)        Pengembangan pemanfaatan mekanisasi pertanian berupa alat dan mesin pertanian antara lain traktor 205 unit, power threser 200 unit, dryer 80 unit, rice mill 83 unit, peralatan/mesin pengolahan hasil lainnya 15 unit, yang telah disediakan pada tahun 2000, pemanfaatannya pada tahun 2001 menunjukkan adanya peningkatan mencapai 10 % sehingga membantu petani dalam percepatan pengolahan lahan dan pengolahan hasil.

(2)        Pemanfaatan lahan pasang-surut dan lahan kering dapat ditingkatkan masing-masing lahan pasang 1.885 ha dan lahan kering 100 ha, melalui kegiatan :

-     Pembuatan/rehap saluran, pematang dan jalan usahatani

-     Bantuan perbaikan saluran irigasi desa/handel

-     Pembuatan/perbaikan tata air mikro lahan pasang surut

-     Pembuatan jalan usahatani/pematang/drainase lahan lebak

-     Pembersihan dan pembuatan guludan lobang tanam lahan kering


 

(3)    Berkembangnya profesionalisme (peningkatan SDM) petani/kelompok tani dalam hal pemanfaatan alat dan mesin pertanian.  Dalam tahun 20001 telah terbentuk/terbina 345 kelompok (9872 anggota) usaha pelayanan jasa alat dan mesin pertanian (UPJA) : 534 orang operator, dan 168 orang tenaga mekanik.

(4)    Adanya peningkatan keanekaragaman produksi, konsumsi dan menurunnya ketergantungan pada pangan pokok beras serta meningkatnya konsumsi pangan lokal non beras (ubi kayu, jagung, sukun, pisang dan lain-lain)

(5)        Unit ľunit sentra unggulan baik padi, palawija dan hortikultura dapat terbina sejak produksi sampai dengan pengolahan hasil/pemasaran, khususnya diwilayah Kawasan Sentra Produksi yaitu di Sampit-Samuda, Kapuas dan Ampah.. Dengan berkembangnya sentra-sentra produksi tersebut mendorong terbentuknya Sub Terminal Agribisnis dan Terminal Agribisnis.

 

c)                             Penilaian Antara Program dan Realisasi

Evaluasi pelaksanaan program Tanaman Pangan dan Hortikultura yang meliputi aspek produksi, luas panen, produktivitas dan kemampuan penyediaan pangan utama (beras) dan kemampuan penerapan teknologi dengan alat dan mesin pertanian serta kemanfaatannya dapat dijelaskan sebagai berikut :

 

(1)    Produksi

Berdasarkan angka Sementara Daerah,  realisasi perkembangan produksi tanaman pangan utama di Kalimantan Tengah tahun 2001 tercatat sebagai berikut :

Produksi padi mencapai 382.012 ton gabah kering giling (GKG) atau 96,00 % dari sasaran program sebesar 395.896 ton,  kedelai 5.368 ton atau 44,10 % dari sasaran 8.095 ton;  jagung 9.957 ton atau 34,73 % dari sasaran 28,667 ton;  kacang  tanah 1.526 ton atau 114,55 % dari sasaran 1.748 ton ;  ubi kayu 107.717 ton atau 101,10 % dari sasaran 106.548 ton dan  ubi jalar 11.074 ton atau 134,69 % dari sasaran 8.222 ton. Tidak terpenuhinya sebagian pencapaian sasaran karena antara lain disebabkan kondisi iklim yang tidak menguntungkan yakni terlalu tingginya curah hujan, selain itu di Kotawaringin Barat tidak dikembangkan jagung untuk menghindari serangan hama belalang kembara.

Untuk produksi hortikultura yang meliputi sayuran dan buah-buahan, yaitu produksi sayuran tahun 2001 sebesar  75.549 ton atau naik   9,10  % dibandingkan tahun 2000 sebesar 68.681 ton. Sedangkan untuk buah-buahan produksi tahun 2001 sebesar 17.421 ton yaitu naik 9,09 % dibandingkan tahun 2000 sebesar 15.837 ton.

 (2)   Luas panen

Realisasi luas panen untuk padi tercatat 155.796 ha atau 105,10 % dari angka sasaran sebesar 148.725 ha,  kedelai 5.045 ha atau 57,60 % dari angka sasaran 7.753 ha,  jagung 6.247 ha atau 38,94 % dari sasaran 11.671 ha,  ubi jalar 1.636 ha atau 150,64 % dari sasaran 1.886 ha, ubi kayu 9.754 ha atau 126,54 % dari sasaran 5.487 ha, kacang tanah 1.452 ha, atau 78,49 % dari sasaran 1.850 ha, kacang hijau 603 ha atau 84,10 % dari sasaran 717 ha. Untuk luas panen sayuran  8.066  ha atau 21,30 % dari sasaran 37.870 ha, buah-buahan  23.750 ha atau  115,35 % dari sasaran 20.589 ha.

(3)       Produktivitas

Dari data produksi yang ada, tingkat produtivitas padi tahun 2001 tercatat 24,93 ku/ha atau mengalami kenaikan 3,13 % dibandingkan rata-rata produktivitas tahun 2000, sedangkan untuk komoditas yang lain sebagian  mengalami peningkatan yakni kedelai 0,64 ku/ha (6,12 %),  ubi kayu 0,05 ku/ha (0,05 %), kacang tanah 0,57 ku/ha (5,42 %) dan kacang hijau 0,06 ku/ha (0,79 %).


 

(4)    Kemampuan penyediaan pangan utama (beras)

Dengan perhitungan angka total produksi padi tahun 2001 sebesar 382.012 ton GKG, maka setelah dikurangi untuk persediaan benih dan waste, tersedia untuk stok penyediaan pangan sebesar 349.559 ton GKG atau setara 227.213 ton beras. Dengan dasar perhitungan penduduk Kalimantan Tengah pertengahan tahun 2001 sebesar 1.833.258 jiwa, dan tingkat konsumsi 134,34 kg/capita/tahun, maka kebutuhan beras Kalimatan Tengah sebesar 246.280 ton. Dengan perhitungan tersebut, maka pada tahun 2001 Kalimantan Tengah masih  kekurangan beras  sebesar 19.067 ton, sedangkan pada tahun 2000 yang lalu kekurangan beras Kalimantan Tengah adalah sebesar 23.383 ton,  diharapkan nantinya kekurangan beras tersebut diupayakan dapat ditekan  melalui  program peningkatan produksi tanaman pangan tahun 2002 .

(5)    Kemampuan  penerapan teknologi alsintan

Indikator peningkatan luas panen beberapa komoditas pangan utama yang cukup signifikan  antara lain dipacu oleh peningkatan kemampuan pengolahan lahan, karena perkembangan jumlah peralatan mesin pertanian. Penambahan peralatan mesin pertanian dilakukan pada  tahun 2000 cukup besar dan pada tahun 2001 peralatan tersebut dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan tahun 2001, yakni hand traktor 205 unit, rice mill unit 83 unit, drayer 80 unit, power thersser 200 unit, alat dan mesin pengolahan hasil lainnya 15 unit. Dengan tambahan peralatan tersebut diperkirakan 25 % dari lahan yang ada, mampu dikerjakan secara mekanis.

 

d)                              Permasalahan dan Rencana Penanggulangan

(1)     Permasalahan

(a)    Tingkat produksi, produktivitas dan luas panen khususnya, komoditi padi masih  rendah.


 

(b)    Lemahnya kemampuan modal petani dalam pengadaan saprodi, sehingga   paket anjuran teknologi tidak dapat dilaksanakan, pagu dana KKP yang tersedia sangat tidak memadai (Rp. 611.000.000,-), disamping harga saprodi yang cukup tinggi

(c)    Pelayanan sarana produksi di wilayah sentra produksi kurang lancar, karena kurang tersedianya kios-kios saprodi di lokasi sentra produksi.

(d)    Masih lemahnya manajemen pemanfaatan Alsintan mulai sistem UPJA, baik modal usaha, teknis operasional maupun pelayanan peralatan/suku cadang purna jual.

(e)    Pola kemitraan belum berkembang secara berkesinambungan dan saling menguntungkan.

(f)    Dalam operasional pengendalian OPT skala luas khususnya hama belalang, sering kurang efektif dilaksanakan karena sifat eksplosif hama belalng tersebut di samping faktor alam yang mendorong perkembangan hama serta terbatasnya petugas pengamat hama.

(g)    Pembinaan usaha tani oleh penyuluh pertanian dilapangan relatif kurang intensif sehingga kelompok tani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian baik  kelas  kempuan kelompok tani maupun kemampuan berwirausahatani belum berkembang kearah mandirian

(h)    Kelembagaan perbenihan penyediaan jumlah dan kualitas benih unggul bermutu untuk menunjang pelaksanaan kegiatan Peningkatan Mutu Intensifikasi (PMI) maupun Perluasan Areal Tanam (PAT).

(i)     Masih tingginya tingkat kehilangan hasil pada proses panen dan perlakuan pasca panen, berdampak terhadap upaya pemenuhan ketersediaan pangan.


 

(2)    Rencana Penanggulangan

(a)   Mengoptimalkan pemanfaatan lahan melalui Peningkatan Mutu Intensifikasi (PMI) dan Perluasan Areal Tanam (PAT)

(b)  Mendorong petani untuk penggunaan pupuk organik alternatif dengan memanfaat bahan organik yang ada dipedesaan.

(c)  Menyelenggarakan pelatihan pengelolaan alsintan serta meningkatkan penyuluhan dan bimbingan alsintan.

(d)  Memagangkan petani ke daerah yang lebih maju untuk mempelajari proses produksi sekaligus pemasaran hasil. Di samping itu akan dilaksanakan kegiatan temu usaha untuk mendorong berkembangnya kemitraan usaha tani.

(e)  Mendorong petani menanam komoditi yang tidak disukai hama belalang dan membantu memberikan insektisida kepada petani yang tanamannya terserang hama belalang.

(f)   Melaksanakan pola penyelenggaraan penyuluhan di masing-masing daerah untuk meningkatkan kinerja penyuluh sesuai dengan fungsinya guna peningkatan kemampuan petani dalam pengelolaan usaha taninya.

(g)  Melaksanakan pembenahan balai benih yang ada dan mendorong berkembangnya penangkar benih di daerah.

(h)  Meningkatkan penyuluhan kepada kelompok tani untuk penerapan teknologi panen dan pasca panen anjuran.

 

Traditional Farming

Traditional farming is a system to maintain the land such as fertility preservation by using a "cycle".  A cycle applies for about 5 to 7 years. For the first two years, the farmers open the land for planting paddy and in the end of the second year, they plant several types of fruit trees and the estate crops. Hereafter they move to open another new area respectively, while maintains their previous area in a minimum tillage. At the seventh year, the first area would be maintained intensively in order to promote the plant for ready to produce fruits and others.

Traditional farming is applied in a balanced environment. The peasants maintain their land based on the ecological behaviors of the area. There will no activity, whenever they knew that the opening of land could cause severe damage to the environment.

Slash and burn farming will do, when they have already made the best preparation such as making the shelters and delineated borders of the opened areas. This step is the most important one; because the farmers are, mostly can not relied on the chemicals to destroy the pests and diseases. The burned areas will provide a sterile area for planting, while the ashes become a mean of fertilizer. 

For almost three decades, the traditional farming has been blamed as for the reasons of the forest fires in the province. However, based on several investigations and studies, there are found that the main reason of the forest fires comes from the impact of the changes in the forests and lands. The degraded forests and lands have no more ability to reduce the evaporation during the hot summer days. Then, the fire gets suitable drying areas for expanding. A good forests and lands always contain a humid floor that prevents the development of forest fires. 

The peasants awareness of the danger comes from the forest fires are very high. They understand that the forest fires can cause perishable to sources of the animal for hunting in the forests.

Nowadays, numerous activities that utilize forests and lands such as plantation or crop estates, mining and settlement developments are the significant factors for the depreciation in the forest and land resources. Here for, the local government maintains them by using the "spatial structure plan".

 

a. Program Tahun 2002

Program Tanaman Pangan dan Hortikultura di Kalimantan Tengah Tahun 2002 yang di implementasikan dalam 2 (dua) program utama, yakni :

1. Program Pengembangan Agribisnis.

2. Program Peningkatan Ketahanan Pangan.

Program tersebut diatas mengacu pada pola dasar dan Propeda dengan tujuan :

1). Meningkatkan ketersediaan produksi Tanaman Pangan khususnya padi, jagung, dan kedelai dalam rangka memperkuat Ketahanan Pangan di daerah.

2). Mendorong pengembangan sentra produksi unggulan daerah berskala ekonomi yang berbasis agribisnis.

3). Meningkatkan pendapatan petani pangan dan kesempatan kerja dipedesaan.

Kebijaksanaan yang ditempuh dalam upaya peningkatan ketahanan pangan dan pengembangan agribisnis tersebut ditetapkan sebagai berikut :
1). Meningkatkan ketersedian produksi tanam-an pangan dan hortikultura dalam rangka memperkuat ketahanan pangan daerah.

2). Mendorong berkembangnya sentra produksi unggulan daerah berskala ekonomi yang berbasis agribisnis.

3). Meningkatkan pendapatan dan kesejahte-raan petani serta memperluas kesempatan kerja dan berusaha di pedesaan.

4). Mengembangkan usaha agribisnis di Sub Sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura, baik itu melalui kemitraan, wirausaha, maupun pola usaha kerjasama lainnya antara pelaku agribisnis.

b. Sasaran Program

Sasaran yang ingin dicapai melalui 2 program tersebut dalam tahun 2002 adalah :
1). Program Pengembangan Agribisnis :
- Meningkatnya produktivitas, kualitas dan produksi komoditas yang dapat dipasarkan sebagai bahan baku industri pengolahan.
- Meningkatnya kesempatan kerja pro-duktif di pedesaan pada on-farm dan off-farm serta memberikan nilai tambah.
- Berkembangnya berbagai kegiatan usaha berbasis pertanian dengan wawasan agribisnis yang mampu memberikan keuntungan yang wajar.
- Lebih melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan agribisnis dan memajukan perekonomian di pedesaan.
- Terpeliharanya produktivitas sumber daya alam, berkembangnya usaha pertanian konservasi dan terjaganya kualitas lingkungan hidup.

2) Program Peningkatan Ketahanan Pangan:
- Meningkatnya produksi dan keterse-diaan beras secara berkelanjutan dan komsumsi pangan sumber sumber karbohidrat non beras dan pangan sumber protein nabati, vitamin dan mineral.
- Meningkatnya keanekaragaman dan kualitas konsumsi pangan masyarakat.
- Meningkatnya skor mutu pola pangan harapan dan berkurangnya keluarga rawan pangan dan gizi.
- Berkembangnya teknologi produksi pertanian dan pengolahan bahan pangan.
- Berkembangnya kelembagaan pangan yang partisipatif.
- Meningkatnya produktivitas dan kualitas pangan yang dipasarkan
- Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan ketahanan pangan.

Dalam upaya mencapai tujuan program tersebut, maka sasaran program utama produksi komoditas tanaman pangan dan hortikultura tahun anggaran 2002, di Propinsi Kalimantan Tengah ditetapkan sebagai berikut:
- Produksi padi 438.124 ton, dengan luas panen 175.721 ha.
- Produksi jagung 20.750 ton, dengan luas panen 11.973 ha.
- Produksi Kedelai 10.090 ton, dengan luas panen 8.676 ha.
- Produksi ubikayu 109.989 ton, dengan luas panen 10.000 ha.
- Produksi ubijalar 9.364 ton, dengan luas panen 957 ha.
- Produksi kacang tanah 2.671 ton, dengan luas panen 2.084 ha.
- Produksi kacang hijau 611 ton, dengan luas panen 728 ha.
- Produksi sayuran 42.065 ton, dengan luas panen 14.899 ha.
- Produksi buah-buahan 101.608 ton, dengan luas panen 17.169 ha.

c. Kondisi Awal Tahun 2002

Pada akhir tahun 2001 kondisi produksi, luas panen dan produktivitas tanaman pangan dan hortikultura masing-masing : padi 382.012 ton dari luas panen 155.796 ha dengan produktivitas 24,52 kw/ha, jagung 9.957 ton dari luas panen 6.247 ha dengan produktivitas 15,94 kw/ha, kedelai 5.368 ton dari luas panen 5.045 ha dengan produktivitas 10,64 kw/ha, ubi kayu 107.947 ton dari luas panen 9.754 ha dengan produktivitas 110,67 kw/ha, ubi jalar 11.074 ton dari luas panen 1.636 ha dengan produktivitas 67,69 kw/ha, kacang tanah 1.526 ton dari luas panen 1.452 ha dengan produktivitas 7,36 kw/ha, kacang hijau 460 ton dari luas panen 603 ha dengan produktivitas 7,36 kw/ha, buah-buahan 17.421 ton dari luas panen 23.750 ha dan sayur-sayuran 75.549 ton dari luas panen 8.068 ha.

Berdasarkan perhitungan produksi dan konsumsi penyediaan beras tahun 2001 sebesar 227.213 ton, maka kekurangan beras masih sebesar 19.067 ton.

d. Masukan (Input)

Untuk mencapai sasaran pelaksanaan program pembangunan pertanian tanaman pangan dan hortikultura selama tahun anggaran 2002, didukung berbagai masukan (input) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang dialokasikan sebagai berikut :

1). Proyek Pengembangan Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tersebar di 6 (enam) Kabupaten / Kota sebesar Rp.1.025.000.000,00 (Satu milyar dua puluh lima juta rupiah), dengan kegiatan :
 Perencanaan Pengembangan dan Pembi-naan Usaha Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura.
 Kegiatan Penunjang dan Penguatan Institusi
 Penyusunan Statistik Pertanian, Rapat Regional Pertanian dan Studi Agribisnis Pangan
 Pengembangan SDM Pertanian.

2). Proyek Pengelolaan SPP - SPMA Buntok, Sampit dan Pangkalan Bun sebesar Rp.550.000.000,00 (Lima ratus lima puluh juta rupiah), dengan kegiatan :
 Peningkatan fasilitas belajar.
 Operasional pemeliharaan sekolah.
 Pembinaan Teknis Pelayanan Pendidikan.

3). Jumlah tenaga pembina dan Pelaksana Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura terdiri dari tenaga struktural dan fungsional dimana sebagian besar telah ditingkatkan pendidikannya melalui program D III, S1 dan S 2. Jumlah tenaga pembina dan pelaksana sebanyak 233 orang terdiri dari struktural 180 orang, Pengamat Hama 34 Orang, Pengawas Benih 19 orang, dan keberadaanya tersebar di 13 Kabupaten dan 1 Kota serta di Balai Benih.

4). Kelompok tani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian di lapangan tercatat sebanyak 5.445 kelompok tani, terdiri dari belum dikukuhkan 2.227 kelompok, kelas pemula 2.553 kelompok, kelas lanjut 620 kelompok, kelas madya 42 kelompok dan kelas utama 3 kelompok, selain itu terdapat kelompok tani yang spesifik antara lain Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) dan Perkum-pulan Petani Pemakai Air.

5). Sebagai pusat pembangunan pertanian dan pusat kegiatan penyuluhan pertanian ditingkat Kecamatan terdapat Balai Penyuluhan Pertanian sebanyak 53 buah.

6). Tersedianya Kredit Ketahanan Pangan (KKP) sebesar Rp. 611.000.000,00, kemudian direvisi menjadi Rp. 324.000.000,00 dan kredit Pengadaan Pangan sebesar Rp.350.000.000,00.

7). Tersedianya paket teknologi spesifik lokalita baik untuk teknologi padi, palawija dan hortikultura. Beberapa varietas baru yang sesuai untuk lokasi pasang surut dan lahan kering telah diperbanyak, dan sebagian besar telah disalurkan kepada daerah sentra-sentra produksi unggulan.

e. Keluaran (Output)

Dari pelaksanaan kegiatan program pengembangan agribisnis dan peningkatan ketahanan pangan tahun 2002 diperoleh keluaran (output) sebagai berikut :

1). Diperolehnya lahan cadangan seluas 1.000 Ha di desa Buntoi Kecamatan Kahayan Hilir Kabupaten Pulang Pisau untuk lokasi kerjasama Pemda Kalteng dengan Propinsi Kota Jinan (RRC).

2). Terbinanya kawasan sentra produksi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Barito Selatan, Kapuas, dan Kotawaringin Barat.

3). Pembinaan perlindungan tanaman berupa kegiatan pengadaan pestisida untuk stock antisipasi serangan OPT sebesar 220 kg/lt, pengadaan hand sprayer sebanyak 104 unit, pembangunan gudang sub brigade proteksi di Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Timur, Barito Selatan dengan masing-masing luas bangunan seluas 36 M2.

4). Penunjangan kegiatan Balai Benih Hortikultura Kruing Kabupaten Kotawaringin Timur dengan kegiatan : pembangunan rumah bedeng untuk petugas seluas 48 M2 dan pemasangan instalasi listrik.

5). Penunjangan kegiatan Pengembangan Alat dan Mesin Pertanian berupa pengadaan : hand tractor sebanyak 10 unit, yang dialokasikan 6 unit di Kabupaten Barito Utara dan 4 unit di Kabupaten Kotawaringin Timur.

6). Penunjangan kegiatan PKK berupa bantuan pembinaan PKK untuk kegiatan pelatihan pengolahan pangan lokal 1 kali dan lomba pangan lokal 1 kali.

7). Studi Agribisnis jagung di Kabupaten Barito Selatan 1 kali.

8). Pengembangan usaha agribisnis jagung di Kabupaten Barito Selatan seluas 200 Ha.

9). Pembangunan terminal agribisnis di Kuala Kapuas, berupa : pengadaan peralatan terminal agribisnis 1 Paket, membangun terminal agribisnis seluas 90 m2 dan pembuatan peta produk unggulan sebanyak 4 Unit.

10). Pembinaan statistik pertanian dengan kegiatan : pendataan statistik pertanian (kegiatan Listing, penarikan sampel, pencacahan sampel, entry data, pengolahan dan penyusunan laporan) dan rapat penyusunan statistik pertanian, sebanyak 1 paket.

11). Penyusunan program/rencana pengembang-an tanaman pangan dan hortikutura di 8 Kabupaten pemekaran.

12). Dana KKP yang terserap oleh petani sebesar Rp. 53.170.000,00. Untuk padi melalui BRI, dan melalui Bank Mandiri terserap sebesar Rp. 300.450.000,00 untuk pengembangan ubi kayu.

13). Peningkatan fasilitas belajar pada SPP-SPMA Buntok dan Sampit berupa 2 unit komputer, 50 pasang meja kursi, lantai jemur, rehab intalasi listrik, peralatan laboratorium pasca panen, alat laboratorium fisika, kimia dan biologi, pengadaan alat olah raga, pengadaan buku perpustakaan.

14). Operasional dan pemeliharaan sekolah dengan kegiatan : penunjangan insentif/ honor petugas, penyediaan bahan ujian semester, prakualifikasi dan ujian akhir, bantuan peningkatan SDM guru/karyawan, pengadaan alat dan mesin pertanian, pemeliharan bangunan gedung kantor pada SPP-SPMA Buntok, Sampit dan Pangkalan Bun.
15). Pembinaan teknis pelayanan pendidikan kepada murid-murid sebagai berikut :
 SPP-SPMA Sampit sebanyak 159 siswa
 SPP-SPMA Buntok sebanyak 201 siswa
 SPP-SPMA Pangkalan Bun sebanyak 31 siswa.

f. Hasil (Benefit)
1) Produksi

Berdasarkan Angka Ramalan III Daerah, realisasi perkembangan produksi tanaman pangan utama di Kalimantan Tengah tahun 2002 tercatat sebagai berikut : Produksi padi mencapai 395.297 ton gabah kering giling (GKG) atau 90,22 % dari sasaran program sebesar 438.124 ton, kedelai 4.104 ton atau 40,67 % dari sasaran 10.090 ton; jagung 8.584 ton atau 41,37 % dari sasaran 20.750 ton; kacang tanah 1.419 ton atau 53,13 % dari sasaran 2.671 ton ; kacang hijau 442 ton atau 72,34 % dari sasaran 611 ton, ubi kayu 100.459 ton atau 92,25 % dari sasaran 109.989 ton dan ubi jalar 14.963 ton atau 59,79 % dari sasaran 9.364 ton. Tidak terpenuhinya sebagian pencapaian sasaran karena antara lain disebabkan kondisi iklim yang tidak menguntungkan yakni musim kemarau yang berkepanjangan, selain itu di Kotawaringin Barat tidak dikembangkan jagung untuk menghindari serangan hama belalang kembara.

Untuk produksi hortikultura (sayuran dan buah-buahan) yaitu : produksi sayuran sebesar 20.888 ton (49,70%) dari sasaran sebesar 42.065 ton, dan buah-buahan sebesar 131.183 ton (129,10%) dari sasaran sebesar 101.608 ton.

2) Luas panen

Realisasi luas panen untuk padi tercatat 157.877 ha atau 89,85 % dari angka sasaran sebesar 175.721 ha, kedelai 3.767 ha atau 45,11 % dari angka sasaran 8.676 ha, jagung 5.401 ha atau 45,11 % dari sasaran 11.973 ha, ubi jalar 2.201 ha atau 229,99 % dari sasaran 957 ha, ubi kayu 8.911 ha atau 89,11 % dari sasaran 10.000 ha, kacang tanah 1.305 ha, atau 62,62 % dari sasaran 2.084 ha, kacang hijau 574 ha atau 78,85 % dari sasaran 728 ha.


3) Produktivitas

Dari data produksi yang ada, tingkat produktivitas padi tahun 2002 tercatat 25,04 ku/ha atau mengalami kenaikan 2,07% dibandingkan rata-rata produktivitas tahun 2001 sebesar 24,52 kw/ha, sedangkan untuk komoditas yang lain sebagian mengalami peningkatan yakni kedelai 0,25 ku/ha (2,29 %), ubi kayu 2,07 ku/ha (1,84 %), kacang tanah 0,36 ku/ha (3,31 %) dan kacang hijau 0,34 ku/ha (4,41 %).

4) Kemampuan penyediaan beras

Dengan perhitungan angka total pro-duksi padi tahun 2002 sebesar 395.297 ton GKG, maka setelah dikurangi untuk persediaan benih dan waste, tersedia untuk stok penyediaan pangan sebesar 355.768 ton GKG atau setara dengan 241.922 ton beras, maka pada tahun 2002 Kalimantan Tengah masih keku-rangan beras sebesar 10.514 ton, sedangkan pada tahun 2001 yang lalu kekurangan beras Kalimantan Tengah adalah sebesar 19.067 ton, diharapkan nantinya kekurangan beras tersebut diupayakan dapat ditekan melalui program peningkatan produksi tanaman pangan tahun 2003.

5) Kemampuan penerapan teknologi alat dan mesin pertanian

Indikator peningkatan luas panen be-berapa komoditas pangan utama yang cukup signifikan antara lain dipacu oleh peningkatan kemampuan pengolahan lahan, karena per-kembangan jumlah peralatan mesin pertanian. Penambahan peralatan mesin pertanian pada tahun 2002 menyebabkan bertambahnya jumlah alsintan dan secara menyeluruh menjadi sebagai berikut : hand tractor 225 unit, rice mill unit 83 unit, drayer 80 unit, power threser 200 unit, alat dan mesin pengolahan hasil lainnya 15 unit, 104 hand sprayer.

6) Kelulusan Siswa SPP-SPMA

Berdasarkan hasil ujian akhir tahun 2002 prestasi yang dapat dicapai terhadap kelulusan siswa SPP-SPMA sebagai berikut :
- SPP-SPMA Buntok yang mengikuti ujian akhir 105 siswa dan yang lulus 105 Siswa (100 %).

- SPP-SPMA Sampit yang mengikuti ujian akhir 44. siswa dan yang lulus 44. Siswa (100 %).

- SPP-SPMA Pangkalan Bun yang mengikuti ujian akhir 14 siswa dan yang lulus 14 Siswa (100 %).

7) SPP-SPMA Buntok pada tahun 2002 di tunjuk sebagai SPP-SPMA Koordinator untuk Kalimantan Tengah.

g. Manfaat (Out come)

Manfaat yang dirasakan sebagai nilai tambah dari hasil pelaksanaan Program Pengem-bangan Agribisnis dan Peningkatan Ketahanan Pangan di Kalimantan Tengah Tahun Anggaran 2002 dapat dikemukakan :

1). Meningkatnya kemampuan penyediaan pangan utama, khususnya beras sehingga membantu meningkatkan ketahanan pangan baik secara regional maupun nasional, sekaligus ikut mengurangi beban impor beras secara nasional. Dengan kenaikan produksi padi sebesar 13.285 ton (3,47%) dibandingkan tahun 2001 sehingga Kalimantan Tengah mampu menekan kekurangan beras pada tahun 2002.

2). Meningkatnya kemampuan sumber daya petani dalam pengelolaan alat dan mesin pertanian.

3). Dengan dibangunnya terminal Agribisnis di Kuala Kapuas, telah dimulai saling tukar informasi tentang jumlah, harga, kualitas, jenis hasil-hasil pertanian oleh pelaku Agribisnis.

4). Dengan tersedianya peralatan Sub Brigade Proteksi dan pestisida dapat menekan luas tambah serangan organisme pengganggu tanaman.

5). Dengan kelulusan siswa SPP-SPMA memberi manfaat tersedianya tenaga teknis terdidik tingkat menengah dibidang pertanian yang terampil dan berkualitas.

h. Dampak (Impact)

1). Produksi komoditas utama tanaman pangan dan hortikultura tahun anggaran 2002 dibanding tahun 2001 hanya Padi dan Buah-buahan mengalami kenaikan yang cukup berarti meskipun tidak terlalu besar. Peningkatan produksi tersebut selain mening-katkan ketahanan pangan ditingkat keluarga petani, sekaligus menambah pendapatan karena data rata-rata produktifitas per Ha juga mengalami kenaikan (khususnya padi dari 24,52 Ku/Ha menjadi 25,04 Ku/Ha).

2). Berdasarkan penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Palangka Raya penda-patan petani dari tanaman pangan (dengan pola usaha tani padi kedelai dilahan pasang surut) pada tahun anggaran 2001 sebesar Rp. 3.539.250/Ha, pada tahun anggaran 2002 sebesar Rp. 3.932.500/Ha (naik 11,40 %). Sensus pertanian tahun 1993 sebagai pembanding menunjukan pendapatan rumah tangga petani sebesar Rp.2.130.000,-

3). Dengan bertambahnya peralatan mesin pertanian (hand tractor dan hand sprayer) pada tahun 2002 memberikan peluang dan tambahan lapangan kerja baru dan perce-patan pengolahan tanah bagi kelompok tani dan masyarakat dalam pengoperasional alat dan mesin pertanian tersebut.

4). Terbukanya lapangan usaha baik dalam pengolahan lahan usaha, jasa usaha peralatan/mesin, perbengkelan, dan lain-lain.

5). Dengan mulai berkembangnya pengelolaan usahatani dari tradisional kearah mekanisasi pertanian, telah menambah gairah berusaha dibidang pertanian. Salah satu indikator tersebut dapat dilihat dari mulai berkembangnya Unit Pelayanan Jasa Alsin (UPJA), pengolahan hasil, penyosohan dan packing beras, dan lain-lain.

6). Dengan adanya kelulusan SPP-SPMA dapat meningkatkan SDM pertanian yang siap pakai, adanya kemandirian wirausaha, meningkatkan gairah pemula di bidang pertanian dan ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

i. Permasalahan dan Rencana Penanggulangan

1). Permasalahan

a). Belum tercapainya produktivitas potensial dari berbagai komoditas pertanian disebabkan penerapan teknologi anjuran belum secara optimal.

b). Masih tersedianya areal pertanian yang potensial belum dimanfaatkan secara optimal oleh petani karena terbatasnya kemampuan modal dalam berusaha tani.

c). Kualitas produk pertanian pada umumnya masih rendah, baik produk segar, maupun produk olahan.

d). Kondisi iklim yang kurang mendukung karena terjadinya kemarau yang cukup panjang.

e). Sumber daya manusia pertanian secara kualitas dan kwantitas masih relatif terbatas.

f). Ketersediaan sarana dan prasarana pertanian relatif terbatas.

g). Pola kemitraan belum berkembang secara berkesinambungan dan saling mengun-tungkan.

h). Kelembagaan perbenihan dalam rangka penyediaan benih unggul bermutu (jumlah, jenis, waktu dan kualitas benih) masih terbatas.

i). Masih tingginya tingkat kehilangan hasil pada proses panen dan perlakuan pasca panen.

2). Rencana Penanggulangan

a). Untuk mencapai sasaran produktivitas potensial perlu penerapan teknologi anjuran secara optimal dan perlu mende-katkan pelayanan dengan mendirikan kios-kios sarana produksi diwilayah sentra produksi.

b). Untuk mengatasi kekurangan modal petani perlu penyediaan plafon kredit ketahanan pangan yang memadai dan skim kredit lainnya dengan persyaratan yang tidak berbelit-belit/mudah dipenuhi oleh petani.

c). Meningkatkan kualiatas produk pertanian melalui usaha pengamanan dan penanganan produksi, peningkatan penanganan pangan pasca panen dan pengolahan hasil pertanian.

d). Dalam rangka mengantisipasi terjadinya kemarau / bencana alam terhadap pertanaman dengan menerapkan pola tanam sesuai agroklimat setempat.

e). Meningkatkan SDM pertanian melalui pendidikan, pelatihan, magang dan demonstrasi-demonstrasi (demonstrasi plot, demonstrasi area, demonstrasi farm, demonstrasi cara) dan lain-lain.

f). Meningkatkan sarana dan prasarana pertanian secara bertahap melalui kemitraan dengan pihak swasta dan bantuan pemerintah berupa alat dan mesin pertanian, gudang sub brigade proteksi, dan penyediaan bahan pengen-dalian organisme penggangu tanaman dan prasarana pendukung (jalan akses ke sentra produksi pertanian, jembatan dll).

g). Mengembangkan pola kemitraan yang sesuai dengan kondisi daerah dengan prinsip saling menguntungkan.

h). Memfungsikan kelembagaan perbenihan disetiap tingkatan secara optimal sesuai kewenangannya.

i). Meningkatkan pembinaan, penyuluhan dan penerapan penanganan pasca panen sesuai dengan anjuran teknologi panen dan pasca panen.

Lanjut ke Tahun 2003 .....