POTENSI DAN PELUANG INVESTASI SECARA UMUM

DI  KALIMANTAN TENGAH

 

 

I.         GAMBARAN UMUM PROVINSI KALIMANTAN TENGAH.

 

Kalimantan Tengah propinsi dengan wilayah terluas nomor tiga di Indonesia ditandai dengan lahan yang membentang luas sejauh mata memandang yang sebagian besar ditutupi tumbuh-tumbuhan / vegetasi tropis yang amat beragam jenisnya. Infrastruktur perekonomian yang masih langka antara lain ditandai dengan jalan darat tersedia amat terbatas kapasitasnya. Penduduk yang tersebar dengan kerapatan yang amat rendah per kilometer persegi dalam wilayah yang amat luas hidup dengan tenang tanpa banyak terpengaruh derap perubahan global.

 

Sejak berdirinya propinsi ini pada tahun 1957, perubahan nyata yang amat dominan di daerah ini adalah pada lahan hutannya yang mengalami degradasi mutu hutan alam tropis yang semakin berkurang nilai komersialnya, nilai tambah dari eksploitasi hutan dan sumberdaya alam lainnya yang amat diharapkan dapat kembali dalam bentuk percepatan pembangunan segala bidang di daerah ini tidak secara alamiah terjadi. Pola ekonomi yang dominan dari proses investasi di daerah ini adalah pola “hit and run” dan “backwash effects” atau divestasi. Kualitas investasi yang masih semu ditandai dengan bahan mentah di bawa ke luar daerah ini dan nilai tambahnya sebagian kecil kembali melalui kebaikan hati pemerintah pusat dan sebagian lainnya tidak diketahui rimba dan manfaatnya.

 

Birokrasi dan masyarakatnya yang terbatas aksesnya di tingkat Nasional, hampir tidak dapat berperan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang dapat menstimulir peluang-peluang pembangunan daerah yang lebih luas dan berdampak ganda.

 

Kini propinsi dengan luas wilayah nomor tiga di Indonesia ini telah melalui berbagai periode pembangunan Nasional dan masyarakatnya di daerah terpencil tidak mengetahui dan sebagian dari mereka ada juga yang  telah menjadi penonton yang setia terjadinya derap perubahan yang signifikan pada kawasan-kawasan lain di Indonesia.

 

A.    Kondisi Geografis.

 

1.      Luas Wilayah :

 

Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas wilayah mencapai + 153. 564 Km2 atau 1,5 kali pulau Jawa yang merupakan provinsi ke tiga terluas wilayahnya di Indonesia setelah Kalimantan Timur dan Propinsi Papua.

 

Adapun luas wilayah tersebut terdiri dari :

§   Hutan belantara . . . . . . . . . . . . . . . . . : 126. 200 Km2

§   Rawa-rawa. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . :    18.125 Km2

§   Sungai, Danau dan Genangan . . . . . .:      4.563 Km2

§   Lahan lainnya. . . . . . . . . . . . . . . . . . . :       4.676 Km2

 

2.      Letak dan batas wilayah .

 

Provinsi Kalimantan Tengah terletak ditengah-tengah pulau Kalimantan dan dapat dijadikan sebagai titik poros penghubung atau  interconnection antara provinsi-provinsi lainnya di pulau Kalimantan, disamping itu letaknya juga dekat dan berhadapan langsung dengan laut/ pulau Jawa.

Hal ini tentu berpotensi dan memberikan peran yang sangat penting  untuk suatu prospek kegiatan pembangunan dan pengembangan perekonomian Kawasan Pulau Kalimantan dimasa yang akan datang, khususnya yang menyangkut rencana realisasi kesepakatan para Gubernur se- Kalimantan untuk membangun jalan Trans Kalimantan dan  jalur jalan Kereta Api di Kalimantan yang akan merupakan satu kesatuan dengan jalur yang ada di Kalimantan  wilayah  Malaysia dan  Brunei Darussalam sehingga merupakan  satu kawasan Pulau Kalimantan / Borneo.  

 

Batas Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah meliputi :

 

§   Sebelah Utara berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Barat dan    Kalimantan Timur

§   Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa.

§   Sebelah Timur berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur dan Selatan

§   Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Barat.

 

B.    Pemerintahan

 

Wilayah Kerja Administrasi Pemerintahan Provinsi Kalimantan Tengah ini meliputi :

1).    Kota Palangka Raya dengan ibukota Palangka Raya.

2).    Kabupaten Kotawaringin Barat dengan  ibukota Pangkalan Bun

3).    Kabupaten Kotawaringin Timur dengan Ibukota Samp[it

4).    Kabupaten Kapuas dengan ibukota Kuala Kapuas.

5).    Kabupaten Barito Selatan dengan ibukota Buntok.

6).    Kabupaten Barito Utara dengan ibukota Muara Teweh.

7).    Kabuapetn Lamandau dengan ibukota Nanga Bulik

8).    Kabupaten Sukamara dengan ibukota Sukamara.

9).    Kabuapaten Seruyan dengan ibukota Kuala Pembuang.

10).     Kabupaten Katingan dengan ibukota Kasongan

11).     Kabupaten Gunung Mas dengan ibukota Kuala Kurun .

12).     Kabupaten Pulang Pisau dengan ibukota Pulang Pisau.

13).     Kabupaten Barito Timur dengan ibukota Tamiang Layang

14).     Kabupaten Murung Raya dengan ibukota Puruk Cahu.

 

C.    Penduduk

 

Jumlah penduduk Kalimantan Tengah Tahun 2003: 1.834. 365. Jiwa,

terdiri dari    :                    

§         Laki- Laki          :    935.526  Jiwa.

§         Perempuan       :    898.839  Jiwa.

Penyebaran penduduk dengan kepadatan 13 jiwa / Km2

 

D.     Sekilas Infrastruktur  yang tersedia di Kalimantan Tengah :

 

1.      Jalan darat  :

 

Terdapat dua jalan darat poros utama yang merupakan jalan lintas Kalimantan yaitu poros tengah dan poros selatan sepanjang 3.741.05 km. yang terdiri dari :

Jalan Nasional  sepanjang             :  1.707.57  Km.

Jalan Propinsi sepanjang               :  1.050.26. Km.

Serta ribuan kilometer jalan kolektor/penghubung lainnya dan    rencana pembuatan jalan koridor lintas perkebunan, jalan perusahaan  eks HPH maupun jalan daerah-daerah potensial.

Dan prioritas pembangunan jalan lain yang masih harus dibangun adalah:     983.22. Km.

Peran dan fungsi jalan darat  adalah sebagai sarana penghubung antar / lintas  Provinsi, kabupaten dan kota serta beberapa Kecamatan yang ada di Kalimantan Tengah , disamping itu  pengembangan dan pembangunannya diarahkan adalah  sebagai upaya untuk membuka isolasi bagi daerah-daerah pedalaman / terpencil yang dimungkinkan untuk  dibangun jalan darat  dengan masud untuk meningkatkan kegiatan perekonomian  didaerah dan  memperlancar distribusi  perdagangan barang  dan jasa angkutan darat. serta orang/penumpang.

  

2.      Pelabuhan  Laut :

 

Tersedia pelabuhan laut untuk sarana jasa Perdagangan, angkutan penumpang dan barang ( ekspor dan import maupun lokal )  yakni :

 

§     Pelabuhan Laut  Kumai  di Kabupten Kotawaringin Barat.

§     Pelabuhan Laut Sampit  di Kabupaten Kotawaringin Timur.

§     Pelabuhan Pulang Pisau di Kabupaten Pulang Pisau.

§     Pelabuhan Kapuas .di Kabupaten Kapuas

§     Pelabuhan Sukamara.di Kabupaten Sukamara.

§     Pelabuhan Kuala Pembuang di Kabupaten Seruyan.

§     Pelabuhan Pegatan Mendawai. Di kabupaten Katingan.

§     Pelabuhan Sebangau di Kabupaten .Pulang Pisau dan Kota. 

 

 

3.      Bandar Udara :

 

Di Propinsi Kalimantan Tengah terdapat 9 buah bandar udara yang melayani penerbangan untuk  berbagai tipe dan jenis pesawat terbang, dengan nama  sebagai berikut :

 

No

Nama Bandara

Nama Kota

Type / jenis pesawat

1.

Tjilik Riwut

Palangka Raya

Boeing 737-200, F28,

2.

Iskandar

Pangkalan Bun

F.27.

3.

H. Asan

Sampit

F.27

4.

Beringin

Muara Teweh

C.212

5.

Sangkalemo

Kuala Kurun

C.212

6.

Sanggu

Buntok

C.212

7.

Dirung

Puruk Cahu

C.212

8.

Kuala Pembuang

Kuala Pembuang

C.212

9.

Tumbang Samba

Tumbang samba

BN

 

Maskapai penerbangan yang melayani jasa penerbangan di Kalimantan Tengah ada 5antara lain : Merpati , Sriwijaya air, Trigana Air,/Kalstar , DERAYA dan  DAS.

Disamping itu  untuk melayani kota-kota kecil ada juga   pesawat  dari MAF yang terbang secara regular  serta bisa pula dicarter.

 

4.      Perbankan

 

Perbankan. dengan adanya Kantor Bank Indonesia selaku Bank Sentral juga terdapat 4 (empat) buah Bank BUMN (BRI, Bank Mandiri, BTN, BNI) dan 1 (satu) buah Bank BUMD (Bank Pembangunan Kalimantan Tengah) serta 2 (dua) buah Bank Swasta (Bank Danamon dan Bank Internasional Indonesia/BII), 1 (satu) Buah Bank Perkreditan Rakyat., khusus Bank BRI dan Bank Pembangunan Kalimantan Tengah pelayanannya sudah sampai ke berbagai Kecamatan dan Desa.

 

5.      Telekomunikasi,

 

Telekomunikasi/Komunikasi. Komunikasi yang telah dimiliki daerah yaitu fasilitas  telepon seluler dan otomatis tersedia disemua ibukota kabupaten bahkan sampai ke beberapa ibukota Kecamatan, selain itu ada juga stasiun RRI Palangka Raya serta puluhan stasiun Radio Swasta Niaga dan amatir, Stasiun  TVRI, Stasitiun Relay RCTI dan Stasiun Relay Metro TV.

 

6.      Listrik :

 

Pelayanan tenaga listrik sudah menjangkau sebagian besar kota dan desa baik yang berasal dari PLTD yang tersebar di Kabupaten –Kabupaten Kalimantan Tengah maupun langsung  dialirkan  dari interconeksi PLTU / PLTA di Kalimantan Selatan.

 

7.      Air bersih

 

      Pelayanan air bersih  dikelola oleh perusahaan Daerah/ BUMD yang ada di Kabupaten dan kota se- Kalimantan Tengah dan pelayanannya sudah menjangkau beberapa ibukota kecamatan dan desa.

 

8.      Perhotelan

 

      Di Kalimantan Tengah terdapat 1( satu) Hotel bintang 2(dua) dan 60 Hotel melati, dan ada Resort Rungan Sari yang dikelola oleh yayasan Susila Budi Dharma dengan fasilitas, kolam renang, lapangan tennis dan meeting Centre bertarap internasional

 

 

II.KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL DAERAH PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

 

Merupakan komitmen Pemerintah Daerah bahwa Kebijakan Penanaman Modal Daerah di Provinsi Kalimantan Tengah, meliputi 2 (dua) langkah yakni:

 

a.      Arah dan Tujuan Kebijakan Pemerintah Daerah dibidang Penanaman Modal mempunyai maksud sebagai berikut  :

 

-         Mempertahankan dan mengembangkan investasi yang sudah ada.

-         Menambah dan mencari serta menarik investor-investor baru baik lokal, nasional maupun asing.

-         Pemberdayaan masyarakat dan ekonomi rakyat.

 

b.    Strategi Kebijakan Pemerintah Daerah di Bidang Penanaman Modal meliputi:

 

1.       Melakukan pembinaan, pengawasan dan Pengendalian Proyek Investasi PMA dan PMDN melalui Satuan Tugas (Satgas) terpadu baik tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dan sehat.

2.       Memberikan jaminan keamanan dan kepastian hukum bersama aparat keamanan terhadap para investor.

3.      Memberikan kemudahan pelayanan  perizinan yang cepat, keringanan pajak, pembebasan pajak untuk masa persiapan dan kontrustruksi (berupa tax holiday secara selektif)

4.      Melakukan Promosi: Kedalam dan Luar negeri dengan mengikuti event-event pameran, penyebaran booklet dan leaflet melalui perwakilan/kedutaan Indonesia dan asing di dalam dan di Luar Negeri baik melalui jasa pos, Website/internet, dan email.

5.      Menjalin dan mewujudkan kerjasama Sektoral , Nasional, Regional, serta internasional yang mengutamakan kepentingan nasional dalam rangka meningkatkan penanaman modal didaerah , seperti kerjasama BIMP-EAGA,ASEAN,AIDA, AFTA dll.

6.      Peningkatan pengembangan dan pembangunan Prasarana dasar / Infrastruktur daerah , sebagai sarana pendukung  peningkatan  investasi dan perdagangan di Provinsi Kalimantan Tengah sebagai bagian dari upaya percepatan pembangunan Kawasan Timur Indonesia( KTI )

 

 

III.     PERKEMBANGAN INVESTASI DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH HINGGA DESEMBER 2003

 

Pemanfaatan Fasilitas Penanaman Modal sampai akhir bulan desember 2003 perkembangan penanaman modal baik PMA/PMDN mengalami perubahan/ peningkatan baik dalam jumlah proyek maupun jumlah investasi. Jumlah perusahaan PMA/PMDN secara komulatif sebanyak 244 buah perusahaan dengan perincian PMA sebanyak 54 buah perusahaan dengan rencana investasi sebesar US$ 6,2 milyar lebih dan realisasi sebesar US$ 1,9 milyar lebih atau 30% sedangkan PMDN sebanyak 190 buah perusahaan dengan rencana investasi sebesar Rp. 19,1 triliun lebih dan realisasi sebesar Rp. 12,2 triliun lebih atau 64,20%.

 

Penanaman modal yang telah disetujui dalam periode Januri s/d 31 Desember 2003 sebanyak 1 (satu) buah proyek PMDN dengan nilai investasi sebesar Rp. 68 milya dan Penanaman Modal Asing sebanyak 2 (dua) buah proyek dengan investasi sebesar US$ 670 ribu.

 

Disamping itu terdapat juga persetujuan perluasan usaha perusahaan Penanaman Modal Asing yang sudah ada dengan nilai investasi sebesar US$ 7,5 juta.

Hal ini memperlihatkan bahwa selain terdapat minat penanaman modal dalam negeri untuk melakukan investasi baru, perusahaan PMDN dan PMA yang ada, juga tetap berkembang dan memperluas usahanya.

Nilai persetujuan PMDN dan PMA selama tahun 2003 meningkat dibandingkan dengan tahun 2002. Hal ini memperhatikan sudah mulai kembalinya kepercayaan investor PMDN dan PMA untuk menanamkan modalnya di Kalimantan Tengah dan bidang usaha yang diminati oleh investor meliputi sektor pertambangan, perkebunan dan pariwisata.

 

Penggunaan Non Faslitas

     Sektor Perkebunan

     -  Non PMA/PMDN                                            110 proyek

     -  Luas Lahan                                                     2.192.036 ha

     -  Sudah Tanam                                                     342.011 ha

 

 

1.      Jumlah Perusahaan PMA/PMDN di provinsi Kalimantan Tengah

 

No.

TAHUN

PMA

PMDN

JUMLAH

PENINGKATAN

 

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

 

 

 

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

 

32

32

33

39

40

41

54

 

 

 

144

157

170

175

185

189

190

 

 

 

176

189

203

214

225

230

244

 

 

7,4 %

6,9 %

6,9 %

5,1 %

4,9 %

2,2 %

5,7  %

 

 

2.      Tingkat Perkembangan Perrusahaan PMA / PMDN di Provinsi Kalimantan Tengah

 

 

NO.

TINGKAT

 PERKEMBANGAN

S/D DESEMBER 2003

JUMLAH

PMA

PMDN

 

1

 

2

 

3

 

4

 

 

 

Persiapan

 

Konstruksi

 

Produksi

 

Produksi Percobaan

 

 

13

 

4

 

-

 

37

 

 

 

20

 

31

 

6

 

133

 

33

 

35

 

6

 

170

 

JUMLAH

54

190

244

 

 

3.      Rencana dan Realisasi Investasi PMDN di Provinsi Kalimantan Tengah.

 

NO.

SEKTOR / SUB

SEKTOR

JUMLAH

PERUSAHAAN

PMDN dalam Rp. Juta

PERSENTASE

PMDN

JUMLAH

 

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

 

 

 

KEHUTANAN

INDUSTRI KAYU

PERKEBUNAN

PERTAMBANGAN

PERIKANAN

JASA ANGKUTAN

INDUSTRI KIMIA

REAL ESTATE

JASA LAINNYA

 

70

27

64

5

3

4

5

2

10

 

 

3.440.759,61

4.388.917,35

7.749.792,86

11.310,66

11.377,00

17.593,30

3.336.454,30

16.000,00

175.430,68

 

3.510.842,86

3.360.722,35

3.410.903,95

7.164,00

6.406,32

135,00

1.819.705,85

519,82

175.433,53

 

102,04 %

76,57 %

44,01 %

63,34 %

56,31 %

0,77 %

54,54 %

3,25 %

100,00 %

 

JUMLAH

190

19.147.625,76

12.291.833,68

64,20  %

 

 

4.      Rencana dan Realisasi Investasi PMA di Provinsi Kalimantan Tengah

 

 

NO.

SEKTOR / SUB

SEKTOR

JUMLAH

PERUSAHAAN

PMDN dalam Rp. Juta

PERSENTASE

PMDN

JUMLAH

 

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

 

 

KEHUTANAN

INDUSTRI KAYU

PERKEBUNAN

PERTAMBANGAN

PERIKANAN

JASA ANGKUTAN

INDUSTRI KIMIA

REAL ESTATE

JASA LAINNYA

 

8

8

11

21

0

0

0

1

5

 

 

158.219,90

1.276.774,36

706.697,37

2.465.570,75

0,00

0,00

0,00

400.000,00

1.232.141,93

 

 

105.862,89

614.257.57

400.031,92

728.342,74

0,00

0,00

0,00

0,00

13.898,33

 

66.91  %

48,11  %

56,61  %

29,54  %

0,00  %

0,00  %

0,00  %

0,00  %

1,13  %

 

JUMLAH

54

6.239.404,31

1.862.393,44

29,85  %

 

 

 

IV.         POTENSI DAN PELUANG SEKTOR INVESTASI DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

 

1.      Sektor Pertanian Tanaman Pangan:

 

Luas lahan sawah di Kalimantan Tengah 273,206 Ha, dari penggunaannya masih relatif kecil yaitu lahan sawah baru 194,855, sedangkan untuk lahan kering yang tidak/belum diusahakan masih 1.609.140 Ha.

 

Kalau di tahun 2002 Kalteng belum mampu  memenuhi kebutuhan berasnya sendiri, maka di tahun 2003 Kalteng dipastikan mampu memenuhi kebutuhan beras lokal. Hasil monitoring dan perhitungan Biro Pusat Statistik (BPS) sampai tanggal 24 Desember 2003 menunjukkan bahwa realisasi produksi beras Kalteng sebesar 489.033 ton yang berarti melampaui target sebesar 454.245 ton. Selain itu, perluasan areal panen juga bertambah cukup signifikan yaitu 194.855 Ha atau lebih besar 16.720 Ha dari target sebesar 178.135 Ha. KepalaDinasPertanian Kalteng Ir.Andoh Oemar yang dikonfirmasi Kapos membenarkan data tersebut. Menurutnya pencapaian tersebut merupakan hasil dari berbagai upaya pemerintah daerah untuk menuju pencapaian swasembada beras di Provinsi Kalteng yang telah dicanangkan Gubemur Kalteng Asmawi Agani. Beberapa faktor yang menunjang pencapaian tersebut menurut Andoh antara lain adalah upaya serius pemerintah di tiap kabupaten/ kota di Kalteng untuk mendukung pencanangan swasembada beras dari Gubernur.

 

 

Target dan Realisasi Produksi, Produktivitas dan Luas Tanam Padi di Kalteng Tahun 2003.

 

Uraian

Target

Realisai*

Produksi

454.245

489.033

Produktifitas

25,50

25,10

Luas Panen

178.135

194.855

 

 

 

 

*) Perbaikan angka ramalan III. Sumber: BPS dan Dinas Pertanian Kalimantan Tengah.

 

Selain itu, dampak dari ketatnya penertiban illegal logging telah mengembalikan masyarakat pada usaha pertanian. Dampak pemekaran kabupaten juga semakin mendekatkan dan memudahkan pembinaan pertanian masyarakat di daerah daerah. Masing-masing kabupaten jadi lebih bersemangat mengelola pertanian di wilayah mereka dengan lebih serius lagi" ujar Andoh. Pencapaian target produksi beras tersebut menurut Andoh juga dipengaruhi oleh meningkatnya dukungan anggaran dekonsentrasi (APBN) tahun 2003, dimana 60 persen dana APBN langsung dimanfaatkan oleh petani dalam bentuk Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat (BPLM). Produksi padi tahun 2003 sebesar 489.033 ton GKG setelah dikurangi bufferstock (stok penyangga, Red) maka akan diperoleh produksi setara beras sebanyak 281.683 ton atau lebih 17.969 ton dari kebutuhan Kalteng di tahun 2003 sebesar 263.713,6 ton beras. Data tahun 2003, penduduk Kalteng berjumlah 1.883.669 jiwa dengan tingkat konsumsi rata-rata sebesar 140 kg per kapita per tahun atau 263.713,6 ton beras.

 

Pengembangan komoditas pertanian tanaman pangan dan hortikultura khususnya untuk pengembangan buah-buahan di Kalimantan Tengah , dengan orientasi pembangunan agribisnis kedepan tidak hanya peningkatan produksi saja tetapi secara luas mencakup perkembangan agribisnis yang dilaksanakan secara terpadu , sehingga kegiatan agribisnis menuntut skala ekonomi tertentu, ketersedia bahan baku produksi secara berkelanjutan serta prasyarat kualitas.

Potensi dan peluang investasi adalah pengembangan agribisnis Tanaman Pangan dan hortikultura  khususnya buah-buahan yang mempunyai potensi serta peluang untuk dikembangkan dan dikerjasamakan dengan para investor dalam negeri dan asing.

Sebagai produk unggulan daerah Kalimantan Tengah , komoditi Rambutan, Pisang, Jeruk, Durian, Cempedak dan Nenas serta Salak sangat prospektif  untuk dikembangkan budidaya tanamannya, dan salah satu kawasan yang menjadi kawasan pengembangan Agribisnis hortikultura di Kalimantan Tengah adalah di Kabupaten Kapuas, tepatnya wilayah kecamatan Basarang.

Kecamatan Basarang ini dikembangkan sebagai daerah percontohan Agropolitan di Kalimantan Tengah . 

Pemerintah daerah dalam upaya mempercepat Pembangunan dan pengembangan  sektor pertanian telah membangun Terminal Agribisnis Terpadu  (TAT), berkembangnya sektor ini sebagai akibat adanya minat petani setempat untuk mengusahakan penanaman buah-buahan ini ( rambutan, Nenas dan Salak ), apabila hasil panen berlebihan, maka diharapkan adanya minat para investor untuk berinvestasi  dan berkerjasama dengan para petani dalam bidang pemasaran/penampungan hasil buah segar maupun segi pengolahan hasil ( Industri pengalengan dlsnya ).

 

Potensi dan Peluang Pengembangan Nenas di Kabupaten Kotawaringin Timur.

 

         Kebijakan pembangunan pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan bagian integral dari kebijakan nasional pembangunan pertanian, dengan titik berat pada:

-       Program Ketahanan Pangan dan

-       Program Pengembangan Agribisnis

         Program pengembangan agribisnis dimaksudkan untuk mendorong berkembangnya usaha pertanian dengan wawasan agribisnis yang mampu menghasilkan produk yang berdaya saing, menghasilkan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan dan kesejahtaraan para petani dan produsen yang mendukung pertumbuhan pendapatan nasional.

         Sistem dan usaha agribisnis hortikultura yang dibangun memiliki empat karakteristik yaitu :

-        Berdaya saing

-        Berkerakyatan

-        Berkelanjutan

-        Besentralisasi

 

Tujuan Dan Sasaran

 

         Adapun tujuan dan sasaran pengembangan agribisnis tanaman nanas adalah sebagai berikut :

 

Tujuan :

a.       Mendorong berkembangnya sistem usaha buah nanas unggulan nasional dan unggul daerah yang berdaya saing, berkelanjutan, berkerakyatan dan tersentralisasi.

b.      Meningkatnya perteumbuhan dan berkelanjutan kebun buah berskala komersial.

c.       Meningkatnya penerapan teknologi maju dalam orchad manajemen untuk meningkatkan produktivitas dan mutu buah-buahan.

d.      Meningkatkan pemberdayaan kelembagaan petani untuk memperoleh keterampilan dan pengusahaan teknoligi serta meningkatkan kemampunan pengolahan agribisnis.

e.       Meningkatkan pendapaptan dan kesejahtaraan petani melalui pembinaan sistem usaha dengan teknologi yang tepat, efisien, ekonomis serta ramah lingkungan.

Sasaran :

        Sasaran pengembangan agribisnis buah nenas di Kabupaten Kotawaringin Timur tersebar di Kecamatan Baamang dan  Kecamatan Kota Besi.

 

Prakondisi Budidaya Nenas

 

         Hasil utama tanaman nenas adalah buanya. Buah nenas segar yang sudah masak disamping langsung bisa dikonsumsi, dapat juga diolah menjadi sari buah, sirup, manisan serta kemasan dalam kaleng sebagai buah dalam kaleng. Nenas mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi, terutama vitamin dan mineral.

 

A.      Tanah

  Tanaman nenas menghendaki tanah yang gembur dan kaya akan bahan organik serta tidak tahan terhadap genangan air. Di daerah basah dengan tanah liat yang tergenang air cukup lama menyebabkan perkembangan tanaman menjadi tidak baik. Apabila dibudidayakan di daerah kering diperlukan pengairan yang baik, dan air tanah tidak lebih dari 150 cm di bawah permukaan tanah. Tanah yang cocok untuk budidaya nenas adalah tanah dengan tekstur ringan (pasir) dan sedang, serta mengandung bahan organik (humus) cukup tinggi, dengan pH sekitar 4,5 – 5,5.

B. Iklim

  Tanaman nenas dapat tumbuh baik di daerah dengan curah hujan yang merata sepanjang tahun dengan jumlah antara 1.000 – 2.000 mm per tahun, serta suhu optimum 32ºC. Tanaman nenas akan hidup dengan baik di daerah sampai dengan ketinggian 1.200 m, dengan ketinggian optimum antara 100 – 200 m di atas permukaan laut.

 

B.      Pembibitan

1. Pemilihan varietas

  tanaman nenas memiliki banyak varietas yang potensial dibudidyakan. Berdasarkan warna daging buahnya dikelompokan menjadi tiga golongan yaitu :

a.       Golongan dengan daging buah warna putih

Varietas penting yang termasuk golongan ini antara lain adalah varietas Red Spanish. Bobot buah rata-rata 0,9-1,4 kg, umumnya dimanfaatkan untuk indistri buah kaleng.

b.      Golongan dengan daging buah warna kuning emas

Varietas penting yang termasuk golongan ini adalah Queen, Abakha, Natal Queen, Palembang, Cabezona, Eleuthera. Bobot buah varietas Natal Queen rata-rata antara 0,45-0,9 kg sampai 1,6 kg. Sebagian besar varietas tersebut dikonsumsi dalam bentuk buah segar dan sebagian diolah.

c.       Golongan dengan daging buah warna kuning muda

Varietas yang termasuk golongan ini adalah Smmoth Cayenne. Bobot buah  rata-rata 2,3-3,6 kg. Umumnya dimanfaatkan untuk indistri buah kaleng.

 

2. Perbanyakan

Tanaman nenas umumnya dikembangkan secara vegetatif dengan menggunakan bagian-bagian  vegetatif tanaman yaitu :

a.       Anakan (root sucker)

Anakan adalah tunas yang timbul dari bagian batang yang berada di bawah permukaan tanah. Tunas ini biasanya jumlahnya sedikit dan berakar. Bahan tanaman yang berasal dari tunas anakan cepat menghasilkan buah, sehingga banyak yang menggunakan sebagai bibit.

 

b.      Tunas batang (sucker)

Tunas batang adalah tunas yang keluat dari bagian batang di atas tanah. Biasanya tunas seperti itu belum berakar. Untuk keperluan bibit digunakan tunas yang telah mencapai panjang 30-35 cm. Pada 15-18 bualan dari saat tanam, tanaman sudah menghasilkan buah.

c.       Tunas tangkai

Disebut tunas tangkai karena tunas ini muncul dari pangkal tangkai atau pada tangkai buah. Tanaman yang berasal dari tunai tangkai dapat menghasilkan buah 18 bulan sesudah tanam.

d.     Tunas dasar buah

Tunas dasar buah adalah tunas yang keluar dari dasar buah atau ujung tangkai buah yang jumlahnya bisa mencapai 10 tunas per tanaman. Dengan menggunakaan bibit asal tunas dasar buah tanaman dapat berbuah setelah berumur 20 bulan dari saat tanam.

e.    Mahkota

Mahkota merupakan tunas yang tumbuh pada bagian pucuk dari pada buah, umumnya hanya satu, namun kadang-kadang dapat lebih. Tanaman dapat menghasilkan buah pada umur 22-24 bulan sejak tanam.

 

D. Penanaman

    Lahan yang dibudidayakan dengan nenas perlu persiapan terlebih dahulu. Pada lahan yang tidak terlalu luas, pengolahan tanah dilakukan secara tradisional yaitu dengan mengunakan cangkul. Namun pada lahan yang luas, khususnya perkebunan besar, pengolahan tanah dikerjakan secara mekanis dengan menggunakan alat besar seperti traktor. Pengolahan tanah dilakukan 2-4 minggu sebelum tanam. Pengolahan tanah hendaknya dilakukan secara sempurna dalam arti sampai gembur. Sewaktu pengemburan tanah sebaiknya dilakukan pula pemberian pupuk organik (pupuk kandang). Untuk nenas memerlukan pupuk kandang lebih kurang 20 ton/ha. Setelah pengolahan tanah, penggemburan dan pemupukan dasar, tanah diratakan dan dibuat bedengan-bedengan dengan petanaman. Cara penanaman nenas bermacam-macam, ada yang menggunakan barisan tunggal, rangkap dua atau rangkap tiga.

Jarak tanam dalam barisan 40-50 cm, jarak tanaman antara  barisan 20 cm, jarak antara bedengan 50 cm.

 

E. Pemeliharaan

1. Penyiangan

setiap 3 (tiga) bulan sekali tanaman nenas memerlukan penyiangan. Sebelum dilakukan penyiangan, daun-daunnya harus diikat sehingga penyiangan tidak terganggu oleh daun-daun yang berduri. Bersamaan dengan penyiangan, tanah perlu digemburkan, dan setelah pekerjaan penyiangan dan penggemburan selesai ikitan-iktan daun dilepas.

2. Pemupukan

pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk anorganik seperti Urea, TSP atau SP-36 dan KCl maupun pupuk organik seperti pupuk kandang dan kompos. Pupupk anorganik (Urea, TSP dan KCl) diberikan 2 kali dalam satu tahun pada awal musim dan menjelang akhir musim penhujan. Pupuk kandang diberikan satu kali dalan setahun pada awal musim penghujan. Dosis pupuk yang diberikan untuk pupuk anorganik ialah Urea 225 kg/ha, TSP 125 kg/ha, KCl 300 kg/ha. Sedangkan pupuk kandang 20 kg/ha/tahun.

 

Sarana Dan Prasarana Pendukung

 

         Di Kabupaten Kotawaringin Timur sarana dan prasarana pendukung antara lain :

-          Terletak dijalur Lintas Kalimantan

-          Sarana perhubungan laut, udara, darat telah terbuka luas (Pelabuhan Sampit, Bandara Udara, Jalan darat aspal hotmik)

-          Perbankan cukup memadai antara lain : BPD, BRI, BNI, Bank Mandiri, Danamon, BII.

-          Perwakilan PT. Syngenta Indonesia, PT. Monagro, PT. Pertani.

-          Sub Laboratorium Hama Penyakit

-          BBI Hortikultura Keruing, Kebun Bibit Keruing.

-          Terminal angkutan darat.

-          Komunikasi meliputi pelayanan telepon otomatis dan telkomsel serta Pos dan Giro setiap ibukota Kecamatan.

 

Analisa Usaha Tani

 

        Kegiatan Analisa Usaha Tani merupakan kegiatan yang perlu secara terus menerus dilaksanakan agar dapat diketahui untung rugi usaha tani sehingga dapat dijadikan dasar analisa pada musim tanam/tahun berikutnya.

Nama Petani             : Mansyah

Luas lahan                 : 1 ha

Lokasi                       : Kecamatan Baamang  (Desa Baamang Hulu)

 

a.         Sarana Produksi

-

Bibit

7.500 btg x Rp. 200

Rp 1.500.000

-

Pupuk

 

 

 

- Urea

25 kg x Rp. 1.600

Rp.     40.000

 

- TSP

50 kg x Rp. 1.600

Rp.     80.000

 

- KCl

50 kg x Rp. 1.900

Rp.     95.000

 

 

 

Rp 1.715.000

 

b.         Biaya Tenaga Kerja

-

Pengolahan tanah

40 HOK x Rp. 18.000

Rp    720.000

-

Tanam

40 HOK x Rp. 12.500

Rp.   480.000

-

Pemeliharaan dan panen (tenaga kerja)

1 org x Rp. 250.000

Rp.   250.000

 

 

 

Rp.3.700.000

 

c.         Biaya pajak lahan

-

Biaya pajak lahan

Rp       30.000

-

Biaya alat

Rp     175.000

 

Biaya lain-lain

Rp.      25.000

 

 

 

Rp  3.700.000

 

d. Biaya pasca panen

-

Biaya pasca panen

Rp     250.000

-

Biaya sewa lahan

Rp     225.000

 

 

 

Rp     475.000

 

e. Harga setempat perbuah

-

Harga setempat perbuah

Rp         5.000

 

f. Total produksi

-

Total produksi

Rp         7.000

 

PENDAPATAN KOTOR

= 7.000 x 5.000

= 35.000.000

 

PENDAPATAN BERSIH

= Rp. 35.000.000 – 6.120.000

= Rp. 28.880.000

 

KELAYAKAN EFISIENSI

B/C      = 28.880.000

                 6.120.000

            = 4,71

 

R/C      = 35.000.000

                 6.120.000

            = 5,71

 

      

2.      Sektor Perkebunan.

 

Berdasarkan hasil penelitian tanah, agroklimat dan komoditas/budidaya, Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1984 telah menetapkan Rencana Induk Pembangunan Perkebunan dan lahan yang sesuai untuk pengembangan berbagai komoditi perkebunan dicadangkan seluas 3.139.500 Ha (20,4 %) dari luas wilayah Kalimantan Tengah.

 

Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1993 telah menetapkan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah dan untuk pengembangan Perkebunan jangka panjang 15 tahun  (1993 – 2003)  dicadangkan lahan seluas   1.700.000 Ha.

 

Berdasarkan pengalaman disertai penelitian sesuai dengan kondisi tanah dan iklim yang mendukung di Kalimantan Tengah ada 4 (empat) komoditi utama yang telah dikembangkan dan telah mengarah kepada kegiatan Usaha Agribisnis oleh petani pekebun maupun oleh perusahaan perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kelapa dan lada.

 

Kelapa sawit merupakan komoditi perkebunan utama yang dikelola oleh perusahaan besar swasta/nasional/asing yang bergerak dibidang perkebunan, sedangkan tanaman karet dan kelapa sebagai tanaman utama yang dikembangkan pada perkebunan rakyat.

 

Dengan paradigma baru pembangunan perkebunan  yang sebelumnya berorientasi pada produksi diubah berorientasi pada agribisnis, serta menempatkan pembangunan sistem agribisnis sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

 

Kedepan sub sistem hilir yang meliputi pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan merupakan rangkaian sub sistem yang sangat strategis karena dapat menghela sub sistem lainnya untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat khususnya petani dan pelaku usaha agribisnis.

 

 

a.      Potensi  Lahan

 

Luas Propinsi Kalimantan Tengah ± 153.564 Km2 (15.356.400 Ha). Berdasarkan Rencana Induk Pengembangan Perkebunan tahun 1984 dicadangkan lahan untuk pengembangan tanaman perkebunan seluas 3.139.500 Ha dan berdasarkan Rencana  Tata Ruang Propinsi Kalimantan Tengah hasil Paduserasi tahun 1999 lahan yang dapat dimanfaatkan untuk perkebunan yaitu pada Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) seluas 3.114.980 Ha dan Kawasan Pemukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) seluas 1.892.225 Ha. Selanjutnya untuk jangka waktu 15 tahun (1993 – 2008/jangka menengah) dicadangkan 1.700.000 Ha.

 

b.      Pemanfaatan Lahan Dan Peluang Investasi

 

Sesuai dengan rencana Tata Ruang Propinsi Kalimantan Tengah tahun 1999 luas lahan yang menjadi kewenangan Dinas Perkebunan untuk mendayagunakannya yaitu pada Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) dan Kawasan Pemukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) dengan Ijin Usaha Perkebunan (IUP/PPUP) sebanyak 187 buah perusahaan. Perkebunan rakyat yang sudah dibangun pada KPP dan KPPL sampai akhir tahun 2002 tercatat seluas 448.290 Ha.

 

Dari segi ketersediaan lahan daerah Kotawaringin Barat (termasuk Kabupaten Sukamara dan Lamandau) sudah tidak tersedia lagi untuk perusahaan perkebunan, kecuali mengganti lahan lokasi perusahaan yang tidak serius atau dicabut arahan/ijin lokasinya.

 

Sedangkan di Kapuas, khususnya daerah Gunung Mas masih mempunyai potensi besar, yang selanjutnya diikuti daerah Katingan, Seruyan (Kotawaringin Timur). Daerah Barito Selatan/Barito Timur, KPPL lebih luas (pemukiman penduduk dan okupasi usaha rakyat) dan Barito Utara/Murung Raya terkendala topografi tidak mendukung.

 

Disamping areal perkebunan rakyat diatas, terdapat kebun perusahaan perkebunan (71 Unit Perusahaan) seluas  275.356 Ha yang didominasi tanaman kelapa sawit, sehingga luas areal perkebuanan tahun 2002 mencapai 723.646 Ha.

 

Lahan yang telah diberikan kepada perusahaan perkebunan besar tersebut masih ada kemungkinan untuk dicabut ijinnya bila dinilai tidak serius untuk mengerjakan lahannya sehingga masih memungkinkan untuk diarahkan kepada calon investor lain yang berminat menanamkan investasinya di Propinsi Kalimantan Tengah . Gubernur Kalimantan Tengah menginstruksikan kepada Bupati/Walikota se Kalimantan Tengah untuk mengevaluasi sebanyak 132 Unit Perusahaan karena berbagai ijin usaha yang dimiliki sudah berakhir. Ada beberapa ijin lokasi perusahaan perkebunan yang sudah dicabut dan proses evaluasi untuk dicabut sampai saat ini berjalan terus.

 

Beberapa Perkebunan Besar Swasta (PBS) kelapa sawit yang saat ini ditawarkan untuk dijual (take over) kepada calon investor adalah :

 

·        PT. TRANSINDO ASPAC AGRONIAGA, dengan luas  tanam 3.600 ha dari rencana 24.000 Ha.

·        PT. SURYA BAROKAH, dengan luas tanam 2.648 Ha dari rencana 10.000 Ha.

·        PT. SAPTA KARYA DAMAI,  dengan luas tanam 4.613 Ha dari rencana 12.000 Ha.

 

Sedangkan peluang investasi industri sesuai potensi perkebunan di Kalimantan Tengah adalah :

 

a).   Pembangunan Industri Hilir dan industri turunannya dari CPO (Crude Palm Oil)/ minyak sawit kasar, seperti minyak goreng, sabun, margarine.

 

Adapun pertimbangan sebagai berikut :

 

1)           Produksi kelapa sawit di Kalimantan Tengah tahun 2002 sebesar 1.183.773,05 ton TBS (Tandan Buah Segar).

2)           CPO yang dapat dihasilkan di Kalimantan Tengah pada tahun 2002 adalah ± 20 % tehadap TBS adalah :

      20

              x  1.183.773,05 ton TBS = 236.755 ton CPO

     100

3)           Kapasitas industri hilir CPO/industri minyak goreng dan margarine rata-rata berkisar antara 10-30 ton CPO/jam

4)           Apabila :

a.            Digunakan 10 ton/jam, maka kebutuhan CPO satu tahun adalah :

 10 ton x 24 jam x 26 Hr x 12 bl = 74.880 ton per satu unit

b.            Digunakan 30 ton/jam, maka kebutuhan CPO satu tahun adalah :

  30 ton x 24 jam x 26 Hr x 12 bl = 224.640 ton per satu unit

 

5)           Berarti kemungkinan mendirikan industri minyak goreng dan margarine memungkinkan, walaupun tentunya bahan baku berupa CPO harus dilakukan dari hasil produksi TBS dan CPO lintas Kabupaten seperti Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat, Sukamara, dll, disamping masih banyaknya tanaman yang dimiliki oleh beberapa Kabupaten tersebut di atas yang belum menghasilkan.

6)           Minyak goreng yang dapat diperoleh dari 1 (satu) unit industri adalah:

a.            Kapasitas 10 ton : (75/100) x 74.880 ton CPO = 56.160 ton/minyak goreng/th.

b.            Kapasitas 30 ton :  (75/100) x 224.640 ton CPO = 168.480 ton/ minyak goreng/th

7)           Untuk kelancaran angkutan CPO (kapasitas 5 – 7 ribu liter/tangki pada saat ini tersedia ruas jalan trans Kalimantan lintas Selatan dan saat ini sudah mulai dimanfaatkan sesuai perkembangannya.

 

b).   Industri karet remah atau crumb rubber, dan atau industri hilir karet  ( pabrik ban atau industri barang jadi yang menggunakan bahan baku karet).

 

Selain potensi tersebut diatas, terdapat juga  potensi peremajaan kebun karet tua milik petani. Di Kalimantan Tengah terdapat kebun karet seluas 335.490 Ha, dengan komposisi tanaman belum menghasilkan (TBM) : 103.992 Ha, tanaman menghasilkan (TM) 190.904 Ha dan tanaman  tua/rusak (TT/TR) : 41.094 Ha.

 

      Dari luas areal tanaman tua/rusak tersebut secara teknis diperkirakan jumlah tegakan 14.793.840 batang (rata-rata 360 batang/ha, M,J. Rosyid dkk, tahun 2001). Jumlah log kayu karet 8.107.172 m2 (1.818 batang ekivalen 1M3 kayu karet), jumlah kayu gergajian 1.787.589 M3 (potensi kayu karet gergajian rata-rata 43.5 M3/hektar, M,J.Rosyid dkk, tahun 2001). Program peremajaan karet tua dikombinasikan dengan budaya setempat (berladang), tanaman sela padi/palawija dan atau tanaman  kehutanan (sengon). Kabupaten yang sangat potensial adalah Barito Timur, Gunung Mas, Kapuas/Pulang Pisau dan Barito Utara.

 

Lahan masih tersedia dengan mencabut kembali ijin-ijin arahan/lokasi untuk perusahaan yang tidak serius serta melalui pola kemitraan guna mengakomodir lahan-lahan milik masyarakat sekitar perusahaan.

 

c.      Tenaga Kerja

 

Untuk tenaga kasar dapat disediakan dari daerah dengan diikuti program diklat oleh perusahaan. Sedangkan untuk tenaga ahli/tenaga khusus didatangkan dari luar daerah (Pulau Jawa) melalui pola Angkatan Kerja Antar Daerah (AKAD).

 

d.      Pembiayaan

 

Sistem pembiayaan yang dilakukan oleh PBS selama ini menggunakan modal sendiri dan fasilitas perbankan (PMDN dan PMA).

Sedangkan pembangunan perkebunan yang dilakukan oleh masyarakat/petani pada umumnya dilakukan secara swadaya dan perbantuan dalam bentuk saprodi dan biaya penanaman.Untuk pembangunan kedepan, sistem pembangunan dapat diarahkan :

·        Menggunakan modal sendiri.

·        Menggunakan fasilitas Bank dengan bunga rendah, dan atau subsidi dari Pemerintah.

·        Joint Venture.

·        Fasilitas kredit khusus yang disediakan oleh Pemerintah (Kredit Pengembangan Agribisnis).

 

3.      Sektor Kehutanan

 

Untuk Produk Unggulan  Kalimantan Tengah yang ditawarkan bagi para investor dalam dan luar negeri  disektor / bidang investasi  ini meliputi antara lain:

a.      Industri dan Perdagangan :

·        Industri Pengolahan kayu, plywood, dowel, moulding,

·        Pembuatan Industri pabrik Pulp  dan  kertas. 

·        Perdagangan Hasil hutan ikutan seperti : sarang burung  walet, rotan, damar ,  gemor dan lain-lain.

b.      Pengelolaan Hutan untuk Konservasi SDA dan lahan:

·        Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hutan Rawa dan   Hutan Hujan tropika   serta  Hutan   Air  Payau / Hutan  Mangrove  yang     terintegrasi    / terkonversi dengan sektor    Pariwisata dan sektor Perikanan, Reboisasi lahan kritis / tidur dan areal hutan eks HPH,

·        Pembangunan Hutan Tanaman Industri   / HTI, Suaka marga satwa / Cagar alam, wisata alam / Wana Wisata, dan  Penelitian Hutan ilmiah.  ( Eko Turisme ).

 

c.       Hutan Tanaman Industri / HTI

 

Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Indonesia telah dimulai sejak awal dekade 1990-an melalui pelibatan investor swasta dengan sebagian besar pendanaannya didukung dari Dana Reboisasi (DR). Pengembangan HTI tersebut dilatar belakangi oleh adanya kesenjangan antara kapasitas industri pengolahan hasil hutan dengan kemampuan pasokan bahan baku yang selama ini ditopang oleh produksi dari hutan alam.

 

1).   Potensi Dan Peluang Investasi

 

Propinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu Propinsi yang memiliki potensi sumber daya hutan yang cukup besar,  dengan total luas kawasan hutan mencapai 10,55 juta Ha atau 68,7 % dari total luas Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah yang seluruhnya mencapai 15,35 juta Ha.

Besarnya potensi sumber daya hutan yang tercermin dari luas kawasan hutannya menempatkan sektor kehutanan sebagai sektor andalan di Kalimantan Tengah yang merupakan salah satu pilihan investasi yang sangat strategis dan potensial dalam mendukung pembangunan Otonomi Daerah di Propinsi Kalimantan Tengah.

 

Sejalan dengan kebijakan pembangunan sektor kehutanan, Pemerintah Propinsi  Kalimantan Tengah sangat terbuka bagi investor yang akan menanamkan modalnya dalam kegiatan pembangunan HTI sekaligus industri pengolahannya.

 

Perkembangan HTI hingga saat ini belum mencapai sasaran seperti yang diharapkan. Bahkan  sejak dihentikannya pendanaan yang bersumber dari DR tahun 1998, banyak diantara perusahaan HTI yang tidak mampu membiayai kegiatan operasionalnya akibat likuiditas dan akhirnya mengehentikan kegiatannya.

 

Sesuai semangat dan tuntutan Otonomi Daerah pada saat ini, Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah akan membuka peluang investasi yang seluas-luasnya guna menarik investor dalam dan luar negeri untuk menanamkan modalnya di Kalteng.

 

2).   Sumber Pembiayaan

 

Sebagai sebuah proyek investasi kegiatan pembangunan Hutan Tanaman Industri memerlukan modal dalam jumlah yang tidak sedikit, sehingga sistim kemitraan dengan melibatkan investor yang benar-benar kuat dan mampu baik dari dalam Negeri Maupun Luar Negeri dapat dilaksanakan agar dapat menjamin kepastian usaha dalam jangka panjang.

Sistim biaya diharapkan selain dari dalam Negeri diantaranya berupa pinjaman/kredit dari Bank juga diharapkan adanya pinjaman/bantuan dari luar negeri  yaitu dari organisasi-organisasi dunia maupun dari negara-negara donor.

 

Sistim pembiayaan untuk pengelolaan Hutan Tanaman Industri dapat dilaksanakan dengan melalui adanya kompensasi sumber daya alam antara mitra kerja yaitu terhadap areal yang akan dibuka apabila masih terdapat tegakan yang bernilai ekonomis dan mempunyai nilai finansial dapat durus pemanfaatannya sehingga dapat menjadi sumber biaya yang dapat menjamin bagi pengelola HTI.

 

Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah menyadari bahwa eko-turisme sebagai sebuah potensi yang belum tergali merupakan sektor yang akan dikembangkan Pemerintah Daerah, oleh karenanya peluang investasi dalam bidang ini masih sangat terbuka bagi investor. 

 

 

d.       Wisata Lingkungan / Eko-Turisme

 

Salah satu bentuk potensi yang ada di  Kalimantan Tengah  yang sampai saat ini belum tergali secara optimal  ialah pemanfaatan kawasan hutan untuk tujuan  eco-turism (wisata lingkungan).  Ditinjau dari perspektif bisnis, pengembangan eko-turisme memiliki prospek yang sangat baik  dimasa yang akan datang karena daya tarik yang dimilikinya, berupa kekayaan sumber daya hutan dengan mega biodiversity dan keindahan panorama alam yang dilengkapi dengan keunikan adat istiadat budaya yang khas.  Dengan potensi seperti ini  diharapkan mampu mengundang minat wisatawan domestik  maupun mancanegara.

 

1).   Potensi dan Peluang Investasi

Propinsi Kalimantan Tengah yang memiliki luas wilayah  15.355 juta hektar, terdiri atas Kawasan Lindung seluas 2,457 juta hektar dan Kawasan Budidaya seluas 12,898 juta hektar, menunjukan bahwa dari segi luas kawasan hutan  masih sangat besar dan potensial untuk dikelola dan diusahakan. Disamping itu letak secara geografis Propinsi Kalimantan Tengah  yang menjadikan  semakin memberi daya tarik wisata karena keragaman tipe hutan dengan biodiversity dan kekayaan flora dan faunanya, serta keragaman dan keunikan budaya dan adat istiadat masyarakat asli yang tinggal di pedalaman  yang semakin menjadi kekhasan propinsi ini.

 

Peluang investasi eko-turisme  yang demikian besar  saat ini sedang digarap oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah   sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan optimalisasi pemanfaatan hutan berkesinambungan, baik manfaat ekonomis, ekologis maupun sosial dan budaya untuk kesejahteraan masyarakat.

Jenis-jenis eko-turisme yang ditawarkan Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah antara lain : wisata hutan hujan tropis dengan segala keanekaragaman hayati dan keunikan flora fauna khas kalimantan, wisata arung jeram, susur sungai, air terjun, pegunungan dan perbukitan dengan panorama yang indah, wisata situs sejarah, budaya dan adat masyarakat Dayak, berbagai macam  wisata petualangan lainnya kiranya akan mempunyai daya tarik yang layak saing dipasar pariwisata nasional maupun internasional.

 

2).   Pembiayaan

Pembiayaan dan pengelolaan proyek pengembangan eko-turisme ini direncanakan melalui bentuk kemitraan baik antara investor dalam negeri maupun dengan investor luar negeri yang tertarik untuk menanamkam modal di sektor ini.

Disamping Pola Kemitraan  tersebut, diharapkan melalui pameran di Brunei Darussalam ini eko-turisme akan dapat menarik Para investor dan negara-negara donor untuk memberikan pinjaman bagi pengembangan eko-turisme di Propinsi Kalimantan Tengah

 

e.      Hasil Hutan Rotan.

 

Rekap Potensi Rotan Kalimantan Tengah:

 

1.                  Luas Tanaman Rotan di Kalimantan Tengah 1,5 Juta Hektar (Rotan Alam, perkebunan masyarakat, budidaya).

2.                  Potensi Produksi Rotan di Kalimantan Tengah ± 2,25 Juta Ton Per Tahun.

3.                  Produksi Rotan tahun 2001 = 1.371.864 ton per tahun.

4.                  Jenis Rotan yang dihasilkan :

a.                   Rotan Irit

b.                  Rotan Manau

c.                   Rotan Taman

d.                  Rotan Sega

e.                   Rotan semambu

 

f.        Limbah Hak Pengusahaan Hutan.

 

Daftar Target Limbah Dari RKTUPHHK Tahun 2004 Propinsi Kalimantan Tengah S/D 31 Maret 2004                 

 

 

 

Target

No

Kabupaten

Limbah RKTUPHHK

 

 

Tahun 2004

 

 

(M3)

1

2

3

 

 

 

 

1. Kab. Murung Raya

                                  3.500

 

2. Kab. Barito Utara

                                18.430

 

3. Kab. Barito Selatan

                                  3.515

 

4. Kab. Barito Timur

                                         -

 

5. Kab. Kapuas

                                         -

 

6. Kab. Pulang Pisau

                                         -

 

7. Kota Palangka Raya

                                         -

 

8. Kab. Gunung Mas

                                         -

 

9. Kab. Katingan

                                12.325

 

10. Kab. Kotawaringin Timur

                                         -

 

11. Kab. Seruyan

                                         -

 

12. Kab. Kotawaringin Barat

                                  4.435

 

13. Kab. Lamandau

                                         -

 

14. Kab. Sukamara

                                         -

 

JUMLAH

                                42.205

 

Keterangan: 4 (empat) Unit HPH Blok RKTUPHHK-nya berada pada Kabupaten, yaitu :

-         PT. Sari Bumi Kusuma (Kab. Katingan & Kab. Lamandau)

-         PT. Erna Djuliawati (Kab. Katingan & Kab. Seruyan)

-         PT. Trisetia Intiga (Kab. Kotawaringin Barat & Kab. Lamandau)

-         PT. Central Kalimantan Abadi (Kab. Seruyan & Kab. Kotawaringin Barat)

 

4.      Sektor Kelautan dan Perikanan.

 

Areal perairan laut dengan garis pantai  +  750 Km menghadap ke laut Jawa, dengan 11 Sungai besar, dan perairan umum sungai, danau, rawa seluas +  2.290.000 Ha. Yang sangat cocok untuk usaha perikanan Tangkap, Usaha perikanan Budidaya .

Jenis produksi perairan laut dan perairan umum  diantaranya ikan kakap, tongkol, bawal, tengiri, kembung, udang,kepiting,lais , toman, udang galah, baung, belida, jelawat, labi-labi, dan ikan hias (botia dan arwana).

 

a).   Perikanan Tangkap.

 

-         Potensi perikanan tangkap di perairan Umum : yang terdiri dari 11 sungai besar,486 buah danau dan 1,85 juta Ha. Lahan rawa memiliki berbagai jenis ikan dengan potensi lestari sebesar 130.000 Ton per tahun., potensi keberadaan labi-labi + 500.000 ekor  per tahun  baru dimanfaatkan 20 % , ikan hias botia potensinya sebesar  + 7,5 juta  ekor per tahun  baru dimanfaatkan  36 % dan ikan betutu potensi diperkirakan 200 ton per tahun baru dimanfaatkan 51 %.

-         Potensi perikanan tangkap diperairan laut : dengan luas wilayah laut  +  95.450 Km2 memiliki potensi lestari sebesar 126 000 ton baru dimanfaatkan 44,46 %.

 

b).   Perikanan Budi Daya.

                                            

-         Budi daya Ikan Air Tawar, Potensi nya ada di sungai , danau dan rawa yang tersebar diseluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah , budi daya dengan menggunakan Kolam , keramba dan jaring apung. Dan untuk mendukung budi daya ikan air tawar ini  telah dibangun balai benih ikan .

-         Budi daya ikan air Payau dilingkupi dengan hamparan hutan bakau , nipah sehingga potensial sekali untuk budi daya ikan/ udang tambak tersedia lahan seluas 84.400 Ha. Untuk pengembangan budi daya tambak di air payau ini.

 

c).    Peluang investasi sektor perikanan adalah :

 

-         Budi daya tambak udang/bandeng/kepiting. Lahan yang tersedia seluas 84.400 Ha. Di kabuapten : Kapuas, Pulang pisau, Katingan , Kotim , kobar dan Sukamara.

-         Budi Daya Ikan di Keramba / jarring apung areal yang tersedia di 11 sungai besar, di Kabupaten  : Pulang Pisau, P.Raya, Kapuas, Kotim, seruyan, Kobar.

-         Penangkapan Ikan di perairan laut. Areal disepangjang pantai 750 Km dengan jarak 0 – 12 mill laut.

-         Penangkaran : labi-labi di kabupatenPulang pisau dan katingan , ikan hias arwana, di kabupaten seruyan ,  ikan betutu di kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau.

 

Peluang Investasi di Bidang Pembenihan dan Pemasaran Ikan Betutu (Oxyeleotris Marmorata Blkr) di Kalimantan Tengah

 

Benih merupakan bagian utama dalam budidaya ikan. Pada tingkatan yang sederhana benih ikan dapat diperoleh dari hasil penangkapan di periakan umum, sedang pada tingkat yang lebih maju dapat diperoleh dari hasil pembenihan ikan milik petani (swasta) maupun dari Balai Benih Ikan (BBI) milik Pemerintah.

Ikan Betutu / bakut (Oxyeleotris marmorata) atau marbled goby alias ikan bodoh / malas terbilang ikan konsumsi mahal, namun belum ada yang sangat serius mengelola pembenihannya, akibatnya perkembangbiakannya sangat menghawatirkan, sehingga populasi dari tahun ke tahun semakin menurun. Kondisi ini perlu segera dicari solusinya agar ikan betutu bisa ditingkatkan jumlahnya, apalagi dengan harganya yang tinggi ini, maka banyak orang yang lebih suka memburunya, akibat diburu inilah semakin mempercepat kemusnahannya.

Pasokannya sampai saat ini masih kurang karena mengandalkan tangkapan dari alam sehingga dikhawatirkan sudah terjadi over fishing atau melebihi tingkat produksi alam yang normal. Bila ikan betutu terus ditangkapi akibat permintaan dan harga jual yang tinggi, lama kelamaan populasinya akan menjadi langka. Budidaya mencakup kegiatan produksi benih dan pembesaran ikan betutu merupakan suatu alternatif rasional yang harus ditempuh.

Ikan betutu sebagai ikan air tawar, banyak ditemukan diperairan Kalimantan Tengah. Habitatnya meliputi air tawar dan payau, sungai-sungai yang tidak jauh dari muara atau pantai, berarus tenang dan berlumpur, rawa serta danau dengan dasar berlumpur, ia senang terbenam dicelah dan termasuk ikan labirin karena mampu hidup diperairan yang keruh dengan bantuan lembar-lembar labirin pada lapis insangnya.

 

Latar belakang

 

Konsumen utama Betutu adalah masyarakat luar dari Kalimantan Tengah, terutama Pulau Jawa melalui penjualan ke restoran berbintang dengan harga yang menggiurkan dan juga merupakan komoditas ekspor dengan Negara tujuan Amerika Serikat, Cina / Hongkong, Australia, Singapura, Malasia dan Negara lainnya.

Sebagian besar ikan ini diperoleh dari hasil tangkapan di alam, pada kondisi saat ini Betutu di alam sudah sangat langka diperoleh sehingga hasil tangkapan semakin menurun jumlahnya. Dari data pemasaran 2 (dua) tahun terakhir ikan Betutu yang keluar dari Propinsi Kalimantan Tengah berjumlah 15.763 Kg pada tahun 2001 dan menurun menjadi 13.347,2 Kg pada tahun 2002, hal ini akibat dari eksploitasi yang dilakukan secara terus menerus tanpa diimbangi dengan pembudidayaan.

Propinsi Kalimantan Tengah dengan luas wilayah 153.564 Km2 meliputi perairan umum yang terdiri dari sungai, danau dan rawa sekitar 2,29 juta Ha, sungai besar yang ada berjumlah 11 (sebelas) buah dan 33 (tiga puluh tiga) buah anak/ cabang sungai ; sementara danau yang ada berjumlah 455 (empat ratus lima puluh lima) buah.

Prospek pengembangan ikan Betutu cukup baik, terutama juga untuk memenuhi permintaan konsumen dalam dan luar negeri dengan tanpa harus mengganggu kelestarian alam. Hal ini didukung dengan mengingat Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan.

Dalam upaya memanfaatkan peluang dan mengatasi permasalahan tersebut, salah satu perusahaan yang ada di Kalimantan Tengah yaitu CV.Zippora Anggun selaku eksportir yang berusaha dibidang ikan konsumsi (ikan Betutu) telah berupaya dalam mengatasi permasalahan pembenihan dan penyediaan ikan Betutu dalam bentuk mendirikan hatchery dan pembesaran yang saat ini terbentur biaya dan diharapkan dapat bekerja sama dengan pihak investor yang berminat dibidang usaha tersebut.

 

Lokasi dan Tempat Usaha

 

Sesuai hasil survei yang dilaksanakan oleh perusahaan CV.Zippora Anggun bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Tengah bahwa daerah yang cocok untuk pengembangan ikan Betutu, yaitu daerah pasang surut seperti di Kabupaten Pulang Pisau tepatnya di Desa Henda (antara Palangka Raya dan Pulang Pisau). Daerah tersebut memenuhi persyaratan pembudidayaan ikan Betutu dengan pertimbangan tanah padat dan berlumpur serta ketinggian pasang surut mencapai 1,5 meter, dekat dengan perairan sungai Kahayan.

Adapun kapasitas lahan yang telah tersedia dan dimiliki oleh perusahaan tersebut saat ini dengan luas 10 Ha (100.000 m2) yang sedang digarap, dan diharapkan pengembangannya mencapai 50 Ha (500.000 m2).

Kebutuhan Investasi

 

Mengingat dana yang dimiliki oleh perusahaan tersebut sangat terbatas, diharapkan dari pihak luar (investor) bisa bekerja sama dalam mewujudkan usaha tersebut diatas dengan perincian biaya :

-        Pengelolaan tanah (pembuatan kolam) per hektar untuk tahap pertama 10 Ha x Rp. 100.000.000 =                                   Rp. 1.000.000.000,-

-        Bangunan hatchery (tempat Pembenihan, peralatan dan bangunan lainnya) =                                                               Rp.    500.000.000,-

-        Pengamanan (pagar dan lainnya) =                          Rp.    250.000.000,-

-        Pakan dan obat-obatan =                                       Rp.    100.000.000,-

-        Pengadaan dan perawatan induk =                          Rp.      50.000.000,-

-        Gaji karyawan @ 1.000.000 / bulan x 20 orang x 12 bulan =                                                                               Rp.    240.000.000,-

                                                                                    Rp. 2.140.000.000,-

Apabila pengembangannya mencapai 50 Ha biaya yang diperlukan mencapai                  Rp. 10.700.000.000,-

 

Pemasaran dan penjualan

 

Pemasaran saat ini ke daerah Pulau Jawa terutama Jakarta, Surabaya dan sebagian dieksor via Jakarta tujuan Malasia dan Singapura. Adapun pembelian ditingkat masyarakat Rp. 50.000 / kg, ditingkat penampungan Rp. 65.000 / kg, sedangkan harga jual di daerah tujuan Rp. 105.000 dan di luar negeri harga mencapai Rp. 130.000 / kg.

 

Potensi Alam

 

Propinsi Kalimantan Tengah dengan luas wilayah 153.564 Km2 meliputi perairan umum yang terdiri dari sungai, danau dan rawa sekitar 2,29 juta Ha, sungai besar yang ada berjumlah 11 (sebelas) buah dan 33 (tiga puluh tiga) buah anak/ cabang sungai ; sementara danau yang ada berjumlah 455 (empat ratus lima puluh lima) buah. Potensi ikan Betutu sekitar 200 ton per tahun dengan produksi tangkap tahun 2002 13.347,2 Kg dan sebagian ikan ini dibawa ke Banjarmasin dengan jumlah mencapai 30 ton per tahun.

 

Teknologi Pembenihan

 

Induk ikan Betutu yang akan dipijah berukuran 800 – 1.500 gram per ekor. Pasalnya ada korelasi positif antara bobot induk dengan jumlah telur yang dihasilkan induk dengan kisaran bobot tersebut diatas dapat menghasilkan telur sebanyak 5.000 – 30.000 butir. Jumlah telur sangat bervariasi tergantung kondisi induk dan tingkat kematangan gonad. Induk-induk ikan betutu yang akan dipijah harus diperhatikan secara praktis tingkat kematangan gonad induk ikan betina dapat diketahui dari ukuran celah genitalnya. Induk ikan jantan juga kelihatan warna merah disekitar lubang pelepas. Ada kalanya jika bagian bawah perut diurut akan keluar cairan berwarna putih.

Pemijahan induk ikan Betutu dapat dilakukan secara alami atau dengan stimulasi hormon. Pemijahan betutu tidak mengenal musim dan dapat berlangsung sepanjang tahun tiga sampai empat kali setahun. Kemauan memijah biasanya akan meningkat pada musim hujan, sebaliknya kurang pada musim kemarau.

a.       Pemijahan alami

Tempat pemijahan betutu dilakukan di kolam tanah dan bak fiber glass. Penebaran induk antara jantan dan betina 1 : 1. Padat penebarannya dilakukan untuk 100 ekor induk pada luasan kolam 20 x 30 m, kedalaman 1 – 2 m, dasar dan pinggir kolam bersiring tembok, memiliki pergantian air secara terus menerus, tempat pemijahan harus dilengkapi saluran pemasukan air (inlet) dan saluran pembuangan (outlet).

Telur dikeluarkan dari tubuh betina yang sudah matang gonad dengan menyemprotkannya ke substrat. Substrat untuk penempelan telur tersebut terbuat dari potongan pipa paralon berukuran 4 – 6 inchi yang dibelah dan kemudian diikat kembali guna memudahkan pada saat mengecek keberadaan telur. Jumlah sarang yang ditempatkan dalam kolam bekisar 20 – 30 buah untuk sejumlah pasang induk tersebut.

setiap induk bertelur pada substrat membentuk lingkaran yang diselimuti lendir. Telur tersebut dipindahkan ke aquarium bervolume 40 – 60 liter. Kedalam aquarium dapat diisi 2 – 3 sarang dan diberi aerasi untuk suplay udara sampai telur menetas.

 

b.       Kawin suntik

Tujuan kawin suntik yaitu untuk mendapatkan produksi telur dalam julah lebih banyak, yang memungkinkan benih ikan diproduksikan secara masal dan terjadwal.

Hal ini dilakukan jika fasilitas hatchery untuk pemeliharaan larva cukup memadai, sehingga pengaruh kegagalan bisa dikurangi. Hormon yang digunakan untuk menstimulasi pemijahan Betutu adalah ovaprim.

Hormon disuntikan ketubuh ikan secara intra muscular pada bagian dorsal dekat sirip punggung. Penyuntikan dilakukan 2 kali dosis yang dianjurkan 0,5 ml/ kg bobot badan. Selang waktu penyuntikan pertama dan kedua berkisar 10 – 12 jam. Waktu ovulasi induk-induk antara 36 – 60 jam.

 

 

5.      Sektor Peternakan.

 

Tujuan Pembangunan Kehewanan di Kalimantan Tengah adalah untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak, meningkatkan pendapatan peternak, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan gizi masyarakat serta meningkatkan pendapatan asli daerah.

Sampai saat ini usaha peternakan/kehewanan di Kalimantan Tengah sebagian besar merupakan peternakan rakyat yang bersifat tradisional, dimana jumlah pemilikan ternak masih berskala kecil, permodalan terbatas, keterampilan dan teknologi yang digunakan relatif rendah.

Sehubugan dengan hal tersebut diatas, maka kebijaksanaan operasional pembangunan peternakan/kehewanan di Kalimantan Tengah diarahkan melalui:

 

-         Intensifikasi, ditujukan untuk meningkatkan produktifitas ternak dan peternak dengan jalan menggunakan teknologi tepat guna dan sarana produksi yang tersedia.

-         Ekstensifikasi, ditujukan untuk meningkatkan populasi atau produksi ternak dengan memanfaatkan sumber daya alam yang belum atau kurang intensif sebagai usaha pertanian lainnya.

-         Diversifikasi, adalah pemanfaatan berbagai komoditi peternakan, termasuk pengolahan limbah hasil peternakan.

-         Rehabilitasi, adalah bentuk usaha penanggulangan/perbaikan akibat menurunnya atau rusaknya sumber daya alam (tanah dan ternak).

-         Sampai saat ini sumber daya peternakan masih belum dimanfaatkan secara optimal, demikian juga masih terdapat faktor-faktor ekonomis yang belum dimanfaatkan. Jika keadaan ini dapat diperbaiki, maka peternakan akan tetap mampu menjadi sektor yang tangguh dan mampu menopang pengembangan ekonomi regional.

 

 

a.      Potensi Ternak Sapi Potong

Kalimantan Tengah ditinjau dari luas wilayah dapat memberikan dukungan yang memadai bagi pengembangan peternakan sapi potong.

Sampai dengan saat ini sumber daya peternakan masih belum dimanfaatkan secara optimal, demikian juga masih terdapat faktor-faktor ekonomi yang belum dimanfaatkan. Jika keadaan ini dapat diperbaiki, maka peternakan akan tetap mampu menjadi sektor yang tangguh yang mampu menopang pengembangan ekonomi regional.

Potensi ekonomi yang belum dimanfaatkan tersebut antara lain :

 

1).   Masih terdapat kesenjangan antara produktifitas, baik produktifitas riil maupun produktifitas potensial komoditi peternakan, sehingga produktifitas masih dapat dilakukan melalui peningkatkan pemanfaatan teknologi biologi dan budidaya.

2).   Masih tersedianya sumber pakan ternak berupa hijauan yang masih belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya untuk pengembangan ternak ruminansia. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan di sub sektor peternakan.

3).   Bertitik tolak dari potensi wilayah Kalimantan Tengah tersebut, maka untuk menunjang peningkatan produksi daging dalam rangka memnuhi kebutuhan pangan asal ternak, tidak lepas dari peranan pihak swasta sebagai salah satu pelaku agribisnis sehingga masyarakat mampu meningkatkan produksi peternakan sapi potong yang berdaya saing di pasar domestik maupun eksport

 

Dengan potensi lahan yang sesuai untuk usaha peternakan sapi potong sekitar 2.531.158 hektar, dimana dapat menampung sekitar 1.260.000 Satuan Ternak, maka terbuka peluang yang sangat besar untuk pengembangan ternak sapi potong.

 

Type investasi yang diharapkan adalah melalui Kemitraan. Dalam hal ini adanya kerjasama yang saling menguntungkan antara Pemerintah Brunei Darussalam dengan Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Kehewanan Propinsi Kalimantan Tengah dan sekaligus memberdayakan peternak lokal.

Kemitraan yang dimaksud adalah :

-         Pemerintah Brunei Darussalam menyediakan dana untuk pekerjaan yang tercantum pada butir 5 tersebut diatas.

-         Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah menyediakan dana untuk keperluan pembinaan operasional.

-         Peternak menyediakan tanah tempat Ranch / Padang Penggembalaan dan melaksanakan operasional usaha peternakannya.

-         Pemerintah Brunei Darussalam bersama dengan Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah (Dinas Kehewanan Propinsi Kalimantan Tengah) melaksanakan fasilitasi dalam manajemen, pembinaan administrasi dan teknis serta pengawasan secara terpadu.

-         Hasil keuntungan usaha diatur kemudian sesuai kesepakatan bersama.

 

Lahan ranch Lokasi / Padang penggembalaan :

         

a. Kabupaten Katingan

    - Lahan tersedia                               : 380.700 hektar

    - Jumlah ternak sapi yang ada        : 3.468 ekor

b. Kabupaten Gunung Mas

    - Lahan tersedia                               : 250.125 hektar

    - Jumlah ternak sapi yang ada        : 3.106 ekor

c. Kabupaten Seruyan

    - Lahan tersedia                               : 186.218 hektar

    - Jumlah ternak sapi yang ada        : 5.005 ekor

 

 

b.     Potensi Pengembangan Peternakan  Kambing

 

Kalimantan Tengah ditinjau dari luas wilayah dapat memberikan dukungan yang memadai bagi pengembangan peternakan kambing.

Sampai dengan saat ini sumber daya peternakan masih belum dimanfaatkan secara optimal, demikian juga masih terdapat faktor-faktor ekonomi yang belum dimanfaatkan. Jika keadaan ini dapat diperbaiki, maka peternakan akan tetap mampu menjadi sektor yang tangguh yang mampu menopang pengembangan ekonomi regional.

Potensi ekonomi yang belum dimanfaatkan tersebut antara lain :

-         Masih terdapat kesenjangan antara produktifitas, baik produktifitas riil maupun produktifitas potensial komoditi peternnakan, sehingga produktifitas masih dapat dilakukan melalui peningkatkan pemanfaatan teknologi biologi dan budidaya.

-         Masih tersedianya sumber pakan ternak berupa hijauan yang masih belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya untuk pengembangan ternak ruminansia. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan di sub sektor peternakan.

-         Produk peternakan masih berkualitas rendah, sehingga upaya peningkatan kualitas dan standarisasi produk dapat dipandang sebagai kegiatan yang dapat meningkatkan nilai tambah.

Bertitik tolak dari potensi wilayah Kalimantan Tengah tersebut, maka untuk menunjang peningkatan produksi daging dalam rangka memnuhi kebutuhan pangan asal ternak, tidak lepas dari peranan pihak swasta sebagai salah satu pelaku agribisnis sehingga masyarakat mampu meningkatkan produksi peternakan kambing yang berdaya saing di pasar domestik maupun eksport

 

Dengan potensi lahan yang sesuai untuk usaha peternakan kambing sekitar 1.215.106 hektar, dimana dapat menampung sekitar 6.075.530 Satuan Ternak, maka terbuka peluang yang sangat besar untuk pengembangan ternak kambing.

         

Lokasi Pengembangan Peternakan Kambing diarahkan kepada daerah yang mempunyai potensi untuk keberhasilan usaha dan adanya peternak yang sudah berpengalaman dalam memelihara ternak kambing.

Adapun lokasi tersebut adalah :

a. Kota Palangka Raya

b. Kabupaten Pulang Pisau

c. Kabupaten Kapuas

Type investasi yang diharapkan melalui Kemitraan. Dalam hal ini adanya kerjasama yang saling menguntungkan antara Pemerintah Brunei Darussalam dengan Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Kehewanan Propinsi Kalimantan Tengah dan sekaligus memberdayakan peternak lokal.

Kemitraan yang dimaksud adalah :

-         Pemerintah Brunei Darussalam menyediakan dana untuk pekerjaan yang tercantum pada butir 5 tersebut diatas.

-         Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah menyediakan dana untuk keperluan pembinaan operasional.

-         Peternak menyediakan tanah tempat pemeliharaan dan melaksanakan operasional usaha peternakannya.

-         Pemerintah Brunei Darussalam bersama dengan Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah (Dinas Kehewanan Propinsi Kalimantan Tengah) melaksanakan fasilitasi dalam manajemen, pembinaan administrasi dan teknis serta pengawasan secara terpadu.

-         Hasil keuntungan usaha diatur kemudian sesuai kesepakatan bersama.

 

c.     Kerjasama Permodalan

 

Pembangunan Peternakan merupakan bagian dari suatu totalitas kinerja agribisnis khususnya sub sistem usaha tani ternak dengan keluaran berupa produksi primer ternak. Sub sistem ini akan menjadi suatu kesatuan kinerja yang tidak terpisahkan dari sub sistem agribisnis hulu (berupa kegiatan ekonomi input produksi peternakan, informasi dan teknologi) dan sub sistem agribisnis hilir (perdagangan pengolahan dan jasa agribisnis).

 

Sejalan dengan visi pembangunan kehewanan Propinsi Kalimantan Tengah yaitu “Terwujudnya kesejahteraan masyarakat peternakan/kehewanan Kalimantan Tengah dengan membangun sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing dan berbasis sumber daya lokal dan pedesaan”.

 

Untuk mewujudkan visi tersebut pembangunan usaha peternakan/kehewanan dengan sistem dan usaha agribisnis berbasis peternakan operasionalisasinya memerlukan keterkaitan lintas sub sektor dan sektor lainnya, sehingga diperoleh sinergi yang proporsional antara para pelaku agribisnis peternakan baik pada segmen hulu, tengah dan hilir.

 

Kemitraan Usaha

 

Pola kerjasama kemitraan usaha antara perusahaan besar, perusahaan menengah, perusahaan kecil, pihak perbankan, peternak/kelompok tani bertujuan antara lain .

1.  Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani/keluarganya, kesinambungan usaha serta memperluas lapangan kerja.

2.  Memberikan kepastian kepada peternak/kelompok tani dalam memasarkan produknya dengan jaminan harga yang wajar.

3.   Meningkatkan skala usaha dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan          kemampuan usaha kelompok mitra yang mandiri.

4.   Mempercepat alih teknologi maju dari perusahaan besar kepada para peternak, serta        meningkatkan efisiensi perusahaan melalui optimalisasi pemanfaatan sumberdaya.

5.  Mengikut sertakan modal swasta dalam pembangunan pertanian/peternakan.

 

Pola Kemitraan/Kerjasama

 

Model Pola Kemitraan dan model Kerjasama Permodalan Tripartite tujuannya sama yaitu dengan memperhatikan prinsip “saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan” namun dalam operasional Kerjasama Permodalan Tripartite perusahaan sebagai penyedia modal/kredit tidak secara langsung diberikan kepada mitra (petani/kelompok tani) tetapi penyalurannya melalui Bank, demikian juga Pemrintah Propinsi dan Kabupaten/Kota tidak hanya bertindak sebagai fasilitator, tetapi dapat juga menjadi sumber dana/permodalan melalui APBD I dan APBD II.

 

Pembangunan Peternakan di Kalimantan Tengah pada umumnya masih  mengandalkan peternakan rakyat dan lambat berkembang karena keterbatasan modal usaha. Diakui bahwa  perhatian pemerintah secara bertahap  menyediakan dana/modal usaha dalam bentuk kredit melalui Lembaga Perbankan mapun non Perbankan untuk membantu peternak/kelompok tani dalam pengembangan usahataninya (penggemukan sapi.potong, budidaya ayam buras dan itik) dan upaya-upaya demikian sangat diharapkan dalam memberdayakan para petani/kelompok tani dan masyarakat pada umumnya.Sejalan dengan itu dalam rangka Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia (PPKTI) bidang pertanian dalam arti luas, dan khusus pembangunan sub sektor peternakan sangat mengharapkan dukungan dana melalui kerjasama permodalan tripartite.

 

Pola Kemitraan yang memungkinkan dilaksanakan dalam usaha peternakan adalah antara lain :

1.  Pola Inti-Plasma artinya Perusahaan mitra bertindak sebagai Inti dan peternak/kelompok tani  sebagai plasma.

2.  Pola Kerjasama Operasional Agribisnis artinya kelompok peternak menyediakan lahan, sarana dan tenaga kerja, sedangkan perusahaan mitra bertindak sebagai penyedia modal/dana, dan menampung pemasaran hasilnya.

Ataukah Pola/Model kerjasama permodalan tripartite yaitu :

1.   Kerjasama Permodalan Agribisnis (KPA), dimana Perusahaan Agibisnis menyediakan dana kredit permodalan (melalui Bank Penyalur), sarana produksi , menampung hasilnya serta pemasarannya, sedangkan petani menyediakan lahan, sarana dan tenaga.

2.  Kerjasama Permodalan Murni (KPM), dimana Perusahaan hanya menyediakan dana kredit permodalan melalui Bank Penyalur kepada petani/kelompok tani.

3.  Kemitraan Permodalan Langsung (KPL), dimana Perusahaan langsung menyediakan dana kredit permodalan, sarana produksi, menampung hasil produksi dan pemasaran hasil, sedangkan petani menyediakan lahan, sarana dan tenaga.

4.   Pola kerjasama pembiayaan APBD yaitu Pemerintah Propinsi, Kabupaten/Kota mengalokasikan dana APBDI/APBDII khusus disalurkan kepada petani/kelompok tani melaui Bank Penyalur dengan pola dana bergulir, sehingga dana pembangunan APBD tidak hilang dan dapat dimanfaatkan oleh petani/kelompok tani yang pada akhirnya dapat menggerakkan roda perekonomian daerah khususnya pembangunan sektor agribisnis.

 

Dukungan kerja sama permodalan tripartite untuk pengembangan sektor peternakanan di Kalimantan Tengah antara lain :

·        Kemitraan Penggemukan Sapi Potong, ( semua Kabupaten/Kota).

·        Kemitraan Pengembangan ayam broiler/layer ( Kapuas, Palangka Raya, Kotim,dll).

·        Pengembangan Kawasan Agropolitan (Kapuas, Barito Timur dan Kobar)

 

Adapun  pola kemitraan/kerjasama permodalan tripartite serta pengaturan sistim bagi hasil tergantung kesepakatan antara mitra yang terlibat, yang nantinya akan dituangkan dalam perjanjian  kerjasama.

 

Lokasi Potensi Pengembangan Ternak di Kalimantan Tengah

 

1.  Penggemukan Sapi Potong :

   a. Pulang Pisau

   b. Kapuas

   c. Palangka Raya

   d. Kotawaringin Barat

   e. Kotawaringin Timur

   f. Gunung Mas

   g. Seruyan

 

2.  Kemitraan Pengembangan Ayam Broiler/Layer

   a. Kapuas

   b. Palangka Raya

   c. Kotawaringin Timur

 

3. Dukungan Pengembangan Agropolitan

   a. Kapuas

   b. Kotawaringin Barat

   c. Barito Timur

 

 

6.      Sektor  Perindustrian dan Perdagangan

 

Industri yang ada di Kalimantan Tengah berupa:  Usaha Perkayuan, Karet, Rotan perikanan, perkebunan ( Kelapasawit/ CPO ) dan pertambangan. Sedangkan jumlah perusahaan industri sampai dengan 2003  tercata sebanyak + 7.758 unit usaha terdiri dari Industri kecil dan menengah  non fasiliatas dan Industri besar PMA/PMDN  (Industri Kayu dan Kimia ) sebanyak 40 Unit usaha

 

Jenis komnoditi yang dieksport dari Kalimantan Tengah adalah :

 

Hasil Hutan  berupa:

 

-         Kayu olahan meliputi Plywood, moulding, dowels, fingers, S2S, S4S, Floring boardWood tile, Pallet, doorcomponen cosing, sadle boar, meja taman, wooden decking, system village, food board, garden fance, laminating, floring house, truck body, garden gate, garden screen dan lain lain .

-         Hasil hutan ikutan meliputi rotan bulat dan dry jelutung

-         Hasil rotan olahan weaving dan barang jadi rotan.

 

Hasil perkebunan  berupa Karet Olahan  ( SIR – 20 ).

 

Hasil pertambangan berupa :

§         Emas Murni

§         Perak Murni

§         Pasir Zircon

 

Hasil Perikanan berupa Udang Beku.

 

Peluang  Investasi untuk sektor perindustrian dan perdagangan adalah Mengembangkan / membangun Aneka industri yang mengolah Produk-produk atau berbahan baku Dari hasil pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, kehutanan menjadi barang jadi dan perdagangan serta pemasaran produk-produk lainnya.

 

Perdagangan Komoditi Rotan Kalimantan Tengah.

 

Rotan di Kalimantan Tengah sebagian besar merupakan hasil budi daya perkebunan rakyat (sebagian tanah kebun bersertifikat). Pada tahun 2001 luas kebun rotan tercatat 1,5 juta ha dengan produksi 1.371.864 ton/tahun (rotan taman dan rotan irit).

 

Pengalaman larangan ekspor rotan asalan tahun 1986 berdampak negatif masih membekas, di mana harga rotan di dalam negeri anjlok dan tidak stabil yang mengakibatkan kebun rotan rakyat menjadi terlantar. Penolakan masyarakat Kalimantan Tengah terlihat jelas pada berita koran.

 

Berkurangnya / hilangnya lapangan kerja masyarakat Kalimantan Tengah kurang lebih 100.000 Kepala Keluarga (KK) yang menggantungkan hidupnya pada hasil rotan sehingga kesempatan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui lapangan kerja/usaha yang ada semakin berkurang dan akan meningkatkan angka pengangguran.

 

Usaha Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah untuk meningkatkan industri pengolahan secara bertahap mendapat dukungan yang positif dari Pusat, yaitu:

 

a.      Tahun Anggaran 2003 : 

Kota Palangka Raya dan Kabupaten Barito Utara mendapat bantuan mesin penipis rotan masing-masing 1 (satu) unit dan 2 (dua) unit melalui  Proyek Peningkatan Industri Kecil dan Menengah Kalimantan Tengah.

b.      Tahun Anggaran 2004 :

Kabupaten Katingan akan mendapat 1 (satu) unit mesin pengolah rotan melalui Proyek Pemberdayaan Industri Kecil Menengah (Ditjen IKAH, Depperindag) sedangkan Pemerintah Kabupaten Katingan akan menyediakan tanah dan bangunannya yang berfungsi sebagai Unit Pelayanan Teknis Daerah.

 

Telah adanya kesepakatan bersama tentang kerjasama pengusahaan rotan, antara :

a).   Pemerintah Kabupaten Barito Selatan dengan Instansi Teknis Pemerintah Jawa Tengah, tertanggal 15 Desember 2003. Sampai saat ini realisasi penjualan rotan belum ada.

b).   Pemerintah Kabupaten Katingan dengan Pemerintah Kabupaten Cirebon tertanggal 14 April 2003 yang dilanjuti oleh KADIN Kabupaten Katingan dengan KADIN Kabupaten Cirebon. Sampai saat ini realisasi penjualan rotan relatif kecil karena terkendala harga dan cara pembayaran.

 

Hasil pembahasan usulan larangan ekspor rotan asalan pada tanggal 14 Januari 2004 di Jakarta yang diprakarsai oleh Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Pertambangan, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, bahwa Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah mengusulkan agar menangguhkan larangan ekspor rotan asalan yang telah dibudi daya karena produksinya tidak dapat terserap sepenuhnya oleh pelaku pasar di dalam negeri.

 

Dengan informasi tersebut di atas, maka Pemerintah Pusat c.q. Memperindag seyogyanya mendukung  sebagai berikut :

1.      Agar larangan ekspor rotan asalan hasil budidaya yaitu rotan irit dan rotan taman ditangguhkan, untuk rotan alam seperti rotan manau kami sependapat dilarang ekspornya.

2.      Agar pajak ekspor rotan asalan dapat diturunkan lagi pajaknya dari 15 % menjadi 5 % dan untuk rotan setengah jadi pajak ekspornya menjadi 0 %.

 

 

7.      Sektor pertambangan

 

a.      Potensi

Secara  Geologi,  bagian Utara merupakan jalur mineralisasi yang dikenal dengan “Borneo Gold Belt” yang menghasilkan mineral-mineral bernilai ekonomis seperi; Au, Ag, Cu, Zn, Pb, Fe, dan Intan serta mineral-mineral industri sperti Kaolin, Pasir Kwarsa, Bentonite, Granit. Bagian Tengah terdapat cekungan Barito,   Kutai dan Pembuang yang mengandung endapan minyak dan gas bumi serta batubara.

Kondisi morfologi pegunungan di bagian Utara juga membentuk tipe aliran sungai yang memiliki air terjun yang dapat dikembangkan untuk membangkitkan listrik tenaga air.

 

   Potensi Batubara Kalimantan Tengah:

 

1.            Sumberdaya Tereka

1.050.749.643

ton

2.            Sumberdaya Terunjuk

774.660.937

ton

3.            Sumberdaya Terukur

407.801.954

ton

4.            Cadangan Terbukti

40.000.000

ton

 

b.     Peluang Investasi

 

Peluang investasi khususnya untuk Penanam Modal Asing sangat terbuka untuk Bidang Pertambangan Umum, Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, Pembangkit Listrik Tenaga Air dan Uap. Sabagai gambaran, pada saat ini terdapat 66 perusahaan melakukan investasi di bidang pertambangan umum di Propinsi Kalimantan Tengah dengan rincian sebagai berikut;

§   20 perusahaan dalam rangka “Works Agreement for Coal Mining Enterprise”.

§   10 perusahaan dalam rangka “Contract of Works” dan

§   36 perusahaan dalam rangka “Mining Authorities”

Dari 10 perusahaan dalam rangka “Contract Of Works” dua diantaranya telah berhasil memproduksi emas rata-rata 6.200 Kg Emas dan 12 ton Perak per tahun. Sedangkan batubara akan mulai berproduksi pada tahun 2004 ini sebanyak 2 juta ton per tahun.

Wilayah konsesi ke 66 perusaan ini meliputi total areal seluas 1.5 juta Ha. Namun mengingat luas Kalimantan Tengah yang mencapai 153.536 Km², masih terdapat peluang areal bagi investasi baru pada daerah-daerah prospek. Disamping berinvestasi melalui perijinan baru, juga terbuka peluang melalui perijinan yang sudah ada dalam rangka kemitraan “Privat to Privat”.

Di bidang penyediaan tenaga listrik, terbuka peluang investasi sebesar  2 X 30 MW yang dapat dibangkitkan dengan menggunakan batubara yang ada.

Kondisi investasi sektor Pertambangan dan Energi di Kalimantan Tengah masih dipengaruhi oleh iklim investasi yang lesu di Indonesia meski kondisi investasi di Kalimantan Tengah sesungguhnya sangat kondusif dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Kondisi ini diperburuk lagi oleh melemahnya harga logam mulia di pasar internasional dalam kurun waktu yang lama, sehingga kebanyakan investor yang telah memiliki konsesi mengalami kesulitan untuk mendapatkan permodalan. Akibatnya banyak proyek-proyek yang melakukan penundaan kegiatan (suspensi). Sedangkan peluang investasi di bidang ketenaga listrikan belum banyak investor yang mengetahui karena paluang ini baru saja dibuka pada tahun 2002 melalui UU No.20 Tentang Ketenagalistrikan. Seiring dengan membaiknya harga logam mulia khususnya emas di pasar internasional pada  akhir-akhir ini dan tersebarnya informasi yang benar tentang potensi dan iklim investasi yang kondusif di Kalimantan Tengah, diharapkan masuknya investor baru dan diakhirinya masa suspensi dari proyek yang sudah berjalan.

 

c.      Faktor Pendukung Investasi

 

Infrastruktur Daerah

 

Meski investasi di bidang pertambangan tidak menuntut infrastruktur yang lengkap, tetapi di Kalimantan Tengah telah tersedia infrastruktur penunjang yang cukup memadai seperti sarana dan prasarana transportasi baik darat, udara dan laut/sungai. Ke 9 Sungai yang ada semuanya dapat dilayari oleh kapal berkapasitas 3000 – 7000 ton hingga jauh ke pedalaman. Juga tersedia 6 lapangan udara, 2 pelabuhan laut dan 6.700 Km jalan darat.

 

Suprastuktur

 

Untuk menunjang kegiatan investasi, Pemerintah Daerah disamping menerapkan secara konsisten peraturan investasi di sektor pertambangan dan energi dari Pemerintah Pusat, juga telah membuat Peraturan Daerah sebagai penjabaranya sehingga kepastian hukum dalam berinvestasi menjadi jelas dan tegas. Pemerintah Daerah juga menerapkan menegemen pelayanan public secara prima dan menghindari pungutan-pungutan yang berakibat biaya ekonomi tinggi. Mekanisme Investasi Asing melalui “Contract Of Works” dan “Works Agreement For Coal Mining Enterprise”, telah dikenal luas dan diakui kehandalannya oleh industri pertambangan International.

 

Potensi Sumber Daya Mineral

 

Disamping potensi sumberdaya logam mulia, batu mulia, logam dasar dan mineral industri, Kalimantan Tengah adalah satu-satunya daerah di Indonesia yang memiliki sumberdaya batubara metalurgi. Pada saat ini telah ditemukan potensi batubara metalurgi (Coking Coal) sebanyak 100.000.000 ton sumberdaya tereka dan 6.500.000 ton cadangan terbukti. Di pasar internasional, batubara ini memiliki harga antara $ 40 s/d $ 50 per ton.

 

Sistem Pembiayaan

 

Kemitraan

 

Untuk berinvestasi melalui proyek – proyek pertambangan yang sudah ada dalam rangka Private to Private, Pemerintah Daerah berperan sebagai mediator. Tersedia beberapa proyek yang siap dinegosiasikan dalam rangka kemitraan baik proyek pada tahap konstruksi, Eksplorasi dan Penyelidikan Umum. Sedangkan untuk proyek ketenagalistrikan, wajib menjalin kemitraan dengan PT. PLN (Persero) sebagai buyers.

 

Kompensasi Sumber Daya Mineral

 

Hal yang menarik dalam berinvestasi di bidang pertambangan di Indonesia termasuk di Kalimantan Tengah adalah bahwa Pemerintah mengijinkan Investasi Asing 100 % dan bahan galian yang didapat dan diproduksi oleh investor sepenuhnya menjadi hak investor setelah membayar royalty sebesar 1 – 2 % untuk bahan galian mineral dan 13,5 % untuk batubara dari total produksi. Dengan demikian prospek pengembalian investasi dan untuk mendapatkan keuntungan  sangat besar.

      

8.      Sektor Prasarana Wilayah (Jalan Darat)

 

Peran dan fungsi jalanlintas Kalimantan baik poros selatan, poros tengah maupun poros utara sangat penting dan strategis bagi pengembangan dan kemajuan wilayah kalimantan pada khususnya dan kawasan timur Indonesia ( KTI ) pada umumnya ditinjau dari berbagai segi seperti politik, ekonom,  sosial, budaya dan hankamnas. Dengan akan berfungsinya jalan lintaskalimantan akan tercipta satu kesatuan yang sangat luas dengan berbagai macam potensi sumberdaya alam yang luar biasa.  Dan apabila jalan lintas terbuka dan berfungsi dengan baik maka hal ini akan dapat menjadi stimulan bagi pengembangan wilayah di bidang lainnya seperti kehutanan perkebunan dan pertambangan, pariwisata, tranmigrasi, aktifitas perdagangan / jasa dan lain sebagainya.

 

Saat ini kondisi jalan Lintas Kalimantan sangat memperihatinkan sebagai contoh propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah belum dapat terbangun / berhubungan dengan jalan darat, meskipun badan jalan tanah telah dimulai pembangunannya beberapa tahun lalu, demikian  pula sama hal nya hubungan ndengan propinsi Kalimantan Timur dengan Kalimantan Tengah  ( lintas Tengah ) kondisinya juga masih jauh dari harapan, meskipun penanganan yang dilakukan setiap tahun, namun kesannya adalah seperti jalan ditempat  karena kemajuan yang di capai dengan alokasi dana yang minim dan tidak signifikan.

 

Oleh karena itu dari berbagai permasalahan yang ada sebagai akibat minimnya infrastruktur terutama prasarana jalan darat sepert keterisolasian, keterbelakangan, kerawanan pangan serta sulitnya pengembangan sumber daya alan khususnya di Kalimantan Tengah  oleh sebab minimnya alokasi anggaran bagi penyelesaian jalan lintas di Kalimantan khususnya ruas jalan lintas selatan dan lintas tengah  dengan panjang total 3.741,05 km yang terdiri dari jalan nasional sepanjang 1.707,57 km  dan  jalan propinsi sepanjang 1.050, 26 km serta ruas jalan yang belum terbangun  sepanjang 983,22 km, hal ini memberikan peluang kepada para investor dalam dan luar negeri untuk bekerjasama mendukung upaya percepatan pembangunan jalan dan jembatan di Klimantan Tengah. Beberapa ruas jalan yang dipandang berpotensi dan layak dibangun atau ditingkatkan Kalimantan Tengah  memerlukan / dibutuhkan dana sebesar Rp. 4.107.957.000.000,-

                 

9.      Sektor Pehubungan dan Telekomunikasi.

 

Kalimantan Tengah merupakan wilayah yang luas dengan penduduk tersebar dengan kepadatan rendah dalam jangkauan permukiman yang amat variatif, baik lokasi mau pun tipografinya. Untuk membangun Kalimantan Tengah menjadi daerah tujuan nasional masyarakat Indonesia dalam rangka mengatasi persoalan-persoalan ekonomi di wilayah lainnya di Indonesia, diperlukan pembangunan infrastruktur ekonomi yang dipercepat.

 

Potensi dan peluang investasi di sektor ini adalah :

 

Pembangunan/ peningkatan kualitas Bandara Cilik Riwut Palangka Raya.

Pembangunan Pelabuhan laut Pulang pisau

Pembangunan pelabuhan laut di Kumai.

 

Pengangkutan Batu Bara

 

1.      Gambaran Umum.

Transportasi sungai di Propinsi Kalimantan Tengah sampai saat ini masih memegang peranan yang sangat penting sebagai sarana angkutan barang dan penumpang, terutama di tempat dimana fasilitas jalan darat belum sampai ke pelosok pedalaman.

Untuk mendukung  rencana Pemerintah Daerah dalam menggiatkan  pengusahaan pertambangan batubara di Propinsi Kalimantan Tengah khususnya Kabupaten Murung Raya, dimana saat ini sudah mulai eksploitasi 1 (satu) perusahaan  pertambangan batubara maka  pengangkutan  batubara dilakukan melalui sungai, dalam hal ini sungai Barito mulai dari hulu (bagian utara) sampai ke muara sungai di Laut Jawa. Pengangkutan batubara khususnya melalui Sungai Barito tidak dapat dilakukan sepanjang tahun, terutama pada musim kemarau. Menurut hasil survey, Sungai Barito di bagian hulu dan tengah dapat dilayari dengan aman dan lancar ± 8 – 9 bulan saja per tahunnya, hal ini disebabkan ada beberapa titik rawan yang disebabkan adanya gosong pasir dan batu keras di dasar sungai.

 

2.      Kondisi alam.

Pengangkutan batubara dari Kabupaten Murung Raya sampai ke muara sungai direncanakan akan melewati 2 (dua) buah sungai besar dan 1 (satu) terusan yaitu Sungai Barito, Sungai Kapuas Murung dan Terusan Raya.

Kondisi ke 2 (dua) sungai dan terusan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

 

No.

Nama Sungai / Terusan

Panjang    ( Km)

Lebar

Kedalaman

Keterangan

Max (m)

Min (m)

Ditengah (m)

Muara (m)

1

2

3

4

5

6

7

8

1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.

Barito

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kapuas Murung

 

780

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

420

650

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

500

200

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

450

8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6

15

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1,5

 

 

Sepanjang tahun dapat dilayari dari muara sampai ke Pendang dan hanya dapat dilayari oleh klotok kecil-kecil dari udik sampai ke Buntok. Pada musim kemarau dari Pendang sampai ke Tumbang  Lahung hanya dapat dilayari menggunakan kapal kecil

 

Pada bagian muara sungai sangat dangkal dan lebarnya sangat sempit, sehingga tidak dapat dilayari.

3.

Terusan Raya

18

30

25

2,5

1,5

·   Dapat memperpendek jarak tempuh dan langsung ke Pulau Jawa

·   Tidak bergantung muara alur sungai Barito yang lalu lintas sungainya sangat padat.

 

3.      Alternatif Pengangkutan Batu bara.

Sehubungan hal tersebut, ada 2 (dua) alternatif alur yang dapat digunakan sebagai alur pengangkutan batu bara yaitu :

a.      Melalui Sungai Barito dan Sungai Kapuas Murung

b.      Melalui Sungai Barito, Sungai Kapuas Murung, dan melalui Terusan Raya keluar ke Bahaur (di muara Sungai Kahayan)

 

4.      Program yang Ditawarkan.

Berdasarkan kondisi alam dan data-data yang ada, maka program yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pengangkutan batu bara adalah :

a.      Normalisasi / pengerukan dan pemeliharaan Terusan Raya - Bahaur (RAB pada Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Propinsi Kalteng)

b.      Normalisasi / pengerukan dan pemeliharaan alur pelayaran Kapuas Murung (RAB pada Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Propinsi Kalteng).

 

Pengembangan Bandara Tjilik Riwut Berupa Perpanjangan Landasan 300 M X 30 M Dan Komponen Lainnya Serta Pendukung Berupa Fasilitas Navigasi Dan Listrik

 

                                           I.      Pekerjaan Fasilitas Landasan :

 

1.      Perpanjangan landasan 300 m x 30 m (9.000 m2), pembuatan overrun 1.800 m2, Turning area 1.500 m2 dan pengecatan rambu landasan 4.000 m2 :

a.       Untuk memenuhi keperluan permintaan pengguna jasa dalam pengoperasian pesawat Boeing 737 – 400 / 500 secara penuh;

b.       Study persiapan operasional pelayanan pesawat B. 737 – 400 / 500 keperluan landasan jarak menengah antara 2.200 m dan 2.400 m;

c.       Landasan yang ada ada 2.100 m (displaced 100 m), sementara yang effektif landasan hanya 2.000 m sehingga keperluan yang harus dipenuhi adalah 2.300 m yang berarti perpanjangan 300 m x 30 m;

d.       Overrun, Turning Area dan Pengecatan rambu landasan adalah sebagai pemenuhan bagian yang harus diganti akibat perpanjangan landasan dan untuk lebih menjamin pergerakan pesawat terbang di landasan.

 

2.      Pemantapan bahu landasan / shoulder 208.200 m2 :

1.                                                                                                                                          Kondisi shoulder yang ada saat ini masih belum sempurna, masih terdapat beberapa perbedaan tinggi permukaan. Akibatnya apabila hujan turun, air yang ada pada landasan tidak bisa mengalir dengan sempurna sebagaimana dipersyaratkan dalam perencanaan landasan dengan kemiringan shoulder min. 1,5 %;

2.                                                                                                                                          Hal ini dapat merusak konstruksi yaitu menurunkan kekuatan struktur tanah dan konstruksi landasannya, serta mengganggu keselamatan penerbangan dimana akibat genangan air dilandasan dapat menyebabkan efek aquaplan.

 

                                        II.      Pekerjaan Fasilitas Keselamatan Penerbangan :

 

1.      Pekerjaan Navigasi Udara :

a.       Relokasi peralatan Glide path – DME, ILS dan Midle marker, DVOR  adalah sebagai akibat perpanjangan landasan, dimana peralatan tersebut telah didesign untuk mengikuti dimensi landasan serta kelas pelayanan navigasi penerbangannya;

b.       Rekondisi ILS – Normac diperlukan sebagai salah satu peralatan penuntun pesawat terbang dalam cuaca buruk maupun gelap agar dapat dengan aman melakukan pendaratan di Bandara Tjilik Riwut, dimana kondisi ILS – Normac sekarang tidak berfungsi secara maksimal.

 

2.      Pekerjaan Listrik Bantuan Pendaratan :

·        Reposisi Airport Lighting System (ALS), pemindahan peralatan kelistrikan pada DVOR, Glide path, Midle marker, penyesuaian elevasi runway light dan VASIS adalah merupakan akibat dari perpanjangan landasan dan disamping itu sebagai peningkatan kemampuan serta kehandalan peralatan bantu pendaratan sesuai dengan persyaratan yang ada;

·        Rekondisi peralatan lebih ditujukan kepada perbaikan dan peningkatan kemampuan kinerja peralatannya;

Penggantian VASIS (Visual Approach Slope Indicator System) menjadi PAPI (Presission Approach Path Indicator) adalah telah menjadi ketentuan persyaratan penerbangan international yang telah dipersyaratakan oleh ICAO melalui petunjuknya dalam ANNEX 14. Materi lengkap (RAB pada Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Propinsi Kalteng).

 

Pekerjaan Fasilitas Landasan: Rp.14.430.865.000,00

 

1.       Konstruksi Perpanjangan landasan 300 m x 30 m ( 9.000 m2);

2.       Pembuatan overrun 60 m x 30 m (1.800 m2);

3.       Pembuatan turning area 1.500 m2;

4.       Pekerjaan pengecatan rambu landasan 4.000 m2;

5.       Pemantapan bahu landasan / shoulder 208.200 m2;

6.       Pembuatan Paved Shoulder Runway dan Taxyway 37.125 m2.

 

Pekerjaan Fasilitas Keselamatan Penerbangan  :

1.      Fasilitas Navigasi Udara : Rp.16.068.224.000,00

a.       Relokasi peralatanGlide Path – DME, ILS dan Midle Marker sepanjang 300 m serta rekondisi peralatan ILS NORMAC;

b.      Relokasi dan rekondisi peralatan DVOR.

 

2.      Fasilitas Listrik Bantuan Pendaratan : Rp.13.478.582.000,00

a.       Rekondisi dan reposisi Airport Lighting System (ALS);

b.      Pemindahan peralatan kelistrikan pada DVOR,GP dan MM;

c.       Penyesuaian Elevasi Runway Light dan VASIS;

d.      Penggantian VASIS menjadi PAPI.

 

              Jumlah            :           Rp.43.977.671.000,00

 

 

Pengembangan  Fasilitas Telekomunikasi Di Kalimantan Tengah

 

1.    Wilayah kerja Kandatel Palangka Raya, meliputi  Kota Palangka Raya, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Kotawaringin Barat; Kabupaten Seruyan, Kabupaten Kotawaringin Timur,  Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Gunung Mas.  Sedangkan Wilayah lainnya yaitu Kabupaten Kapuas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Barito Utara, Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Barito Timur dan Kabupaten Murung Raya masuk Wilayah kerja Kandatel Banjarmasin.

 

Kandatel Palangka Raya membawahi beberapa Kancatel yaitu:

 

a.  Kancatel Sampit   - Kotawaringin Timur

b.     Kancatel Pangkalan Bun  -  Kotawaringin Barat

c.     Kancatel Muara Teweh    -  Barito Utara

d.     Kancatel Kuala Pembuang - Kabupaten Seruyan

e.     Kancatel Kasongan  - Kabupaten Katingan

f.       Kancatel Kuala Kurun - Kabupaten Gunung Mas

g.     Kancate Kuala Kuayan - Kabupaten Kotawaringin Timur

 

2.    Jumlah STO sebanyak 12 buah dengan kapasitas terpasang 37.459 sst jumlah pelanggan sebanyak 33.053 sst, jumlah Wartel  1.250 sst serta Telepon Umum sebanyak 253 sst (data April 2003)

 

3.    Jumlah Stasiun Bumi, Repeater UPND dan Kandatel :

 

-      Stasiun Bumi       =    3 buah

-      Repeater             =    18 buah

 

4.    Pada tahun 2003  Kandatel PalangkaRaya melakukan penambahan kapasitas Terpasang STO sebanyak 4.112 sst sehingga menjadi 41.571 sst, sedangkan untuk jaringan akan dibangun di 4 (empat)  lokasi sebagai berikut :

 

a.   Palangka Raya     (Km.5 )         :           300     sst

b.   Sampit                                         :           780     sst

c.    Samuda                                      :           200     sst

d.   Pangkalan Bun                           :           1000 sst

 

 

Pengembangan Produk Yang Akan Dilaksanakan:

 

a.        Telkom Save yaitu akses SLI murah

b.        Perluasan jangkauan Kartu Dering yaitu kartu panggil untuk hubungan SLJJ, Lokal,SLI dan STBS di Sampit dan Pangkalan Bun

c.        Wartel Radio yaitu pengembangan wartel untuk lokasi  terpencil dengan teknologi Radio.

d.        Di masa yang akan datang PT. Telkom akan mengembangkan Telepon Flexi (Fixed Wireless).

 

DATA STO KANDATEL PALANGKA RAYA

 

No.

KOTA/KECAMATAN

JULAH STO DAN SST YANG DIMILIKI/TERPASANG ThN 2002

TARGET TAHUN 2003

PENDAPATAN KOTOR

STO

SST

STO

SST

1

2

3

4

5

6

7

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

 

PALANGKA RAYA

SAMPIT

PANGKALAN BUN

MUARA TEWEH

KUALA PEMBUANG

KASAONGAN

PURUKCAHU

KUALA KURUN

KUALA KUAYAN

KUMAI

SAMUDA

 

 

2

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

 

 

17.401

7.444

4.812

2.688

1.024

738

696

608

608

1.136

304

 

2

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

 

20.401

7.444

5.812

2.688

1.024

738

696

608

608

1.136

304

 

DATA KEUANGAN TIDAK DI EKSPOS KARENA PT.TELKOM SEBAGAI PERUSAHAAN GO PUBLIC HANYA DAPAT MENYAMPIKAN DATA KEUANGAN YANG SUDAH DI AUDIT

 

PT TELKOM-DIVISI NET WORK

DATA REPEATER DAN TERMINAL – UPND PALANGKA RAYA

Perangkat yang di kelola UPND Palangka Raya adalah Program Kantor Pusat, UPND Palangka Raya hanya operasional dan Optimalisasi perangkat excesting.

 

No

NAMA LOKASI

SINGK

STATUS

BUJUR

LINTANG

ALAMAT

1

2

3

4

5

6

7

 

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

 

TRANSMISI GMD

 

PULANG PISAU

PILANG

PLK RADIO

KM 46

KASONGAN

PARIT

SAMPIT

SEBABI

ASAM BARU

 HANAU

PANGKALAN BUN SUKAMARA

JAMBI

 

TRANSMISI SATELIT

 

SB. PALANGKA RAYA

 

 

 

PPS

PLG

Km.5

Km.46

KSN

PRT

SPT

SBI

ASB

HNU

PBU

SKM

JBI

 

 

 

 

SBB PLK

 

 

REPEATER

REPEATER

TERMINAL

REPEATER

TERMINAL

REPEATER

TERMINAL

REPEATER

REPEATER

REPEATER

TERMINAL

REPEATER

REPEATER

 

 

 

 

SB KOORD

 

 

114’15’27”T

114’11’30”T

113’53’07’T

113’39’33”T

1’54’49’00”T

112’57’51”T

113’57’14’T

112’33’5”T

112’16’30”T

112’01’41”T

111’36’44’T

111’09’56”T

110’59’58”T

 

 

 

 

113’53’07”T

 

 

2’45’03”S

2’28’52’’S

2’10’29”S

1’56’37”S

1’54’49”S

2’08’38”S

2’32’52’’S

2’24’56”S

2’22’15”S

2’27’10”S

2’42’08”S

2’43’36’’S

2’39’10”S

 

 

 

 

2’10’29”S

 

 

 

Jl. Tingang no.190

Jl. PLK-KKP Km. 53 Pilang

Jl. Cilik Riwut Km. 5

Jl. Tjilik Riwut Km. 46

Jl.Revolusi No. 19

Jl. Tjilik Riwut SPT-PLK Km.57

Jl. Letjen Suprapto No.1

Desa Seibabi Kec. Kota Besi SPT

Jl. A. Yani PBU-SPT

Jl. A. Yani PBU-SPT No. 1

Jl. Sudirman Sebamban P. Bun

Jl. Natai Sedawak Sukamara

KM.8 Dusun Jambi Kec. Manis Mata Kalbar.

 

 

Jl. Cempaka No. 2 Palangka Raya

 

Diharapkan PT. Telkom dapat memberikan andilnya dalam program Pembangunan Telekomunikasi di Kalimantan Tengah terutama pembangunan di Kabupaten Pemekaran yang sampai saat ini masih   belum terjangkau Satuan Sambungan telepon maupun telepon Selular.

 

Adapun Operator telepon Selular di Kalteng  :

 

1.        Telepon Selular TELKOMSEL ( s/d Maret 2004 100.000,- pelanggan)

2.        Telepon Seluar TELKOM FLEXY ( s/d Maret 2004 sebanyak 2.091 )

3.        Telepon Selular  SIMPATI ( s/d Maret 2004 sebanyak 50.000 pelanggan )

4.        Telepon Selular Kartu Halo ( s/d Maret 2004 sebanyak 4.500 pelanggan )

5.        Telepon Selular Satelindo ( s/d Maret 2004 10.500 pelanggan )

 

 

Implementasi Kerjasama Telekomunikasi.

 

Pembangunan infrastruktur Telekomunikasi mencakup ketersediaan Satuan Sambungan Telepon yang masih belum menjangkau seluruh Kabupaten / Kota seperti Kabupaten Lamandau, Sukamara, Seruyan, Gunung Mas, Barito Timur dan mayoritas perdesaan yang tersebar di Kalimantan Tengah.

PT. Telkom Tbk. akan melakukan lauching pelaksanaan pemasangan telpon di Kabupaten Seruyan dengan data sebagai berikut:

 

 

Ibukota Kabupaten

Kuala Pembuang (Kab. Seruyan)

Kapasitas

FLEXI : 1.500 ssf

Jumlah Kecamatan

1 (Seruyan Hilir)

Teknologi

Samsung (CDMA2000 1x)

Pengelola

TELKOM Kuala Pembuang

PKS

1 Mei 2004

Pola Kemitraan

Reimburse

 

     

10.  Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (KAPET) DAS KAKAB

(Kahayan – Kapuas – Barito).

 

Propinsi Kalimantan Tengah adalah salah satu Propinsi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang relatif tertinggal dalam dinamika pembangunan bila dibandingkan dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI). Produk Domestik Bruto (PDB) KTI dengan luas wilayah 78,3%, hanya sebesar 15%, sedangkan KBI dengan luas wilayah 21,7% pdb-nya sebesar 85%. Ketimpangan tersebut akan semakin bertambah besar bila tidak ada upaya khusus (special effort) maupun political will dari Pemerintah Pusat dan sikap pro aktif Pemerintah Daerah.

 

Guna mengurangi kesenjangan tersebut pada tahun 1996 dengan melalui Keputusan Presiden Nomor : 89 oleh Pemerintah telah dibentuk 13 (tiga belas) KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu) pada 13 Propinsi di seluruh Indonesia. Sebagian besar lokasi KAPET berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) termasuk Kalimantan Tengah. Adapun KAPET DAS KAKAB di Propinsi Kalimantan Tengah, dibentuk dengan Keputusan Presiden nomor : 170 tahun 1998.

 

KAPET adalah pengembangan kawasan andalan yang disertai dengan kemudahan dibidang perijinan dan fasilitas khusus dibidang perpajakan serta kepabeanan, yang merupakan salah satu model pendekatan pembangunan dengan titik berat pengembangan ekonomi di KTI yang diharapkan menjadi penggerak utama (prime mover) percepatan pembangunan ekonomi di KTI.

 

Wilayah KAPET DAS KAKAB meliputi 25 kecamatan yang berada pada 3 (tiga) kabupaten yaitu Kapuas, Pulang Pisau dan Barito Selatan serta 1 (satu) kota yaitu Palangka Raya, dengan luas seluruhnya 2.767.300 ha, atau 18% dari wilayah Propinsi Kalimantan Tengah, dan 53% diantaranya merupakan eks PLG seluas 1.457.300 ha.

    Secara umum potensi KAPET DAS KAKAB terdiri dari 4 sektor yaitu pertanian, kehutanan dan pertambangan serta pariwisata. Potensi tersebut sebagian besar masih dikelola secara tradisional oleh masyarakat, seperti kegiatan pertanian tanaman pangan, perikanan dan kelautan.

 

Sektor pertanian antara lain tanaman pangan, holtikultura, perikanan, peternakan, perkebunan (kelapa, karet, rotan)

 

Peluang usaha pada sektor pertanian antara lain rice-mills, pabrik pengalengan buah-buahan, minyak goreng, kecap, lem kayu, industri makanan (nata de coco, santan instan), pengolahan sabut kelapa (coconut fibre) sebagai bahan baku matras untuk keperluan spingbed dan jok mobil, pengolahan batok kelapa untuk bahan baku arang aktif (char coal) dan tepung arang batok kelapa. Sedangkan untuk komoditas karet dapat dikembangkan industri crumb rubber, dan industri hilir karet seperti ban, sarung tangan, tepung ikan, cold storage, dll.

 

Sektor kehutanan antara lain pemanfaatan limbah kayu pembalakan berasal dari Kawasan HPH dan IPK yang diperkirakan mencapai 720.000 – 800.000 m3, pemanfaatan hasil hutan ikutan berupa rotan, kulit gemor, dll. sebagai bahan baku industri serta pengelolaan hutan tanaman industri (hti), luas lahan diperkirakan 212.000 ha. Peluang usaha yang dapat dikembangkan adalah pembuatan moulding, dowel, blockboard, particle board, handycraft, industri meubeler, kerajinan rotan, industri pulp dan kertas.dll.

   Sektor pertambangan antara lain bahan galian golongan B dan C yang dapat dikembangkan yaitu gambut, emas, pasir kuarsa, kaolin dan lempung.

Sektor pariwisata yang dapat dikembangkan antara lain :

1.      Wanawisata (perlindungan orangutan di arboretum Palangka Raya),

2.  Wisata alam (Danau Sanggu, Danau Malawen, Pantai Cemara Labat, Arboretum, Bukit Tangkiling, rainforest ecotourism, dll.)

3.  Wisata budaya (Betang Buntoi, Sandung Temanggung Lawak, Mosaik Gereja Kapuas Barat, Museum Balanga, dll.)

4.  Agrowisata (pusat pembibitan dan produksi buah-buahan, dll.) di Basarang, Kalampangan dan Bukit Batu.

 

         Guna memberikan arahan yang jelas dalam pelaksanaan program kerjanya BP KAPET DAS KAKAB telah menetapkan visinya “Terwujudnya KAPET DAS KAKAB sebagai pusat investasi, industri, perdagangan dan jasa di Propinsi Kalimantan Tengah Bagian Timur” serta misinya antara lain :

              

1.      Mewujudkan fungsi Pelabuhan Pulang Pisau sebagai pusat layanan transportasi laut dan sungai untuk Propinsi Kalimantan Tengah Bagian Timur.

2.      Mewujudkan Kawasan Industri di Sei Pasah Kecamatan Kapuas Hilir  yang berbasis pada komoditas pertanian dalam arti luas

3.      Mewujudkan KAPET DAS KAKAB sebagai pusat / sentra agribisnis dan agroindustri di Propinsi Kalimantan Tengah Bagian Timur

4.      Mensinergikan (simbiose mutualistik) kegiatan promosi dan investasi antara KAPET DAS KAKAB dengan seluruh Pemerintah Kabupaten / Kota serta instansi terkait lainnya di Propinsi Kalimantan Tengah

5.      Mewujudkan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia

6.      Mewujudkan kemandirian KAPET DAS KAKAB melalui pembentukan corporate unit

7.      Mewujudkan KAPET DAS KAKAB sebagai pusat investasi, industri, perdagangan dan jasa di Propinsi Kalimantan Tengah Bagian Timur

8.      Mewujudkan pembangunan pelabuhan samudera pada garis pantai KAPET DAS KAKAB dan mengembangkannya menjadi hub-port bagi Propinsi Kalimantan Tengah

   Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah Bagian Timur relatif tertinggal dari wilayah Propinsi Kalimantan Tengah Bagian Barat, hal tersebut tercermin antara lain dari nilai investasi dan jumlah investor. Di Kalimantan Tengah total realisasi investasi :

- PMDN sebesar Rp. 5.186.991 juta dengan jumlah investor 154

- PMA sebesar US$ 272.18 juta dengan jumlah investor 37.

 

Adapun diwilayah Barat Kalimantan Tengah :

 

·  PMDN sebesar Rp. 3.233.491,91 juta (62,34%) dengan jumlah investor 81 (52,59%)

·  PMA sebesar US$ 219.85 juta (80,77%) dengan jumlah investor 19 (51,35%).

 

Sedangkan diwilayah Timur Kalimantan Tengah :

 

·  PMDN sebesar Rp. 1.953.499,09 juta (37,66%) dengan jumlah investor 73 (47,41%)

·  PMA sebesar US$ 52.33 juta (19,23,77%) dengan jumlah investor 18 (48,65%).

 

Begitu pula pembangunan infrastruktur khususnya pelabuhan, di Wilayah Barat terdapat 2 pelabuhan besar / samudera yaitu Pelabuhan Sampit dan Pelabuhan Kumai sebagai pintu gerbang perekonomian, sedangkan di Wilayah Timur belum memiliki pelabuhan yang memadai dan masih tergantung pada pelabuhan Tri Sakti di Banjarmasin. Sehubungan dengan hal tersebut pembangunan pelabuhan Pulang Pisau sebagai sasaran antara dan Pelabuhan Bahaur sebagai sasaran akhir sangat mendesak sebagai outlet komoditas unggulan untuk wilayah Bagian Timur.

   Guna mewujudkan fungsi sebagai penggerak utama (prime mover) dilakukan pendekatan pengembangan cluster. Cluster adalah tata keruangan proses produksi dalam suatu sentra produksi pengolahan komoditas, atau merupakan wujud fisik yang ingin dicapai berdasarkan potensinya. Untuk memudahkan pengembangan wilayah maka seluruh wilayah prioritas dijadikan sebagai cluster-cluster (pusat pertumbuhan), dimana didalam setiap cluster direncanakan kawasan industri sebagai penggerak utama kegiatan ekonomi setempat. Cluster dimaksud adalah cluster : Kuala Kapuas, Pulang Pisau, Palangka Raya dan Buntok.  

               Salah satu program yang sedang dilaksanakan adalah pembangunan Kawasan Industri di Sei Pasah. Adapun tujuan pembangunan kawasan industri adalah :

1.      Mempercepat pertumbuhan industri

2.      Memberi kemudahan kegiatan industri

3.      Mendorong kegiatan industri dilokasi kawasan industri

4.      Meningkatkan pembangunan industri berwawasan lingkungan

 

   Peluang-peluang usaha baru dapat diciptakan melalui pembangunan kawasan-kawasan industri dan hal tersebut telah dimulai oleh BP KAPET DAS KAKAB dengan merencanakan “Kapuas Industrial Estate Sei Pasah” (KIESP) di Kelurahan Sei Pasah - Kecamatan Kapuas Hilir – Kabupaten Kapuas, sebagai salah satu langkah awal (starting point). Selanjutnya kawasan-kawasan industri tersebut akan direncanakan pada setiap cluster yaitu Pulang Pisau, Palangka Raya dan Buntok.

   Dengan dibangunnya kawasan industri tersebut, diharapkan dapat memacu percepatan pertumbuhan ekonomi pada setiap cluster dan penyediaan lapangan kerja serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam setempat.

Disadari bahwa untuk meningkatkan daya tarik investasi perlu difasilitasi dengan penyediaan infrastruktur dan utilitas yang cukup memadai, antara lain pelabuhan, lapangan terbang, jalan raya, jalan kerta api, normalisasi alur sungai, listrik, telepon dan air bersih. Mengingat pembangunan infrastruktur dan utilitas memerlukan biaya yang sangat besar, maka investasi Pemerintah Pusat dan Investor Swasta sangat diperlukan.

                 Hinterland wilayah KAPET DAS KAKAB memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang cukup besar antara lain : hasil hutan (kayu, rotan, dll), hasil tambang (batu bara, emas, dll) serta hasil perkebunan (cpo, lada, karet, dll.) Yang terdapat di Kabupaten Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan dan Barito Timur. Komoditas tersebut diatas umumnya diantarpulaukan dalam bentuk bahan mentah melalui pelabuhan Tri Sakti di Banjarmasin (Kalimantan Selatan) sehingga nilai tambahnya belum secara optimal dirasakan masyarakat Kalimantan Tengah. Hal tersebut disebabkan karena daerah penghasil SDA tersebut terletak di pedalaman (tidak memiliki garis pantai) yang bisa dijadikan pelabuhan samudera.

               Keadaan tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang bagi kabupaten di wilayah KAPET DAS KAKAB, khususnya Pulang Pisau dan Kapuas yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa untuk dijadikan sebagai Kota Jasa dan pintu gerbang dan out let komoditas SDA sebagai sasaran antara dan kota industri pengolahan SDA dan pintu gerbang perekonomian Kalimantan Tengah Bagian Timur sebagai sasaran akhir.

               Guna menangkap peluang dimaksud diperlukan dukungan infrastruktur yang memadai antara lain :

1.      Tersedianya pelabuhan samudera di Kabupaten Pulang Pisau (Pelabuhan Pulang Pisau-sebagai sasaran antara dan Pelabuhan Bahaur-sebagai sasaran akhir) yang dilengkapi fasilitas angkutan peti kemas.

2.      Terbangunnya jalan poros Palangka Raya – Buntok dan Pulang Pisau - Mandomai - Mantangai - Timpah - Buntok, yang akan mengalirkan arus barang dari Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan dan Barito Timur menuju Pelabuhan Pulang Pisau / Bahaur.

3.      Tersedianya jalan dengan daya dukung yang cukup besar (10-12 ton) poros Kuala Kapuas - Pulang Pisau - Bahaur sebagai prasarana angkutan kontainer dari Kawasan Industri Sei Pasah (KIESP) ke Pelabuhan Pulang Pisau / Bahaur.

4.      Normalisasi alur Sungai Barito, Kapuas Murung dan Terusan Raya sebagai prasarana transportasi tradisional yang cukup murah yang akan mengalirkan barang dari Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan dan Barito Timur menuju Pelabuhan Bahaur.

5.      Tersedianya kawasan berikat untuk industri berat di sekitar Pelabuhan Bahaur sebagai sasaran akhir.

 

   Beberapa kendala yang masih menghambat masuknya investasi ke Kalimantan Tengah antara lain :

1.      Masih terbatasnya infrastruktur dan utilitas sebagai daya tarik investasi seperti pelabuhan samudera, jalan darat, telepon dan listrik (baik kuantitas maupun kualitasnya).

2.      Belum tuntasnya penyelesaian ganti rugi tanam tumbuh pada lahan eks PLG satu juta hektar, sehingga mengurangi dukungan masyarakat lokal terhadap masuknya investor.

3.      Masih rendahnya jaminan keamanan dan kepastian hukum, kondisi sosial ekonomi dan budaya, bunga pinjaman bank yang masih tinggi, serta masih sering berubahnya dan tumpang-tindihnya peraturan.

4.      Mahalnya biaya transportasi komoditas unggulan akibat masih terbatasnya infrastruktur. Hal tersebut mengurangi daya saing kompetitif produk unggulan.

5.      Kurangnya insentif fiskal dan non fiskal dibandingkan dengan negara lain di Kawasan Asia.

6.      Belum pulihnya kondisi ekonomi nasional, ditandai dengan kecilnya nilai investasi baru secara nasional. Bahkan investor yang ada sebagian mengalihkan usahanya ke luar negeri akibat iklim investasi yang kurang kondusif dan kurang kompetitif di Kawasan ASEAN.

 

11. Peran Perbankan Menurut Bank Indonesia Cabang Palangka Raya.

 

Perkembangan Perekonomian (PDRB)

Perekonomian Kalimantan Tengah selama tahun 2003 menunjukkan pertumbuhan yang positif (y-o-y). Produk Domestik Regional Bruto (atas dasar harga konstan tahun 1993) untuk tahun 2003 (Januari s/d Desember 2003) tercatat sebesar Rp.4.668,62 milyar, meningkat 5,13% jika dibandingkan dengan tahun 2002 yang tercatat sebesar Rp.4.440,64 milyar (y-o-y). Apabila ditinjau sektor-sektor pembentuk PDRB, maka Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan masih mendominasi pembentukan PDRB Propinsi Kalteng dengan kontribusi 42% dari total PDRB dengan nilai  Rp.1.959,89 milyar. Sektor ini mengalami pertumbuhan sebesar 10,41% jika dibandingkan dengan jumlah PDRB yang dicapai pada periode yang sama tahun sebelumnya  yang mencapai Rp. 1.775,17 milyar.

Sub sektor-sub sektor yang menjadi bagian dari sektor Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan mengalami kenaikan kecuali sub sektor kehutanan yang mengalami penurunan sebesar -11,43% dari Rp.597,82 milyar menjadi Rp. 529,49 milyar sampai dengan akhir tahun 2003. Turunnya sub sektor ini lebih disebabkan karena berkurangnya kegiatan penebangan hutan sebagai konsekuensi adanya ketentuan kuota penebangan kayu oleh pemerintah. Sub sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah sub sektor perkebunan yang mengalami pertumbuhan sebesar 31,35% dari Rp.634,81 milyar selama tahun 2002 menjadi Rp.833,80 milyar pada tahun 2003. Sub sektor Tanaman Perkebunan tercatat mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 31,35% dari Rp.634,81 milyar pada tahun 2002 menjadi Rp.833,81 milyar pada tahun 2003, disusul oleh Sub sektor Peternakan dan hasil-hasilnya (19,51%), Sub sektor Tanaman Bahan Makanan (10,76%) dan Sub sektor Perikanan (4,28%).

Secara umum, jika dibandingkan dengan tahun 2002, pada tahun 2003 sektor-sektor pembentuk PDRB mengalami pertumbuhan positif, meskipun demikian tercatat terdapat 2 sektor yang mengalami pertumbuhan negatif adalah Sektor Pertambangan dan Penggalian dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yaitu masing-masing turun sebesar -55,09% dan -3,45%.

 

Perkembangan Perbankan Kalimantan Tengah

Secara umum perkembangan kinerja perbankan di Kalimantan Tengah menunjukkan kondisi yang membaik. Hal ini tercermin dari pertumbuhan jumlah kantor bank, peningkatan asset, penghimpunan dana pihak ketiga dan pemberian kredit  yang diiringi dengan perbaikan kualitas kredit yang tergambar dari menurunnya persentase Non-Performing Loans (NPLs).

Text Box: Tabel Perkembangan Perbankan
                                (Dalam Rp juta) 
Kriteria	Tw IV 2002	Tw III 2003	Tw IV 2003
Jumlah Bank
1.  Bank Umum
        - Jumlah Bank
        - Jumlah Kantor*)
2.  Bank Perkreditan Rakyat
       - Jumlah Bank
        - Jumlah Kantor

Dana Pihak Ketiga
1.	Giro
2.	Tabungan
3.	Deposito
Kredit
LDR
Aset
NPLs	
7
85

1
1


2.543.829
888.813
1.091.324
563.692
1.080.309
41,03%
3.245.802
14,07%	
7
92

1
1


2.765.378
936.888
1.274.593
553.897
1.248.184
45,18%
3.438.115
2,92%
	
7
92

1
1


3.033.362
992.988
1.509.585
530.798
1.330.988
43,87%
3.788.930
1,91%
* Termasuk jumlah kantor BRI unit
    Sumber : Bank Indonesia Palangka Raya

a.      Jumlah Bank dan Kantor Bank

Jumlah bank di Kalimantan Tengah sampai dengan akhir tahun 2003 masih tetap sama dengan tahun sebelumnya yaitu terdapat sebanyak 8 bank yang terdiri dari 7 bank umum dan 1 Bank Perkreditan Rakyat.  Adapun jumlah jaringan kantor bank umum di Kalimantan Tengah meningkat sebanyak 7 unit yaitu dari 85 kantor pada akhir tahun 2002 menjadi 92 kantor (termasuk kantor BRI unit) pada tahun 2003, sedangkan untuk BPR hanya terdapat 1 kantor. 

b.     Asset.

Aset bank umum di Kalimantan Tengah pada akhir tahun 2003 tercatat sebesar Rp.3.789 milyar atau mengalami peningkatan sebesar 16,73% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (posisi Desember 2002).  Peningkatan tersebut dapat dilihat pada dua sisi, pertama dari sisi pasiva yang disebabkan adanya peningkatan penghimpunan dana masyarakat, yang kedua dari sisi aktiva antara lain disebabkan oleh meningkatnya kredit yang disalurkan.  Berdasarkan lokasi bank, aset bank umum terbesar berada di wilayah kota Palangka Raya dengan proporsi sebesar 43,96%, disusul asset bank di kabupaten Kotawaringin Timur (Sampit) sebesar 39,16%, kemudian berturut-turut kabupaten Kotawaringin Barat (21,12%), Kuala Kapuas (9,90%) dan kabupaten lainnya (10,43%).

c.       Penghimpunan Dana

Dana yang berhasil dikumpulkan oleh perbankan dari masyarakat di Kalimantan Tengah sebesar Rp.3.033 milyar atau mengalami peningkatan sebesar 19,81% dibandingkan tahun 2002. Dana pihak ketiga tersebut terdiri dari simpanan Giro sebesar Rp.992,99 milyar, simpanan deposito Rp.530,79 milyar dan tabungan Rp.1.509,58 milyar.  Dari komposisi dana pihak ketiga tersebut terlihat bahwa tabungan masih mendominasi simpanan pihak ketiga dengan porsi sebesar 49,74%, disusul giro 32,74%, dan deposito 17,50%.  Dengan kondisi seperti ini, dimana simpanan jangka pendek mendominasi dana perbankan maka akan sangat riskan bagi perbankan untuk melakukan ekspansi kredit, khususya untuk kredit dengan jangka waktu yang lama seperti untuk kredit investasi.  Hal ini akan terlihat pada pembahasan masalah kredit dimana kredit konsumsi yang berjangka waktu relatif pendek masih mendominasi kredit perbankan.

d.      Penyaluran Kredit

Penyaluran kredit oleh bank-bank di Kalimantan Tengah pada akhir tahun 2003 mencapai Rp.1.330,98 milyar atau mengalami peningkatan sebesar 28,10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Termasuk didalam kredit yang disalurkan tersebut adalah kredit program (KL-KKPA) untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit yang pada akhir tahun 2003 telah terealisasi sebesar Rp.227,446 milyar. Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) pada akhir tahun 2003 mencapai 43,87%, lebih tinggi jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2002 yang tercatat sebesar 41,03%. Kenaikan LDR secara year on year tersebut menunjukkan perkembangan perekonomian  Kalimantan Tengah yang positif.

Dilihat dari jenis penggunaannya, komposisi penyaluran kredit di Kalimantan Tengah paling besar digunakan untuk konsumsi yaitu sebesar Rp.514,50 milyar, diikuti investasi sebesar Rp.461,77 milyar dan modal kerja sebesar Rp.354,72 milyar.  Kondisi ini berkaitan dengan sumber dana masyarakat yang sebagian besar berasal dari simpanan jangka pendek (giro dan tabungan), sehingga perbankan lebih menyukai menyalurkan kreditnya untuk jangka waktu yang pendek pula seperti kredit konsumsi.  Hal ini kurang menguntungkan bagi perekonomian dalam jangka panjang karena investasi yang diperlukan untuk melakukan kegiatan produktif relatif kecil.

Sementara itu apabila ditinjau secara sektoral, beberapa sektor mengalami penurunan (y-o-y) dalam penyerapan kredit seperti sektor Pertambangan dan sektor pertanian.  Meskipun mengalami penurunan, pada akhir tahun 2003 sektor pertanian masih mendominasi penerimaan kredit perbankan dengan porsi sebesar 19,15% dari total kredit yang disalurkan perbankan di Kalimantan Tengah.  Hal ini disebabkan karena di dalam sektor pertanian terdapat sub sektor Perkebunan yang merupakan sektor utama penggerak perekonomian Kalimantan Tengah setelah turunnya sub sektor Kehutanan. Sektor yang cukup besar menyerap kredit adalah sektor perdagangan (16,34%) dan sektor industri (16,37%).

 

Tabel Perkembangan Kredit Sektoral

 (dalam Rp juta)

 

Des 2002

Des 2003

-Pertanian

259.677

254.879

-Pertambangan

80

49

-Perindustrian

159.570

222.760

-Listrik,Gas & Air bersih

0

0

-Konstruksi

18.871

29.366

-Perdagangan

161.791

217.863

-Angkutan

8.879

11.036

-Jasa-jasa

13.167

79.021

-Lainnya

417.156

516.014

Total

1.039.191

1.330.988

Sumber : Laporan Bank Umum

 

e.      Perkembangan Kredit UMKM, dan KUK

Perkembangan kredit kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Perbankan di Propinsi Kalimantan Tengah tercatat mengalami pertumbuhan yang positif dan cukup menggembirakan. Kredit kepada UMKM pada bulan Desember 2003 tercatat sebesar Rp.1.249 milyar naik sebesar 22,19% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2002 yang tercatat sebesar Rp.1.022milyar. Sementara itu kredit untuk Usaha Kecil (KUK) juga mengalami pertumbuhan positif yaitu tercatat sebesar 10,61% dari Rp.243 milyar pada bulan Desember 2002 menjadi Rp.269 milyar pada akhir tahun 2003. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan Kredit tahun 2002-2003 yang tercatat sebesar 28,10%, pertumbuhan KUK memang masih cukup kecil, hal tersebut disebabkan karena sebagian besar kredit di bawah Rp.500juta masih digunakan untuk konsumsi, bukan untuk investasi maupun modal kerja.

 

Perkembangan Kredit yang Disalurkan Perbankan Nasional kepada Sektor-sektor Ekonomi di Propinsi Kalimantan Tengah (berdasar Lokasi Proyek)

Kredit berdasarkan lokasi proyek adalah kredit yang disalurkan untuk sektor-sektor ekonomi di Propinsi Kalimantan Tengah baik dari Perbankan di Kalimantan Tengah maupun bank-bank di daerah lain termasuk juga dari kantor pusat Bank. Perkembangan kredit  berdasarkan lokasi proyek ini menggambarkan  bahwa sebagian dana untuk pengembangan usaha di Propinsi Kalimantan Tengah diperoleh dari Perbankan di luar Kalimantan Tengah. Hal ini dapat terjadi karena adanya kemungkinan bahwa kantor pusat unit usaha yang memperoleh kredit berdomisili di daerah lain ataupun pengajuan kredit yang langsung diajukan kepada kantor pusat bank di Jakarta.

 

Tabel Perkembangan Kredit Sektoral

berdasarkan Lokasi Proyek

 (dalam Rp juta)

 

Des 2001

Des 2002

Des 2003

-Pertanian

577.461

859.413

845.107

-Pertambangan

105

105

49

-Perindustrian

142.058

264.931

242.471

-Listrik,Gas & Air bersih

0

0

0

-Konstruksi

29.120

18.871

30.047

-Perdagangan

105.946

164.040

220.318

-Angkutan

2.395

9.326

18.151

-Jasa-jasa

6.999

14.583

85.729

-Lainnya

353.561

444.256

612.922

Total

1.217.645

1.775.525

2.054.794

 

Perkembangan kredit berdasarkan lokasi proyek di Propinsi Kalimantan Tengah  dalam tiga tahun terakhir tercatat rata-rata sebesar 30,77%. Kredit terbesar diberikan kepada sektor Pertanian, yang didalamnya termasuk juga sub sektor Perkebunan, yang pada akhir tahun 2003 menyerap 41,12% dari total kredit yang diberikan perbankan. Sementara itu sektor Jasa-jasa juga mengalami perkembangan kredit yang meningkat cukup signifikan pada tahun 2003 yaitu dari Rp.14,583 milyar pada akhir tahun 2002 menjadi Rp.85,729 milyar pada akhir tahun 2003. Secara umum, perkembangan kredit yang cukup menggembirakan ini diharapkan akan berdampak positif pada perkembangan ekonomi daerah pada masa yang akan datang.

 

12. Prosedur Penggunaan Hak Atas Tanah di Kalimantan Tengah.

 

Tugas Badan Pertanahan Nasional Dalam Mendukung Investasi.

 

1.      Penyediaan informasi pertanahan dalam rangka penyiapan ijin lokasi, kegiatan ini berupa penyediaan data penggunaan tanah, kemampuan tanah dan tata ruang.

2.      Pengendalian ijin lokasi, dilakukan agar ijin lokasi tidak tumpang tindih dengan kepentingan lain, agar selaras dengan tata ruang dan  pengendalian pemanfaatan tanah oleh investor.

3.      Pemberian hak atas tanah dan sertifikasi

 

Proses Penyediaan Tanah Untuk Investasi.

a.      Ijin Prinsip Dari Bupati

b.      Ijin Usaha Perkebunan Dari Bupati / Gubernur Untuk Lokasi Kabupaten

c.      Ijin Lokasi:

1).   Jangka Waktu Ijin Lokasi

-         Sampai dengan 25 ha 1 (satu) tahun

-         25  s/d 50 ha 2 (dua) tahun

-         lebih dari 50 ha 3 (tiga) tahun. 

2).   Kewenangan Penerbitan Ijin Lokasi

-         Dari bupati/walikota

-         dari gubernur untuk lokasi lintas kabupaten/kota

d.      Proses HGU

1).   Pengukuran kadasteral.

2).   Inventarisasi.

3).   Sidang panitia B.

4).   Penerbitan SK. Hak oleh Kanwil BPN dan  kepala BPN sesuai kewenangan.

5).   Penerbitan sertifikat oleh Kantor Pertanahan setempat.

6).   Jangka waktu:

·        HGU 35 tahun, dapat diperpanjang 25 tahun, dan dapat diperbaharui 35 tahun.

·        HGB 30 tahun dapat diperpanjang 20 tahun dan dapat diperbarui 30 tahun.

e.      Kewajiban Pemohon

·        Membayar biaya pengukuran kadasteral, pemeriksaan tanah dan uang pemasukan kepada negara  sesuai  PP  46 tahun 2002

·        Membayar BPHTB sebelum SK Hak Atas  tanah terbit.

·        Membayar PBB.

Khusus untuk kegiatan investasi di luar Sektor Pertanian diberikan Hak Guna Bangunan, penerbitan SK Hak  sesuai kewenangan.

 

Rencana Penatagunaan Tanah

 

Rencana penatagunaan tanah Kalimantan Tengah tercermin dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah

 

n      Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah sesuai Perda No. 8 Tahun 2003adalah sebagai berikut:

 

No.

Jenis Peruntukan

Luas (Ha)

 

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

Kawasan Lindung

 

 Hutan Lindung

 Cagar Alam

 Taman Wisata

 Taman Nasional

 Suaka Margasatwa

 Perlindungan Pelestarian Hutan

 Kawasan Mangrove

 Konservasi Air Hitam

 Konservasi Flora dan Fauna

 Konservasi Hidrologi

 Konservasi Gambut Tebal

                                               

 

 

781.010

239.860

18.953

484.394

71.111

1.631

30.407

36.769

159.992

181.858

250.623

 

 

 

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Kawasan Budidaya

 

Hutan Produksi

Hutan Pendidikan dan Penelitian

Hutan Produksi Terbatas

Kawasan Pengembangan Produksi

Kawasan Pemukiman dan Pengembangan Lain

Kawasan Handil Rakyat

Hutan Tanaman Industri

Transmigrasi

Perairan

 

 

4.263.993

4.989

3.802.245

2.713.426

1.940.331

58.114

25.499

136.340

154.850

 

Total

15.356.395

 

 

Penggunaan Tanah

 

            Penggunaan tanah riil saat ini dapat dilihat dari interpretasi liputan citra Landsat tahun 2003.

 

No.

PENGGUNAAN TANAH

(LIPUTAN LAHAN) 2003

LUAS (Ha)

1.

Hutan Lahan Kering Primer

4.692.613,52

2.

Hutan Lahan Kering Sekunder

1.744.152,15

3.

Hutan Rawa Primer

864.758,65

4.

Hutan Rawa Sekunder

1.425.743,21

5.

Hutan Mangrove Primer

34.089,80

6.

Hutan Mangrove Sekunder

24.563,97

7.

Hutan Tanaman

197.569,49

8.

Belukar Rawa

1.186.936,27

9.

Semak Belukar

3.997.660,56

10.

Perkebunan

445.669,43

11.

Pertambangan

1.339,17

12.

Pertanian Lahan Kering

170.779,81

13.

Pemukiman

14.616,39

14.

Rawa

24.671,26

15.

Sawah

74.765,16

16.

Tanah Terbuka

465.680,42

17.

Tubuh Air

141.965,11

Total

15.489.574,37

 

 

Analisa Ketersediaan Lahan

 

n      Dari data ijin lokasi yang telah diterbitkan untuk 203 investor seluas 2.551.159,83 Ha, apabila dilihat dari alokasi wilayah Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) dalam RTRWP seluas 2.713.426 Ha, masih ada sisa lahan yang belum dimohon oleh investor seluas 162.266, 17 Ha

n      Alokasi lahan hutan yang ditetapkan dalam RTRWP Kalteng seluas 10.327. 835 Ha atau 67,73 % ternyata apabila dilihat dari penggunaan tanah saat ini, bahwa luas hutan (hutan basah, hutan kering, semak belukar dan hutan mangrove) seluas 14.125.500 Ha atau 90 %. Berarti kondisi riil hutan yang ada di Kalimantan Tengah Masih Lebih luas dari alokasi yang ditetapkan dalam RTRWP.

Tanah Adat / Ulayat

    Ada perbedaan persepsi tentang pengertian hak ulayat antara Permenag no. 5 th 1999 dengan pengertian yang berlaku di masyarakat Kalteng.

 

Syarat dalam Permenag No. 5 1999

n      Ada masyarakat adat

n      Ada hukum adat / pemimpin adat

n      Jelas batas wilayah

 

Pengertian di masyarakat Kalteng

n      Tanah negara yang sudah dibuka

n      Dikuasai oleh individu

n      Bekas ladang atau kebun

n      Tidak memiliki bukti hak

 

13. Piranti Lunak Rencana Tata Ruang Wilayah.

 

Rencana Tata Ruang Wilayah berisi Rencana Induk  Jaringan Infrastruktur dan Alokasi Lahan Bagi berbagai kegiatan investasi di Daerah.

 

Rencana Tata Ruang Wilayah ini terbagi berdasarkan wilayah Adminsitrasi. Tata Ruang Wilayah Propinsi dengan skala tinjau 1:250.000, adalah guideline yang sinkron dengan Tata Ruang Kabupaten / Kota dengan skala 1:100.000 dan menurun kepada Tata Ruang Kecamatan dengan skala 1:25.000.

 

Rencana Tata Ruang Propinsi telah selesai dan diundangkan dalam bentuk Peraturan Daerah Kalimantan Tengah Nomor 8 Tahun 2003.

 

Meskipun sebagian besar Kabupaten / Kota masih harus merevisi dan menyusun Tata Ruang baru (akibat Pemekaran Kabupaten Tahun 2001), instrumen Rencana Tata Ruang Propinsi dapat menjadi panduan rencana investasi yang memanfaatkan lahan di wilayah Propinsi Kalimantan Tengah.

 

 

 

*********