POTENSI DAN PELUANG INVESTASI
SECARA UMUM
DI
I.
GAMBARAN UMUM PROVINSI
Kalimantan Tengah propinsi dengan wilayah
terluas nomor tiga di
Sejak
berdirinya propinsi ini pada tahun 1957, perubahan nyata yang amat dominan di
daerah ini adalah pada lahan hutannya yang mengalami degradasi mutu hutan alam
tropis yang semakin berkurang nilai komersialnya, nilai tambah dari eksploitasi
hutan dan sumberdaya alam lainnya yang amat diharapkan dapat kembali dalam
bentuk percepatan pembangunan segala bidang di daerah ini tidak secara alamiah
terjadi. Pola ekonomi yang dominan dari
proses investasi di daerah ini adalah pola “hit and run” dan “backwash effects”
atau divestasi. Kualitas investasi yang masih semu ditandai dengan bahan mentah
di bawa ke luar daerah ini dan nilai tambahnya sebagian kecil kembali melalui
kebaikan hati pemerintah pusat dan sebagian lainnya tidak diketahui rimba dan
manfaatnya.
Birokrasi dan masyarakatnya yang terbatas
aksesnya di tingkat Nasional, hampir tidak dapat berperan menghasilkan
kebijakan-kebijakan yang dapat menstimulir peluang-peluang pembangunan daerah
yang lebih luas dan berdampak ganda.
Kini propinsi dengan luas wilayah nomor tiga
di Indonesia ini telah melalui berbagai periode pembangunan Nasional dan
masyarakatnya di daerah terpencil tidak mengetahui dan sebagian dari mereka ada
juga yang telah menjadi penonton yang
setia terjadinya derap perubahan yang signifikan pada kawasan-kawasan lain di
Indonesia.
A.
Kondisi Geografis.
1.
Luas Wilayah :
Provinsi Kalimantan
Tengah memiliki luas wilayah mencapai + 153. 564 Km2 atau 1,5 kali pulau
Jawa yang merupakan provinsi ke tiga terluas wilayahnya di
Adapun
luas wilayah tersebut terdiri dari :
§
Hutan belantara
. . . . . . . . . . . . . . . . . : 126. 200 Km2
§
Rawa-rawa. . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . :
18.125 Km2
§
Sungai, Danau
dan Genangan . . . . . .: 4.563 Km2
§
Lahan lainnya. .
. . . . . . . . . . . . . . . . . :
4.676 Km2
2.
Letak dan batas
wilayah .
Provinsi Kalimantan Tengah terletak ditengah-tengah
pulau
Hal ini tentu berpotensi dan memberikan peran yang
sangat penting untuk suatu prospek
kegiatan pembangunan dan pengembangan perekonomian Kawasan Pulau Kalimantan
dimasa yang akan datang, khususnya yang menyangkut rencana realisasi
kesepakatan para Gubernur se- Kalimantan untuk membangun jalan Trans Kalimantan
dan jalur jalan Kereta Api di Kalimantan
yang akan merupakan satu kesatuan dengan jalur yang ada di Kalimantan wilayah
Malaysia dan Brunei Darussalam
sehingga merupakan satu kawasan Pulau
Kalimantan / Borneo.
Batas
Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah meliputi :
§ Sebelah Utara berbatasan
dengan Propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan
Timur
§
Sebelah Selatan
berbatasan dengan Laut Jawa.
§
Sebelah Timur berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur
dan Selatan
§
Sebelah Barat
berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Barat.
B.
Pemerintahan
Wilayah
Kerja Administrasi Pemerintahan Provinsi Kalimantan Tengah ini meliputi :
1). Kota Palangka Raya dengan ibukota Palangka Raya.
2). Kabupaten Kotawaringin Barat dengan ibukota Pangkalan Bun
3). Kabupaten Kotawaringin Timur dengan Ibukota Samp[it
4).
Kabupaten Kapuas dengan ibukota Kuala Kapuas.
5). Kabupaten Barito Selatan dengan ibukota Buntok.
6). Kabupaten Barito Utara dengan ibukota Muara Teweh.
7). Kabuapetn Lamandau dengan ibukota Nanga Bulik
8).
Kabupaten Sukamara dengan ibukota Sukamara.
9). Kabuapaten Seruyan dengan ibukota Kuala Pembuang.
10).
Kabupaten Katingan dengan ibukota Kasongan
11).
Kabupaten Gunung
Mas dengan ibukota Kuala Kurun .
12).
Kabupaten Pulang
Pisau dengan ibukota Pulang Pisau.
13).
Kabupaten Barito
Timur dengan ibukota Tamiang Layang
14).
Kabupaten Murung
Raya dengan ibukota Puruk Cahu.
Jumlah penduduk Kalimantan Tengah Tahun 2003:
1.834. 365. Jiwa,
terdiri
dari :
§
Laki- Laki :
935.526 Jiwa.
§
Perempuan :
898.839 Jiwa.
Penyebaran
penduduk dengan kepadatan 13 jiwa / Km2
D.
Sekilas Infrastruktur yang tersedia di Kalimantan Tengah :
1. Jalan darat :
Terdapat dua jalan darat poros utama yang merupakan
jalan lintas
Jalan Nasional
sepanjang : 1.707.57
Km.
Jalan Propinsi sepanjang : 1.050.26. Km.
Serta ribuan kilometer jalan kolektor/penghubung
lainnya dan rencana pembuatan jalan
koridor lintas perkebunan, jalan perusahaan
eks HPH maupun jalan daerah-daerah potensial.
Dan prioritas pembangunan jalan lain yang masih harus
dibangun adalah: 983.22. Km.
Peran dan fungsi jalan darat adalah sebagai sarana penghubung antar / lintas Provinsi, kabupaten dan kota serta beberapa
Kecamatan yang ada di Kalimantan Tengah , disamping itu pengembangan dan pembangunannya diarahkan
adalah sebagai upaya untuk membuka
isolasi bagi daerah-daerah pedalaman / terpencil yang dimungkinkan untuk dibangun jalan darat dengan masud untuk meningkatkan kegiatan
perekonomian didaerah dan memperlancar distribusi perdagangan barang dan jasa angkutan darat. serta
orang/penumpang.
2. Pelabuhan Laut
:
Tersedia pelabuhan laut untuk sarana jasa Perdagangan,
angkutan penumpang dan barang ( ekspor dan import maupun lokal ) yakni :
§
Pelabuhan
Laut Kumai di Kabupten Kotawaringin Barat.
§
Pelabuhan Laut
Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur.
§
Pelabuhan Pulang
Pisau di Kabupaten Pulang Pisau.
§
Pelabuhan Kapuas
.di Kabupaten Kapuas
§
Pelabuhan
Sukamara.di Kabupaten Sukamara.
§
Pelabuhan Kuala
Pembuang di Kabupaten Seruyan.
§
Pelabuhan Pegatan Mendawai. Di kabupaten Katingan.
§
Pelabuhan Sebangau di Kabupaten .Pulang Pisau dan
Kota.
3. Bandar Udara :
Di Propinsi Kalimantan Tengah terdapat 9 buah bandar
udara yang melayani penerbangan untuk
berbagai tipe dan jenis pesawat terbang, dengan nama sebagai berikut :
No
|
Nama Bandara |
Nama |
Type / jenis pesawat |
1.
|
Tjilik Riwut |
Palangka Raya |
Boeing 737-200, F28, |
2.
|
Iskandar |
Pangkalan Bun |
F.27. |
3.
|
H. Asan |
Sampit |
F.27 |
4.
|
Beringin |
Muara Teweh |
C.212 |
5.
|
Sangkalemo |
Kuala Kurun |
C.212 |
6.
|
Sanggu |
Buntok |
C.212 |
7.
|
Dirung |
Puruk Cahu |
C.212 |
8.
|
Kuala Pembuang |
Kuala Pembuang |
C.212 |
9.
|
Tumbang Samba |
Tumbang samba |
BN |
Maskapai penerbangan yang melayani jasa penerbangan
di Kalimantan Tengah ada 5antara lain : Merpati , Sriwijaya air, Trigana
Air,/Kalstar , DERAYA dan DAS.
Disamping itu
untuk melayani kota-kota kecil ada juga
pesawat dari MAF yang terbang
secara regular serta bisa pula dicarter.
4.
Perbankan
Perbankan. dengan adanya Kantor Bank Indonesia selaku
Bank Sentral juga terdapat 4 (empat) buah Bank BUMN (BRI, Bank Mandiri, BTN,
BNI) dan 1 (satu) buah Bank BUMD (Bank Pembangunan Kalimantan Tengah) serta 2
(dua) buah Bank Swasta (Bank Danamon dan Bank Internasional Indonesia/BII), 1
(satu) Buah Bank Perkreditan Rakyat., khusus Bank BRI dan Bank Pembangunan Kalimantan
Tengah pelayanannya sudah sampai ke berbagai Kecamatan dan Desa.
5.
Telekomunikasi,
Telekomunikasi/Komunikasi. Komunikasi yang telah
dimiliki daerah yaitu fasilitas telepon
seluler dan otomatis tersedia disemua ibukota kabupaten bahkan sampai ke
beberapa ibukota Kecamatan, selain itu ada juga stasiun RRI Palangka Raya serta
puluhan stasiun Radio Swasta Niaga dan amatir, Stasiun TVRI, Stasitiun Relay RCTI dan Stasiun Relay
Metro TV.
6.
Listrik :
Pelayanan tenaga listrik sudah menjangkau sebagian
besar
7.
Air bersih
Pelayanan air bersih dikelola oleh perusahaan Daerah/ BUMD yang
ada di Kabupaten dan
8.
Perhotelan
Di Kalimantan Tengah terdapat 1( satu)
Hotel bintang 2(dua) dan 60 Hotel melati, dan ada Resort Rungan Sari yang
dikelola oleh yayasan Susila Budi Dharma dengan fasilitas, kolam renang, lapangan
tennis dan meeting Centre bertarap internasional
II.KEBIJAKAN
PENANAMAN MODAL DAERAH PROPINSI
Merupakan komitmen Pemerintah Daerah bahwa Kebijakan
Penanaman Modal Daerah di Provinsi
a.
Arah dan Tujuan
Kebijakan Pemerintah Daerah dibidang Penanaman Modal mempunyai maksud sebagai
berikut :
-
Mempertahankan dan mengembangkan investasi yang sudah
ada.
-
Menambah dan mencari
serta menarik investor-investor baru baik lokal, nasional maupun asing.
-
Pemberdayaan masyarakat dan ekonomi rakyat.
b. Strategi Kebijakan Pemerintah Daerah di Bidang
Penanaman Modal meliputi:
1.
Melakukan
pembinaan, pengawasan dan Pengendalian Proyek Investasi PMA dan PMDN melalui
Satuan Tugas (Satgas) terpadu baik tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota untuk
menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dan sehat.
2.
Memberikan jaminan keamanan dan kepastian hukum bersama
aparat keamanan terhadap para investor.
3.
Memberikan kemudahan pelayanan perizinan yang cepat, keringanan pajak,
pembebasan pajak untuk masa persiapan dan kontrustruksi (berupa tax holiday
secara selektif)
4.
Melakukan Promosi: Kedalam dan Luar negeri dengan
mengikuti event-event pameran, penyebaran booklet dan leaflet melalui
perwakilan/kedutaan Indonesia dan asing di dalam dan di Luar Negeri baik
melalui jasa pos, Website/internet, dan email.
5.
Menjalin dan mewujudkan kerjasama Sektoral , Nasional,
Regional, serta internasional yang mengutamakan kepentingan nasional dalam
rangka meningkatkan penanaman modal didaerah , seperti kerjasama BIMP-EAGA,ASEAN,AIDA,
AFTA dll.
6.
Peningkatan pengembangan dan pembangunan Prasarana dasar
/ Infrastruktur daerah , sebagai sarana pendukung peningkatan
investasi dan perdagangan di Provinsi Kalimantan Tengah sebagai bagian
dari upaya percepatan pembangunan Kawasan Timur Indonesia( KTI )
III.
PERKEMBANGAN INVESTASI DI PROVINSI
Pemanfaatan Fasilitas Penanaman Modal sampai akhir
bulan desember 2003 perkembangan penanaman modal baik PMA/PMDN mengalami
perubahan/ peningkatan baik dalam jumlah proyek maupun jumlah investasi. Jumlah
perusahaan PMA/PMDN secara komulatif sebanyak 244 buah perusahaan dengan
perincian PMA sebanyak 54 buah perusahaan dengan rencana investasi sebesar US$
6,2 milyar lebih dan realisasi sebesar US$ 1,9 milyar lebih atau 30% sedangkan
PMDN sebanyak 190 buah perusahaan dengan rencana investasi sebesar Rp. 19,1
triliun lebih dan realisasi sebesar Rp. 12,2 triliun lebih atau 64,20%.
Penanaman modal yang telah
disetujui dalam periode Januri s/d 31 Desember 2003 sebanyak 1 (satu) buah
proyek PMDN dengan nilai investasi sebesar Rp. 68 milya dan Penanaman Modal
Asing sebanyak 2 (dua) buah proyek dengan investasi sebesar US$ 670 ribu.
Disamping itu terdapat juga
persetujuan perluasan usaha perusahaan Penanaman Modal Asing yang sudah ada
dengan nilai investasi sebesar US$ 7,5 juta.
Hal ini memperlihatkan
bahwa selain terdapat minat penanaman modal dalam negeri untuk melakukan
investasi baru, perusahaan PMDN dan PMA yang ada, juga tetap berkembang dan
memperluas usahanya.
Nilai persetujuan PMDN dan PMA selama tahun 2003 meningkat dibandingkan
dengan tahun 2002. Hal ini memperhatikan sudah mulai kembalinya kepercayaan
investor PMDN dan PMA untuk menanamkan modalnya di Kalimantan Tengah dan bidang
usaha yang diminati oleh investor meliputi sektor pertambangan, perkebunan dan
pariwisata.
Penggunaan Non Faslitas
Sektor Perkebunan
- Non PMA/PMDN 110
proyek
- Luas Lahan 2.192.036
ha
- Sudah Tanam 342.011 ha
1.
Jumlah
Perusahaan PMA/PMDN di provinsi Kalimantan Tengah
|
No. |
TAHUN |
PMA |
PMDN |
JUMLAH |
PENINGKATAN |
|
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. |
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 |
32 32 33 39 40 41 54 |
144 157 170 175 185 189 190 |
176 189 203 214 225 230 244 |
7,4 % 6,9 % 6,9 % 5,1 % 4,9 % 2,2 % 5,7 % |
2.
Tingkat
Perkembangan Perrusahaan PMA / PMDN di Provinsi
|
NO. |
TINGKAT PERKEMBANGAN
|
S/D
DESEMBER 2003 |
JUMLAH |
|
|
PMA |
PMDN |
|||
|
1 2 3 4 |
Persiapan Konstruksi Produksi Produksi Percobaan |
13 4 - 37 |
20 31 6 133 |
33 35 6 170 |
|
|
JUMLAH |
54 |
190 |
244 |
3.
Rencana dan Realisasi Investasi PMDN di Provinsi Kalimantan
Tengah.
|
NO. |
SEKTOR
/ SUB SEKTOR |
JUMLAH PERUSAHAAN |
PMDN
dalam Rp. Juta |
PERSENTASE |
|
|
PMDN |
JUMLAH |
||||
|
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. |
KEHUTANAN INDUSTRI KAYU PERKEBUNAN PERTAMBANGAN PERIKANAN JASA ANGKUTAN INDUSTRI KIMIA REAL ESTATE JASA LAINNYA |
70 27 64 5 3 4 5 2 10 |
3.440.759,61 4.388.917,35 7.749.792,86 11.310,66 11.377,00 17.593,30 3.336.454,30 16.000,00 175.430,68 |
3.510.842,86 3.360.722,35 3.410.903,95 7.164,00 6.406,32 135,00 1.819.705,85 519,82 175.433,53 |
102,04
% 76,57
% 44,01
% 63,34
% 56,31
% 0,77
% 54,54
% 3,25
% 100,00
% |
|
|
JUMLAH
|
190 |
19.147.625,76 |
12.291.833,68 |
64,20 % |
4.
Rencana dan Realisasi Investasi PMA di Provinsi Kalimantan
Tengah
|
NO. |
SEKTOR
/ SUB SEKTOR |
JUMLAH PERUSAHAAN |
PMDN
dalam Rp. Juta |
PERSENTASE |
|
|
PMDN |
JUMLAH |
||||
|
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. |
KEHUTANAN INDUSTRI KAYU PERKEBUNAN PERTAMBANGAN PERIKANAN JASA ANGKUTAN INDUSTRI KIMIA REAL ESTATE JASA LAINNYA |
8 8 11 21 0 0 0 1 5 |
158.219,90 1.276.774,36 706.697,37 2.465.570,75 0,00 0,00 0,00 400.000,00 1.232.141,93 |
105.862,89 614.257.57 400.031,92 728.342,74 0,00 0,00 0,00 0,00 13.898,33 |
66.91 % 48,11 % 56,61 % 29,54 % 0,00 % 0,00 % 0,00 % 0,00 % 1,13 % |
|
|
JUMLAH
|
54 |
6.239.404,31 |
1.862.393,44 |
29,85 % |
IV.
POTENSI DAN PELUANG
SEKTOR INVESTASI DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
1.
Sektor
Pertanian Tanaman Pangan:
Luas lahan sawah di Kalimantan Tengah 273,206 Ha,
dari penggunaannya masih relatif kecil yaitu lahan sawah baru 194,855, sedangkan untuk lahan kering yang tidak/belum
diusahakan masih 1.609.140 Ha.
Kalau di tahun 2002
Kalteng belum mampu memenuhi kebutuhan
berasnya sendiri, maka di tahun 2003 Kalteng dipastikan mampu memenuhi
kebutuhan beras lokal. Hasil monitoring dan perhitungan Biro Pusat Statistik
(BPS) sampai tanggal 24 Desember 2003 menunjukkan bahwa realisasi produksi
beras Kalteng sebesar 489.033 ton yang berarti melampaui target sebesar 454.245
ton. Selain itu, perluasan areal panen juga bertambah cukup
signifikan yaitu 194.855 Ha atau lebih besar 16.720 Ha dari target sebesar
178.135 Ha. KepalaDinasPertanian Kalteng Ir.Andoh Oemar yang dikonfirmasi Kapos
membenarkan data tersebut. Menurutnya pencapaian tersebut merupakan hasil dari
berbagai upaya pemerintah daerah untuk menuju pencapaian swasembada beras di
Provinsi Kalteng yang telah dicanangkan Gubemur Kalteng Asmawi Agani. Beberapa
faktor yang menunjang pencapaian tersebut menurut Andoh antara lain adalah
upaya serius pemerintah di tiap kabupaten/ kota di Kalteng untuk mendukung
pencanangan swasembada beras dari Gubernur.
Target
dan Realisasi Produksi, Produktivitas dan Luas Tanam Padi di Kalteng Tahun
2003.
|
Uraian |
Target |
Realisai* |
|
Produksi |
454.245 |
489.033 |
|
Produktifitas |
25,50 |
25,10 |
|
Luas Panen |
178.135 |
194.855 |
|
|
|
|
*)
Perbaikan angka ramalan III. Sumber: BPS dan Dinas Pertanian Kalimantan Tengah.
Selain
itu, dampak dari ketatnya penertiban illegal logging telah mengembalikan
masyarakat pada usaha pertanian. Dampak pemekaran kabupaten juga semakin
mendekatkan dan memudahkan pembinaan pertanian masyarakat di daerah daerah. Masing-masing
kabupaten jadi lebih bersemangat mengelola pertanian di wilayah mereka dengan
lebih serius lagi" ujar Andoh. Pencapaian target produksi beras tersebut
menurut Andoh juga dipengaruhi oleh meningkatnya dukungan anggaran
dekonsentrasi (APBN) tahun 2003, dimana 60 persen dana APBN langsung
dimanfaatkan oleh petani dalam bentuk Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat
(BPLM). Produksi padi tahun 2003 sebesar 489.033 ton GKG setelah dikurangi
bufferstock (stok penyangga, Red) maka akan diperoleh produksi setara beras
sebanyak 281.683 ton atau lebih 17.969 ton dari kebutuhan Kalteng di tahun 2003
sebesar 263.713,6 ton beras. Data tahun 2003, penduduk Kalteng berjumlah
1.883.669 jiwa dengan tingkat konsumsi rata-rata sebesar 140 kg per kapita per
tahun atau 263.713,6 ton beras.
Pengembangan komoditas pertanian
tanaman pangan dan hortikultura khususnya untuk pengembangan buah-buahan di Kalimantan
Tengah , dengan orientasi pembangunan agribisnis kedepan tidak hanya
peningkatan produksi saja tetapi secara luas mencakup perkembangan agribisnis
yang dilaksanakan secara terpadu , sehingga kegiatan agribisnis menuntut skala
ekonomi tertentu, ketersedia bahan baku produksi secara berkelanjutan serta
prasyarat kualitas.
Potensi dan peluang investasi adalah pengembangan
agribisnis Tanaman Pangan dan hortikultura
khususnya buah-buahan yang mempunyai potensi serta peluang untuk
dikembangkan dan dikerjasamakan dengan para investor dalam negeri dan asing.
Sebagai produk unggulan daerah Kalimantan Tengah ,
komoditi Rambutan, Pisang, Jeruk, Durian, Cempedak dan Nenas serta Salak sangat
prospektif untuk dikembangkan budidaya
tanamannya, dan salah satu kawasan yang menjadi kawasan pengembangan Agribisnis
hortikultura di Kalimantan Tengah adalah di Kabupaten Kapuas, tepatnya wilayah
kecamatan Basarang.
Kecamatan Basarang ini dikembangkan sebagai daerah
percontohan Agropolitan di Kalimantan Tengah .
Pemerintah daerah dalam upaya mempercepat Pembangunan
dan pengembangan sektor pertanian telah
membangun Terminal Agribisnis Terpadu
(TAT), berkembangnya sektor ini sebagai akibat adanya minat petani
setempat untuk mengusahakan penanaman buah-buahan ini ( rambutan, Nenas dan
Salak ), apabila hasil panen berlebihan, maka diharapkan adanya minat para
investor untuk berinvestasi dan
berkerjasama dengan para petani dalam bidang pemasaran/penampungan hasil buah
segar maupun segi pengolahan hasil ( Industri pengalengan dlsnya ).
Potensi dan
Peluang Pengembangan Nenas di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Kebijakan pembangunan pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan bagian integral dari kebijakan nasional pembangunan pertanian, dengan titik berat pada:
- Program Ketahanan Pangan dan
- Program Pengembangan Agribisnis
Program pengembangan agribisnis dimaksudkan untuk mendorong berkembangnya usaha pertanian dengan wawasan agribisnis yang mampu menghasilkan produk yang berdaya saing, menghasilkan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan dan kesejahtaraan para petani dan produsen yang mendukung pertumbuhan pendapatan nasional.
Sistem dan usaha agribisnis hortikultura yang dibangun memiliki empat
karakteristik yaitu :
- Berdaya saing
- Berkerakyatan
- Berkelanjutan
- Besentralisasi
Tujuan Dan Sasaran
Adapun tujuan dan sasaran pengembangan agribisnis tanaman nanas adalah sebagai berikut :
Tujuan :
a. Mendorong berkembangnya sistem usaha buah nanas unggulan nasional dan unggul daerah yang berdaya saing, berkelanjutan, berkerakyatan dan tersentralisasi.
b. Meningkatnya perteumbuhan dan
berkelanjutan kebun buah berskala komersial.
c. Meningkatnya penerapan teknologi maju dalam orchad manajemen untuk meningkatkan produktivitas dan mutu buah-buahan.
d. Meningkatkan pemberdayaan kelembagaan petani untuk memperoleh keterampilan dan pengusahaan teknoligi serta meningkatkan kemampunan pengolahan agribisnis.
e. Meningkatkan pendapaptan dan kesejahtaraan
petani melalui pembinaan sistem usaha dengan teknologi yang tepat, efisien,
ekonomis serta ramah lingkungan.
Sasaran :
Sasaran
pengembangan agribisnis buah nenas di Kabupaten Kotawaringin Timur tersebar di
Kecamatan Baamang dan Kecamatan Kota
Besi.
Prakondisi Budidaya Nenas
Hasil utama tanaman nenas adalah
buanya. Buah nenas segar yang sudah masak disamping langsung bisa dikonsumsi,
dapat juga diolah menjadi sari buah, sirup, manisan serta kemasan dalam kaleng
sebagai buah dalam kaleng. Nenas
mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi, terutama vitamin dan mineral.
A. Tanah
Tanaman
nenas menghendaki tanah yang gembur dan kaya akan bahan organik serta tidak
tahan terhadap genangan air. Di daerah basah dengan tanah liat yang tergenang
air cukup lama menyebabkan perkembangan tanaman menjadi tidak baik. Apabila
dibudidayakan di daerah kering diperlukan pengairan yang baik, dan air tanah
tidak lebih dari 150 cm di bawah permukaan tanah. Tanah yang cocok untuk
budidaya nenas adalah tanah dengan tekstur ringan (pasir) dan sedang, serta
mengandung bahan organik (humus) cukup tinggi, dengan pH sekitar 4,5 – 5,5.
B. Iklim
Tanaman
nenas dapat tumbuh baik di daerah dengan curah hujan yang merata sepanjang
tahun dengan jumlah antara 1.000 – 2.000 mm per tahun, serta suhu optimum 32ºC.
Tanaman nenas akan hidup dengan baik di daerah sampai dengan ketinggian 1.200
m, dengan ketinggian optimum antara 100 – 200 m di atas permukaan laut.
B. Pembibitan
1. Pemilihan varietas
tanaman nenas memiliki banyak varietas yang potensial dibudidyakan. Berdasarkan warna daging buahnya dikelompokan menjadi tiga golongan yaitu :
a. Golongan dengan daging buah warna putih
Varietas penting yang termasuk golongan ini antara lain adalah varietas Red Spanish. Bobot buah rata-rata 0,9-1,4 kg, umumnya dimanfaatkan untuk indistri buah kaleng.
b. Golongan dengan daging buah warna kuning
emas
Varietas
penting yang termasuk golongan ini adalah Queen, Abakha, Natal Queen,
c. Golongan dengan daging buah warna kuning
muda
Varietas yang termasuk golongan ini adalah Smmoth Cayenne. Bobot buah rata-rata 2,3-3,6 kg. Umumnya dimanfaatkan untuk indistri buah kaleng.
2. Perbanyakan
Tanaman nenas umumnya dikembangkan secara vegetatif dengan menggunakan bagian-bagian vegetatif tanaman yaitu :
a. Anakan (root sucker)
Anakan adalah tunas yang timbul dari bagian batang yang berada di bawah permukaan tanah. Tunas ini biasanya jumlahnya sedikit dan berakar. Bahan tanaman yang berasal dari tunas anakan cepat menghasilkan buah, sehingga banyak yang menggunakan sebagai bibit.
b. Tunas batang (sucker)
Tunas batang adalah tunas yang keluat dari bagian batang di atas tanah. Biasanya tunas seperti itu belum berakar. Untuk keperluan bibit digunakan tunas yang telah mencapai panjang 30-35 cm. Pada 15-18 bualan dari saat tanam, tanaman sudah menghasilkan buah.
c. Tunas tangkai
Disebut tunas tangkai karena tunas ini muncul dari pangkal tangkai atau pada tangkai buah. Tanaman yang berasal dari tunai tangkai dapat menghasilkan buah 18 bulan sesudah tanam.
d. Tunas dasar buah
Tunas dasar buah adalah tunas yang keluar dari dasar buah atau ujung tangkai buah yang jumlahnya bisa mencapai 10 tunas per tanaman. Dengan menggunakaan bibit asal tunas dasar buah tanaman dapat berbuah setelah berumur 20 bulan dari saat tanam.
e. Mahkota
Mahkota merupakan tunas yang tumbuh pada bagian pucuk dari pada buah, umumnya hanya satu, namun kadang-kadang dapat lebih. Tanaman dapat menghasilkan buah pada umur 22-24 bulan sejak tanam.
D. Penanaman
Lahan yang dibudidayakan dengan nenas perlu
persiapan terlebih dahulu. Pada lahan yang tidak terlalu luas, pengolahan tanah
dilakukan secara tradisional yaitu dengan mengunakan cangkul. Namun pada lahan
yang luas, khususnya perkebunan besar, pengolahan tanah dikerjakan secara mekanis
dengan menggunakan alat besar seperti traktor. Pengolahan tanah dilakukan 2-4
minggu sebelum tanam. Pengolahan tanah hendaknya dilakukan secara sempurna
dalam arti sampai gembur. Sewaktu pengemburan tanah sebaiknya dilakukan pula
pemberian pupuk organik (pupuk kandang). Untuk nenas memerlukan pupuk kandang
lebih kurang 20 ton/ha. Setelah pengolahan tanah, penggemburan dan pemupukan
dasar, tanah diratakan dan dibuat bedengan-bedengan dengan petanaman. Cara
penanaman nenas bermacam-macam, ada yang menggunakan barisan tunggal, rangkap
dua atau rangkap tiga.
Jarak tanam
dalam barisan 40-50 cm, jarak tanaman antara
barisan 20 cm, jarak antara bedengan 50 cm.
E. Pemeliharaan
1.
Penyiangan
setiap
3 (tiga) bulan sekali tanaman nenas memerlukan penyiangan. Sebelum dilakukan
penyiangan, daun-daunnya harus diikat sehingga penyiangan tidak terganggu oleh
daun-daun yang berduri. Bersamaan dengan penyiangan, tanah perlu digemburkan,
dan setelah pekerjaan penyiangan dan penggemburan selesai ikitan-iktan daun
dilepas.
2.
Pemupukan
pupuk
yang digunakan dapat berupa pupuk anorganik seperti Urea, TSP atau SP-36 dan
KCl maupun pupuk organik seperti pupuk kandang dan kompos. Pupupk anorganik
(Urea, TSP dan KCl) diberikan 2 kali dalam satu tahun pada awal musim dan
menjelang akhir musim penhujan. Pupuk
kandang diberikan satu kali dalan setahun pada awal musim penghujan. Dosis
pupuk yang diberikan untuk pupuk anorganik ialah Urea 225 kg/ha, TSP 125 kg/ha,
KCl 300 kg/ha. Sedangkan pupuk kandang 20 kg/ha/tahun.
Sarana Dan Prasarana Pendukung
Di
Kabupaten Kotawaringin Timur sarana dan prasarana pendukung antara lain :
- Terletak dijalur Lintas Kalimantan
- Sarana perhubungan laut, udara, darat telah terbuka luas (Pelabuhan Sampit, Bandara Udara, Jalan darat aspal hotmik)
- Perbankan cukup memadai antara lain : BPD, BRI, BNI, Bank Mandiri, Danamon, BII.
-
Perwakilan PT. Syngenta
- Sub Laboratorium Hama Penyakit
-
BBI
Hortikultura Keruing, Kebun Bibit Keruing.
- Terminal angkutan darat.
-
Komunikasi
meliputi pelayanan telepon otomatis dan telkomsel serta Pos dan Giro setiap
ibukota Kecamatan.
Analisa Usaha Tani
Kegiatan
Analisa Usaha Tani merupakan kegiatan yang perlu secara terus menerus
dilaksanakan agar dapat diketahui untung rugi usaha tani sehingga dapat
dijadikan dasar analisa pada musim tanam/tahun berikutnya.
Nama Petani : Mansyah
Luas lahan : 1 ha
Lokasi :
Kecamatan Baamang (Desa Baamang Hulu)
a. Sarana Produksi
|
- |
Bibit |
7.500 btg x Rp. 200 |
Rp 1.500.000 |
|
- |
Pupuk |
|
|
|
|
- Urea |
25 kg x Rp. 1.600 |
Rp. 40.000 |
|
|
- TSP |
50 kg x Rp. 1.600 |
Rp. 80.000 |
|
|
- KCl |
50 kg x Rp. 1.900 |
Rp. 95.000 |
|
|
|
|
Rp 1.715.000 |
b. Biaya Tenaga Kerja
|
- |
Pengolahan tanah |
40 HOK x Rp. 18.000 |
Rp 720.000 |
|
- |
Tanam |
40 HOK x Rp. 12.500 |
Rp. 480.000 |
|
- |
Pemeliharaan dan panen (tenaga kerja) |
1 org x Rp. 250.000 |
Rp. 250.000 |
|
|
|
|
Rp.3.700.000 |
c. Biaya pajak lahan
|
- |
Biaya pajak lahan |
Rp 30.000 |
|
|
- |
Biaya alat |
Rp 175.000 |
|
|
|
Biaya lain-lain |
Rp. 25.000 |
|
|
|
|
|
Rp 3.700.000 |
d. Biaya pasca panen
|
- |
Biaya pasca panen |
Rp 250.000 |
|
|
- |
Biaya sewa lahan |
Rp 225.000 |
|
|
|
|
|
Rp 475.000 |
e. Harga setempat perbuah
|
- |
Harga setempat perbuah |
Rp 5.000 |
f. Total produksi
|
- |
Total produksi |
Rp 7.000 |
PENDAPATAN KOTOR
= 7.000 x 5.000
= 35.000.000
PENDAPATAN BERSIH
= Rp. 35.000.000 – 6.120.000
= Rp. 28.880.000
KELAYAKAN EFISIENSI
B/C = 28.880.000
6.120.000
=
4,71
R/C = 35.000.000
6.120.000
=
5,71
2.
Sektor
Perkebunan.
Berdasarkan hasil penelitian tanah, agroklimat dan komoditas/budidaya,
Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1984 telah menetapkan Rencana
Induk Pembangunan Perkebunan dan lahan yang sesuai untuk pengembangan berbagai
komoditi perkebunan dicadangkan seluas 3.139.500 Ha (20,4 %) dari luas wilayah Kalimantan
Tengah.
Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1993 telah menetapkan
Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah dan untuk pengembangan
Perkebunan jangka panjang 15 tahun (1993
– 2003) dicadangkan lahan seluas 1.700.000 Ha.
Berdasarkan pengalaman disertai penelitian sesuai
dengan kondisi tanah dan iklim yang mendukung di Kalimantan Tengah ada 4
(empat) komoditi utama yang telah dikembangkan dan telah mengarah kepada
kegiatan Usaha Agribisnis oleh petani pekebun maupun oleh perusahaan perkebunan
seperti kelapa sawit, karet, kelapa dan lada.
Kelapa sawit merupakan komoditi perkebunan utama yang
dikelola oleh perusahaan besar swasta/nasional/asing yang bergerak dibidang
perkebunan, sedangkan tanaman karet dan kelapa sebagai tanaman utama yang
dikembangkan pada perkebunan rakyat.
Dengan paradigma baru pembangunan perkebunan yang sebelumnya berorientasi pada produksi
diubah berorientasi pada agribisnis, serta menempatkan pembangunan sistem
agribisnis sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi
Kedepan sub sistem hilir yang meliputi pengolahan dan
pemasaran hasil perkebunan merupakan rangkaian sub sistem yang sangat strategis
karena dapat menghela sub sistem lainnya untuk peningkatan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat khususnya petani dan pelaku usaha agribisnis.
a.
Potensi Lahan
Luas Propinsi Kalimantan
Tengah ± 153.564 Km2 (15.356.400 Ha). Berdasarkan Rencana Induk
Pengembangan Perkebunan tahun 1984 dicadangkan lahan untuk pengembangan tanaman
perkebunan seluas 3.139.500 Ha dan berdasarkan Rencana Tata Ruang Propinsi Kalimantan Tengah hasil
Paduserasi tahun 1999 lahan yang dapat dimanfaatkan untuk perkebunan yaitu pada
Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) seluas 3.114.980 Ha dan Kawasan Pemukiman
dan Penggunaan Lainnya (KPPL) seluas 1.892.225 Ha. Selanjutnya untuk jangka waktu 15 tahun (1993 –
2008/jangka menengah) dicadangkan 1.700.000 Ha.
b.
Pemanfaatan Lahan Dan Peluang Investasi
Sesuai
dengan rencana Tata Ruang Propinsi Kalimantan Tengah tahun 1999 luas lahan yang
menjadi kewenangan Dinas Perkebunan untuk mendayagunakannya yaitu pada Kawasan
Pengembangan Produksi (KPP) dan Kawasan Pemukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL)
dengan Ijin Usaha Perkebunan (IUP/PPUP) sebanyak 187 buah perusahaan. Perkebunan
rakyat yang sudah dibangun pada KPP dan KPPL sampai akhir tahun 2002 tercatat
seluas 448.290 Ha.
Dari segi ketersediaan
lahan daerah Kotawaringin Barat (termasuk Kabupaten Sukamara dan Lamandau)
sudah tidak tersedia lagi untuk perusahaan perkebunan, kecuali mengganti lahan
lokasi perusahaan yang tidak serius atau dicabut arahan/ijin lokasinya.
Sedangkan di Kapuas,
khususnya daerah Gunung Mas masih mempunyai potensi besar, yang selanjutnya
diikuti daerah Katingan, Seruyan (Kotawaringin Timur). Daerah Barito
Selatan/Barito Timur, KPPL lebih luas (pemukiman penduduk dan okupasi usaha
rakyat) dan Barito Utara/Murung Raya terkendala topografi tidak mendukung.
Disamping areal
perkebunan rakyat diatas, terdapat kebun perusahaan perkebunan (71 Unit
Perusahaan) seluas 275.356 Ha yang didominasi
tanaman kelapa sawit, sehingga luas areal perkebuanan tahun 2002 mencapai
723.646 Ha.
Lahan yang telah
diberikan kepada perusahaan perkebunan besar tersebut masih ada kemungkinan
untuk dicabut ijinnya bila dinilai tidak serius untuk mengerjakan lahannya
sehingga masih memungkinkan untuk diarahkan kepada calon investor lain yang
berminat menanamkan investasinya di Propinsi Kalimantan Tengah . Gubernur Kalimantan
Tengah menginstruksikan kepada Bupati/Walikota se Kalimantan Tengah untuk
mengevaluasi sebanyak 132 Unit Perusahaan karena berbagai ijin usaha yang
dimiliki sudah berakhir. Ada beberapa ijin lokasi perusahaan perkebunan yang
sudah dicabut dan proses evaluasi untuk dicabut sampai saat ini berjalan terus.
Beberapa Perkebunan
Besar Swasta (PBS) kelapa sawit yang saat ini ditawarkan untuk dijual (take
over) kepada calon investor adalah :
·
PT. TRANSINDO
ASPAC AGRONIAGA, dengan luas tanam 3.600
ha dari rencana 24.000 Ha.
·
PT. SURYA
BAROKAH, dengan luas tanam 2.648 Ha dari rencana 10.000 Ha.
·
PT. SAPTA KARYA
DAMAI, dengan luas tanam 4.613 Ha dari
rencana 12.000 Ha.
Sedangkan peluang
investasi industri sesuai potensi perkebunan di Kalimantan Tengah adalah :
a). Pembangunan Industri Hilir dan industri turunannya
dari CPO (Crude Palm Oil)/ minyak sawit kasar, seperti minyak goreng, sabun,
margarine.
Adapun pertimbangan sebagai berikut :
1)
Produksi kelapa sawit di Kalimantan Tengah tahun 2002
sebesar 1.183.773,05 ton TBS (Tandan Buah Segar).
2)
CPO yang dapat dihasilkan di Kalimantan Tengah pada tahun
2002 adalah ± 20 % tehadap TBS adalah
:
20
x
1.183.773,05 ton TBS = 236.755 ton CPO
100
3)
Kapasitas
industri hilir CPO/industri minyak goreng dan margarine rata-rata berkisar
antara 10-30 ton CPO/jam
4)
Apabila :
a.
Digunakan 10
ton/jam, maka kebutuhan CPO satu tahun adalah :
10 ton x 24 jam
x 26 Hr x 12 bl = 74.880 ton per satu unit
b.
Digunakan 30
ton/jam, maka kebutuhan CPO satu tahun adalah :
30 ton x 24 jam x 26 Hr x 12 bl
= 224.640 ton per satu unit
5)
Berarti
kemungkinan mendirikan industri minyak goreng dan margarine memungkinkan,
walaupun tentunya bahan baku berupa CPO harus dilakukan dari hasil produksi TBS
dan CPO lintas Kabupaten seperti Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin
Barat, Sukamara, dll, disamping masih banyaknya tanaman yang dimiliki oleh
beberapa Kabupaten tersebut di atas yang belum menghasilkan.
6)
Minyak goreng
yang dapat diperoleh dari 1 (satu) unit industri adalah:
a.
Kapasitas 10 ton : (75/100) x 74.880 ton CPO = 56.160
ton/minyak goreng/th.
b.
Kapasitas 30 ton :
(75/100) x 224.640 ton CPO = 168.480 ton/ minyak goreng/th
7)
Untuk kelancaran angkutan CPO (kapasitas 5 – 7 ribu
liter/tangki pada saat ini tersedia ruas jalan trans Kalimantan lintas Selatan
dan saat ini sudah mulai dimanfaatkan sesuai perkembangannya.
b).
Industri karet remah atau crumb rubber, dan atau industri
hilir karet ( pabrik ban atau industri
barang jadi yang menggunakan bahan baku karet).
Selain
potensi tersebut diatas, terdapat juga
potensi peremajaan kebun karet tua milik petani. Di Kalimantan Tengah
terdapat kebun karet seluas 335.490 Ha, dengan komposisi tanaman belum
menghasilkan (TBM) : 103.992 Ha, tanaman menghasilkan (TM) 190.904 Ha dan
tanaman tua/rusak (TT/TR) : 41.094 Ha.
Dari luas areal tanaman tua/rusak
tersebut secara teknis diperkirakan jumlah tegakan 14.793.840 batang (rata-rata
360 batang/ha, M,J. Rosyid dkk, tahun 2001). Jumlah log kayu karet 8.107.172 m2
(1.818 batang ekivalen 1M3 kayu karet), jumlah kayu gergajian
1.787.589 M3 (potensi kayu karet gergajian rata-rata 43.5 M3/hektar,
M,J.Rosyid dkk, tahun 2001). Program peremajaan karet tua dikombinasikan dengan
budaya setempat (berladang), tanaman sela padi/palawija dan atau tanaman kehutanan (sengon). Kabupaten yang sangat potensial adalah Barito Timur,
Gunung Mas, Kapuas/Pulang Pisau dan Barito Utara.
Lahan masih tersedia dengan mencabut kembali
ijin-ijin arahan/lokasi untuk perusahaan yang tidak serius serta melalui pola
kemitraan guna mengakomodir lahan-lahan milik masyarakat sekitar perusahaan.
c.
Tenaga Kerja
Untuk tenaga kasar dapat disediakan dari daerah
dengan diikuti program diklat oleh perusahaan. Sedangkan untuk tenaga
ahli/tenaga khusus didatangkan dari luar daerah (Pulau Jawa) melalui pola
Angkatan Kerja Antar Daerah (AKAD).
d.
Pembiayaan
Sistem pembiayaan yang
dilakukan oleh PBS selama ini menggunakan modal sendiri dan fasilitas perbankan
(PMDN dan PMA).
Sedangkan pembangunan
perkebunan yang dilakukan oleh masyarakat/petani pada umumnya dilakukan secara
swadaya dan perbantuan dalam bentuk saprodi dan biaya penanaman.Untuk pembangunan
kedepan, sistem pembangunan dapat diarahkan :
·
Menggunakan modal
sendiri.
·
Menggunakan
fasilitas Bank dengan bunga rendah, dan atau subsidi dari Pemerintah.
·
Joint Venture.
·
Fasilitas kredit
khusus yang disediakan oleh Pemerintah (Kredit Pengembangan Agribisnis).
3.
Sektor
Kehutanan
Untuk Produk
Unggulan Kalimantan Tengah yang
ditawarkan bagi para investor dalam dan luar negeri disektor / bidang investasi ini meliputi antara lain:
a.
Industri dan
Perdagangan :
·
Industri
Pengolahan kayu, plywood, dowel, moulding,
·
Pembuatan Industri pabrik Pulp dan
kertas.
·
Perdagangan
Hasil hutan ikutan seperti : sarang burung
walet, rotan, damar , gemor dan
lain-lain.
b.
Pengelolaan Hutan untuk Konservasi SDA dan lahan:
·
Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hutan Rawa dan Hutan Hujan tropika serta
Hutan Air Payau / Hutan
Mangrove yang terintegrasi / terkonversi dengan sektor Pariwisata dan sektor Perikanan, Reboisasi
lahan kritis / tidur dan areal hutan eks HPH,
·
Pembangunan
Hutan Tanaman Industri / HTI, Suaka
marga satwa / Cagar alam, wisata alam / Wana Wisata, dan Penelitian Hutan ilmiah. ( Eko Turisme ).
c.
Hutan Tanaman Industri / HTI
Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) di
1).
Potensi Dan Peluang Investasi
Propinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu
Propinsi yang memiliki potensi sumber daya hutan yang cukup besar, dengan total luas kawasan hutan mencapai
10,55 juta Ha atau 68,7 % dari total luas Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah
yang seluruhnya mencapai 15,35 juta Ha.
Besarnya potensi sumber daya
hutan yang tercermin dari luas kawasan hutannya menempatkan sektor kehutanan
sebagai sektor andalan di Kalimantan Tengah yang merupakan salah satu pilihan
investasi yang sangat strategis dan potensial dalam mendukung pembangunan
Otonomi Daerah di Propinsi
Sejalan dengan kebijakan pembangunan sektor
kehutanan, Pemerintah Propinsi Kalimantan
Tengah sangat terbuka bagi investor yang akan menanamkan modalnya dalam
kegiatan pembangunan HTI sekaligus industri pengolahannya.
Perkembangan HTI hingga saat ini belum
mencapai sasaran seperti yang diharapkan. Bahkan sejak dihentikannya pendanaan yang bersumber
dari DR tahun 1998, banyak diantara perusahaan HTI yang tidak mampu membiayai
kegiatan operasionalnya akibat likuiditas dan akhirnya mengehentikan
kegiatannya.
Sesuai semangat dan tuntutan Otonomi Daerah pada saat
ini, Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah akan membuka peluang investasi yang
seluas-luasnya guna menarik investor dalam dan luar negeri untuk menanamkan
modalnya di Kalteng.
2).
Sumber Pembiayaan
Sebagai sebuah proyek investasi
kegiatan pembangunan Hutan Tanaman Industri memerlukan modal dalam jumlah yang
tidak sedikit, sehingga sistim kemitraan dengan melibatkan investor yang
benar-benar kuat dan mampu baik dari dalam Negeri Maupun Luar Negeri dapat
dilaksanakan agar dapat menjamin kepastian usaha dalam jangka panjang.
Sistim biaya diharapkan selain dari
dalam Negeri diantaranya berupa pinjaman/kredit dari Bank juga diharapkan
adanya pinjaman/bantuan dari luar negeri
yaitu dari organisasi-organisasi dunia maupun dari negara-negara donor.
Sistim pembiayaan untuk pengelolaan
Hutan Tanaman Industri dapat dilaksanakan dengan melalui adanya kompensasi
sumber daya alam antara mitra kerja yaitu terhadap areal yang akan dibuka
apabila masih terdapat tegakan yang bernilai ekonomis dan mempunyai nilai
finansial dapat durus pemanfaatannya sehingga dapat menjadi sumber biaya yang
dapat menjamin bagi pengelola HTI.
Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah
menyadari bahwa eko-turisme sebagai sebuah potensi yang belum tergali merupakan
sektor yang akan dikembangkan Pemerintah Daerah, oleh karenanya peluang
investasi dalam bidang ini masih sangat terbuka bagi investor.
d.
Wisata Lingkungan / Eko-Turisme
Salah satu bentuk potensi yang ada di
Kalimantan Tengah yang sampai
saat ini belum tergali secara optimal
ialah pemanfaatan kawasan hutan untuk tujuan eco-turism
(wisata lingkungan). Ditinjau dari
perspektif bisnis, pengembangan eko-turisme memiliki prospek yang sangat
baik dimasa yang akan datang karena daya
tarik yang dimilikinya, berupa kekayaan sumber daya hutan dengan mega
biodiversity dan keindahan panorama alam yang dilengkapi dengan keunikan adat
istiadat budaya yang khas. Dengan potensi seperti
ini diharapkan mampu mengundang minat
wisatawan domestik maupun mancanegara.
1). Potensi dan Peluang Investasi
Propinsi Kalimantan Tengah yang memiliki luas wilayah 15.355 juta hektar, terdiri atas Kawasan
Lindung seluas 2,457 juta hektar dan Kawasan Budidaya seluas 12,898 juta
hektar, menunjukan bahwa dari segi luas kawasan hutan masih sangat besar dan potensial untuk
dikelola dan diusahakan. Disamping itu letak secara geografis Propinsi Kalimantan
Tengah yang menjadikan semakin memberi daya tarik wisata karena
keragaman tipe hutan dengan biodiversity dan kekayaan flora dan faunanya, serta
keragaman dan keunikan budaya dan adat istiadat masyarakat asli yang tinggal di
pedalaman yang semakin menjadi kekhasan
propinsi ini.
Peluang investasi
eko-turisme yang demikian besar saat ini sedang digarap oleh Pemerintah
Propinsi Kalimantan Tengah sebagai
salah satu upaya dalam meningkatkan optimalisasi pemanfaatan hutan berkesinambungan,
baik manfaat ekonomis, ekologis maupun sosial dan budaya untuk kesejahteraan
masyarakat.
Jenis-jenis eko-turisme
yang ditawarkan Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah antara lain : wisata
hutan hujan tropis dengan segala keanekaragaman hayati dan keunikan flora fauna
khas kalimantan, wisata arung jeram, susur sungai, air terjun, pegunungan dan
perbukitan dengan panorama yang indah, wisata situs sejarah, budaya dan adat
masyarakat Dayak, berbagai macam wisata
petualangan lainnya kiranya akan mempunyai daya tarik yang layak saing dipasar
pariwisata nasional maupun internasional.
2). Pembiayaan
Pembiayaan dan
pengelolaan proyek pengembangan eko-turisme ini direncanakan melalui bentuk
kemitraan baik antara investor dalam negeri maupun dengan investor luar negeri
yang tertarik untuk menanamkam modal di sektor ini.
Disamping Pola
Kemitraan tersebut, diharapkan melalui
pameran di Brunei Darussalam ini eko-turisme akan dapat menarik Para investor
dan negara-negara donor untuk memberikan pinjaman bagi pengembangan eko-turisme
di Propinsi Kalimantan Tengah
e.
Hasil Hutan Rotan.
Rekap Potensi Rotan Kalimantan
Tengah:
1. Luas Tanaman Rotan di Kalimantan Tengah 1,5 Juta Hektar (Rotan Alam, perkebunan masyarakat, budidaya).
2.
Potensi
Produksi Rotan di Kalimantan Tengah ± 2,25 Juta Ton Per Tahun.
3.
Produksi
Rotan tahun 2001 = 1.371.864 ton per tahun.
4. Jenis Rotan yang dihasilkan :
a. Rotan Irit
b. Rotan Manau
c.
Rotan
d. Rotan Sega
e. Rotan semambu
f.
Limbah Hak Pengusahaan Hutan.
Daftar
Target Limbah Dari RKTUPHHK Tahun 2004 Propinsi Kalimantan Tengah S/D 31 Maret
2004
|
|
|
Target |
|
No |
Kabupaten |
Limbah RKTUPHHK |
|
|
|
Tahun 2004 |
|
|
|
(M3) |
|
1 |
2 |
3 |
|
|
|
|
|
|
1. Kab.
Murung Raya |
3.500 |
|
|
2. Kab.
Barito Utara |
18.430 |
|
|
3. Kab.
Barito Selatan |
3.515 |
|
|
4. Kab.
Barito Timur |
- |
|
|
5. Kab. |
- |
|
|
6. Kab.
Pulang Pisau |
- |
|
|
7. |
- |
|
|
8. Kab.
Gunung Mas |
- |
|
|
9. Kab.
Katingan |
12.325 |
|
|
10. Kab.
Kotawaringin Timur |
- |
|
|
11. Kab.
Seruyan |
- |
|
|
12. Kab.
Kotawaringin Barat |
4.435 |
|
|
13. Kab.
Lamandau |
- |
|
|
14. Kab.
Sukamara |
- |
|
|
JUMLAH |
42.205 |
Keterangan: 4 (empat) Unit HPH Blok
RKTUPHHK-nya berada pada Kabupaten, yaitu :
-
PT. Sari Bumi
Kusuma (Kab. Katingan & Kab. Lamandau)
-
PT. Erna Djuliawati (Kab. Katingan & Kab. Seruyan)
-
PT. Trisetia
Intiga (Kab. Kotawaringin Barat & Kab. Lamandau)
-
PT. Central
4.
Sektor Kelautan dan Perikanan.
Areal perairan laut dengan garis pantai +
750 Km menghadap ke laut Jawa, dengan 11 Sungai besar, dan perairan umum
sungai, danau, rawa seluas + 2.290.000 Ha. Yang sangat cocok untuk usaha
perikanan Tangkap, Usaha perikanan Budidaya .
Jenis produksi perairan laut dan perairan umum diantaranya ikan kakap, tongkol, bawal,
tengiri, kembung, udang,kepiting,lais , toman, udang galah, baung, belida,
jelawat, labi-labi, dan ikan hias (botia dan arwana).
a). Perikanan Tangkap.
-
Potensi perikanan tangkap di perairan Umum : yang terdiri
dari 11 sungai besar,486 buah danau dan 1,85 juta Ha. Lahan rawa memiliki
berbagai jenis ikan dengan potensi lestari sebesar 130.000 Ton per tahun.,
potensi keberadaan labi-labi + 500.000 ekor per tahun
baru dimanfaatkan 20 % , ikan hias botia potensinya sebesar + 7,5 juta ekor per tahun baru dimanfaatkan 36 % dan ikan betutu potensi diperkirakan 200
ton per tahun baru dimanfaatkan 51 %.
-
Potensi perikanan tangkap diperairan laut : dengan luas
wilayah laut + 95.450 Km2 memiliki potensi lestari sebesar
126 000 ton baru dimanfaatkan 44,46 %.
b). Perikanan Budi Daya.
-
Budi daya Ikan Air
Tawar, Potensi nya ada di sungai , danau dan rawa yang tersebar diseluruh
kabupaten dan
-
Budi daya ikan air
Payau dilingkupi dengan hamparan hutan bakau , nipah sehingga potensial sekali
untuk budi daya ikan/ udang tambak tersedia lahan seluas 84.400 Ha. Untuk
pengembangan budi daya tambak di air payau ini.
c).
Peluang investasi sektor perikanan adalah :
-
Budi daya tambak
udang/bandeng/kepiting. Lahan yang tersedia seluas 84.400 Ha. Di kabuapten : Kapuas,
Pulang pisau, Katingan , Kotim , kobar dan Sukamara.
-
Budi Daya Ikan di Keramba / jarring apung areal yang
tersedia di 11 sungai besar, di Kabupaten
: Pulang Pisau, P.Raya, Kapuas, Kotim, seruyan, Kobar.
-
Penangkapan Ikan di perairan laut. Areal
disepangjang pantai 750 Km dengan jarak 0 – 12 mill laut.
-
Penangkaran : labi-labi
di kabupatenPulang pisau dan katingan , ikan hias arwana, di kabupaten seruyan
, ikan betutu di kabupaten
Peluang Investasi di Bidang Pembenihan dan
Pemasaran Ikan Betutu (Oxyeleotris
Marmorata Blkr) di Kalimantan Tengah
Benih merupakan bagian utama dalam budidaya ikan. Pada tingkatan yang sederhana benih ikan dapat diperoleh dari hasil penangkapan di periakan umum, sedang pada tingkat yang lebih maju dapat diperoleh dari hasil pembenihan ikan milik petani (swasta) maupun dari Balai Benih Ikan (BBI) milik Pemerintah.
Ikan Betutu / bakut (Oxyeleotris marmorata) atau marbled goby alias ikan bodoh / malas terbilang ikan konsumsi mahal, namun belum ada yang sangat serius mengelola pembenihannya, akibatnya perkembangbiakannya sangat menghawatirkan, sehingga populasi dari tahun ke tahun semakin menurun. Kondisi ini perlu segera dicari solusinya agar ikan betutu bisa ditingkatkan jumlahnya, apalagi dengan harganya yang tinggi ini, maka banyak orang yang lebih suka memburunya, akibat diburu inilah semakin mempercepat kemusnahannya.
Pasokannya sampai saat ini masih kurang karena mengandalkan tangkapan
dari alam sehingga dikhawatirkan sudah terjadi over fishing atau melebihi
tingkat produksi alam yang normal. Bila
ikan betutu terus ditangkapi akibat permintaan dan harga jual yang tinggi, lama
kelamaan populasinya akan menjadi langka. Budidaya mencakup kegiatan produksi
benih dan pembesaran ikan betutu merupakan suatu alternatif rasional yang harus
ditempuh.
Ikan betutu sebagai ikan air
tawar, banyak ditemukan diperairan Kalimantan Tengah. Habitatnya meliputi air
tawar dan payau, sungai-sungai yang tidak jauh dari muara atau pantai, berarus
tenang dan berlumpur, rawa serta danau dengan dasar berlumpur, ia senang
terbenam dicelah dan termasuk ikan labirin karena mampu hidup diperairan yang
keruh dengan bantuan lembar-lembar labirin pada lapis insangnya.
Latar belakang
Konsumen utama Betutu adalah
masyarakat luar dari Kalimantan Tengah, terutama Pulau Jawa melalui penjualan
ke restoran berbintang dengan harga yang menggiurkan dan juga merupakan
komoditas ekspor dengan Negara tujuan Amerika Serikat, Cina / Hongkong,
Australia, Singapura, Malasia dan Negara lainnya.
Sebagian besar ikan ini
diperoleh dari hasil tangkapan di alam, pada kondisi saat ini Betutu di alam
sudah sangat langka diperoleh sehingga hasil tangkapan semakin menurun
jumlahnya. Dari data pemasaran 2 (dua) tahun terakhir ikan Betutu yang keluar
dari Propinsi Kalimantan Tengah berjumlah 15.763 Kg pada tahun 2001 dan menurun
menjadi 13.347,2 Kg pada tahun 2002, hal ini akibat dari eksploitasi yang
dilakukan secara terus menerus tanpa diimbangi dengan pembudidayaan.
Propinsi Kalimantan Tengah
dengan luas wilayah 153.564 Km2 meliputi perairan umum yang terdiri dari
sungai, danau dan rawa sekitar 2,29 juta Ha, sungai besar yang ada berjumlah 11
(sebelas) buah dan 33 (tiga puluh tiga) buah anak/ cabang sungai ; sementara
danau yang ada berjumlah 455 (empat ratus lima puluh lima) buah.
Prospek pengembangan ikan
Betutu cukup baik, terutama juga untuk memenuhi permintaan konsumen dalam dan
luar negeri dengan tanpa harus mengganggu kelestarian alam. Hal ini didukung
dengan mengingat Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan.
Dalam upaya memanfaatkan
peluang dan mengatasi permasalahan tersebut, salah satu perusahaan yang ada di
Kalimantan Tengah yaitu CV.Zippora Anggun selaku eksportir yang berusaha
dibidang ikan konsumsi (ikan Betutu) telah berupaya dalam mengatasi
permasalahan pembenihan dan penyediaan ikan Betutu dalam bentuk mendirikan
hatchery dan pembesaran yang saat ini terbentur biaya dan diharapkan dapat
bekerja sama dengan pihak investor yang berminat dibidang usaha tersebut.
Lokasi dan Tempat Usaha
Sesuai hasil survei yang
dilaksanakan oleh perusahaan CV.Zippora Anggun bekerja sama dengan Dinas
Kelautan dan Perikanan Kalimantan Tengah bahwa daerah yang cocok untuk
pengembangan ikan Betutu, yaitu daerah pasang surut seperti di Kabupaten Pulang
Pisau tepatnya di Desa Henda (antara Palangka Raya dan Pulang Pisau). Daerah
tersebut memenuhi persyaratan pembudidayaan ikan Betutu dengan pertimbangan
tanah padat dan berlumpur serta ketinggian pasang surut mencapai 1,5 meter,
dekat dengan perairan sungai Kahayan.
Adapun kapasitas lahan yang
telah tersedia dan dimiliki oleh perusahaan tersebut saat ini dengan luas 10 Ha
(100.000 m2) yang sedang digarap, dan diharapkan pengembangannya
mencapai 50 Ha (500.000 m2).
Kebutuhan Investasi
Mengingat dana yang dimiliki oleh
perusahaan tersebut sangat terbatas, diharapkan dari pihak luar (investor) bisa
bekerja sama dalam mewujudkan usaha tersebut diatas dengan perincian biaya :
-
Pengelolaan
tanah (pembuatan kolam) per hektar untuk tahap pertama 10 Ha x Rp. 100.000.000
= Rp.
1.000.000.000,-
- Bangunan hatchery (tempat Pembenihan, peralatan dan bangunan lainnya) = Rp. 500.000.000,-
- Pengamanan (pagar dan lainnya) = Rp. 250.000.000,-
- Pakan dan obat-obatan = Rp. 100.000.000,-
- Pengadaan dan perawatan induk = Rp. 50.000.000,-
-
Gaji
karyawan @ 1.000.000 / bulan x 20 orang x 12 bulan = Rp.
240.000.000,-
Rp. 2.140.000.000,-
Apabila pengembangannya mencapai 50 Ha biaya yang diperlukan mencapai Rp. 10.700.000.000,-
Pemasaran dan penjualan
Pemasaran saat ini ke daerah Pulau Jawa terutama
Potensi Alam
Propinsi Kalimantan Tengah dengan luas wilayah
153.564 Km2 meliputi perairan umum yang terdiri dari sungai, danau dan rawa
sekitar 2,29 juta Ha, sungai besar yang ada berjumlah 11 (sebelas) buah dan 33
(tiga puluh tiga) buah anak/ cabang sungai ; sementara danau yang ada berjumlah
455 (empat ratus lima puluh lima) buah. Potensi ikan Betutu sekitar 200 ton per tahun dengan produksi tangkap tahun
2002 13.347,2 Kg dan sebagian ikan ini dibawa ke Banjarmasin dengan jumlah
mencapai 30 ton per tahun.
Teknologi Pembenihan
Induk ikan
Betutu yang akan dipijah berukuran 800 – 1.500 gram per ekor. Pasalnya ada
korelasi positif antara bobot induk dengan jumlah telur yang dihasilkan induk
dengan kisaran bobot tersebut diatas dapat menghasilkan telur sebanyak 5.000 –
30.000 butir. Jumlah telur sangat bervariasi tergantung kondisi induk dan
tingkat kematangan gonad. Induk-induk ikan betutu yang akan dipijah harus
diperhatikan secara praktis tingkat kematangan gonad induk ikan betina dapat
diketahui dari ukuran celah genitalnya. Induk ikan jantan juga kelihatan warna
merah disekitar lubang pelepas. Ada kalanya jika bagian bawah perut diurut akan
keluar cairan berwarna putih.
Pemijahan
induk ikan Betutu dapat dilakukan secara alami atau dengan stimulasi hormon.
Pemijahan betutu tidak mengenal musim dan dapat berlangsung sepanjang tahun
tiga sampai empat kali setahun. Kemauan memijah biasanya akan meningkat pada
musim hujan, sebaliknya kurang pada musim kemarau.
a. Pemijahan alami
Tempat
pemijahan betutu dilakukan di kolam tanah dan bak fiber glass. Penebaran induk
antara jantan dan betina 1 : 1. Padat penebarannya dilakukan untuk 100 ekor
induk pada luasan kolam 20 x 30 m, kedalaman 1 – 2 m, dasar dan pinggir kolam
bersiring tembok, memiliki pergantian air secara terus menerus, tempat
pemijahan harus dilengkapi saluran pemasukan air (inlet) dan saluran pembuangan
(outlet).
Telur
dikeluarkan dari tubuh betina yang sudah matang gonad dengan menyemprotkannya
ke substrat. Substrat untuk penempelan telur tersebut terbuat dari potongan
pipa paralon berukuran 4 – 6 inchi yang dibelah dan kemudian diikat kembali
guna memudahkan pada saat mengecek keberadaan telur. Jumlah sarang yang
ditempatkan dalam kolam bekisar 20 – 30 buah untuk sejumlah pasang induk
tersebut.
setiap induk bertelur pada substrat membentuk lingkaran yang diselimuti lendir. Telur tersebut dipindahkan ke aquarium bervolume 40 – 60 liter. Kedalam aquarium dapat diisi 2 – 3 sarang dan diberi aerasi untuk suplay udara sampai telur menetas.
b. Kawin suntik
Tujuan kawin suntik yaitu untuk mendapatkan produksi telur dalam julah lebih banyak, yang memungkinkan benih ikan diproduksikan secara masal dan terjadwal.
Hal ini dilakukan jika fasilitas hatchery untuk pemeliharaan larva cukup memadai, sehingga pengaruh kegagalan bisa dikurangi. Hormon yang digunakan untuk menstimulasi pemijahan Betutu adalah ovaprim.
Hormon disuntikan ketubuh ikan secara intra muscular
pada bagian dorsal dekat sirip punggung. Penyuntikan dilakukan 2 kali dosis yang dianjurkan 0,5 ml/ kg bobot badan.
Selang waktu penyuntikan pertama dan kedua berkisar 10 – 12 jam. Waktu ovulasi
induk-induk antara 36 – 60 jam.