Text Box: Klik di sini: Presentase Kepala Bappeda Propinsi Kalteng tentang Kondisi Kesehatan Perdesaan

KESEHATAN

a. Kondisi Awal 2003

a. Derajat Kesehatan

a) Angka Kematian (1) Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 32 per 10000 kelahiran hidup (UNDP 2001) (2) Angka Kematian Balita (0-4 thn) sebesar 44,44 per 1000 Kelahiran hidup (BPS 2000) (3) Angka Kematian Maternal sebesar 373 per 1000 Kelahiran hidup (SKRT 1995) b) Umur Harapan Hidup Waktu Lahir Umur Harapan Hidup Waktu Lahir adalah 71,12 tahun (BPS Proyeksi Per Propinsi 1990 -2005) c) Status Gizi Jumlah bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) sebanyak 512 d) Kesakitan (Morbidity) (1) Angka kesakitan malaria sebesar 27,54 per 1000 penduduk (2) Angka kesakitan penyakit diare sebesar 23,45 per 1000 penduduk (3) Penemuan penderita TB paru tahun 2002 sebanyak 438 orang (4) Jumlah penderita HIV AIDS sebanyak 6 orang

b. Sarana Kesehatan a. Jumlah puskesmas sebanyak 136, 36 diantaranya dengan tempat perawatan sedangkan Jumlah pustu sebanyak 761 b. Jumlah Rumah Sakit sebanyak 10 buah, terdiri atas 1 bh kelas B, 5 kelas C dan 4 kelas D.

c. Sarana Pendidikan berupa Akademi Perawat sebanyak 4 buah (Depkes 1 bh, Pemda 2, Swasta1), Akademi Kebidanan (Depkes) sebanyak 1 buah, Akademi Gizi (Depkes) sebanyak 1 buah.

4. Tenaga kesehatan (Medis dan para medis) pada tahun 2003 sebanyak 4.171 orang terdiri dari 44 orang Dokter Ahli, 233 Dokter Umum, 59 orang Dokter Gigi, 47 Orang Apoteker, Sarjana Perawatan 24 orang, Sarjana muda perawat dan bidan 312 orang, SPK 1.782 orang, Bidan 968 orang,Asisten Apoteker 50 orang, Gizi (D III dan D 1) 117 orang, Tehnisi Medis 107 orang, Kesehatan Masyarakat (S1, D III dan D 1) 206 orang.

b. Kinerja Pembangunan 1. Masukan (input) a) Sarana pelayanan kesehatan pemerintah berupa Puskesmas sebanyak 137 buah, Puskesmas pembantu sebanyak 761 buah, Puskesmas keliling (Pusling) Roda 4 sebanyak 98 buah, rumah sakit kelas B sebanyak 1 buah, Rumah sakit kelas C sebanyak 5 buah dan rumah sakit kelas D sebanyak 4 buah. b) Sarana Pendidikan berupa Akademi Perawat sebanyak 4 buah (Depkes 1 bh, Pemda 2, Swasta1), Akademi Kebidanan (Depkes) sebanyak 1 buah, Akademi Gizi (Depkes) sebanyak 1 buah. c) Tenaga kesehatan (Medis dan para medis) yang berada di Kalimantan Tengah pada tahun 2003 sebanyak 4.171 orang terdiri dari 44 orang Dokter Ahli, 233 Dokter Umum, 59 orang Dokter Gigi, 47 Orang Apoteker, Sarjana Perawatan 24 orang, Sarjana muda perawat dan bidan 312 orang, SPK 1.782 orang, Bidan 968 orang,Asisten Apoteker 50 orang, Gizi (D III dan D 1) 117 orang, Tehnisi Medis 107 orang, Kesehatan Masyarakat (S1, D III dan D 1) 206 orang. d) Anggaran bidang kesehatan terdiri atas: (1) Anggaran Dinas Kesehatan • Anggaran rutin Dinas Kesehatan sebesar Rp.808.020.000.- dengan realisasi sebesar Rp.724.535.630.- (90 %) • Anggaran pembangunan sebesar Rp.3.375.000.000.- dengan realisasi sebesar Rp.3.323.363.841.- (98,47 %), terbagi atas 6 proyek yaitu :  Proy. Kab/Kota Sehat di Kalimantan Tengah, Rp. 1.175.000000.-  Proy. Pemberantasan Penyakit Menular, Rp 500.000.000.-  Pemb. Masyarakat Desa di kalimantan Tengah, Rp. 100.000.000.-  Peningkatan Kes. Ibu dan Anak di Kalteng, Rp 200.000.000.-  Pengemb. RSU, BP, Labkes, Balai Kesehatan Jiwa dan Peningkatan SDM di Kalimantan Tengah, Rp. 1.200.000.000.-  Pembinaan Dana Obat Perkapita di Kalimantan Tengah, Rp 200.000.000.- (2) Anggaran Rumah Sakit Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya • Anggaran Rutin sebesar Rp. 21.961.163.000.- dengan realisasi sebesar Rp. 17.256.830.433.- (78,58 %)

• Anggaran Pembangunan sebesar Rp.3.400.000.000.- dengan realisasi sebesar Rp. 3.394.200.000.- (99,83 %)

2. Keluaran (Out Put). a) Sosialisasi dan Evaluasi Program Kab/Kota Sehat b) Identifikasi Pencemaran Air Raksa pada manusia c) Bantuan Penunjangan Gakin Bidang Pelayanan Kesehatan RSUD Dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya d) Pengadaan Peralatan Labkesda Palangka Raya e) Surveilans Epidemiologi f) Pemberantasan Penyakit Menular langsung g) Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang h) Pencegahan Penyakit i) Pelatihan Program Imunisasi j) Penanggulangan Wabah k) Pemantapan Program PKMD l) Lomba Toga m) Lomba Posyandu n) Monitoring dan evaluasi Program PSM o) Pembinaan Kader dan P2 ISPA p) Pemantapan Program KIA q) Lomba balita Indonesia r) Promosi Pekan ASI s) Pelatihan Manajemen Terpadu Balita Sakit t) Penanganan Bayi dengan Berat Lahir Rendah (BBLR) u) Pelatihan Manajemen Obat-obatan dan Alat Kesehatan v) Pembinaan Pengobat Tradisonal w) Pengelolaan dan rehabilitasi Gudang Obat x) Pengadaan dan pemeliharaan peralatan medik, penunjang medik, dan bahan habis pakai yang berhubungan dengan pelayanan medis y) Peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit yang tidak berhubungan dengan pelayanan medik z) Pelaksanaan pelatihan Gugus Kendali Mutu (GKM), Pelatihan Cleaning Servis dan Pembantu Rumah Tangga, Magang di RS Luar Daerah serra diklat untuk keperawatan

3. Hasil

a. Upaya Kesehatan 1) Pelayanan kesehatan ibu dan anak. (a) Pelayanan antenatal: (K1) pada tahun 2002 sebesar 95,41 % K4 sebesar 79,19%. Pada tahun 2003 sampai dengan bulan September K1 sebesar (76,21%) dan K4 sebesar (67,26 %). (b) Pertolongan Persalinan, Cakupan oleh tenaga kesehatan sampai dengan bulan September tahun 2003 sebesar 59,59 % atau sebanyak 28.933 ibu dari perkiraan jumlah 48.554 ibu yang bersalin. (c) Immunisasi TT2 ibu hamil, Pemberian immunisasi TT2 ibu hamil pada tahun 2002 sebesar 81,3% dari sasaran 46,283 ibu hamil, tahun 2003 triwulan III sebesar 58.45 %. (d) Cakupan pemberian kapsul Fe 1 sebesar 71,12 %, Fe3 sebesar 63,73 % (e) Cakupan pemberian Vit A untuk ibu nifas sebesar 62,66 %. (f) Terdeteksinya ibu hamil resiko tinggi oleh petugas kesehatan sebanyak 7,14 %, oleh masyarakat 0,14 % dari sebanyak 51.822 ibu hamil. (g) Cakupan pemberian Vit A dosis tinggi pada bulan Februari untuk bayi sebesar 63,47 % untuk balita 69,90 %; sedangkan pada bulan Agustus untuk bayi sebesar 50,45 %, untuk balita sebesar 57 %. (h) Immunisasi bayi dan Anak, Cakupan immunisasi bayi DPT 1 sebesar 92.81%, campak 89.28 % pada 2002, sedangkan pada 2003 cakupan DPT 1: 91% dan Campak 88 %. (i) Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) pada tahun 2002 adalah sejumlah 459 bayi. Tahun 2003 BBLR di Puskesmas sebanyak 70 dan Rumah Sakit sebanyak 133 bayi (Triwulan I,II) (j) Cakupan kunjungan ke 2 bayi baru lahir (KN2) sebesar 68,92 % dari jumlah bayi sebanyak 46.208.

2) Pelayanan Rumah Sakit (a) Pada tahun 2002 angka penggunaan tempat tidur (BOR) sebesar 40%, tahun 2003 sampai dengan triwulan II sebesar 55,4 %. Khusus untuk RSUD Dr. Doris Sylvanus, BOR tahun 2002 sebesar 46 %, tahun 2003 meningkat menjadi 54,54 % (b) Rata-rata lama dirawat tahun 2002 adalah 3.58 hari, tahun 2003 (s/d triwulan II) selama 4,5 hari. Khusus RSUD Dr. Doris Sylvanus, tahun 2002 sebesar 4 hari, tahun 2003 meningkat menjadi 5 hari (c) Angka kematian kasar (GDR) tahun 2002 sebesar 35,37 tahun 2003 (s/d triwulan II) sebesar 43. Khusus RSUD Dr. Doris Sylvanus, tahun 2002 sebesar 37,7 tahun 2003 meningkat menjadi 44 perseribu pasien keluar hidup dan mati. Sedangkan Angka Kematian Netto (kematian setelah 48 jam) tahun 2002 sebesar 19,6 tahun 2003 meningkat menjadi 25,7 per 1000 Penderita keluar hidup dan mati.

3) Pemberantasan Penyakit menular dan tidak menular (a) Jumlah penderita penyakit malaria di periksa dan diobati, pada tahun 2002 sebanyak 28.945 sedang tahun 2003 dari 62,5 % laporan yang masuk, jumlah penderita malaria klinis sebanyak 18.147 orang. (b) Jumlah penderita Demam Berdarah Dengue tahun 2002 sebanyak 47 kasus mati 2 orang, tahun 2003 meningkat sangat tajam menjadi 316 orang 9 diantaranya meninggal. (c) Jumlah gigitan anjing tersangka rabies, pada tahun 2002 sebanyak 376 orang dengan 4 kematian, tahun 2003 sebanyak 358 orang. Dari jumlah tersebut, 192 orang diberi vaksin anti rabies, dan tidak ada yang meninggal akibat gigitan anjing. Jumlah spesimen hewan yang diperiksa sebanyak 11 spesimen, dan semuanya dinyatakan positif rabies. (d) Pengobatan penderita kusta lama tahun 2002 sebanyak 71 orang tahun 2003 penderita baru sebanyak 91 orang, total penderita tahun 2003 sebanyak 162 orang. Dari Jumlah tersebut, yang masih dalam pengobatan Multi Drug Treatment (MDT) sampai dengan akhir Juni 2003 sebanyak 71 kasus. (e) Jumlah penderita diobati TB paru tahun 2002 sebanyak 438 orang, tahun 2003 triwulan III sembuh sebanyak 343 orang (78,31 %) sedangkan penemuan dan pengobatan penderita baru tahun 2003 sebanyak 549 orang. (f) Jumlah penderita HIV yang telah di temukan berasal dari 9 lokalisasi Pekerja Seks Komersial (PSK) di 7 kabupaten berjumlah 12 orang, terdiri dari 5 orang dari Kotawaringin Barat, 2 orang dari Lamandau, 2 orang dari Kotawaringin Timur, 1 orang dari Palangka Raya dan 2 orang dari Katingan. (g) Jumlah kasus penyakit jantung dan pembuluh darah sebanyak 82,4 orang per 100.000 penduduk. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun 2001 sebanyak 39,6.

4) Peningkatan Sumber Daya Manusia Kesehatan (a) Dari 4.171tenaga kesehatan, 784 orang (18,8%) sudah dapat meningkatkan pendidikan. (b) Jumlah mahasiswa Politehnik Kesehatan Palangka Raya tahun 2003 sebanyak 392 orang terdiri atas Jurusan Keperawatan sebanyak 234 orang, jurusan Kebidanan sebanyak 158 orang. (c) Jumlah mahasiswa yang diwisuda tahun 2003 sebanyak 117 orang, terdiri atas 77 orang jurusan Keperawatan, 40 orang jurusan Kebidanan. (d) Pembinaan teknis program Kesehatan Ibu dan Anak, pembinaan 10 Rumah Sakit, pembinaan/ perencanaan obat di Kabupaten/Kota. (e) Penilaian dokter dan paramedis Puskesmas dan Rumah Sakit Teladan tahun 2003 (f) Rujukan Dokter ahli ke Puskesmas. (g) Sosialisasi kabupaten sehat di 6 Kab/Kota.

5. Penilaian antara Program dan Realisasi Program kesehatan tahun 2003, pada umumnya dapat direalisasikan denga menggunakan anggaran yang bersumber baik dari APBD maupun APBN. Walaupun demikian, karena keterbatasan anggaran masih ada program yang belum dapat direalisasikan, misalnya program penyuluhan kesehatan masyarakat dan pengembangan Rumah Sakit Jiwa.

4. Manfaat

a) Peningkatan sumber daya manusia kesehatan melalui pendidikan dalam dan luar negeri. (1) Hingga tahun 2003 tenaga kesehatan yang sudah lulus pendidikan dalam dan luar negeri: S2 LN 18 orang, S2 DN 73 orang, S1 DN 109, D4 sebanyak 34 orang, D3 sebanyak 379 orang dan D1 1 orang dengan pembiayaan dari Proyek HP V dan FHN. (2) Tenaga kesehatan yang masih mengikuti pendidikan S3 LN 2 orang, S3 DN 1 orang, S2 DN 2 orang, S1 DN 15 orang, dan D3 sebanyak 146 orang dengan pembiayaan dari proyek HPV dan FHN Pusat. (3) Sarana pendidikan, kesehatan milik pemerintah berupa Poli Teknik Kesehatan (POLTEKKES) dengan program studi Keperawatan dan Kebidanan, 1 Akademi Gizi di Palangkaraya, 2 Akademi Keperawatan (AKPER) di Kuala Kapuas dan Sampit, sedangkan sarana pendidikan yang di kelola Swasta berupa 1 Akademi Keperawatan Eka Harap di Palangka Raya. Mulai tahun 2002, POLTEKKES Palangkaraya bekerja sama dengan University of Tehnology, Sidney telah membuat program peningkatan standart Keperawatan, dan diharapkan lulusan POLTEKKES memiliki kualifikasi yang lebih baik melalui perbaikan kurikulum dan manajemen pendidikan.

b) Pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat (1) Jumlah kunjungan pasien rawat jalan di rumah sakit (s/d triwulan II) sebanyak 70.579 orang dengan rata-rata kunjungan 49 orang per RS perhari. Sedangkan di RSUD Dr. Doris Sylvanus, jumlah kunjungan sebanyak 44.326 orang, 6.338 orang (14,3 %) diantaranya miskin (2) Jumlah pasien dirawat inap (s/d triwulan II) sebanyak 10.885 orang, 20 % diantaranya adalah kelas III (pasien miskin). Sedangkan di RSUD Dr. Doris Sylvanus, jumlah pasien rawat inap sebanyak 7.953 orang, 2.142 orang (27 %) diantaranya miskin.

5. Dampak

Dampak pembangunan kesehatan dapat dilihat pada beberapa indikator yang digunakan untuk memantau perkembangan derajat kesehatan seperti angka kematian bayi telah menurun, meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir dan status gizi masyarakat. Hal ini merupakan keberhasilan program imunisasi, perbaikan gizi, pencegahan diare, perbaikan kesehatan lingkungan, peningkatan sarana dan prasarana kesehatan kepada masyarakat.

Indikator derajat kesehatan yang paling sensitive adalah angka kematian, umur harapan hidup dan angka kesakitan. Angka kematian dan umur harapan hidup tersebut hanya dapat diperoleh melalui survey, yang hingga kini baru dilaksanakan di tingkat nasional.

a) Angka Kematian/ Mortality. (1) Angka Kematian Bayi (AKB) di propinsi Kalimantan Tengah mengalami penurunan dari 58 pada tahun 1990 dan pada tahun 1995 menjadi 34 dan pada tahun 1997 menjadi 28,40 perseribu kelahiran hidup.(BPS, Proyeksi penduduk Indonesia per propinsi 1990 – 2005). (2) Angka Kematian Balita (AKABA) (0-4 tahun) di Propinsi Kalimantan Tengah menurun dari 65 pada tahun 1993 menjadi 44,44 perseribu kelahiran hidup pada tahun 2000 (BPS Indikator Kesra 2000) (3) Angka Kematian Ibu (AKI)/Maternal Mortality Rate pada tahun 1994 sebesar 390 turun menjadi 373 perseratus ribu kelahiran hidup pada tahun 1995 (SKRT 1995)

b) Angka harapan Hidup, di Kalimantan Tengah cenderung meningkat. Pada tahun 1992, sebesar 63,31 tahun 1997 sebesar 67,09 dan 2002 menjadi 71,12.(BPS, Proyeksi penduduk per propinsi 1990 – 2005).

c) Status Gizi Jumlah balita dengan gizi buruk menurut laporan penimbangan balita sampai dengan bulan September 2003 sebanyak 733, gizi kurang 2.240 dari 72.262 anak balita yang ditimbang.

d) Angka Kesakitan/ Morbidity karena penyakit menular. (1) Malaria Annual Malaria Insiden tahun 2001-2002 berfluktuasi antara 24 – 30, tahun 2003 menjadi 9,9 per 1000 penduduk. (2) Demam Berdarah Dengue (DBD) . Kematian karena demam berdarah tahun 2003 sebesar 2,85 % (9 dari 316), turun bila dibanding tahun 2002 sebesar 4,25 % ( 2 dari 47). (3) Rabies, Kasus gigitan anjing tersangka rabies pada tahun 2002 tercatat 376 kasus dengan kematian 4 orang, tahun 2003 dilaporkan 358 kasus, tidak ada yang meninggal. (4) Diare, Angka kesakitan Diare tahun 2002 sebesar 31,89 tahun 2003 turun menjadi 23,4 perseribu penduduk. (5) TB Paru, Penemuan penderita TB paru tahun 2002 ditemukan 438 orang diobati sebanyak 485 orang, tingkat kesembuhan pada triwulan III tahun 2003 sebesar 78,31 %. Penemuan kasus baru tahun 2003 sebanyak 549 diobati seluruhnya, belum dapat di evaluasi. (6) HIV/AIDS Tahun 2002 dari lokalisasi di Kobar di temukan 5 kasus di Kotim 1 kasus sedangkan tahun 2003 HIV positif yang telah di temukan berasal dari 9 lokalisasi Pekerja Seks Komersial (PSK) di 7 kabupaten berjumlah 12 orang, terdiri dari 5 orang dari Kotawaringin Barat, 2 orang dari Lamandau, 2 orang dari Kotawaringin Timur, 1 orang dari Palangka Raya dan 2 orang dari Katingan. (7) Polio, Dari tahun 1994 sampai dengan pada saat ini di Propinsi Kalimantan Tengah tidak di temukan penderita Polio dengan demikian diharapkan Kalimantan Tengah mendapat status bebas Polio.

6. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI a) Belum ada survey tentang derajat kesehatan untuk propinsi Kalimantan Tengah sehingga masih di gunakan angka nasional. b) Kurangnya pengetahuan dan kemampuan sumber daya manusia kesehatan mengenai manajemen kesehatan khususnya pada daerah pemekaran. c) Jaminan mutu pelayanan kesehatan belum merata pada seluruh RS dan Puskesmas. d) Masih belum efisien pemanfaatan tempat tidur Rumah Sakit di Kalimantan Tengah. e) Belum meratanya penyebaran tenaga kesehatan di Kalimantan Tengah f) Ada kecenderungan peningkatan hipertensi, stroke dan jantung akibat kegemukan dan kurangnya olah raga. g) Meningkatnya penyakit degeratif karena peningkatan umur harapan hidup. h) Masih banyaknya keluarga miskin menunjukkan belum memadainya kondisi sosial ekonomi masyarakat. i) Belum tertatanya Sistem Pencatatan dan Pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan di tingkat dasar maupun rujukan.

7. UPAYA PENANGGULANGAN

a) Perlu di rencanakan survey di Kalimantan Tengah agar di peroleh angka derajat kesehatan yang spesifik untuk propinsi dan masing-masing kabupaten. b) Pelatihan manajemen dan teknis untuk tenaga kesehatan di Kabupaten khususnya kabupaten baru. c) Peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Rumah sakit melalui Quality Assurance. d) Penempatan dokter spesialis di RSU Kabupaten dan pelatihan petugas pelayan rumah sakit. e) Dilakukan pilot project pola penempatan tenaga kesehatan khusunya untuk daerah terpencil melalui Health Project (HP V) f) Perlu di buat program intervemsi untuk mencegah dan mengatasi faktor resiko penyakit jantung koroner dan stroke. g) Perlu dikembangkan program pelayanan untuk masyarakat usia lanjut. h) Perlu peningkatan anggaran kesehatan agar program-program yang sudah direncanakan dapat dilaksanakan. i) Perlu penataan kembali sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.