POTENSI DAN PELUANG INVESTASI SECARA UMUM

DI  KALIMANTAN TENGAH

 

 

I.         GAMBARAN UMUM PROVINSI KALIMANTAN TENGAH.

 

Kalimantan Tengah propinsi dengan wilayah terluas nomor tiga di Indonesia ditandai dengan lahan yang membentang luas sejauh mata memandang yang sebagian besar ditutupi tumbuh-tumbuhan / vegetasi tropis yang amat beragam jenisnya. Infrastruktur perekonomian yang masih langka antara lain ditandai dengan jalan darat tersedia amat terbatas kapasitasnya. Penduduk yang tersebar dengan kerapatan yang amat rendah per kilometer persegi dalam wilayah yang amat luas hidup dengan tenang tanpa banyak terpengaruh derap perubahan global.

 

Sejak berdirinya propinsi ini pada tahun 1957, perubahan nyata yang amat dominan di daerah ini adalah pada lahan hutannya yang mengalami degradasi mutu hutan alam tropis yang semakin berkurang nilai komersialnya, nilai tambah dari eksploitasi hutan dan sumberdaya alam lainnya yang amat diharapkan dapat kembali dalam bentuk percepatan pembangunan segala bidang di daerah ini tidak secara alamiah terjadi. Pola ekonomi yang dominan dari proses investasi di daerah ini adalah pola “hit and run” dan “backwash effects” atau divestasi. Kualitas investasi yang masih semu ditandai dengan bahan mentah di bawa ke luar daerah ini dan nilai tambahnya sebagian kecil kembali melalui kebaikan hati pemerintah pusat dan sebagian lainnya tidak diketahui rimba dan manfaatnya.

 

Birokrasi dan masyarakatnya yang terbatas aksesnya di tingkat Nasional, hampir tidak dapat berperan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang dapat menstimulir peluang-peluang pembangunan daerah yang lebih luas dan berdampak ganda.

 

Kini propinsi dengan luas wilayah nomor tiga di Indonesia ini telah melalui berbagai periode pembangunan Nasional dan masyarakatnya di daerah terpencil tidak mengetahui dan sebagian dari mereka ada juga yang  telah menjadi penonton yang setia terjadinya derap perubahan yang signifikan pada kawasan-kawasan lain di Indonesia.

 

A.    Kondisi Geografis.

 

1.      Luas Wilayah :

 

Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas wilayah mencapai + 153. 564 Km2 atau 1,5 kali pulau Jawa yang merupakan provinsi ke tiga terluas wilayahnya di Indonesia setelah Kalimantan Timur dan Propinsi Papua.

 

Adapun luas wilayah tersebut terdiri dari :

§   Hutan belantara . . . . . . . . . . . . . . . . . : 126. 200 Km2

§   Rawa-rawa. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . :    18.125 Km2

§   Sungai, Danau dan Genangan . . . . . .:      4.563 Km2

§   Lahan lainnya. . . . . . . . . . . . . . . . . . . :       4.676 Km2

 

2.      Letak dan batas wilayah .

 

Provinsi Kalimantan Tengah terletak ditengah-tengah pulau Kalimantan dan dapat dijadikan sebagai titik poros penghubung atau  interconnection antara provinsi-provinsi lainnya di pulau Kalimantan, disamping itu letaknya juga dekat dan berhadapan langsung dengan laut/ pulau Jawa.

Hal ini tentu berpotensi dan memberikan peran yang sangat penting  untuk suatu prospek kegiatan pembangunan dan pengembangan perekonomian Kawasan Pulau Kalimantan dimasa yang akan datang, khususnya yang menyangkut rencana realisasi kesepakatan para Gubernur se- Kalimantan untuk membangun jalan Trans Kalimantan dan  jalur jalan Kereta Api di Kalimantan yang akan merupakan satu kesatuan dengan jalur yang ada di Kalimantan  wilayah  Malaysia dan  Brunei Darussalam sehingga merupakan  satu kawasan Pulau Kalimantan / Borneo.  

 

Batas Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah meliputi :

 

§   Sebelah Utara berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Barat dan    Kalimantan Timur

§   Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa.

§   Sebelah Timur berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur dan Selatan

§   Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Barat.

 

B.    Pemerintahan

 

Wilayah Kerja Administrasi Pemerintahan Provinsi Kalimantan Tengah ini meliputi :

1).    Kota Palangka Raya dengan ibukota Palangka Raya.

2).    Kabupaten Kotawaringin Barat dengan  ibukota Pangkalan Bun

3).    Kabupaten Kotawaringin Timur dengan Ibukota Samp[it

4).    Kabupaten Kapuas dengan ibukota Kuala Kapuas.

5).    Kabupaten Barito Selatan dengan ibukota Buntok.

6).    Kabupaten Barito Utara dengan ibukota Muara Teweh.

7).    Kabuapetn Lamandau dengan ibukota Nanga Bulik

8).    Kabupaten Sukamara dengan ibukota Sukamara.

9).    Kabuapaten Seruyan dengan ibukota Kuala Pembuang.

10).     Kabupaten Katingan dengan ibukota Kasongan

11).     Kabupaten Gunung Mas dengan ibukota Kuala Kurun .

12).     Kabupaten Pulang Pisau dengan ibukota Pulang Pisau.

13).     Kabupaten Barito Timur dengan ibukota Tamiang Layang

14).     Kabupaten Murung Raya dengan ibukota Puruk Cahu.

 

C.    Penduduk

 

Jumlah penduduk Kalimantan Tengah Tahun 2003: 1.834. 365. Jiwa,

terdiri dari    :                    

§         Laki- Laki          :    935.526  Jiwa.

§         Perempuan       :    898.839  Jiwa.

Penyebaran penduduk dengan kepadatan 13 jiwa / Km2

 

D.     Sekilas Infrastruktur  yang tersedia di Kalimantan Tengah :

 

1.      Jalan darat  :

 

Terdapat dua jalan darat poros utama yang merupakan jalan lintas Kalimantan yaitu poros tengah dan poros selatan sepanjang 3.741.05 km. yang terdiri dari :

Jalan Nasional  sepanjang             :  1.707.57  Km.

Jalan Propinsi sepanjang               :  1.050.26. Km.

Serta ribuan kilometer jalan kolektor/penghubung lainnya dan    rencana pembuatan jalan koridor lintas perkebunan, jalan perusahaan  eks HPH maupun jalan daerah-daerah potensial.

Dan prioritas pembangunan jalan lain yang masih harus dibangun adalah:     983.22. Km.

Peran dan fungsi jalan darat  adalah sebagai sarana penghubung antar / lintas  Provinsi, kabupaten dan kota serta beberapa Kecamatan yang ada di Kalimantan Tengah , disamping itu  pengembangan dan pembangunannya diarahkan adalah  sebagai upaya untuk membuka isolasi bagi daerah-daerah pedalaman / terpencil yang dimungkinkan untuk  dibangun jalan darat  dengan masud untuk meningkatkan kegiatan perekonomian  didaerah dan  memperlancar distribusi  perdagangan barang  dan jasa angkutan darat. serta orang/penumpang.

  

2.      Pelabuhan  Laut :

 

Tersedia pelabuhan laut untuk sarana jasa Perdagangan, angkutan penumpang dan barang ( ekspor dan import maupun lokal )  yakni :

 

§     Pelabuhan Laut  Kumai  di Kabupten Kotawaringin Barat.

§     Pelabuhan Laut Sampit  di Kabupaten Kotawaringin Timur.

§     Pelabuhan Pulang Pisau di Kabupaten Pulang Pisau.

§     Pelabuhan Kapuas .di Kabupaten Kapuas

§     Pelabuhan Sukamara.di Kabupaten Sukamara.

§     Pelabuhan Kuala Pembuang di Kabupaten Seruyan.

§     Pelabuhan Pegatan Mendawai. Di kabupaten Katingan.

§     Pelabuhan Sebangau di Kabupaten .Pulang Pisau dan Kota. 

 

 

3.      Bandar Udara :

 

Di Propinsi Kalimantan Tengah terdapat 9 buah bandar udara yang melayani penerbangan untuk  berbagai tipe dan jenis pesawat terbang, dengan nama  sebagai berikut :

 

No

Nama Bandara

Nama Kota

Type / jenis pesawat

1.

Tjilik Riwut

Palangka Raya

Boeing 737-200, F28,

2.

Iskandar

Pangkalan Bun

F.27.

3.

H. Asan

Sampit

F.27

4.

Beringin

Muara Teweh

C.212

5.

Sangkalemo

Kuala Kurun

C.212

6.

Sanggu

Buntok

C.212

7.

Dirung

Puruk Cahu

C.212

8.

Kuala Pembuang

Kuala Pembuang

C.212

9.

Tumbang Samba

Tumbang samba

BN

 

Maskapai penerbangan yang melayani jasa penerbangan di Kalimantan Tengah ada 5antara lain : Merpati , Sriwijaya air, Trigana Air,/Kalstar , DERAYA dan  DAS.

Disamping itu  untuk melayani kota-kota kecil ada juga   pesawat  dari MAF yang terbang secara regular  serta bisa pula dicarter.

 

4.      Perbankan

 

Perbankan. dengan adanya Kantor Bank Indonesia selaku Bank Sentral juga terdapat 4 (empat) buah Bank BUMN (BRI, Bank Mandiri, BTN, BNI) dan 1 (satu) buah Bank BUMD (Bank Pembangunan Kalimantan Tengah) serta 2 (dua) buah Bank Swasta (Bank Danamon dan Bank Internasional Indonesia/BII), 1 (satu) Buah Bank Perkreditan Rakyat., khusus Bank BRI dan Bank Pembangunan Kalimantan Tengah pelayanannya sudah sampai ke berbagai Kecamatan dan Desa.

 

5.      Telekomunikasi,

 

Telekomunikasi/Komunikasi. Komunikasi yang telah dimiliki daerah yaitu fasilitas  telepon seluler dan otomatis tersedia disemua ibukota kabupaten bahkan sampai ke beberapa ibukota Kecamatan, selain itu ada juga stasiun RRI Palangka Raya serta puluhan stasiun Radio Swasta Niaga dan amatir, Stasiun  TVRI, Stasitiun Relay RCTI dan Stasiun Relay Metro TV.

 

6.      Listrik :

 

Pelayanan tenaga listrik sudah menjangkau sebagian besar kota dan desa baik yang berasal dari PLTD yang tersebar di Kabupaten –Kabupaten Kalimantan Tengah maupun langsung  dialirkan  dari interconeksi PLTU / PLTA di Kalimantan Selatan.

 

7.      Air bersih

 

      Pelayanan air bersih  dikelola oleh perusahaan Daerah/ BUMD yang ada di Kabupaten dan kota se- Kalimantan Tengah dan pelayanannya sudah menjangkau beberapa ibukota kecamatan dan desa.

 

8.      Perhotelan

 

      Di Kalimantan Tengah terdapat 1( satu) Hotel bintang 2(dua) dan 60 Hotel melati, dan ada Resort Rungan Sari yang dikelola oleh yayasan Susila Budi Dharma dengan fasilitas, kolam renang, lapangan tennis dan meeting Centre bertarap internasional

 

 

II.KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL DAERAH PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

 

Merupakan komitmen Pemerintah Daerah bahwa Kebijakan Penanaman Modal Daerah di Provinsi Kalimantan Tengah, meliputi 2 (dua) langkah yakni:

 

a.      Arah dan Tujuan Kebijakan Pemerintah Daerah dibidang Penanaman Modal mempunyai maksud sebagai berikut  :

 

-         Mempertahankan dan mengembangkan investasi yang sudah ada.

-         Menambah dan mencari serta menarik investor-investor baru baik lokal, nasional maupun asing.

-         Pemberdayaan masyarakat dan ekonomi rakyat.

 

b.    Strategi Kebijakan Pemerintah Daerah di Bidang Penanaman Modal meliputi:

 

1.       Melakukan pembinaan, pengawasan dan Pengendalian Proyek Investasi PMA dan PMDN melalui Satuan Tugas (Satgas) terpadu baik tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dan sehat.

2.       Memberikan jaminan keamanan dan kepastian hukum bersama aparat keamanan terhadap para investor.

3.      Memberikan kemudahan pelayanan  perizinan yang cepat, keringanan pajak, pembebasan pajak untuk masa persiapan dan kontrustruksi (berupa tax holiday secara selektif)

4.      Melakukan Promosi: Kedalam dan Luar negeri dengan mengikuti event-event pameran, penyebaran booklet dan leaflet melalui perwakilan/kedutaan Indonesia dan asing di dalam dan di Luar Negeri baik melalui jasa pos, Website/internet, dan email.

5.      Menjalin dan mewujudkan kerjasama Sektoral , Nasional, Regional, serta internasional yang mengutamakan kepentingan nasional dalam rangka meningkatkan penanaman modal didaerah , seperti kerjasama BIMP-EAGA,ASEAN,AIDA, AFTA dll.

6.      Peningkatan pengembangan dan pembangunan Prasarana dasar / Infrastruktur daerah , sebagai sarana pendukung  peningkatan  investasi dan perdagangan di Provinsi Kalimantan Tengah sebagai bagian dari upaya percepatan pembangunan Kawasan Timur Indonesia( KTI )

 

 

III.     PERKEMBANGAN INVESTASI DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH HINGGA DESEMBER 2003

 

Pemanfaatan Fasilitas Penanaman Modal sampai akhir bulan desember 2003 perkembangan penanaman modal baik PMA/PMDN mengalami perubahan/ peningkatan baik dalam jumlah proyek maupun jumlah investasi. Jumlah perusahaan PMA/PMDN secara komulatif sebanyak 244 buah perusahaan dengan perincian PMA sebanyak 54 buah perusahaan dengan rencana investasi sebesar US$ 6,2 milyar lebih dan realisasi sebesar US$ 1,9 milyar lebih atau 30% sedangkan PMDN sebanyak 190 buah perusahaan dengan rencana investasi sebesar Rp. 19,1 triliun lebih dan realisasi sebesar Rp. 12,2 triliun lebih atau 64,20%.

 

Penanaman modal yang telah disetujui dalam periode Januri s/d 31 Desember 2003 sebanyak 1 (satu) buah proyek PMDN dengan nilai investasi sebesar Rp. 68 milya dan Penanaman Modal Asing sebanyak 2 (dua) buah proyek dengan investasi sebesar US$ 670 ribu.

 

Disamping itu terdapat juga persetujuan perluasan usaha perusahaan Penanaman Modal Asing yang sudah ada dengan nilai investasi sebesar US$ 7,5 juta.

Hal ini memperlihatkan bahwa selain terdapat minat penanaman modal dalam negeri untuk melakukan investasi baru, perusahaan PMDN dan PMA yang ada, juga tetap berkembang dan memperluas usahanya.

Nilai persetujuan PMDN dan PMA selama tahun 2003 meningkat dibandingkan dengan tahun 2002. Hal ini memperhatikan sudah mulai kembalinya kepercayaan investor PMDN dan PMA untuk menanamkan modalnya di Kalimantan Tengah dan bidang usaha yang diminati oleh investor meliputi sektor pertambangan, perkebunan dan pariwisata.

 

Penggunaan Non Faslitas

     Sektor Perkebunan

     -  Non PMA/PMDN                                            110 proyek

     -  Luas Lahan                                                     2.192.036 ha

     -  Sudah Tanam                                                     342.011 ha

 

 

1.      Jumlah Perusahaan PMA/PMDN di provinsi Kalimantan Tengah

 

No.

TAHUN

PMA

PMDN

JUMLAH

PENINGKATAN

 

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

 

 

 

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

 

32

32

33

39

40

41

54

 

 

 

144

157

170

175

185

189

190

 

 

 

176

189

203

214

225

230

244

 

 

7,4 %

6,9 %

6,9 %

5,1 %

4,9 %

2,2 %

5,7  %

 

 

2.      Tingkat Perkembangan Perrusahaan PMA / PMDN di Provinsi Kalimantan Tengah

 

 

NO.

TINGKAT

 PERKEMBANGAN

S/D DESEMBER 2003

JUMLAH

PMA

PMDN

 

1

 

2

 

3

 

4

 

 

 

Persiapan

 

Konstruksi

 

Produksi

 

Produksi Percobaan

 

 

13

 

4

 

-

 

37

 

 

 

20

 

31

 

6

 

133

 

33

 

35

 

6

 

170

 

JUMLAH

54

190

244

 

 

3.      Rencana dan Realisasi Investasi PMDN di Provinsi Kalimantan Tengah.

 

NO.

SEKTOR / SUB

SEKTOR

JUMLAH

PERUSAHAAN

PMDN dalam Rp. Juta

PERSENTASE

PMDN

JUMLAH

 

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

 

 

 

KEHUTANAN

INDUSTRI KAYU

PERKEBUNAN

PERTAMBANGAN

PERIKANAN

JASA ANGKUTAN

INDUSTRI KIMIA

REAL ESTATE

JASA LAINNYA

 

70

27

64

5

3

4

5

2

10

 

 

3.440.759,61

4.388.917,35

7.749.792,86

11.310,66

11.377,00

17.593,30

3.336.454,30

16.000,00

175.430,68

 

3.510.842,86

3.360.722,35

3.410.903,95

7.164,00

6.406,32

135,00

1.819.705,85

519,82

175.433,53

 

102,04 %

76,57 %

44,01 %

63,34 %

56,31 %

0,77 %

54,54 %

3,25 %

100,00 %

 

JUMLAH

190

19.147.625,76

12.291.833,68

64,20  %

 

 

4.      Rencana dan Realisasi Investasi PMA di Provinsi Kalimantan Tengah

 

 

NO.

SEKTOR / SUB

SEKTOR

JUMLAH

PERUSAHAAN

PMDN dalam Rp. Juta

PERSENTASE

PMDN

JUMLAH

 

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

 

 

KEHUTANAN

INDUSTRI KAYU

PERKEBUNAN

PERTAMBANGAN

PERIKANAN

JASA ANGKUTAN

INDUSTRI KIMIA

REAL ESTATE

JASA LAINNYA

 

8

8

11

21

0

0

0

1

5

 

 

158.219,90

1.276.774,36

706.697,37

2.465.570,75

0,00

0,00

0,00

400.000,00

1.232.141,93

 

 

105.862,89

614.257.57

400.031,92

728.342,74

0,00

0,00

0,00

0,00

13.898,33

 

66.91  %

48,11  %

56,61  %

29,54  %

0,00  %

0,00  %

0,00  %

0,00  %

1,13  %

 

JUMLAH

54

6.239.404,31

1.862.393,44

29,85  %

 

 

 

IV.         POTENSI DAN PELUANG SEKTOR INVESTASI DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

 

1.      Sektor Pertanian Tanaman Pangan:

 

Luas lahan sawah di Kalimantan Tengah 273,206 Ha, dari penggunaannya masih relatif kecil yaitu lahan sawah baru 194,855, sedangkan untuk lahan kering yang tidak/belum diusahakan masih 1.609.140 Ha.

 

Kalau di tahun 2002 Kalteng belum mampu  memenuhi kebutuhan berasnya sendiri, maka di tahun 2003 Kalteng dipastikan mampu memenuhi kebutuhan beras lokal. Hasil monitoring dan perhitungan Biro Pusat Statistik (BPS) sampai tanggal 24 Desember 2003 menunjukkan bahwa realisasi produksi beras Kalteng sebesar 489.033 ton yang berarti melampaui target sebesar 454.245 ton. Selain itu, perluasan areal panen juga bertambah cukup signifikan yaitu 194.855 Ha atau lebih besar 16.720 Ha dari target sebesar 178.135 Ha. KepalaDinasPertanian Kalteng Ir.Andoh Oemar yang dikonfirmasi Kapos membenarkan data tersebut. Menurutnya pencapaian tersebut merupakan hasil dari berbagai upaya pemerintah daerah untuk menuju pencapaian swasembada beras di Provinsi Kalteng yang telah dicanangkan Gubemur Kalteng Asmawi Agani. Beberapa faktor yang menunjang pencapaian tersebut menurut Andoh antara lain adalah upaya serius pemerintah di tiap kabupaten/ kota di Kalteng untuk mendukung pencanangan swasembada beras dari Gubernur.

 

 

Target dan Realisasi Produksi, Produktivitas dan Luas Tanam Padi di Kalteng Tahun 2003.

 

Uraian

Target

Realisai*

Produksi

454.245

489.033

Produktifitas

25,50

25,10

Luas Panen

178.135

194.855

 

 

 

 

*) Perbaikan angka ramalan III. Sumber: BPS dan Dinas Pertanian Kalimantan Tengah.

 

Selain itu, dampak dari ketatnya penertiban illegal logging telah mengembalikan masyarakat pada usaha pertanian. Dampak pemekaran kabupaten juga semakin mendekatkan dan memudahkan pembinaan pertanian masyarakat di daerah daerah. Masing-masing kabupaten jadi lebih bersemangat mengelola pertanian di wilayah mereka dengan lebih serius lagi" ujar Andoh. Pencapaian target produksi beras tersebut menurut Andoh juga dipengaruhi oleh meningkatnya dukungan anggaran dekonsentrasi (APBN) tahun 2003, dimana 60 persen dana APBN langsung dimanfaatkan oleh petani dalam bentuk Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat (BPLM). Produksi padi tahun 2003 sebesar 489.033 ton GKG setelah dikurangi bufferstock (stok penyangga, Red) maka akan diperoleh produksi setara beras sebanyak 281.683 ton atau lebih 17.969 ton dari kebutuhan Kalteng di tahun 2003 sebesar 263.713,6 ton beras. Data tahun 2003, penduduk Kalteng berjumlah 1.883.669 jiwa dengan tingkat konsumsi rata-rata sebesar 140 kg per kapita per tahun atau 263.713,6 ton beras.

 

Pengembangan komoditas pertanian tanaman pangan dan hortikultura khususnya untuk pengembangan buah-buahan di Kalimantan Tengah , dengan orientasi pembangunan agribisnis kedepan tidak hanya peningkatan produksi saja tetapi secara luas mencakup perkembangan agribisnis yang dilaksanakan secara terpadu , sehingga kegiatan agribisnis menuntut skala ekonomi tertentu, ketersedia bahan baku produksi secara berkelanjutan serta prasyarat kualitas.

Potensi dan peluang investasi adalah pengembangan agribisnis Tanaman Pangan dan hortikultura  khususnya buah-buahan yang mempunyai potensi serta peluang untuk dikembangkan dan dikerjasamakan dengan para investor dalam negeri dan asing.

Sebagai produk unggulan daerah Kalimantan Tengah , komoditi Rambutan, Pisang, Jeruk, Durian, Cempedak dan Nenas serta Salak sangat prospektif  untuk dikembangkan budidaya tanamannya, dan salah satu kawasan yang menjadi kawasan pengembangan Agribisnis hortikultura di Kalimantan Tengah adalah di Kabupaten Kapuas, tepatnya wilayah kecamatan Basarang.

Kecamatan Basarang ini dikembangkan sebagai daerah percontohan Agropolitan di Kalimantan Tengah . 

Pemerintah daerah dalam upaya mempercepat Pembangunan dan pengembangan  sektor pertanian telah membangun Terminal Agribisnis Terpadu  (TAT), berkembangnya sektor ini sebagai akibat adanya minat petani setempat untuk mengusahakan penanaman buah-buahan ini ( rambutan, Nenas dan Salak ), apabila hasil panen berlebihan, maka diharapkan adanya minat para investor untuk berinvestasi  dan berkerjasama dengan para petani dalam bidang pemasaran/penampungan hasil buah segar maupun segi pengolahan hasil ( Industri pengalengan dlsnya ).

 

Potensi dan Peluang Pengembangan Nenas di Kabupaten Kotawaringin Timur.

 

         Kebijakan pembangunan pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan bagian integral dari kebijakan nasional pembangunan pertanian, dengan titik berat pada:

-       Program Ketahanan Pangan dan

-       Program Pengembangan Agribisnis

         Program pengembangan agribisnis dimaksudkan untuk mendorong berkembangnya usaha pertanian dengan wawasan agribisnis yang mampu menghasilkan produk yang berdaya saing, menghasilkan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan dan kesejahtaraan para petani dan produsen yang mendukung pertumbuhan pendapatan nasional.

         Sistem dan usaha agribisnis hortikultura yang dibangun memiliki empat karakteristik yaitu :

-        Berdaya saing

-        Berkerakyatan

-        Berkelanjutan

-        Besentralisasi

 

Tujuan Dan Sasaran

 

         Adapun tujuan dan sasaran pengembangan agribisnis tanaman nanas adalah sebagai berikut :

 

Tujuan :

a.       Mendorong berkembangnya sistem usaha buah nanas unggulan nasional dan unggul daerah yang berdaya saing, berkelanjutan, berkerakyatan dan tersentralisasi.

b.      Meningkatnya perteumbuhan dan berkelanjutan kebun buah berskala komersial.

c.       Meningkatnya penerapan teknologi maju dalam orchad manajemen untuk meningkatkan produktivitas dan mutu buah-buahan.

d.      Meningkatkan pemberdayaan kelembagaan petani untuk memperoleh keterampilan dan pengusahaan teknoligi serta meningkatkan kemampunan pengolahan agribisnis.

e.       Meningkatkan pendapaptan dan kesejahtaraan petani melalui pembinaan sistem usaha dengan teknologi yang tepat, efisien, ekonomis serta ramah lingkungan.

Sasaran :

        Sasaran pengembangan agribisnis buah nenas di Kabupaten Kotawaringin Timur tersebar di Kecamatan Baamang dan  Kecamatan Kota Besi.

 

Prakondisi Budidaya Nenas

 

         Hasil utama tanaman nenas adalah buanya. Buah nenas segar yang sudah masak disamping langsung bisa dikonsumsi, dapat juga diolah menjadi sari buah, sirup, manisan serta kemasan dalam kaleng sebagai buah dalam kaleng. Nenas mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi, terutama vitamin dan mineral.

 

A.      Tanah

  Tanaman nenas menghendaki tanah yang gembur dan kaya akan bahan organik serta tidak tahan terhadap genangan air. Di daerah basah dengan tanah liat yang tergenang air cukup lama menyebabkan perkembangan tanaman menjadi tidak baik. Apabila dibudidayakan di daerah kering diperlukan pengairan yang baik, dan air tanah tidak lebih dari 150 cm di bawah permukaan tanah. Tanah yang cocok untuk budidaya nenas adalah tanah dengan tekstur ringan (pasir) dan sedang, serta mengandung bahan organik (humus) cukup tinggi, dengan pH sekitar 4,5 – 5,5.

B. Iklim

  Tanaman nenas dapat tumbuh baik di daerah dengan curah hujan yang merata sepanjang tahun dengan jumlah antara 1.000 – 2.000 mm per tahun, serta suhu optimum 32ºC. Tanaman nenas akan hidup dengan baik di daerah sampai dengan ketinggian 1.200 m, dengan ketinggian optimum antara 100 – 200 m di atas permukaan laut.

 

B.      Pembibitan

1. Pemilihan varietas

  tanaman nenas memiliki banyak varietas yang potensial dibudidyakan. Berdasarkan warna daging buahnya dikelompokan menjadi tiga golongan yaitu :

a.       Golongan dengan daging buah warna putih

Varietas penting yang termasuk golongan ini antara lain adalah varietas Red Spanish. Bobot buah rata-rata 0,9-1,4 kg, umumnya dimanfaatkan untuk indistri buah kaleng.

b.      Golongan dengan daging buah warna kuning emas

Varietas penting yang termasuk golongan ini adalah Queen, Abakha, Natal Queen, Palembang, Cabezona, Eleuthera. Bobot buah varietas Natal Queen rata-rata antara 0,45-0,9 kg sampai 1,6 kg. Sebagian besar varietas tersebut dikonsumsi dalam bentuk buah segar dan sebagian diolah.

c.       Golongan dengan daging buah warna kuning muda

Varietas yang termasuk golongan ini adalah Smmoth Cayenne. Bobot buah  rata-rata 2,3-3,6 kg. Umumnya dimanfaatkan untuk indistri buah kaleng.

 

2. Perbanyakan

Tanaman nenas umumnya dikembangkan secara vegetatif dengan menggunakan bagian-bagian  vegetatif tanaman yaitu :

a.       Anakan (root sucker)

Anakan adalah tunas yang timbul dari bagian batang yang berada di bawah permukaan tanah. Tunas ini biasanya jumlahnya sedikit dan berakar. Bahan tanaman yang berasal dari tunas anakan cepat menghasilkan buah, sehingga banyak yang menggunakan sebagai bibit.

 

b.      Tunas batang (sucker)

Tunas batang adalah tunas yang keluat dari bagian batang di atas tanah. Biasanya tunas seperti itu belum berakar. Untuk keperluan bibit digunakan tunas yang telah mencapai panjang 30-35 cm. Pada 15-18 bualan dari saat tanam, tanaman sudah menghasilkan buah.

c.       Tunas tangkai

Disebut tunas tangkai karena tunas ini muncul dari pangkal tangkai atau pada tangkai buah. Tanaman yang berasal dari tunai tangkai dapat menghasilkan buah 18 bulan sesudah tanam.

d.     Tunas dasar buah

Tunas dasar buah adalah tunas yang keluar dari dasar buah atau ujung tangkai buah yang jumlahnya bisa mencapai 10 tunas per tanaman. Dengan menggunakaan bibit asal tunas dasar buah tanaman dapat berbuah setelah berumur 20 bulan dari saat tanam.

e.    Mahkota

Mahkota merupakan tunas yang tumbuh pada bagian pucuk dari pada buah, umumnya hanya satu, namun kadang-kadang dapat lebih. Tanaman dapat menghasilkan buah pada umur 22-24 bulan sejak tanam.

 

D. Penanaman

    Lahan yang dibudidayakan dengan nenas perlu persiapan terlebih dahulu. Pada lahan yang tidak terlalu luas, pengolahan tanah dilakukan secara tradisional yaitu dengan mengunakan cangkul. Namun pada lahan yang luas, khususnya perkebunan besar, pengolahan tanah dikerjakan secara mekanis dengan menggunakan alat besar seperti traktor. Pengolahan tanah dilakukan 2-4 minggu sebelum tanam. Pengolahan tanah hendaknya dilakukan secara sempurna dalam arti sampai gembur. Sewaktu pengemburan tanah sebaiknya dilakukan pula pemberian pupuk organik (pupuk kandang). Untuk nenas memerlukan pupuk kandang lebih kurang 20 ton/ha. Setelah pengolahan tanah, penggemburan dan pemupukan dasar, tanah diratakan dan dibuat bedengan-bedengan dengan petanaman. Cara penanaman nenas bermacam-macam, ada yang menggunakan barisan tunggal, rangkap dua atau rangkap tiga.

Jarak tanam dalam barisan 40-50 cm, jarak tanaman antara  barisan 20 cm, jarak antara bedengan 50 cm.

 

E. Pemeliharaan

1. Penyiangan

setiap 3 (tiga) bulan sekali tanaman nenas memerlukan penyiangan. Sebelum dilakukan penyiangan, daun-daunnya harus diikat sehingga penyiangan tidak terganggu oleh daun-daun yang berduri. Bersamaan dengan penyiangan, tanah perlu digemburkan, dan setelah pekerjaan penyiangan dan penggemburan selesai ikitan-iktan daun dilepas.

2. Pemupukan

pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk anorganik seperti Urea, TSP atau SP-36 dan KCl maupun pupuk organik seperti pupuk kandang dan kompos. Pupupk anorganik (Urea, TSP dan KCl) diberikan 2 kali dalam satu tahun pada awal musim dan menjelang akhir musim penhujan. Pupuk kandang diberikan satu kali dalan setahun pada awal musim penghujan. Dosis pupuk yang diberikan untuk pupuk anorganik ialah Urea 225 kg/ha, TSP 125 kg/ha, KCl 300 kg/ha. Sedangkan pupuk kandang 20 kg/ha/tahun.

 

Sarana Dan Prasarana Pendukung

 

         Di Kabupaten Kotawaringin Timur sarana dan prasarana pendukung antara lain :

-          Terletak dijalur Lintas Kalimantan

-          Sarana perhubungan laut, udara, darat telah terbuka luas (Pelabuhan Sampit, Bandara Udara, Jalan darat aspal hotmik)

-          Perbankan cukup memadai antara lain : BPD, BRI, BNI, Bank Mandiri, Danamon, BII.

-          Perwakilan PT. Syngenta Indonesia, PT. Monagro, PT. Pertani.

-          Sub Laboratorium Hama Penyakit

-          BBI Hortikultura Keruing, Kebun Bibit Keruing.

-          Terminal angkutan darat.

-          Komunikasi meliputi pelayanan telepon otomatis dan telkomsel serta Pos dan Giro setiap ibukota Kecamatan.

 

Analisa Usaha Tani

 

        Kegiatan Analisa Usaha Tani merupakan kegiatan yang perlu secara terus menerus dilaksanakan agar dapat diketahui untung rugi usaha tani sehingga dapat dijadikan dasar analisa pada musim tanam/tahun berikutnya.

Nama Petani             : Mansyah

Luas lahan                 : 1 ha

Lokasi                       : Kecamatan Baamang  (Desa Baamang Hulu)

 

a.         Sarana Produksi

-

Bibit

7.500 btg x Rp. 200

Rp 1.500.000

-

Pupuk

 

 

 

- Urea

25 kg x Rp. 1.600

Rp.     40.000

 

- TSP

50 kg x Rp. 1.600

Rp.     80.000

 

- KCl

50 kg x Rp. 1.900

Rp.     95.000

 

 

 

Rp 1.715.000

 

b.         Biaya Tenaga Kerja

-

Pengolahan tanah

40 HOK x Rp. 18.000

Rp    720.000

-

Tanam

40 HOK x Rp. 12.500

Rp.   480.000

-

Pemeliharaan dan panen (tenaga kerja)

1 org x Rp. 250.000

Rp.   250.000

 

 

 

Rp.3.700.000

 

c.         Biaya pajak lahan

-

Biaya pajak lahan

Rp       30.000

-

Biaya alat

Rp     175.000

 

Biaya lain-lain

Rp.      25.000

 

 

 

Rp  3.700.000

 

d. Biaya pasca panen

-

Biaya pasca panen

Rp     250.000

-

Biaya sewa lahan

Rp     225.000

 

 

 

Rp     475.000

 

e. Harga setempat perbuah

-

Harga setempat perbuah

Rp         5.000

 

f. Total produksi

-

Total produksi

Rp         7.000

 

PENDAPATAN KOTOR

= 7.000 x 5.000

= 35.000.000

 

PENDAPATAN BERSIH

= Rp. 35.000.000 – 6.120.000

= Rp. 28.880.000

 

KELAYAKAN EFISIENSI

B/C      = 28.880.000

                 6.120.000

            = 4,71

 

R/C      = 35.000.000

                 6.120.000

            = 5,71

 

      

2.      Sektor Perkebunan.

 

Berdasarkan hasil penelitian tanah, agroklimat dan komoditas/budidaya, Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1984 telah menetapkan Rencana Induk Pembangunan Perkebunan dan lahan yang sesuai untuk pengembangan berbagai komoditi perkebunan dicadangkan seluas 3.139.500 Ha (20,4 %) dari luas wilayah Kalimantan Tengah.

 

Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1993 telah menetapkan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah dan untuk pengembangan Perkebunan jangka panjang 15 tahun  (1993 – 2003)  dicadangkan lahan seluas   1.700.000 Ha.

 

Berdasarkan pengalaman disertai penelitian sesuai dengan kondisi tanah dan iklim yang mendukung di Kalimantan Tengah ada 4 (empat) komoditi utama yang telah dikembangkan dan telah mengarah kepada kegiatan Usaha Agribisnis oleh petani pekebun maupun oleh perusahaan perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kelapa dan lada.

 

Kelapa sawit merupakan komoditi perkebunan utama yang dikelola oleh perusahaan besar swasta/nasional/asing yang bergerak dibidang perkebunan, sedangkan tanaman karet dan kelapa sebagai tanaman utama yang dikembangkan pada perkebunan rakyat.

 

Dengan paradigma baru pembangunan perkebunan  yang sebelumnya berorientasi pada produksi diubah berorientasi pada agribisnis, serta menempatkan pembangunan sistem agribisnis sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

 

Kedepan sub sistem hilir yang meliputi pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan merupakan rangkaian sub sistem yang sangat strategis karena dapat menghela sub sistem lainnya untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat khususnya petani dan pelaku usaha agribisnis.

 

 

a.      Potensi  Lahan

 

Luas Propinsi Kalimantan Tengah ± 153.564 Km2 (15.356.400 Ha). Berdasarkan Rencana Induk Pengembangan Perkebunan tahun 1984 dicadangkan lahan untuk pengembangan tanaman perkebunan seluas 3.139.500 Ha dan berdasarkan Rencana  Tata Ruang Propinsi Kalimantan Tengah hasil Paduserasi tahun 1999 lahan yang dapat dimanfaatkan untuk perkebunan yaitu pada Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) seluas 3.114.980 Ha dan Kawasan Pemukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) seluas 1.892.225 Ha. Selanjutnya untuk jangka waktu 15 tahun (1993 – 2008/jangka menengah) dicadangkan 1.700.000 Ha.

 

b.      Pemanfaatan Lahan Dan Peluang Investasi

 

Sesuai dengan rencana Tata Ruang Propinsi Kalimantan Tengah tahun 1999 luas lahan yang menjadi kewenangan Dinas Perkebunan untuk mendayagunakannya yaitu pada Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) dan Kawasan Pemukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) dengan Ijin Usaha Perkebunan (IUP/PPUP) sebanyak 187 buah perusahaan. Perkebunan rakyat yang sudah dibangun pada KPP dan KPPL sampai akhir tahun 2002 tercatat seluas 448.290 Ha.

 

Dari segi ketersediaan lahan daerah Kotawaringin Barat (termasuk Kabupaten Sukamara dan Lamandau) sudah tidak tersedia lagi untuk perusahaan perkebunan, kecuali mengganti lahan lokasi perusahaan yang tidak serius atau dicabut arahan/ijin lokasinya.

 

Sedangkan di Kapuas, khususnya daerah Gunung Mas masih mempunyai potensi besar, yang selanjutnya diikuti daerah Katingan, Seruyan (Kotawaringin Timur). Daerah Barito Selatan/Barito Timur, KPPL lebih luas (pemukiman penduduk dan okupasi usaha rakyat) dan Barito Utara/Murung Raya terkendala topografi tidak mendukung.

 

Disamping areal perkebunan rakyat diatas, terdapat kebun perusahaan perkebunan (71 Unit Perusahaan) seluas  275.356 Ha yang didominasi tanaman kelapa sawit, sehingga luas areal perkebuanan tahun 2002 mencapai 723.646 Ha.

 

Lahan yang telah diberikan kepada perusahaan perkebunan besar tersebut masih ada kemungkinan untuk dicabut ijinnya bila dinilai tidak serius untuk mengerjakan lahannya sehingga masih memungkinkan untuk diarahkan kepada calon investor lain yang berminat menanamkan investasinya di Propinsi Kalimantan Tengah . Gubernur Kalimantan Tengah menginstruksikan kepada Bupati/Walikota se Kalimantan Tengah untuk mengevaluasi sebanyak 132 Unit Perusahaan karena berbagai ijin usaha yang dimiliki sudah berakhir. Ada beberapa ijin lokasi perusahaan perkebunan yang sudah dicabut dan proses evaluasi untuk dicabut sampai saat ini berjalan terus.

 

Beberapa Perkebunan Besar Swasta (PBS) kelapa sawit yang saat ini ditawarkan untuk dijual (take over) kepada calon investor adalah :

 

·        PT. TRANSINDO ASPAC AGRONIAGA, dengan luas  tanam 3.600 ha dari rencana 24.000 Ha.

·        PT. SURYA BAROKAH, dengan luas tanam 2.648 Ha dari rencana 10.000 Ha.

·        PT. SAPTA KARYA DAMAI,  dengan luas tanam 4.613 Ha dari rencana 12.000 Ha.

 

Sedangkan peluang investasi industri sesuai potensi perkebunan di Kalimantan Tengah adalah :

 

a).   Pembangunan Industri Hilir dan industri turunannya dari CPO (Crude Palm Oil)/ minyak sawit kasar, seperti minyak goreng, sabun, margarine.

 

Adapun pertimbangan sebagai berikut :

 

1)           Produksi kelapa sawit di Kalimantan Tengah tahun 2002 sebesar 1.183.773,05 ton TBS (Tandan Buah Segar).

2)           CPO yang dapat dihasilkan di Kalimantan Tengah pada tahun 2002 adalah ± 20 % tehadap TBS adalah :

      20

              x  1.183.773,05 ton TBS = 236.755 ton CPO

     100

3)           Kapasitas industri hilir CPO/industri minyak goreng dan margarine rata-rata berkisar antara 10-30 ton CPO/jam

4)           Apabila :

a.            Digunakan 10 ton/jam, maka kebutuhan CPO satu tahun adalah :

 10 ton x 24 jam x 26 Hr x 12 bl = 74.880 ton per satu unit

b.            Digunakan 30 ton/jam, maka kebutuhan CPO satu tahun adalah :

  30 ton x 24 jam x 26 Hr x 12 bl = 224.640 ton per satu unit

 

5)           Berarti kemungkinan mendirikan industri minyak goreng dan margarine memungkinkan, walaupun tentunya bahan baku berupa CPO harus dilakukan dari hasil produksi TBS dan CPO lintas Kabupaten seperti Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat, Sukamara, dll, disamping masih banyaknya tanaman yang dimiliki oleh beberapa Kabupaten tersebut di atas yang belum menghasilkan.

6)           Minyak goreng yang dapat diperoleh dari 1 (satu) unit industri adalah:

a.            Kapasitas 10 ton : (75/100) x 74.880 ton CPO = 56.160 ton/minyak goreng/th.

b.            Kapasitas 30 ton :  (75/100) x 224.640 ton CPO = 168.480 ton/ minyak goreng/th

7)           Untuk kelancaran angkutan CPO (kapasitas 5 – 7 ribu liter/tangki pada saat ini tersedia ruas jalan trans Kalimantan lintas Selatan dan saat ini sudah mulai dimanfaatkan sesuai perkembangannya.

 

b).   Industri karet remah atau crumb rubber, dan atau industri hilir karet  ( pabrik ban atau industri barang jadi yang menggunakan bahan baku karet).

 

Selain potensi tersebut diatas, terdapat juga  potensi peremajaan kebun karet tua milik petani. Di Kalimantan Tengah terdapat kebun karet seluas 335.490 Ha, dengan komposisi tanaman belum menghasilkan (TBM) : 103.992 Ha, tanaman menghasilkan (TM) 190.904 Ha dan tanaman  tua/rusak (TT/TR) : 41.094 Ha.

 

      Dari luas areal tanaman tua/rusak tersebut secara teknis diperkirakan jumlah tegakan 14.793.840 batang (rata-rata 360 batang/ha, M,J. Rosyid dkk, tahun 2001). Jumlah log kayu karet 8.107.172 m2 (1.818 batang ekivalen 1M3 kayu karet), jumlah kayu gergajian 1.787.589 M3 (potensi kayu karet gergajian rata-rata 43.5 M3/hektar, M,J.Rosyid dkk, tahun 2001). Program peremajaan karet tua dikombinasikan dengan budaya setempat (berladang), tanaman sela padi/palawija dan atau tanaman  kehutanan (sengon). Kabupaten yang sangat potensial adalah Barito Timur, Gunung Mas, Kapuas/Pulang Pisau dan Barito Utara.

 

Lahan masih tersedia dengan mencabut kembali ijin-ijin arahan/lokasi untuk perusahaan yang tidak serius serta melalui pola kemitraan guna mengakomodir lahan-lahan milik masyarakat sekitar perusahaan.

 

c.      Tenaga Kerja

 

Untuk tenaga kasar dapat disediakan dari daerah dengan diikuti program diklat oleh perusahaan. Sedangkan untuk tenaga ahli/tenaga khusus didatangkan dari luar daerah (Pulau Jawa) melalui pola Angkatan Kerja Antar Daerah (AKAD).

 

d.      Pembiayaan

 

Sistem pembiayaan yang dilakukan oleh PBS selama ini menggunakan modal sendiri dan fasilitas perbankan (PMDN dan PMA).

Sedangkan pembangunan perkebunan yang dilakukan oleh masyarakat/petani pada umumnya dilakukan secara swadaya dan perbantuan dalam bentuk saprodi dan biaya penanaman.Untuk pembangunan kedepan, sistem pembangunan dapat diarahkan :

·        Menggunakan modal sendiri.

·        Menggunakan fasilitas Bank dengan bunga rendah, dan atau subsidi dari Pemerintah.

·        Joint Venture.

·        Fasilitas kredit khusus yang disediakan oleh Pemerintah (Kredit Pengembangan Agribisnis).

 

3.      Sektor Kehutanan

 

Untuk Produk Unggulan  Kalimantan Tengah yang ditawarkan bagi para investor dalam dan luar negeri  disektor / bidang investasi  ini meliputi antara lain:

a.      Industri dan Perdagangan :

·        Industri Pengolahan kayu, plywood, dowel, moulding,

·        Pembuatan Industri pabrik Pulp  dan  kertas. 

·        Perdagangan Hasil hutan ikutan seperti : sarang burung  walet, rotan, damar ,  gemor dan lain-lain.

b.      Pengelolaan Hutan untuk Konservasi SDA dan lahan:

·        Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hutan Rawa dan   Hutan Hujan tropika   serta  Hutan   Air  Payau / Hutan  Mangrove  yang     terintegrasi    / terkonversi dengan sektor    Pariwisata dan sektor Perikanan, Reboisasi lahan kritis / tidur dan areal hutan eks HPH,

·        Pembangunan Hutan Tanaman Industri   / HTI, Suaka marga satwa / Cagar alam, wisata alam / Wana Wisata, dan  Penelitian Hutan ilmiah.  ( Eko Turisme ).

 

c.       Hutan Tanaman Industri / HTI

 

Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Indonesia telah dimulai sejak awal dekade 1990-an melalui pelibatan investor swasta dengan sebagian besar pendanaannya didukung dari Dana Reboisasi (DR). Pengembangan HTI tersebut dilatar belakangi oleh adanya kesenjangan antara kapasitas industri pengolahan hasil hutan dengan kemampuan pasokan bahan baku yang selama ini ditopang oleh produksi dari hutan alam.

 

1).   Potensi Dan Peluang Investasi

 

Propinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu Propinsi yang memiliki potensi sumber daya hutan yang cukup besar,  dengan total luas kawasan hutan mencapai 10,55 juta Ha atau 68,7 % dari total luas Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah yang seluruhnya mencapai 15,35 juta Ha.

Besarnya potensi sumber daya hutan yang tercermin dari luas kawasan hutannya menempatkan sektor kehutanan sebagai sektor andalan di Kalimantan Tengah yang merupakan salah satu pilihan investasi yang sangat strategis dan potensial dalam mendukung pembangunan Otonomi Daerah di Propinsi Kalimantan Tengah.

 

Sejalan dengan kebijakan pembangunan sektor kehutanan, Pemerintah Propinsi  Kalimantan Tengah sangat terbuka bagi investor yang akan menanamkan modalnya dalam kegiatan pembangunan HTI sekaligus industri pengolahannya.

 

Perkembangan HTI hingga saat ini belum mencapai sasaran seperti yang diharapkan. Bahkan  sejak dihentikannya pendanaan yang bersumber dari DR tahun 1998, banyak diantara perusahaan HTI yang tidak mampu membiayai kegiatan operasionalnya akibat likuiditas dan akhirnya mengehentikan kegiatannya.

 

Sesuai semangat dan tuntutan Otonomi Daerah pada saat ini, Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah akan membuka peluang investasi yang seluas-luasnya guna menarik investor dalam dan luar negeri untuk menanamkan modalnya di Kalteng.

 

2).   Sumber Pembiayaan

 

Sebagai sebuah proyek investasi kegiatan pembangunan Hutan Tanaman Industri memerlukan modal dalam jumlah yang tidak sedikit, sehingga sistim kemitraan dengan melibatkan investor yang benar-benar kuat dan mampu baik dari dalam Negeri Maupun Luar Negeri dapat dilaksanakan agar dapat menjamin kepastian usaha dalam jangka panjang.

Sistim biaya diharapkan selain dari dalam Negeri diantaranya berupa pinjaman/kredit dari Bank juga diharapkan adanya pinjaman/bantuan dari luar negeri  yaitu dari organisasi-organisasi dunia maupun dari negara-negara donor.

 

Sistim pembiayaan untuk pengelolaan Hutan Tanaman Industri dapat dilaksanakan dengan melalui adanya kompensasi sumber daya alam antara mitra kerja yaitu terhadap areal yang akan dibuka apabila masih terdapat tegakan yang bernilai ekonomis dan mempunyai nilai finansial dapat durus pemanfaatannya sehingga dapat menjadi sumber biaya yang dapat menjamin bagi pengelola HTI.

 

Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah menyadari bahwa eko-turisme sebagai sebuah potensi yang belum tergali merupakan sektor yang akan dikembangkan Pemerintah Daerah, oleh karenanya peluang investasi dalam bidang ini masih sangat terbuka bagi investor. 

 

 

d.       Wisata Lingkungan / Eko-Turisme

 

Salah satu bentuk potensi yang ada di  Kalimantan Tengah  yang sampai saat ini belum tergali secara optimal  ialah pemanfaatan kawasan hutan untuk tujuan  eco-turism (wisata lingkungan).  Ditinjau dari perspektif bisnis, pengembangan eko-turisme memiliki prospek yang sangat baik  dimasa yang akan datang karena daya tarik yang dimilikinya, berupa kekayaan sumber daya hutan dengan mega biodiversity dan keindahan panorama alam yang dilengkapi dengan keunikan adat istiadat budaya yang khas.  Dengan potensi seperti ini  diharapkan mampu mengundang minat wisatawan domestik  maupun mancanegara.

 

1).   Potensi dan Peluang Investasi

Propinsi Kalimantan Tengah yang memiliki luas wilayah  15.355 juta hektar, terdiri atas Kawasan Lindung seluas 2,457 juta hektar dan Kawasan Budidaya seluas 12,898 juta hektar, menunjukan bahwa dari segi luas kawasan hutan  masih sangat besar dan potensial untuk dikelola dan diusahakan. Disamping itu letak secara geografis Propinsi Kalimantan Tengah  yang menjadikan  semakin memberi daya tarik wisata karena keragaman tipe hutan dengan biodiversity dan kekayaan flora dan faunanya, serta keragaman dan keunikan budaya dan adat istiadat masyarakat asli yang tinggal di pedalaman  yang semakin menjadi kekhasan propinsi ini.

 

Peluang investasi eko-turisme  yang demikian besar  saat ini sedang digarap oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah   sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan optimalisasi pemanfaatan hutan berkesinambungan, baik manfaat ekonomis, ekologis maupun sosial dan budaya untuk kesejahteraan masyarakat.

Jenis-jenis eko-turisme yang ditawarkan Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah antara lain : wisata hutan hujan tropis dengan segala keanekaragaman hayati dan keunikan flora fauna khas kalimantan, wisata arung jeram, susur sungai, air terjun, pegunungan dan perbukitan dengan panorama yang indah, wisata situs sejarah, budaya dan adat masyarakat Dayak, berbagai macam  wisata petualangan lainnya kiranya akan mempunyai daya tarik yang layak saing dipasar pariwisata nasional maupun internasional.

 

2).   Pembiayaan

Pembiayaan dan pengelolaan proyek pengembangan eko-turisme ini direncanakan melalui bentuk kemitraan baik antara investor dalam negeri maupun dengan investor luar negeri yang tertarik untuk menanamkam modal di sektor ini.

Disamping Pola Kemitraan  tersebut, diharapkan melalui pameran di Brunei Darussalam ini eko-turisme akan dapat menarik Para investor dan negara-negara donor untuk memberikan pinjaman bagi pengembangan eko-turisme di Propinsi Kalimantan Tengah

 

e.      Hasil Hutan Rotan.

 

Rekap Potensi Rotan Kalimantan Tengah:

 

1.                  Luas Tanaman Rotan di Kalimantan Tengah 1,5 Juta Hektar (Rotan Alam, perkebunan masyarakat, budidaya).

2.                  Potensi Produksi Rotan di Kalimantan Tengah ± 2,25 Juta Ton Per Tahun.

3.                  Produksi Rotan tahun 2001 = 1.371.864 ton per tahun.

4.                  Jenis Rotan yang dihasilkan :

a.                   Rotan Irit

b.                  Rotan Manau

c.                   Rotan Taman

d.                  Rotan Sega

e.                   Rotan semambu

 

f.        Limbah Hak Pengusahaan Hutan.

 

Daftar Target Limbah Dari RKTUPHHK Tahun 2004 Propinsi Kalimantan Tengah S/D 31 Maret 2004                 

 

 

 

Target

No

Kabupaten

Limbah RKTUPHHK

 

 

Tahun 2004

 

 

(M3)

1

2

3

 

 

 

 

1. Kab. Murung Raya

                                  3.500

 

2. Kab. Barito Utara

                                18.430

 

3. Kab. Barito Selatan

                                  3.515

 

4. Kab. Barito Timur

                                         -

 

5. Kab. Kapuas

                                         -

 

6. Kab. Pulang Pisau

                                         -

 

7. Kota Palangka Raya

                                         -

 

8. Kab. Gunung Mas

                                         -

 

9. Kab. Katingan

                                12.325

 

10. Kab. Kotawaringin Timur

                                         -

 

11. Kab. Seruyan

                                         -

 

12. Kab. Kotawaringin Barat

                                  4.435

 

13. Kab. Lamandau

                                         -

 

14. Kab. Sukamara

                                         -

 

JUMLAH

                                42.205

 

Keterangan: 4 (empat) Unit HPH Blok RKTUPHHK-nya berada pada Kabupaten, yaitu :

-         PT. Sari Bumi Kusuma (Kab. Katingan & Kab. Lamandau)

-         PT. Erna Djuliawati (Kab. Katingan & Kab. Seruyan)

-         PT. Trisetia Intiga (Kab. Kotawaringin Barat & Kab. Lamandau)

-         PT. Central Kalimantan Abadi (Kab. Seruyan & Kab. Kotawaringin Barat)

 

4.      Sektor Kelautan dan Perikanan.

 

Areal perairan laut dengan garis pantai  +  750 Km menghadap ke laut Jawa, dengan 11 Sungai besar, dan perairan umum sungai, danau, rawa seluas +  2.290.000 Ha. Yang sangat cocok untuk usaha perikanan Tangkap, Usaha perikanan Budidaya .

Jenis produksi perairan laut dan perairan umum  diantaranya ikan kakap, tongkol, bawal, tengiri, kembung, udang,kepiting,lais , toman, udang galah, baung, belida, jelawat, labi-labi, dan ikan hias (botia dan arwana).

 

a).   Perikanan Tangkap.

 

-         Potensi perikanan tangkap di perairan Umum : yang terdiri dari 11 sungai besar,486 buah danau dan 1,85 juta Ha. Lahan rawa memiliki berbagai jenis ikan dengan potensi lestari sebesar 130.000 Ton per tahun., potensi keberadaan labi-labi + 500.000 ekor  per tahun  baru dimanfaatkan 20 % , ikan hias botia potensinya sebesar  + 7,5 juta  ekor per tahun  baru dimanfaatkan  36 % dan ikan betutu potensi diperkirakan 200 ton per tahun baru dimanfaatkan 51 %.

-         Potensi perikanan tangkap diperairan laut : dengan luas wilayah laut  +  95.450 Km2 memiliki potensi lestari sebesar 126 000 ton baru dimanfaatkan 44,46 %.

 

b).   Perikanan Budi Daya.

                                            

-         Budi daya Ikan Air Tawar, Potensi nya ada di sungai , danau dan rawa yang tersebar diseluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah , budi daya dengan menggunakan Kolam , keramba dan jaring apung. Dan untuk mendukung budi daya ikan air tawar ini  telah dibangun balai benih ikan .

-         Budi daya ikan air Payau dilingkupi dengan hamparan hutan bakau , nipah sehingga potensial sekali untuk budi daya ikan/ udang tambak tersedia lahan seluas 84.400 Ha. Untuk pengembangan budi daya tambak di air payau ini.

 

c).    Peluang investasi sektor perikanan adalah :

 

-         Budi daya tambak udang/bandeng/kepiting. Lahan yang tersedia seluas 84.400 Ha. Di kabuapten : Kapuas, Pulang pisau, Katingan , Kotim , kobar dan Sukamara.

-         Budi Daya Ikan di Keramba / jarring apung areal yang tersedia di 11 sungai besar, di Kabupaten  : Pulang Pisau, P.Raya, Kapuas, Kotim, seruyan, Kobar.

-         Penangkapan Ikan di perairan laut. Areal disepangjang pantai 750 Km dengan jarak 0 – 12 mill laut.

-         Penangkaran : labi-labi di kabupatenPulang pisau dan katingan , ikan hias arwana, di kabupaten seruyan ,  ikan betutu di kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau.

 

Peluang Investasi di Bidang Pembenihan dan Pemasaran Ikan Betutu (Oxyeleotris Marmorata Blkr) di Kalimantan Tengah

 

Benih merupakan bagian utama dalam budidaya ikan. Pada tingkatan yang sederhana benih ikan dapat diperoleh dari hasil penangkapan di periakan umum, sedang pada tingkat yang lebih maju dapat diperoleh dari hasil pembenihan ikan milik petani (swasta) maupun dari Balai Benih Ikan (BBI) milik Pemerintah.

Ikan Betutu / bakut (Oxyeleotris marmorata) atau marbled goby alias ikan bodoh / malas terbilang ikan konsumsi mahal, namun belum ada yang sangat serius mengelola pembenihannya, akibatnya perkembangbiakannya sangat menghawatirkan, sehingga populasi dari tahun ke tahun semakin menurun. Kondisi ini perlu segera dicari solusinya agar ikan betutu bisa ditingkatkan jumlahnya, apalagi dengan harganya yang tinggi ini, maka banyak orang yang lebih suka memburunya, akibat diburu inilah semakin mempercepat kemusnahannya.

Pasokannya sampai saat ini masih kurang karena mengandalkan tangkapan dari alam sehingga dikhawatirkan sudah terjadi over fishing atau melebihi tingkat produksi alam yang normal. Bila ikan betutu terus ditangkapi akibat permintaan dan harga jual yang tinggi, lama kelamaan populasinya akan menjadi langka. Budidaya mencakup kegiatan produksi benih dan pembesaran ikan betutu merupakan suatu alternatif rasional yang harus ditempuh.

Ikan betutu sebagai ikan air tawar, banyak ditemukan diperairan Kalimantan Tengah. Habitatnya meliputi air tawar dan payau, sungai-sungai yang tidak jauh dari muara atau pantai, berarus tenang dan berlumpur, rawa serta danau dengan dasar berlumpur, ia senang terbenam dicelah dan termasuk ikan labirin karena mampu hidup diperairan yang keruh dengan bantuan lembar-lembar labirin pada lapis insangnya.

 

Latar belakang

 

Konsumen utama Betutu adalah masyarakat luar dari Kalimantan Tengah, terutama Pulau Jawa melalui penjualan ke restoran berbintang dengan harga yang menggiurkan dan juga merupakan komoditas ekspor dengan Negara tujuan Amerika Serikat, Cina / Hongkong, Australia, Singapura, Malasia dan Negara lainnya.

Sebagian besar ikan ini diperoleh dari hasil tangkapan di alam, pada kondisi saat ini Betutu di alam sudah sangat langka diperoleh sehingga hasil tangkapan semakin menurun jumlahnya. Dari data pemasaran 2 (dua) tahun terakhir ikan Betutu yang keluar dari Propinsi Kalimantan Tengah berjumlah 15.763 Kg pada tahun 2001 dan menurun menjadi 13.347,2 Kg pada tahun 2002, hal ini akibat dari eksploitasi yang dilakukan secara terus menerus tanpa diimbangi dengan pembudidayaan.

Propinsi Kalimantan Tengah dengan luas wilayah 153.564 Km2 meliputi perairan umum yang terdiri dari sungai, danau dan rawa sekitar 2,29 juta Ha, sungai besar yang ada berjumlah 11 (sebelas) buah dan 33 (tiga puluh tiga) buah anak/ cabang sungai ; sementara danau yang ada berjumlah 455 (empat ratus lima puluh lima) buah.

Prospek pengembangan ikan Betutu cukup baik, terutama juga untuk memenuhi permintaan konsumen dalam dan luar negeri dengan tanpa harus mengganggu kelestarian alam. Hal ini didukung dengan mengingat Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan.

Dalam upaya memanfaatkan peluang dan mengatasi permasalahan tersebut, salah satu perusahaan yang ada di Kalimantan Tengah yaitu CV.Zippora Anggun selaku eksportir yang berusaha dibidang ikan konsumsi (ikan Betutu) telah berupaya dalam mengatasi permasalahan pembenihan dan penyediaan ikan Betutu dalam bentuk mendirikan hatchery dan pembesaran yang saat ini terbentur biaya dan diharapkan dapat bekerja sama dengan pihak investor yang berminat dibidang usaha tersebut.

 

Lokasi dan Tempat Usaha

 

Sesuai hasil survei yang dilaksanakan oleh perusahaan CV.Zippora Anggun bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Tengah bahwa daerah yang cocok untuk pengembangan ikan Betutu, yaitu daerah pasang surut seperti di Kabupaten Pulang Pisau tepatnya di Desa Henda (antara Palangka Raya dan Pulang Pisau). Daerah tersebut memenuhi persyaratan pembudidayaan ikan Betutu dengan pertimbangan tanah padat dan berlumpur serta ketinggian pasang surut mencapai 1,5 meter, dekat dengan perairan sungai Kahayan.

Adapun kapasitas lahan yang telah tersedia dan dimiliki oleh perusahaan tersebut saat ini dengan luas 10 Ha (100.000 m2) yang sedang digarap, dan diharapkan pengembangannya mencapai 50 Ha (500.000 m2).

Kebutuhan Investasi

 

Mengingat dana yang dimiliki oleh perusahaan tersebut sangat terbatas, diharapkan dari pihak luar (investor) bisa bekerja sama dalam mewujudkan usaha tersebut diatas dengan perincian biaya :

-        Pengelolaan tanah (pembuatan kolam) per hektar untuk tahap pertama 10 Ha x Rp. 100.000.000 =                                   Rp. 1.000.000.000,-

-        Bangunan hatchery (tempat Pembenihan, peralatan dan bangunan lainnya) =                                                               Rp.    500.000.000,-

-        Pengamanan (pagar dan lainnya) =                          Rp.    250.000.000,-

-        Pakan dan obat-obatan =                                       Rp.    100.000.000,-

-        Pengadaan dan perawatan induk =                          Rp.      50.000.000,-

-        Gaji karyawan @ 1.000.000 / bulan x 20 orang x 12 bulan =                                                                               Rp.    240.000.000,-

                                                                                    Rp. 2.140.000.000,-

Apabila pengembangannya mencapai 50 Ha biaya yang diperlukan mencapai                  Rp. 10.700.000.000,-

 

Pemasaran dan penjualan

 

Pemasaran saat ini ke daerah Pulau Jawa terutama Jakarta, Surabaya dan sebagian dieksor via Jakarta tujuan Malasia dan Singapura. Adapun pembelian ditingkat masyarakat Rp. 50.000 / kg, ditingkat penampungan Rp. 65.000 / kg, sedangkan harga jual di daerah tujuan Rp. 105.000 dan di luar negeri harga mencapai Rp. 130.000 / kg.

 

Potensi Alam

 

Propinsi Kalimantan Tengah dengan luas wilayah 153.564 Km2 meliputi perairan umum yang terdiri dari sungai, danau dan rawa sekitar 2,29 juta Ha, sungai besar yang ada berjumlah 11 (sebelas) buah dan 33 (tiga puluh tiga) buah anak/ cabang sungai ; sementara danau yang ada berjumlah 455 (empat ratus lima puluh lima) buah. Potensi ikan Betutu sekitar 200 ton per tahun dengan produksi tangkap tahun 2002 13.347,2 Kg dan sebagian ikan ini dibawa ke Banjarmasin dengan jumlah mencapai 30 ton per tahun.

 

Teknologi Pembenihan

 

Induk ikan Betutu yang akan dipijah berukuran 800 – 1.500 gram per ekor. Pasalnya ada korelasi positif antara bobot induk dengan jumlah telur yang dihasilkan induk dengan kisaran bobot tersebut diatas dapat menghasilkan telur sebanyak 5.000 – 30.000 butir. Jumlah telur sangat bervariasi tergantung kondisi induk dan tingkat kematangan gonad. Induk-induk ikan betutu yang akan dipijah harus diperhatikan secara praktis tingkat kematangan gonad induk ikan betina dapat diketahui dari ukuran celah genitalnya. Induk ikan jantan juga kelihatan warna merah disekitar lubang pelepas. Ada kalanya jika bagian bawah perut diurut akan keluar cairan berwarna putih.

Pemijahan induk ikan Betutu dapat dilakukan secara alami atau dengan stimulasi hormon. Pemijahan betutu tidak mengenal musim dan dapat berlangsung sepanjang tahun tiga sampai empat kali setahun. Kemauan memijah biasanya akan meningkat pada musim hujan, sebaliknya kurang pada musim kemarau.

a.       Pemijahan alami

Tempat pemijahan betutu dilakukan di kolam tanah dan bak fiber glass. Penebaran induk antara jantan dan betina 1 : 1. Padat penebarannya dilakukan untuk 100 ekor induk pada luasan kolam 20 x 30 m, kedalaman 1 – 2 m, dasar dan pinggir kolam bersiring tembok, memiliki pergantian air secara terus menerus, tempat pemijahan harus dilengkapi saluran pemasukan air (inlet) dan saluran pembuangan (outlet).

Telur dikeluarkan dari tubuh betina yang sudah matang gonad dengan menyemprotkannya ke substrat. Substrat untuk penempelan telur tersebut terbuat dari potongan pipa paralon berukuran 4 – 6 inchi yang dibelah dan kemudian diikat kembali guna memudahkan pada saat mengecek keberadaan telur. Jumlah sarang yang ditempatkan dalam kolam bekisar 20 – 30 buah untuk sejumlah pasang induk tersebut.

setiap induk bertelur pada substrat membentuk lingkaran yang diselimuti lendir. Telur tersebut dipindahkan ke aquarium bervolume 40 – 60 liter. Kedalam aquarium dapat diisi 2 – 3 sarang dan diberi aerasi untuk suplay udara sampai telur menetas.

 

b.       Kawin suntik

Tujuan kawin suntik yaitu untuk mendapatkan produksi telur dalam julah lebih banyak, yang memungkinkan benih ikan diproduksikan secara masal dan terjadwal.

Hal ini dilakukan jika fasilitas hatchery untuk pemeliharaan larva cukup memadai, sehingga pengaruh kegagalan bisa dikurangi. Hormon yang digunakan untuk menstimulasi pemijahan Betutu adalah ovaprim.

Hormon disuntikan ketubuh ikan secara intra muscular pada bagian dorsal dekat sirip punggung. Penyuntikan dilakukan 2 kali dosis yang dianjurkan 0,5 ml/ kg bobot badan. Selang waktu penyuntikan pertama dan kedua berkisar 10 – 12 jam. Waktu ovulasi induk-induk antara 36 – 60 jam.