|
|||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||
|
PERTERNAKAN/ KEHEWANAN |
|||||||||||||||||||||||||||||
|
a. PROGRAM TAHUN 2003 Program Tahun 2003 Sub Sektor Peternakan/ Kehewanan difokuskan/diprioritaskan pada : 1. Mengembangkan budidaya ternak (sapi potong, kerbau, kambing, domba, babi, ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging dan itik) a) Menyediakan bibit ternak unggul (sapi, kerbau, ayam buras) b) Pengendalian pemotongan ternak besar betina produktif c) Pengendalian penyakit reproduksi d) Intensifikasi pakan ternak e) Pelaksanaan Inseminasi Buatan 2. Meningkatkan Produktivitas Ternak melalui a) Inseminasi Buatan b) Kawin Silang 3. Pelaksanaan pengamanan ternak dan kesehatan hewan a) Pemberantasan dan pengendalian wabah penyakit b) Penyidikan dan pemberantasan penyakit hewan 4. Pengembangan sentra kawasan produksi peternakan dengan pola Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). 5. Pengembangan Kawasan Agropolitan. 6. Pengembangan Sentra Informasi Ayam Buras. 7. Pembinaan dan Pengembangan UPTD Laboratorium dan Klinik Hewan. 8. Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan bagi para peternak dan aparat pembina di lapangan. 9. Pengembangan pola kemitraan usaha. 10. Pengembangan kelembagaan usaha peternakan. 11. Pengembangan Aksebilitas Permodalan Peternak / Memfasilitasi Skim Kredit Ketahanan Pangan (KKP) dan Kredit Pengusaha Kecil Mikro (KKM) untuk budidaya ternak sapi potong, ayam buras dan itik. 12. Pengembangan sarana dan prasarana usaha peternakan. 13. Pengembangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan 14. Pengamanan produk (daging dan telur). b. KONDISI AWAL 2003 1. Populasi Ternak Populasi ternak Propinsi Kalimantan Tengah pada awal tahun 2003 seperti pada Tabel 1 berikut : Tabel 1 Populasi Ternak Awal Tahun 2003
2. Produksi Daging dan Telur Produksi daging dan telur awal tahun 2003 Propinsi Kalimantan Tengah seperti terlihat pada Tabel 2 berikut : Tabel 2 Produksi Daging dan Telur PropinsiKalimantan Tengah
3. Konsumsi Konsumsi protein hewani/kapita/hari penduduk Kalimantan Tengah pada awal tahun 2003 adalah 3,85 gram, yaitu berasal dari daging 2,88 gram dan telur 0,97 gram. 4. Penyerapan Tenaga Kerja Penyerapan tenaga kerja Sub Sektor Peternakan pada awal tahun 2003 seperti terlihat pada Tabel 3 berikut : Tabel 3 Penyerapan Tenaga Kerja Pada Awal Tahun 2003
5. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pada awal tahun 2003 Dinas Kehewanan Propinsi Kalimantan Tengah ditargetkan dapat memasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp.60.000.000,- (Enam Puluh Juta Rupiah). 6. Kredit Ketahanan Pangan (KKP) dan Kredit Pengusaha Kecil Mikro (KKM). Pada awal tahun 2003 pemanfaatan Kredit Ketahanan Pangan yang disalurkan melalui Bank Pembangunan Kalteng untuk budidaya ternak sapi potong, ayam buras dan itik sebesar Rp. 551.000.000,- (Lima Ratus Lima Puluh Satu Juta Rupiah) dan Kredit Pengusaha Kecil Mikro (KKM) belum ada. c. REALISASI YANG TELAH DICAPAI Realisasi yang telah dicapai selama tahun 2003 meliputi : 1. Populasi Ternak Selama tahun 2003 semua jenis ternak mengalami peningkatan populasi, yaitu : Sapi Potong 20%, Kerbau 15%, Kambing 10%, Domba 13%, Babi 50%, Ayam Buras 40%, Ayam Ras Petelur 10 %, Ayam Ras Pedaging 40 % dan Itik 25%. 2. Produksi Daging dan Telur Selama tahun 2003 produksi ternak berupa daging dan telur mengalami kenaikan sebagai berikut : Produksi daging naik 27,14 % dan produksi telur naik 34,81 %. 3. Konsumsi Selama tahun 2003 konsumsi daging mengalami peningkatan rata-rata 10,01 % dan telur meningkat rata-rata 40,21% dengan konsumsi protein hewani 4,53 gram/kapita/hari berasal dari 3,17 gram daging dan 1,36 gram telur. 4. Penyerapan Tenaga Kerja Tenaga kerja yang terserap di Sektor Peternakan tahun 2003 adalah 98.988 orang tenaga kerja atau naik 34,30 %. 5. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Realisasi PAD tahun 2003 yaitu sebesar Rp.60.000.000,- telah mencapai target yang telah ditentukan (Rp. 60.000.000,-) atau 100 %. 6. Kredit Ketahanan Pangan (KKP) dan Kredit Pengusaha Kecil Mikro (KKM). Realisasi KKP akhir tahun 2003 yang sudah disalurkan sebesar Rp. 1.590.060.000,- dan Kredit Pengusaha Kecil Mikro (KKM) yang sudah disalurkan sebesar Rp. 197.000.000,- Jumlah keseluruhan sebesar Rp. 1.787.060.000,- atau naik 224,33 %. Selain hal tersebut di atas hasil lain yang dicapai selama tahun 2003 adalah : Meningkatkan mutu pelayanan usaha peternakan, berkembangnya kelem-bagaan peternak dan meningkatnya pemberdayaan masyarakat pedesaan, berkembangnya agribisnis peternakan, usaha kecil dan menengah, meningkatnya ketahanan pangan serta kemudahan bagi masyarakat memperoleh informasi, peternak tidak mengeluh terhadap pelayanan yang diberikan dan peternak bisa memenuhi kebutuhan sarana produksi sendiri. d. PENILAIAN ANTARA PROGRAM DAN REALISASI SERTA ALASAN - ALASAN OBYEKTIF Dari gambaran di atas yaitu membandingkan keadaan awal tahun 2003 dan realisasi yang dicapai selama tahun 2003, setelah dilaksanakan Program Pembangunan Peternakan terlihat perbedaan nyata. Secara umum upaya pemberdayaan masyarakat melalui Sub Sektor Peternakan dapat lebih ditingkatkan dan dirasakan oleh masyarakat, sehingga mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam upaya mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Program yang dilaksanakan menunjukkan hasil yang positif, hal itu bisa dilihat dari beberapa indikator berikut ; Populasi ternak meningkat, dan tidak terganggu suplaynya, produksi daging dan telur meningkat, konsumsi protein hewani perkapita meningkat, penyerapan tenaga kerja meningkat dan PAD mencapai target yang telah ditetapkan serta pemanfaatan Kredit Ketahanan Pangan (KKP) dan Kredit Pengusaha Kecil Mikro (KKM) meningkat. e. PENILAIAN KINERJA BERDASARKAN TOLOK UKUR RENCANA STRATEGIS PADA BEBERAPA INDIKATOR. 1. Masukan Dana yang tersedia pada tahun anggaran 2003 untuk mendukung Program Peningkatan Ketahanan Pangan dan Program Pengembangan Agribisnis Peternakan melalui Proyek dan Rutin. a. Proyek Pembinaan dan Pengembangan Peternakan di Kalimantan Tengah. Jumlah anggaran : Rp.750.000.000,- (Tujuh Ratus Lima Puluh Juta Rupiah). b. Proyek Peningkatan Fasilitas dan Prasarana Fisik Dinas Kehewanan Propinsi Kalimantan Tengah. Jumlah anggaran Rp. 785.000.000,- (Tujuh Ratus Delapan Puluh Lima Juta Rupiah). c. Rutin Dinas Kehewanan Propinsi Kalimantan Tengah. Jumlah anggaran Rp. 2.104.400.000,- (Dua Milyar Seratus Empat Juta Empat Ratus Ribu Rupiah) 2. Keluaran a. Meningkatnya populasi ternak dalam rangka mendukung swasembada daging nasional di Kalimantan Tengah. b. Setiap tahun sebanyak 168 orang peternak dan 28 aparat pembina lapangan di Kalimantan Tengah da-pat ditingkatkan kemampuan dan keterampilannya. c. Terbentuknya beberapa kemitraan usaha peternakan yang tersebar di 14 Kabupaten / Kota sesuai dengan potensi wilayahnya. d. Terbentuknya model-model kelembagaan di pede-saan seperti Kelompok Usaha Bersama, PIR, dan Kelembagaan Pelayanan Terpadu, dan model kelembagaan lainnya. e. Realisasi penerimaan/pemanfaatan skim kredit oleh para peternak semakin meningkat. f. Menekan tingkat kematian ternak/hewan dan pengendalian pemotongan ternak besar betina produktif. g. Tersedianya Rumah Potong Hewan (RPH), Peralatan Inseminasi Buatan (IB), Peralatan Kesehatan Hewan, Mesin Pencampur Pakan, Sarana Pengolahan dan Pengawetan Hijauan Makanan Ternak (HMT), Peralatan Pasca Panen, Pos Kesehatan Hewan dan Pasar Hewan. h. Pengetahuan dan keterampilan para peternak meningkat dalam pembuatan telur asin, dendeng, abon daging, pengawetan kulit dan hasil olahan lainnya. 3. Hasil a. Meningkatkan Ketahanan Pangan Masyarakat, meningkatkan keanekaragaman produksi ternak, ketersediaan dan konsumsi pangan serta produksi olahan, mengembangkan kelembagaan pangan yang dibangun dari masyarakat sebagai kelembagaan usaha yang terintegrasi dalam satu kesatuan Sistem Ketahanan Pangan. b. Meningkatkan kulitas penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan yang disertai dengan peningkatan semangat kerja, disiplin kerja dan sikap profesional. c. Terjaminnya kelangsungan usaha peternakan rakyat. d. Terbentuknya “energi sosial” dalam masyarakat sehingga peternak lebih dinamis dan mempunyai motivasi yang lebih maju. e. Disalurkannya Kredit Ketahanan Pangan (KKP), Kredit Pengusaha Kecil Mikro (KKM), mengembang-kan lembaga keuangan pedesaan, bekerjasama dengan bank-bank umum dan lembaga keuangan non bank, untuk mengoptimalkan pemanfaatan skim-skim kredit/modal usaha bagi peternak. f. Peningkatan populasi dan produksi ternak yang dimiliki masyarakat/peternak. g. Peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana peternakan. h. Berkembangnya budaya industri dalam menghasil-kan produk peternakan dan olahannya di pedesaan. 4. Manfaat. a. Mempercepat pertumbuhan usaha peternakan pede-saan melalui pengalokasian teknologi, manajemen dan akses pasar secara kemitraan antara petani peternak dengan badan usaha/swasta. b. Membantu mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) Sektor Peternakan sesuai dengan keberadaan Sumber Daya Alam yang tersedia. c. Mendorong mantapnya pengembangan agribisnis peternakan dan menumbuhkan agroindustri peternakan. d. Mendorong perubahan pola pikir, sikap dan tindakan para peternak dari budidaya tradisional menjadi budidaya industri. e. Kekurangan modal yang merupakan kendala para peternak dalam berusaha sebagian besar dapat teratasi. f. Meningkatkan gairah para peternak dalam memelihara ternak yang dimilikinya. g. Mempercepat pertumbuhan usaha peternakan pedesaan melalui pengalokasian teknologi, manajemen dan akses pasar. h. Berkembangnya lapangan usaha dan lapangan kerja baru di bidang pengolahan dan pemasaran hasil peternakan. 5. Dampak. a. Meningkatnya sumber daya peternakan yang berkualitas, berkembangnya komoditi peternakan sesuai keberadaan sumber daya alam, meningkatnya efisiensi dan efektifitas pemanfaatan sarana dan prasarana peternakan. b. Meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan para peternak yang pada akhirnya dapat meningkatkan sumber daya manusia mereka. c. Pertumbuhan ekonomi di tingkat pedesaan semakin meningkat. d. Meningkatnya pendapatan peternak sebagai dampak bertambahnya usaha pengolahan dan pemasaran hasil peternakan di pedesaan. e. Meningkatnya kesejahteraan para peternak. f. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI DAN LANGKAH-LANGKAH YANG DILAKSANAKAN (RENCANA PENANGGULANGAN) a. Permasalahan Meskipun dari gambaran-gambaran hasil pem-bangunan selama tahun 2003 menunjukkan kinerja yang positif namun Pembangunan Kehewanan tidak lepas dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Adapun permasalahan-permasalahan dimaksud dianta-ranya adalah : 1. Kebutuhan akan daging sapi di Kalimantan Tengah adalah 1.290 ton atau setara dengan 8.600 ekor dan akan terus meningkat seiring dengan pening-katan pendapatan dan jumlah penduduk. Dari kebutuhan daging tersebut yang bisa dipenuhi oleh peternakan rakyat hanya sebesar 562,5 ton atau setara dengan 3.750 ekor, sedangkan kekurangan-nya 4.850 ekor didatangkan dari luar Kalimantan Tengah (Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Lampung dan Sulawesi Selatan). 2. Dengan tingkat produktivitas peternakan rakyat yang masih rendah yaitu angka kelahiran IB (Inseminasi Buatan) ditambah tanpa IB sebesar 13,40, dengan angka kematian 3,41% dan pemotongan 13,897 ekor tanpa ada pemasukan bakalan dan bibit, maka populasi ternak akan turun 21,15% per tahun dengan kata lain terjadi pengurasan ternak-ternak rakyat. 3. Sebagai akibat terbatasnya modal kerja, sebagian besar peternak terpaksa menjual ternak yang dimiliki dan belum saatnya untuk dijual/dipotong, akibatnya banyak dijumpai ternak-ternak betina produktif yang dipotong oleh masyarakat. 4. Dengan adanya era globalisasi perdagangan bebas tidak menutup kemungkinan adanya pencemaran penyakit hewan yang berasal dari luar propinsi/luar negeri dan dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Dalam mengantisipasi hal tersebut diperlukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya produk hasil ternak berupa daging, telur dan susu hygienis meliputi : Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). 5. Dengan keterbatasan sarana dan prasarana pada UPTD Laboratorium dan Klinik Hewan menyebabkan pelayanan kesehatan hewan belum optimal seperti diharapkan sehingga kasus Rabies belum bisa ditekan ketitik nol. 6. Usaha peternakan di Kalimantan Tengah sebagian besar masih berskala kecil (peternakan rakyat) dengan sumber daya manusia dan permodalan yang masih relatif terbatas, sehingga masih diperlukan pembinaan lebih lanjut yang berkesinambungan. b. Rencana Penanggulangan Untuk menghindari pengurasan ternak-ternak lokal dan untuk meningkatkan populasi ternak serta untuk mengurangi ketergantungan pasokan ternak dari daerah lain, salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah pemasukan bibit ternak, upaya ini memang sangat mendesak untuk dilaksanakan sehingga dapat meningkatkan populasi dan meningkatkan mutu genetik ternak lokal di masyarakat serta menggantikan populasi ternak yang hilang akibat kerusuhan sehingga azas kelestarian sumber daya ternak tetap terjaga. Kegiatan – kegiatan lain diantaranya adalah : 1. Intensifikasi Inseminasi Buatan (IB) 2. Pencegahan pemotongan ternak besar betina produktif. 3. Mengembangkan sistem usaha dan agribisnis yang berdaya saing dan berbasis sumber daya lokal/ pedesaan. 4. Meningkatkan sarana dan prasarana UPTD Laboratorium dan Klinik Hewan, sehingga pelaksanaan kegiatan dapat berjalan lancar. 5. Terus menerus melaksanakan pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan antara lain, penyuluhan tentang bahayanya penyakit Rabies (Anjing Gila) dan tetap melakukan vaksinasi dan eliminasi dengan cover rate 100 % sehingga kasus rabies bisa ditekan ke titik nol. 6. Memfasilitasi Program Kredit Ketahanan Pangan (KKP) dan Kredit Pengusaha Kecil Mikro (KKM) untuk budidaya ternak sapi potong, ayam buras dan itik. 7. Menjaring investor yang bergerak di bidang peternakan untuk menanamkan modalnya dan menjalin kemitraan dengan peternak di Kalimantan Tengah.
|
|||||||||||||||||||||||||||||