Text Box: Klik di sini: Presentase Kepala Bappeda Propinsi Kalteng tentang Kondisi Kesehatan Perdesaan

KESEHATAN

Tahun 2001.

Upaya pembangunan di bidang kesehatan telah menunjukan hasil, Angka Kematian Bayi (AKB) di Kalimantan Tengah telah mengalami penurunan, dari 129 pada tahun 1971 menjadi 58 pada tahun 1990 dan pada tahun 1995 menjadi 34 perseribu kelahiran hidup. Angka Kematian Balita, dan Angka Kematian Ibu Maternal, juga mengalami penurunan. Sedangkan usia harapan hidup semakin meningkat. Kalau pada tahun 1990 usia harapan hidup adalah 62 tahun, maka pada tahun 1995 meningkat menjadi 68 tahun. Ini menunjukan meningkatkan taraf kesehatan anggota masyarakat.
 
a. Gambaran Umum Kesehatan Kalimantan Tengah
 
Pembangunan kesehatan telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan sehingga dapat menurunkan angka kematian bayi dan anak serta memperpanjang usia harapan hidup rata-rata penduduk. Namun situasi krisis ekonomi yang berkepanjangan mengakibatkan menurunnya kemampuan masyarakat, sehingga akan mempengaruhi status kesehatan, utamanya pada kelompok rentan.
 
Tantangan pembangunan kesehatan akan semakin komplek yang ditandai dengan terjadinya transisi demografi dan epidemiologi, kecenderungan meningkatnya penyakit degeneratif, penyakit pembuluh darah, penyakit jantung dan penyakit akibat gizi yang kurang seimbang, masih kurangnya perilaku hidup sehat sebahagian masyarakat serta tuntunan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu, disamping ancaman penyakit menular serta munculnya angcaman HIV/AIDS yang memerlukan perhatian khusus.
 
b. Tujuan Pembangunan Kesehatan
 
Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatnya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang optimal.
 
c.  Sasaran Umum Pembangunan Kesehatan
 
1). Program lingkungan sehat, perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat
2). Program peningkatan upaya kesehatan
3). Program perbaikan gizi masyarakat
4). Program peningkatan sumber daya kesehatan
5). Program pengawasan obat, makanan dan bahan berbahaya
6). Program peningkatan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan
 
d.  Kebijaksanaan Pembangunan
 
1). Peningkatan Upaya Kesehatan
a). Pelayanan kesehatan dasar diselenggarakan melalui Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan bidan desa.
b). Pelayanan kesehatan rujukan diselenggarakan oleh rumah sakit milik pemerintah dan swasta.
c). Peningkatan kualitas peleyanan kesehatan dilakukan melalui pelaksanaan jaminan mutu oleh Puskesmas dan Rumah Sakit.
d). Peningkatan pemerataan pelayanan kesehatan dilakukan melalui penempatan bidan didesa, pengembangan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu lengkap dengan sarananya.
e). Penurunan kesakitan dan kematian serta kecacatan utamanya pada bayi, anak balita wanita hamil, melahirkan dan masa nifas yang merupakan kelompok rentan melalui promosi hidup sehat, pencegahan dan pemeberantasan penyakit menular, pengobatan penyakit dan rehabilitasi.
f). Penanggulangan penyakit menular berpotensi wabah dan penyakit menular lainnya sesuai komitmen daerah, nasional global.
g). Mewujudkan produktivitas kerja yang tinggi melalui pelayanan kesehatan kerja, perbaikan gizi, kebugaran jasmani serta upaya kesehatan lainnya seperti kesehatan lingkungan.
h). Menggalang kemitraan sektor swasta dan potensi masyarakat dalam upaya kesehatan dimana sektor pemerintah akan lebih mengutamakan pelayanan kesehatan yang berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat masyarakat sedangkan pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan dipercaya kepada masyarakat.
 
2). Peningkatan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan
a). Peningkatan secara strategis kerja sama antara sektor kesehatan dan sektor lain yang terkait serta antara berbagai program kesehatan dan antara para pelaku dalam pembangunan kesehatan sendiri
b). Manajemen upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dengan dukungan sistem informasi yang handal.
 
3). Peningkatan sumber daya kesehatan
a). Pengembangan tenaga kesehatan harus menunjang seluruh upaya pembangunan kesehatan dan diarahkan untuk menciptakan tenaga kesehatan yang ahli dan terampil sesuai pengembangan ilmu dan teknologi, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berpegang teguh pada pengabdian kepada bangsa dan negara serta etika profesi.
b). JPKM diselenggarakan sebagai upaya bersama antara masyarakat, swasta dan pemerintah untuk mengantisipasi biaya pelayanan kesehatan yang cenderung terus meningkat.
 
4). Peningkatan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi, makanan dan minuman serta alat kesehatan yang kurang bermutu
a). Masyarakat memperoleh pelayanan pengobatan yang rasional dan obat yang bermutu dengan harga yang terjangkau
b). Pencegahan beredarnya produk obat, makanan dan minum,an serta alat kesehatan yang kurang bermutu
c). Perlindungan masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan dan kesalahgunaan obat, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya lainnya melalui pengendalian distribusi dan penggunaan yang ketat
d). Kepedulian masyarakat terhadap resiko penggunaan sediaan farmasi, makanan dan minuman serta alat kesehatan melalui komunikasi, informasi dan edukatif
 
5). Peningkatan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi kesehatan
Penelitian dan pengembangan iptek dikembangkan utamanya untuk mendukung perumusan kebijaksanaan, membantu memecahkan masalah kesehatan dan mengatasi kendala dalam pelaksanaan program kesehatan.
 
e. Kinerja Pembangunan
 
1). Pencapaian Sasaran Pembangunan Kesehatan Tahun 2001
 
a). Anggaran Pembangunan bidang kesehatan sebesar Rp.1.658.340.000,- pada tahun anggaran 2001 bersumber APBD Tingkat I yang berada pada Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Tengah dapat terealisir sebesar Rp.1.557.526.155,- atau sebesar 93,93%.
b). Keberhasilan pembangunan kesehatan dapat dilihat pada beberapa indikator yang digunakan untuk memantau perkembangan derajat kesehatan sepereti angka kematian bayi telah menurun, meningkatnya angka harapan hidup waktu lahir dan status gizi masyarakat. Hal ini merupakan keberhasilan program imunisasi, perbaikan gizi, pencegahan diare, perbaikan kesehatan lingkungan, peningkatan sarana dan prasarana kesehatan kepada masyarakat
c). Peningkatan sumberdaya manusia bidang kesehatan melalui pendidikan dalam dan luar negeri melalui anggaran APBN dan Pinjaman Luar Negeri (Proyek HPV dan Proyek FHN)
 
2). Penilian Kinerja Pembangunan Kesehatan Tahun 2001
 
a). Masukan (Input)
(1) Anggaran pembangunan bidang kesehatan untuk propinsi Kalimantan Tengah yang bersumber APBD I, sebesar Rp. 1.658.340.000,- dan APBN sebesar Rp. 38.106.186.000,- (DIP) dengan realisasi APBN Rp.25.306.095.404,- (66,41 %), terdiri dari :
- Pinjaman Luar Negeri : Rp. 21.573.956.000,-
Realisasi : Rp. 12.957.144.069,- (54,32 %).
- Rupiah Murni : Rp. 16.532.230.000,-
Realisasi : Rp. 12.348.951.335,- (75,18 %).
(2) Jumlah Puskesmas sebanyak 133 buah, Puskesmas Pembantu sebanyak 708 buah, Puskesmas Keliling (PUSLING) sebanyak 179 buah, Rumah Sakit Kelas B sebanyak 1 buah, Rumah Sakit Kelas C sebanyak 5 buah dan Rumah Sakit Kelas D sebanyak 4 buah.
(3) Jumlah tenaga kesehatan yang berada di Kalimantan Tengah pada tahun 2000 sebanyak 5742 orang yang terdiri dari 45 orang Dokter Ahli, 214 Dokter Umum, 60 orang Dokter Giigi, 46 orang Apoteker, Sarjana Perawatan 7 orang, 55 orang Sarjana Kesehatan lainnya, 3140 orang Paramedis Perawatan, 833 orang Paramedis Non Perawatan, 263 orang Paramedis Pembantu dan 1079 orang non medis.
(4) Sarana Upaya Kesehatan bersumber daya masyarakatterdiri dari 1972 Posyandu, 156 Pos Obat Desa,(POD), 780 Polindes, 14 Pos UKK, 238 kelompok Dana Sehat, 1999 Tanaman Obat Keluarga.
(5) Pendidikan pada tahun 2001 terdapat Akademi Perawat sebanyak 4 buah (Depkes 1 bh, Pemda 2, Swasta 1) , Akademi Kebidanan (Depkes ) sebanyak 1 buah, Akademi Gizi(Depkes) sebanyak 1 buah.
 
b). Keluaran (Out put)
(1) Anggaran pembangunan bidang kesehatan bersumber APBD I sebesar Rp.1.658.340.000,- pada tahun 2001 berada di Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Tengah dapat terealisir sebesar Rp.1.557.526.155,- atau sebesar 93,93%.
(2) Jumlah penderita penyakit malaria diperiksa dan diobati 50175 orang pada tahun 1999, 44713 pada tahun 2000 dan pada tahun 2001 bulan Oktober adalah 26404 orang.
(3) Jumlah penderita dan kematian akibat penyakit Demam Berdarah Dengue, 30 kasus 3 kematian pada tahun 2000 dan pada tahun 2001 bulan Oktober tercatat 136 kasus 5 kematian
(4) Jumlah gigitan anjing tersangka 213 penderita dengan 2 kematian, pada tahun 2000 jumlah penderita 201 orang dengan 3 kematian, dan pada tahun 2001 sebanyak 214 orang .
(5) Jumlah penderita kusta pada tahun 2000 sebanyak 117 orang dan 59 penderita s/d September 2001, dengan demikian Propinsi Kalimantan Tengah sudah mencapai kesepakatan global
(6) Jumlah penderita HIV yang telah ditemukan berasal dari Warga Negara Thailand sedangkan kasus AIDS belum ditemukan.
(7) Dari 4.663 PNS bidang Kesehatan, 656 orang (14,07%) sudah dapat meningkatkan pendidikan.
(8) Pembinaan teknis program Kesehatan Ibu dan Anak, pembinaan 10 Rumah Sakit, pembuinaan/perencanaan obat perkapita di Kabupaten/Kota
(9) Penilaian Dokter dan Paramedis Puskesmas dan Rumah Sakit Teladan
(10) Rujukan Dokter Ahli ke Puskesmas
(11) Pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan sebanyak 1 paket untuk penanggulangan bencana dan Poskodal
(12) Evaluasi kabupaten sehat di 6 Kabupaten/Kota
(13) Bantuan operasional Bidan Desa sebanyak 1200 bidan
c). Hasil Pembangunan
 
(1) Derajat Kesehatan
 
(a) Kematian/Mortality
v Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi (AKB) di Propinsi Kalimantan Tengah mengalami penurunan dari 129 pada tahun 1971 menjadi 58 pada tahun 1990 dan pada tahun 1995 menjadi 34 perseribu kelahiran hidup.
v Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita (0-4 tahun) di Propinsi Kalimantan Tengah menurun dari 82 pada tahun 1986 menjadi 65 perseribu kelahiran hidup pada tahun 1993.
v Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)
Angka Kematian Ibu Maternal pada tahun 1994 sebesar 390 turun menjadi 373 perseribu kelahiran hidup pada tahun 1995.
 
(b) Umur Harapan Hidup Waktu Lahir
Di Propinsi Kalimantan Tengah Angka Umur Harapan Hidup Waktu Lahir cenderung meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 1971 adalah 48,44 tahun meningkat menjadi 53,85 pada tahun 1980, 62,83 pada tahun 1990 dan pada tahun 1995 menjadi 68,46 tahun.
 
..(c) Kesakitan/Mortality
Penyakit Menular
v Malaria
Prevalensi penyakit Malaria di Propinsi Kalimantan Tengah terus mengalami penurunan dari 29,25 perseribu penduduk pada tahun 1999, pada tahun 2000 menjadi 24,56 persribu penduduk . Sampai dengan bulan Oktober 2001 dilaporkan sebanyak 26.404 penderita atau 14,27 perseribu penduduk.
v Demam Berdarah Dengue (DBD)
Pada tahuin 1999 tidak terjadi kejadian luar biasa DBD, pada tahun 2000 sebanyak 30 kasus 3 kematian dan pada tahun 2001 sampai dengan bulan Oktober tercatat 136 penderita kematian 5 orang
v Rabies
Kasus gigitan anjing tersangka rabies terus mengalami penurunan 473 kematian 8 pada tahun 1999, pada tahun 2000 menjadi 213 orang kematian 2 orang dan pada tahun 2001 sampai dengan bulan September tercatat sebanyak 262 kasus dengan kematian 3 0rang..
v Diare
Angka kesakitan penyakit Diare pada tahun 1999 sebesar 20,56 perseribu penduduk kemudian menurun 15,18 pada tahun 2000, pada tahun 2001 bulan September tercatat sebesar 5,03 perseribu penduduk ( 8.504 penderita).
v TB.Paru
Penemuan penderita menular TB Paru pada tahun 1999 sebanyak 365 orang, diobati sebanyak 638 , tingkat kesembuhan 78,06 % ( 498 orang) pada tahun 1999 , pada tahun 2000 sebanyak 289 orang, diobati sebanyak 289 , tingkat kesembuhan 36,6 %( 106 .orang) , pada tahun 2001 bulan September tercatat 266.orang, diobati sebanyak 266., tingkat kesembuhan masih belum dapat dievaluasi.
v Kusta
Prevalensi penyakit Kusta menunjukan penurun dari 1,2 per 10.000 penduduk pada tahun 1998 menjadi 0,77 pada tahun 1999, 0,64 per 10.000 penduduk pada tahun 2000 dan pada tahun 2001 bulan September terlaporkan sebanyak 5. penderita Kusta PB dan 54 penderita Kusta MB.
v Ispa
Incidence Pneumonia pada bayi <1 tahun meningkat dari 12 pada tahu 1999 menjadi 17 perseribu bayi pada tahun 2000 sedangkan sampai dengan bulan September 2001 terlaporkan sebanyak 500 Penderita. Pada anak balita (1-4 tahun) menurun dari 8 pada tahun 1999 menjadi 6,59 perseribu anak balita sedangkan sampai dengan bulan September 2001 sebanyak 399 penderita .
v HIV/AIDS
Sejak bulan September 1977 sampai dengan akhir tahun 2000 telah ditemukan adanya penderita terinveksi HIV positip sebanyak 26 orang dari 175 sampel darah yang diperiksa (15,43%) keseluruhan penderita berasal dari anak buah kapal warga negara Thailand. Pada tahun 2001 bulan Sepetember tidak ditemukan penderita HIV positif. Penderita AIDS belum ditemukan.
v Polio
Dari tahun 1994 sampai dengan pada saat ini di Propinsi Kalimantan Tengah tidak ditemukan penderita Polio dengan demikian diharapkan Kalimantan Tengah mendapat status bebas polio.
 
(2) Status Gizi
Akibat krisis moneter yang berkepanjangan di propinsi Kalimantan Tengah, telah berdampak munculnya kasus gizi buruk. Kasus gizi buruk pada tahun 1999 sebanyak 31 kasus dengan 10 kematian. Setelah dilakukan revitalisasi posyandu serta adanya dana JPS-BK untuk penanggulangan gizi buruk telah ditemukan 112 kasus dengan 3 kematian pada tahun 2000. Pada tahun 2001 bulan september 2001 belum terlaporkan.
 
(3) Upaya Kesehatan
 
(a) Pelayanan kesehatan ibu dan anak .
v Pelayanan Antenatal
Cakupan pelayanan antenatal (K1) meningkat dari 94,50 % pada tahun 1998 menjadi 99,27 % pada tahun 1999 pada tahun 2000 sebesar 95,41 % . Pada tahun 2001 sampai dengan bulan September 32.434 ibu hamil ( 62,8.% ) dan K4 sebesar 25368 ( 49,1 % )
v Pertolongan Persalinan
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat dari 67,88 % pada tahun 1998 menjadi 69,04 % pada tahun 1999 pada tahun 2000 sebesar 72,80 % dan pada tahun 2001 bulan September 2001 jumlah persalinan oleh tenaga Kesehatan sebanyak 21207 Ibu bersalin ( 48,8 % ).
v Imunisasi TT2 Ibu Hamil
Pemberian Imunisasi TT2 Ibu Hamil pada tahun 1999 sedikit meningkat dari tahun 1998 yaitu dari 72,94 % menjadi 77,12 %, pada tahun 2000 sebesar 81 % dan pada tahun 2001 bulan Septrember 2001 TT2 Ibu Hamil sebesar 66,2 % dari sasaran 46.283 ibu hamil
v Imunisasi Bayi dan Anak
Cakupan imunisasi bayi di Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1999 menurun dari tahun 1998 yaitu dari 106,5 % menjadi 91,10 % dan pada tahun 2000 sampai dengan bulan September 2001 cakupan DPT-1 73,1.%, DPT-3 66,5.%, Polio-3 67,1 % , Polio-4 63,1 %, BCG 74,8 %, Campak 63,9 %.
Cakupan BIAS ( Bulan Imunisasi Anak sekolah ) sebesar 99,5 % pada tahun 1999, pada Tahun 2000 sebesar 96,00 %, sampai dengan bulan September 2001 kegiatan BIAS belum dilaksanakan.
v BBLR di Puskesmas
Persentase bayi lahir dengan berat badan lahir rendah di Puskesmas di Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2000 tetap sepert pada tahun 1999 yaitu 1,42 %.
 
 
 
(b) Pelayanan rumah sakit.
v Pada tahun 2000 Angka Penggunaan Tempat Tidur (BOR) sebesar 48,17 %.
v Persentase bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit di Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2000 sebesar (18,72%)
 
(c) Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan pada tahun 2000 tetap seperti pada tahun 1999 yaitu 133 Puskesmas 36 diantaranya Puskesmas Tempat Tidur; 708 Puskesmas Pembantu ;, Apotik 43;,179 Puskesmas Keliling roda empat dan perahu bermotor; 780 Polindes. Jumlah Rumah Sakit pada tahun 21 tetap seperti pada tahun 2000 yaitu 1Rumah Sakit kelas B, 5 RS kelas C dan sisanya 4 RS kelas D.
 
(d) Tenaga Kesehatan.
 
v Dokter Spesialis
Keadaan tenaga pelayanan Dokter Spesialis dasar pada tahun 2000 dan pada tahun 2001 lengkap di Ibukota Kabupaten.
Pada tahun 2001 pelayanan Dokter Spesialis penunjang RSUD dokter Murjani , RSUD dokter Soemarno, RSUD Buntok , RSUD Muara Teweh dan RSUD St.Imanudin tidak memiliki dokter Spesialis Anestesi, RSUD dokter H Soemarno tidak memiliki Dokter Spesialisasi Radiologi dan 3 RSUD sudah memiliki dokter Spesialisasi Patologi.( RSUD Sultan Imanuddin, RSUD dr. Murjani dan RSUD dr. Doiris Sylvanus)
v Dokter Umum
Pemenuhan tenaga dokter di Puskesmas pada tahun 2001 bulan September dari 133 Puskesmas yang ada 10 diantarannya tidak memiliki dokter.
v Tenaga Bidan
Pada tahun 2000 dari 1239 yang ada di Kalimantan Tengah 1207 desa telah terisi tenaga bidan ( 97,42 % ) dengan rincian 973 BDD dan 234 Bidan PNS.
 
(e) Pendidikan Tenaga Kesehatan
v Sarana Pendidikan
Pada tahun 2001 sarana pendidikan pemerintah di Propinsi Kalimantan Tengah adalah 3 Akademi Perawat (Palangka Raya, Kuala Kapua dan Sampit), 1 Akademi Kebidanan (Palangka Raya), 1 Akademi Gizi (Palangka Raya) sedangkan yang dikelola Swasta sebanyak 1 Akademi Perawat Eka Harap (Palangka Raya).
v Peningkatan sumber daya manusia kesehatan melalui pendidikan dalam dan luar negeri, sampai saat ini jumlah tenaga yang masih dan lulus mengikuti pendidikan .
Pendidikan tenaga kesehatan di luar Propinsi Kalimantan Tengah, pendidikan ini khusus untuk PNS bekerja di Kalimantan Tengah.

Pada tahun 2001 tenaga kesehatan yang sudah lulus pendidikan dalam dan luar negerui : S3 DN 1 orang; S3 LN 1 orang; S2 LN 4 orang; S2 DN 24 orang; S1 DN 22 orang; D4 6 orang; D3 214 orang dengan pembiayaan Proyek HP-V S2 LN 6 orang; S1 DN 30 orang dari Proyek FHN.
 
Tenaga Kesehatan yang masih mengikuti pendidikan dalam dan luar negeri adalah S2 LN 14 orang, S2 DN 26 orang, S1 DN 78 orang, D4 44 orang dan D3 186 orang dengan pembiayaan dari Proyek HPV.
 
Pendidikan Tenaga Kesehatan di Kalimantan Tengah
Jumlah mahasiswa DIII Kesehatan di Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut :
Akper Depkes Palangka Raya Umum sebanyak 80 orang; Akper Khusus Rumah Sakit 120 orang; Akademi Kebidanan Palangka Raya umum 92.orang, Akbid khusus 80 orang, Akper Umum Sampit 90 orang; Akper Umum Kuala Kapuas 50 orang; Akper Umum Eka Harap (Swasta) 84 orang dan Akdemi Gizi 80 orang.
 
(f) Obat
Ketersediaan obat di Kalimantan Tengah pada tahun 2001 tidak ada masalah.
 
(g) Perhitungan Anggaran Pengeluaran dan Belanja Daerah Prop. Kalimantan Tengah (APBD I)
 
Anggaran Pengeluaran dan Belanja Daerah Propinsi Kalimantan Tengah tahun anggaran 2001 sebanyak 10 (sepuluh) proyek 1(satu) diantaranya berada di RSU. Dr. Doris R.Sylvanus dengan jumlah dana sebesar Rp. 1.658.340.000,-.
Penyerapan Anggarann dan kemajuan fisik sampai dengan akhir tahun 2001 sebesar Rp.1.557.526.155,- atau sebesar 93,93% sedangkan kemajuan fisik proyek pembangunan sebesar 100.% .
 
f. Permasalahan
 
1). Manajemen
a). Kurangnya pengetahuan dan kemampuan sumber daya manusia kesehatan dalam hal perencanaan kesehatan
b). Lemahnya kualitas monitoring dan evaluasi serta pelaksanaan tindak lanjut yang diperlukan
c). Kegiatan yang direncanakan belum dapar diwujudkan karena keterbatasan dana.
 
2). Pelayanan Kesehatan
a). Belum semua Puskesmas dan RSUD menerapkan quality assurance
b). Pemanfaatan tempat tidur di RSU di Kalimantan Tengah masih dibawah BOR ideal (60-80%).
c). Kebutuhan pelayanan kesehatan jiwa belum dapat diwujudkan dalam bentuk RS Jiwa.
 
3). Masyarakat
a). Kondisi gizi sebagian masyarakat masih rendah
b). Krisis ekonomi yang berkepanjangan berdampak terhadap kemampuan masyarakat sehingga mengakibatkan gizi buruk dan berat badan bayi lahir (BBLR) meningkat
c). Masih kurangnya pengetahuan dan perhatian masyarakat pada upaya pencegahan seperti imunisasi dan pemberantasan dan pencegahan penyakit menular
d). Kecenderungan peningkatan penyakit degeneratif, kegemukan, hipertensi, stroke dan jantung
4). Kemampuan Sosial Ekonomi
a). Kemampuan Sosial Ekonomi Masyarakat di Kalimantan Tengah yang rendah menyebabkan kesulitan memiliki kondisi lingkungan fisik dan biologik yang memadai mengakibatkan tingginya angka kesakitan terutama penyakit infeksi dan parasit
b). Belum tersosialisasinya dengan baik bahwa kesehatan merupakan investasi yang sangat berharga, sedangkan pola hidup sehat dan hidup bersih belum membudaya dikalangan masyarakat
g. Upaya Mengatasi
 
1). Perencanaan pembangunan dan evaluasi dalam bidang kesehatan secara terpadu dan menyeluruh, melanjutkan pelatihan dalam bidang manajemen proyek, perencanaan dan manajemen kantor
2). Penyuluhan Kesehatan Masyarakat secara intensif dan menyeluruh dengan titik berat pemberdayaan masyarakat
3). Peningkatan dan optimalisasi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) untuk membantu masyarakat kurang mampu dalam pembiayaan kesehatan
4). Antisipasi terhadap perubahan iklim, wabah, keracunan dan lain-lain terhadap kesehatan
5). Mengoperasionalkan Pusat Informasi dan Penanggulangan Krisis ekonomi dan penanggulangan kejadian luar biasa terhadap kesehatan di Kabupaten/Kota se Kalimantan Tengah
6). Pilot Project pola penempatan tenaga kesehatan khususnya untuk daerah terpencil melalui Health Project V (HP V). Melanjutkan kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam HP V yang meliputi upaya peningkatan kualitas SDM kesehatan dan penempatan tenaga kesehatan
7). Peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit melalui pelaksanaan quality Assurance

 

Tahun 2002.

a. Gambaran Umum Kesehatan Kalimantan Tengah

Pembangunan kesehatan telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan sehingga dapat menurunkan angka kematian bayi dan anak serta memperpanjang usia harapan hidup rata-rata penduduk. Namun situasi krisis ekonomi yang ber-kepanjangan mengakibatkan menurunnya kemam-puan masyarakat, sehingga akan mempengaruhi status kesehatan, utamanya pada kelompok rentan.

Transisi demografi dan epidemiologi menjadi tantangan pembangunan kesehatan semakin kom-plek disamping adanya kecenderungan mening-katnya penyakit degeneratif, penyakit pembuluh darah, penyakit jantung dan penyakit akibat gizi yang kurang seimbang, masih kurangnya perilaku hidup sehat sebahagian masyarakat serta tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu, selain itu ancaman penyakit menular serta munculnya ancaman HIV/ AIDS yang memerlukan perhatian khusus.

b. Tujuan Pembangunan Kesehatan

Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatnya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang optimal.

c. Sasaran Umum Pembangunan Kesehatan

1) Lingkungan sehat, perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat.
2) Peningkatan Upaya Kesehatan
3) Perbaikan gizi masyarakat
4) Meningkatan sumber daya kesehatan
5) Pengawasan obat, makanan dan bahan berbahaya
6) Peningkatan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan


d. Kebijaksanaan Pembangunan

1) Peningkatan Upaya Kesehatan
a. Pelayanan kesehatan dasar diselenggarakan melalui Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan bidan desa.
b. Pelayanan Kesehatan rujukan diselenggarakan oleh rumah sakit milik milik pemerintah dan swasta.
c. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dilakukan melalui pelaksanaan jaminan mutu oleh Puskesmas dan Rumah Sakit.
d. Peningkatan pemerataan pelayanan kesehatan dilakukan melalui penempatan bidan didesa, pengembangan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu lengkap dengan sarananya.
e. Penurunan kesakitan dan kematian serta kecacatan utamanya pada bayi, anak balita, wanita hamil, wanita melahirkan dan masa nifas, yang merupakan kelompok rentan me- lalui promosi hidup sehat, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, pengobatan penyakit dan rehabilitasi.
f. Penanggulangan penyakit menular berpotensi wabah dan penyakit menular lainnya sesuai komitmen daerah, nasional dan global.
g. Mewujudkan produktivitas kerja yang tinggi melalui pelayanan kesehatan kerja, perbaikab gizi, kebugaran jasmani serta upaya kesehatan lainnya seperti kesehatan lingkungan.
h. Menggalang kemitraan sektor swasta dan potensi masyarakat dalam upaya kesehatan dimana sektor pemerintah akan lebih mengutamakan pelayanan kesehatan yang berdampak luas terhadap kesehatan masya-rakat, sedangkan pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan dipercayakan kepada masyarakat.

2) Peningkatan kebijakan dan manajemen pem-bangunan kesehatan
a. Peningkatan secara strategis kerja sama antara sektor kesehatan dan sektor lain yang terkait serta antara berbagai program kesehatan dan antara para pelaku dalam pembangunan kesehatan sendiri.
b. Manajemen upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dengan dukungan sistem informasi yang handal.

3) Peningkatan sumber daya kesehatan
a. Pengembangan tenaga kesehatan harus menunjang seluruh upaya pembangunan kesehatan dan diarahkan untuk menciptakan tenaga kesehatan yang ahli dan terampil sesuai pengembangan ilmu dan teknologi, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berpegang teguh pada pengabdian kepada bangsa dan negara serta etika profesi.
b. JPKM diselenggarakan sebagai upaya bersama antara masyarakat, swasta dan pemerintah untuk mengantisipasi biaya pelayanan kesehatan yang cenderung terus meningkat.
4) Peningkatan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi, makanan dan minuman serta alat kesehatan yang kurang bermutu.
a. Masyarakat memperoleh pelayanan pengo-batan yang rasional dan obat yang bermutu dengan harga yang terjangkau.
b. Pencegahan beredarnya produk obat, makanan dan minuman serta alat kesehatan yang kurang bermutu.
c. Perlindungan masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan dan kesalahgunaan obat, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya lainnya melalui pengendalian distribusi dan penggunaan yang ketat.
d. Kepedulian masyarakat terhadap resiko penggunaan sediaan farmasi, makanan dan minuman serta alat kesehatan melalui komunikasi, informasi dan edukasi.

5) Peningkatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi kesehatan
Penelitian dan pengembangan iptek dikembang-kan utamanya untuk mendukung Perumusan kebijaksanaan, membantu memecahkan masalah kesehatan dan mengatasi kendala dalam pelaksanaan program kesehatan.

e. Kinerja Pembangunan

1. Pencapaian Sasaran Pembangunan Kesehatan Tahun 2002.
a) Keberhasilan pembangunan kesehatan dapat dilihat pada beberapa indikator yang digunakan untuk memantau perkembangan derajat kesehatan seperti angka kematian bayi telah menurun, meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir dan status gizi masyarakat. Hal ini merupakan keberhasilan program imunisasi, perbaikan gizi, pencegahan diare, perbaikan kesehatan lingkungan, peningkatan sarana dan prasarana kesehatan kepada masyarakat.
b) Peningkatan sumberdaya manusia bidang kesehatan melalui pendidikan dalam dan luar negeri melalui anggaran APBN dan Pinjaman Luar Negeri (Proyek HPV dan Proyek FHN)

2. Penilaian Kinerja Pembangunan Kesehatan Tahun 2002

a) Masukan (input)

(1) Jumlah Puskesmas sebanyak 135 buah, Puskesmas pembantu sebanyak 668 buah, Puskesmas keliling (Pusling) Roda 4 sebanyak 87 buah, rumah sakit kelas B sebanyak 1 buah, Rumah sakit kelas C sebanyak 5 buah dan rumah sakit kelas D sebanyak 4 buah.
(2) Jumlah tenaga kesehatan yang berada di Kalimantan Tengah pada tahun 2002 sebanyak 5753 orang terdiri dari 45 orang Dokter Ahli, 226 Dokter Umum, 59 orang Dokter Gigi, 46 Orang Apoteker, Sarjana Perawatan 9 orang, 55 orang sarjana Kesehatan lainnya, 3138 orang paramedis Perawatan, 833 orang Paramedis Non Perawatan, 263 orang Paramedis Pembantu dan 1079 orang non medis.
(3) Sarana upaya kesehatan yang bersumber daya masyarakat terdiri dari 1991 Posyandu, 156 Pos Obat desa (POD), 780 Polindes, 14 Pos UKK, 238 Kelompok Dana Sehat, 1999 Taman Obat Keluarga.
(4) Pendidikan terdapat Politeknik Kesehatan dengan bidang Studi Keperawatan dan Kebidanan Departemen Kesehatan, Akademi Perawat sebanyak 3 buah (Pemda 2 buah, Swasta 1 buah), Akademi Gizi (Depkes) sebanyak 1 buah.
(5) Anggaran pembangunan sebesar Rp.4.947.350.000,00 berada di Dinas Kesehatan sebesar Rp. 1.147.350.000,00 dan di RSUD dr. Sylvanus sebesar Rp.3.800.000.000,00

b) Keluaran (Out Put).

(1) Jumlah penderita penyakit malaria di periksa dan diobati, 44.713 orang pada tahun 2000 dan pada tahun 2001 adalah 49.871 orang, tahun 2002 sebanyak 28,945 orang (tidak termasuk Kotim dan Kapuas) karena laporan belum masuk.
(2) Jumlah penderita dan kematian akibat Demam Berdarah Dengue, pada tahun 2001 tercatat 159 kasus mati 5 orang. Pada tahun 2002 sebanyak 47 kasus mati 2 orang.
(3) Jumlah gigitan anjing tersangka rabies, pada tahun 2002 jumlah penderita 376 orang dengan 4 kematian dan pada tahun 2001 sebanyak 298 orang, mati 3 orang.
(4) Jumlah penderita kusta pada tahun 2002 sama dengan tahun 2001 yaitu sebanyak 150 orang.
(5) Jumlah penderita HIV yang telah di temukan berasal dari warga lokalisasi di Kabupaten Kotawaringin Barat 5 orang Kotawaringin Timur 1 orang.
(6) Dari 4.663 PNS bidang kesehatan, 777 orang (16,66%) sudah dapat mening-katkan pendidikan.
(7) Pembinaan teknis program Kesehatan Ibu dan Anak, pembinaan 10 Rumah Sakit, pembinaan / perencanaan obat di Kabupaten/ Kota.
(8) Penilaian dokter dan paramedis pada Puskesmas dan Rumah Sakit, Dokter dan Paramedis Teladan.
(9) Rujukan Dokter ahli ke Puskesmas.
(10) Pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan sebanyak 1 paket untuk penanggulangan bencana dan Poskodal.
(11) Sosialisasi kabupaten sehat di 6 Kab/Kota.

c) Hasil Pembangunan.

1) Derajat Kesehatan
Indikator Derajat Kesehatan yang paling sensitif adalah angka kematian, umur harapan hidup dan angka kesakitan. Angka kematian dan angka harapan hidup hanya dapat diperoleh melalui survei sampai sekarang survei baru dilaksanakan di Tingkat Nasional.

(a) Angka Kematian/ Mortality.
 Angka Kematian Bayi (AKB) di propinsi Kalimantan Tengah mengalami penu-runan dari 58 pada tahun 1990 dan pada tahun 1995 menjadi 34 dan pada tahun 1997 menjadi 28,40 perseribu kelahiran hidup.(BPS, Proyeksi pendu-duk Indonesia per propinsi 1990 2005).
 Angka Kematian Balita (AKABA) (0-4 tahun) di Propinsi Kalimantan Tengah menurun dari 112 pada tahun 1992 menjadi 109 perseribu kelahiran hidup pada tahun 1993.
 Angka Kematian Ibu (AKI)/Maternal Mortality Rate pada tahun 1994 sebesar 390 turun menjadi 373 perseratus ribu kelahiran hidup pada tahun 1995.

(b) Angka harapan Hidup, di Kalimantan Tengah cenderung meningkat. Pada tahun 1992, sebesar 63,31 tahun 1997 sebesar 67,09 dan 2002 menjadi 71,12.(BPS, Proyeksi penduduk per propinsi 1990 2005).

(c) Kesakitan/murbidity karena penyakit menular.
 Malaria
Prevalensi penyakit ini di Kalimantan Tengah berfluktuasi antara 24 30 per 1000 penduduk.
 Demam Berdarah Dengue (DBD) .
Pada tahun 2001 tercatat 159 penderita kematian 5 orang. Tahun 2002 menjadi sebanyak 47 dan 2 orang meninggal.
 Rabies,
Kasus gigitan anjing tersangka rabies pada tahun 2001 tercatat 298 orang kematian 3 orang dan pada tahun 2002 tercatat 376 kasus dengan kematian 4 orang.
 Diare,
Angka kesakitan penyakit Diare pada tahun 2001 tercatat 13,25 perseribu penduduk, tahun 2002 turun 11,15 perseribu penduduk.
 TB Paru,
Penemuan penderita menular TB paru, pada tahun 2001 sebanyak 407 orang, diobati sebanyak 407, tingkat kesem-buhan 89,5%. Tahun 2002 ditemukan 485 orang diobatii sebanyak 485 orang tingkat kesembuhan belum dapat di evaluasi.
 Kusta
Prevalensi penyakit ini tetap 0,83 per 10.000 penduduk pada tahun 2001 dan 2002,
 ISPA
Insidens Pnemonia pada bayi usia dibawah 1 tahun 25 perseribu bayi pada tahun 2001 sedangkan tahun 2002 terlaporkan sebanyak 495 penderita atau 13 perseribu bayi. Pada anak balita (1-4 tahun) meningkat dari 3,75 perseribu anak balita pada tahun 2001, menjadi 6,2 perseribu balita pada tahun 2002.
 HIV/AIDS
Sejak bulan September 1977 sampai akhir tahun 2000 telah di temukan adanya penderita terinfeksi HIV positif sebanyak 26 orang dari 175 sampel darah yang di periksa (15,43%) keseluruhan penderita berasal dari anak buah kapal warga negara Thailand. Pada tahun 2001 tidak di temukan penderita HIV positif.
Tahun 2002 dari lokalisasi di Kotawaringin Barat di temukan 5 kasus di Kotawaringin Timur 1 kasus HIV positif.
 Polio,
Dari tahun 1994 sampai dengan sekarang di Propinsi Kalimantan Tengah tidak ditemukan penderita Polio. Dengan demikian diharapkan Kalimantan Tengah mendapat status bebas Polio.


2) Status Gizi.
Akibat krisis moneter yang berkepanjangan di Propinsi Kalimantan Tengah, telah berdampak munculnya kasus gizi buruk. Kasus gizi buruk pada tahun 1999 sebanyak 31 kasus dengan 10 kematian. Setelah dilakukan revitalisasi posyandu serta adanya dana JPS-BK untuk penanggulangan gizi buruk telah di temukan 112 kasus dengan 3 kematian pada tahun 2000. Pada tahun 2001 dilaporkan sebanyak 123 balita. Tahun 2002 dilaporkan sebanyak 938 balita mengalami gizi buruk.

3) Upaya Kesehatan.
a) Pelayanan kasehatan ibu dan anak.
 Pelayanan antenatal:
(K1) pada tahun 2002 sebesar 95,41 % K4 sebesar 79,19%. Pada tahun 2001 K1 sebesar (90,91%) dan K4 sebesar (72,91%).
 Pertolongan Persalinan,
Cakupan oleh tenaga kesehatan sampai dengan bulan September 2002 sebesar 48,8% atau sebanyak 21.207 ibu bersalin.
 Immunisasi TT2 ibu hamil.
Pemberian immunisasi TT2 ibu hamil pada tahun 2001 sebesar 81% dan pada tahun 2002 sebesar 81,3% dari sasaran 46,283 ibu hamil.
 Immunisasi bayi dan Anak.
Cakupan immunisasi bayi 91.10% pada tahun 2002, sedangkan pada 2001 cakupan DPT-1 94,90% Campak 89,66%.
 BBLR di Puskesmas.
Persentase bayi lahir denngan berat badan lahir rendah di Puskemas pada tahun 2001 sebesar 2,1% pada tahun 2002 adalah 1.21% atau sebanyak 459 bayi.

b) Pelayanan Rumah Sakit
 Pada tahun 2002 angka penggunaan tempat tidur (BOR) sebesar 40%.
 Persentase bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di Rumah Sakit di Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun sebesar (18,72%).

c) Sarana kesehatan
Sarana kesehatan pada tahun 2002 yaitu 135 Puskesmas 36 diantaranya Puskes-mas dan Tempat Tidur, 668 Pukesmas Pembantu, 43 Apotik, 87 Puskesmas Keliling roda empat, 780 Polindes 1 RS kelas B; 5 RS kelas C dan sisanya 4 RS kelas D

d) Tenaga Kesehatan
Dokter spesialis.
Pelayanan spesialis dasar pada tahun 2002 lengkap di Ibukota Kabupaten. Kecuali di RS ST Immanuddin P.Bun dan RS Kapuas pelayanan Spesialis penunjang (Anestesi) belum dimiliki oleh 5 RS klas C di 5 Kabupaten.
Dokter Umum.
Pemenuhan tenaga dokter di Puskesmas dari 135 Puskes-mas yang ada 10 diantaranya belum memiliki dokter.
Tenaga Bidan dari seluruh Desa di Kalimantan Tengah 1207 Desa telah terisi tenaga bidan (97,42%) dengan rincian 973 BDD dan 234 Bidan PNS.

e) Pendidikan tenaga kesehatan
 Sarana pendidikan, kesehatan milik pemerintah berupa Poliklinik Kesehatan dengan bidang Studi Keperawatan dan Kebidanan (Depkes) 2 Akademi Perawat (Kuala Kapuas dan Sampit), 1 1 Akademi Gizi (Palangka Raya) sedangkan yang di kelola Swasta 1 Akademi Perawat Eka Harap (Palangka Raya) mulai tahun 2002 Poltekkes Palangka Raya bekerjasama dengan Universitas Of Tecnology Sidney (Australia) dalam rangka peningkatan standar kualitas. Diharapkan lulusan Poltekkes Palangka Raya memiliki kualifikasi yang lebih baik.
 Peningkatan sumber daya manusia kesehatan melalui pendidikan dalam dan luar negeri.
Hingga tahun 2002 tenaga kese-hatan yang sudah lulus pendidikan dalam dan luar negeri: S2 LN 9 orang, S2 DN 41 orang, S1 DN 40, S1 LN 1 orang, D4 21 orang, D3 205 orang dan D1 1 orang dengan pembiayaan Proyek HP V dan FHN.
Tenaga kesehatan yang sedang mengikuti pendidikan S3 LN 1 orang, S3 DN 1 orang, S2 LN 3 orang, S2 DN 31 orang, S1 LN 2 orang S! DN 50 orang D4 13 Orang dan D3 sebanyak 322 orang dengan pembiayaan dari proyek HPV.

f) Obat,
Ketersediaan obat di Kalimantan Tengah pada tahun 2002 tidak ada masalah.

g) Realisasi Anggaran Pembangunan
Anggaran Pembangunan yang dialokasikan melalui 8 proyek termasuk RSU dr. Doris Sylvanus sebesar Rp.4.947.350.000,00. Penyerapan anggaran sampai dengan akhir tahun 2002 sebesar Rp. 4.752.137.033,00 atau sebesar 96,05% sedangkan kemajuan fisik proyek pembangunan sebesar 100%.

e. Permasalahan.

1) Belum adanya survey tentang derajat kesehatan untuk propinsi Kalimantan Tengah sehingga masih digunakan angka nasional.
2) Kurangnya pengetahuan dan kemampuan sumber daya manusia kesehatan dalam hal perencanaan kesehatan, khususnya pada Kabupaten Baru.
3) Jaminan mutu pelayanan kesehatan belum merata pada seluruh RS dan Puskesmas
4) Masih belum efisien pemanfaatan tempat tidur RS
5) Belum meratanya penyebaran tenaga kesehatan
6) Status gizi masyarakat belum merata baik dan ada kecenderungan peningkatan jumlah bayi dengan berat badan lahir rendah
7) Ada kecenderungan peningkatan penyakit hipertensi, stroke dan jantung akibat kegemukan dan kurangnya latihan olahraga.
8) Meningkatnya penyakit degeneratif karena peningkatan umur harapan hidup.
9) Masih banyaknya keluarga miskin menunjukkan belum memadainya kondisi sosial ekonomi masyarakat.

f. Upaya Mengatasi

1) Merencanakan dan melaksanakan survey di Kalimantan Tengah agar diperoleh angka derajat kesehatan yang spesifik untuk propinsi dan masing-masing kabupaten.
2) Melaksanakan pelatihan manajemen dan teknis untuk tenaga kesehatan di Kabupaten khususnya Kabupaten baru.
3) Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit melalui pelaksanaan Quality Assurance.
4) Menempatkan dokter spesialis di RSU Kabupaten dan pelatihan petugas pelayan Rumah Sakit.
5) Melaksanakan pilot project pola penempatan tenaga kesehatan khususnya untuk daerah terpencil melalui Health Project V (HP V).
6) Melaksanakan pengkajian mengenai faktor yang mempengaruhi bayi dengan berat badan lahir rendah.
7) Membuat program intervensi untuk mencegah dan mengatasi faktor resiko penyakit jantung koroner dan stroke.
8) Mengembangkan program pelayanan untuk masyarakat usia lanjut.
9) Mewujudkan sistem pembiayaan kesehatan dengan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM)

Lanjut Ke Tahun 2003 .....