BUDAYA TRADISIONAL KALTENG

 

Kalteng dihuni kurang dari 2 juta jiwa, dengan kepadatan penduduk sekitar 11 jiwa / km2. Suku pertama yang mendiami wilayah ini adalah Suku Dayak yang kini telah biasa berbaur dengan penduduk Indonesia lainnya. Seluruh anak suku di Indonesia dapat ditemui di Kalteng.

 

Akar budaya “rumah betang” yaitu rumah panjang dihuni oleh beberapa kepala keluarga yang kadang-kadang mempunyai keyakinan berbeda, telah memudahkan masyarakat Dayak berbaur dengan anak Suku Bangsa lainya. Dalam rumah betang dapat berisi 100 s/d 200 orang. Satu keluarga mendapat satu kamar. Perlengkapan pertanian dan rumah tangga dipelihara dalam satu tempat di rumah tersebut. Terdapat interaksi sosial yang maksimal antara keluarga dalam rumah ini.

Tarian tradisional mereka juga melambangkan keber-samaan yang nyata, misalnya tari “manasai” (tari gembira), “manggetem” (menuai), tari “gelang bawo” (berburu bersama) dan lain-lainnya.

 

Tari Manggetem

Budaya ladang mereka yang asli adalah memelihara lingkungan dengan teliti, membuka hutan dengan hati-hati dan merotasi penanaman lahan dalam siklus 5-7 tahunan. Perladangan ini amat berat, karena menghadapi seluruh ancaman binatang, hama, penyakit dan cuaca. Penyebab inilah yang membuat pembukaan lahan dengan membuat sekat bakar dan membakar lahan untuk mengusir dan memusnahkan hama penyakit tanaman sulit digantikan dengan pola pertanian modern dengan pestisida (racun) yang mahal dan sulit di dapat. Tenaga kerja yang terbatas menyebabkan masyarakat Dayak membangun perladangan dengan skala ekonomis pemeliharaan minimal. Menanam tanaman keras dan rotan di sela-sela tanaman pokok padi, yang menghasilkan kebun karet, rotan, buah-buahan yang luas tersebar di wilayah ini seolah-olah menjadi hutan alam karet, rotan dan buah-buahan.