PERKEBUNAN
a. Program Tahun 2003

Sejalan dengan pola dasar pembangunan Propinsi Kalimantan Tengah berupaya mengentaskan kemiskinan melalui peningkatan pendapatan, memperluas kesempatan kerja, memperkokoh ekonomi daerah, maka program pembangunan perkebunan diarahkan untuk dapat mengembangkan usaha tani komersial yang berorientasi pasar, meningkatkan dan memperluas penganekaragaman hasil hasil pertanian/perkebunan guna memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, industri dalam negeri dan memperbesar ekspor, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, mendorong perluasan dan pemerataan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja.

Program pembangunan perkebunan terdiri dari program utama yaitu Program yang dirancang guna menunjang pembangunan Sub Sektor Perkebunan serta pembangunan sub sektor lain dan program penunjang yaitu program-program disektor lain yang diharapkan dapat dipadukan dengan program utama dalam rangka menunjang pembangunan perkebunan.

1) Program Utama meliputi : a) Program Pengembangan Agribisnis. b) Program Pengembangan Sistem Ketahanan Pangan.

2) Program Penunjang meliputi: a). Program Pengembangan dan pengelolaan hutan dan lahan. b). Program Pencegahan dan pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan. c). Program Penciptaan dan pengembangan kesem-patan kerja. d). Program fasilitasi penguatan pembiayaan/ permodalan. e). Program peningkatan efektivitas pengelolaan keuangan daerah. f). Program peningkatan penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri. g) Program penguatan institusi pasar.

Program utama dan program penunjang pembangunan perkebunan tersebut diatas diarahkan kepada kegiatan dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan tahun 2003 sebagai penjabaran Renstra dalam satu tahun, dengan sasaran sebagai berikut : a. Meningkatkan luas areal perkebunan di wilayah Kalimantan Tengah tahun 2003 menjadi 775.761 Ha. b. Meningkatkan hasil produksi komoditi perkebunan Kalimantan Tengah tahun 2003 menjadi 1.252.813 Ton. c. Meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan hingga mencapai 70% dari produktivitas potensial melalui intensifikasi, rehabilitasi, diversifikasi dan peremajaan. d. Meningkatkan pendapatan petani perkebunan sehingga mencapai US $ 1500-2000 per KK per tahun yang diikuti dengan peningkatan kualitas hidup petani dan masyarakat sekitar perkebunan. e. Peranan perkebunan dalam ekonomi daerah semakin meningkat dengan rata-rata kenaikan kontribusi perkebunan terhadap PDRB Kalimantan Tengah sebesar 2,8 % per tahun. f. Meningkatkan mutu hasil produk primer dan olahan hasil perkebunan sampai sesuai dengan standar mutu komoditi. g. Meningkatnya penerimaan daerah dan nilai ekspor hasil perkebunan. h. Meningkatkan efisiensi usaha perkebunan melalui optimalisasi pengelolaan usaha produksi, pemanfaatan lahan (milik/HGU) dan IPTEK, penggunaan tenaga kerja, modal, pengenaan pajak dan pungutan yang rasional serta, efisiensi pengolahan dan pemasaran sehingga hasil produksi perkebunan berdaya saing tinggi. i. Penumbuhan dan pengembangan Kelompok Usaha Bersama (KUB)/Koperasi komoditas perkebunan baru yang mandiri dan profesional sebanyak 25 unit dari yang direncanakan 129 unit pada akhir tahun 2005 serta terbinanya 4 (empat) asosiasi petani komoditas perkebunan. j. Tumbuh dan berkembangnya sentra sentra produksi atau KIMBUN sebanyak 10 unit pada tahun 2003 dari rencana 28 unit pada akhir tahun 2005.

Untuk merumuskan dan merencanakan kegiatan kegiatan yang terkait dengan program pembangunan tersebut diatas telah dilakukan rapat rapat koordinasi yang dikoordinir oleh Bappeda Propinsi dan rapat rapat teknis perkebunan se Kalimantan Tengah bulan Desember 2002 dan rapat teknis yang sama pada bulan Desember 2003 yang bertujuan untuk merumuskan program serta menilai dan mengevaluasi program kegiatan tahun 2003 yang telah ditetapkan. Disamping itu secara teratur 3 (tiga) bulan sekali dilakukan rapat kerja dengan Komisi B DPRD Kalimantan Tengah.

Untuk pelaksanaan program dan pencapaian sasaran pembangunan perkebunan diatas akan diusahakan penyediaan dana pembangunan dari APBD Propinsi dan APBN yang terkait terhadap kegiatan maupun wewenang propinsi di bidang perkebunan.

c. Kondisi Awal Tahun 2003

1) Luas Areal dan Produksi

Data awal tahun 2003 merupakan ekuivalen dengan data akhir tahun 2002 sehingga semua data diambil dari data tahun 2002 Luas areal tanaman perkebunan tahun 2002 adalah 718.101,13 Ha dengan produksi mencapai 1.447.609,44 ton.

2) Produktivitas

Produktivitas tanaman perkebunan pada tahun 2002 rata rata mencapai 52,50% dari produktivitas potensial.

3) Pendapatan Petani

Pendapatan petani yang bergerak dalam bidang perkebunan rata rata sebesar Rp. 6.282.136, (US $ 698) pertahun, hal ini dihitung dari berbagai jenis komoditi perkebunan (secara khusus tanaman kelapa dan karet) dan diperhitungkan harga yang berlaku pada tahun 2002. 4) Peranan perkebunan dalam perekonomian daerah dihitung dari kenaikan kontribusi perkebunan terhadap PDRB Kalimantan Tengah pada tahun 1998 terhadap tahun 1996 yaitu terjadi kenaikan besar 3,06% dan tahun terhadap tahun 2002 kenaikan sebesar 1,60%.

5) Mutu hasil komoditas perkebunan saat sekarang masih jauh di bawah standar seperti karet, sebagian besar masih memproduksi slab tebal, buah kelapa yang menghasilkan minyak kelapa banyak asam lemak bebas yang tinggi.

6) Penerimaan Daerah (PAD) pada tahun 2002 sebesar Rp. 7.550.000,- dan nilai ekspor US $ 11.015.862,30 per tahun.

7) Keadaan tenaga kerja yang bergerak pada bidang sub sektor perkebunan pada tahun 200 2 adalah : Petani kebun 242.240 KK. Tenaga kerja pada perusahaan perkebunan 18.427 KK.

8) Kelompok Usaha Bersama (Koperasi yang sudah berkembang terbentuk di UPP sampai akhir 2003;sebanyak 5 Unit dan asosiasi petani berbasis komoditi berjumlah 1 (satu) buah yaitu APKARINDO (Asosiasi Petani Karet Indonesia) tingkat propinsi dan 4 (empat) buah di Kabupaten.

9) Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN) adalah kawasan pengembangan perkebunan pada sentra-sentra produksi perkebunan diselenggarakan dengan asas kebersamaan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat petani pekebun yang selaras berkeadilan menjamin pemantapan usaha yang harmonis dan berkesinambungan. Pelaksanaan pendataan KIMBUN pada tahun 2002 telah menetapkan bahwa 28 buah KIMBUN yang harus dibina, dan pada masa yang akan datang merupakan suatu keharusan untuk pendataan lebih lengkap.

Pada tahun 2003 tersedia dana APBD Propinsi Kalimantan Tengah untuk Dinas/Proyek Perkebunan yang meliputi dana rutin sebesar Rp. 3.376.275.000,- dengan realisasi (SPJ) Rp. 2.495.951.986,83 (73,92% dari PAGU). Proyek Pembangunan Perkebunan sebesar Rp. 1.615.000.000,- dengan realisasi sebesar Rp.1.445.061.600 ( 89,48 dari Pagu).

Dengan demikian total dana APBD sebesar Rp.4.991.275.000,- dan total realisasi sebesar Rp.3.941.013.586,83 (78,96% dari total Dana). Disamping itu sebagian diperoleh dana APBN untuk kegiatan kegiatan yang menjadi wewenang Propinsi di bidang perkebunan.

d. Realisasi

1) Luas Areal dan Produksi

Sampai dengan Oktober tahun 2003, luas areal perkebunan mencapai 723.163,83 Ha meningkat dibandingkan dengan luas areal tahun 2002 seluas 718.101,13 ha atau terjadi kenaikan sebesar 0,71%, dan jika dibandingkan dengan target/proyeksi Renstra Perkebunan tahun 2003 seluas 775.671 Ha, maka pencapaian target 93,23%. Hal ini disebabkan karena sangat kecilnya pertambahan luas areal Perkebunan Besar Swasta (PBS) sehubungan dengan kondisi perekonomian dan krisis moneter sejak tahun 1997. Produksi perkebunan pada tahun 2003, mencapai 1.115.854,57 ton, bila dibandingkan dengan produksi tahun 2002 sebesar 1.447.609,44 ton terlihat menurun sebanyak 0,77 %. Bila dibandingkan dengan proyeksi Renstra tahun 2003 sebesar 1.252.813 ton, terlampaui dari target sebesar 15,55%. Hal ini disebabkan PBS telah mulai berproduksi khususnya kelapa sawit.

2) Produktivitas

Produktivitas tanaman perkebunan pada tahun 2003 sudah mencapai rata rata 52,50 % dari produktivitas potensial.

3) Pendapatan Petani

Petani yang bergerak dalam bidang perkebunan pada akhir 2003 sudah mencapai rata rata sebesar Rp. 6.282.136 (US $ 689) dihitung dari pendapatan petani kelapa dan karet dengan harga berlaku pada tahun 2003.

4) Peranan perkebunan dalam perekonomian daerah dihitung dari kenaikan kontribusi perkebunan terhadap PDRB Kalimantan Tengah pada tahun 2002 terhadap tahun 2001 dengan kenaikan sebesar 3,70%, sedangkan dalam sasaran direncanakan naik rata rata pertahun 2,8%.

5) Mutu hasil komoditas perkebunan terutama karet saat sekarang sudah ada kemajuan dimana petani sudah mampu menghasilkan slab tipis karena adanya UPH karet sebanyak 615 buah dan yang bisa operasional 386 buah. Sedang komoditas lain seperti kelapa, lada, kopi, dan kelapa sawit masih terbatas mutu di tingkat petani/tradisional. Sedangkan pengolahan TBS kelapa sawit menjadi CPO berupa pabrik kelapa sawit (PKS) sampai akhir tahun 2002 telah terbangun/operasional 15 Unit PKS dengan kapasitas total 745 Ton TBS/Jam dan secara khusus Tahun 2003 dibangun 7 Unit PKS dengan kapasitas 305 Ton TBS/Jam.

6) Penerimaan daerah pada tahun 2003 ditargetkan sebesar Rp. 7.5000.000,- dan dapat disetor mencapai Rp. 7.600.000,- (101,33%) dari target.

7) Keterlibatan tenaga kerja dalam bidang perkebunan pada tahun 2003 menunjukkan masih banyak masyarakat yang terlibat dalam kegiatan perkembangan sebagai berikut : - Petani yang terlibat sebagai pemilik kebun berjumlah 242.240 KK. - Tenaga yang terlibat sebagai pekerja (tidak memiliki kebun) berjumlah 18.247 KK.

8) Kelompok usaha bersama / Koperasi yang sudah berkembang yang berada di UPP sampai tahun 2003; sebanyak 5 Unit dan asosiasi petani berbasis komoditi sudah berdiri di Kalimantan Tengah sampai tahun 2003 berjumlah 4 (empat) buah yaitu : APKARINDO (Asosiasi Petani Karet Indonesia) 1 (satu) di Propinsi dan 6 (enam) buah di Kabupaten, APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) 1 (satu) di Propinsi dan 3 (tiga) di Kabupaten, APKI (Asosiasi Petani Kelapa Indonesia) 2 (dua) buah di Kabupaten, APLI (Asosiasi Petani Lada Indonesia) I (satu) di Propinsi dan 1(satu) di Kabupaten.

9) Pelaksanaan pendataan KIMBUN pada tahun 2001 telah menetapkan bahwa 28 buah KIMBUN yang harus dibina sampai akhir Tahun 2005, dan target tahun 2003 sebanyak 10 buah dan sudah terealisasi 14 buah KIMBUN (140%).

Anggaran pembangunan perkebunan tahun 2003 yang berasal dari Sumber Dana APBD Propinsi Kalimantan Tengah berdasarkan Perda No. 11 Tahun 2001 tanggal 12 Desember 2001 tentang Penetapan APBD Propinsi Kalimantan Tengah Tahun Anggaran 2003 untuk Dinas Perkebunan Propinsi Kalimantan Tengah meliputi : Dana Rutin Pagu Murni berjumlah : Rp. 3.376.275.000,- Realisasi : Rp. 2.495.951.986,83 (73,92%) Dana Pembangunan/Proyek (Satu Proyek) Pagu Murni berjumlah : Rp. 1.615.000.000,- Realisasi : Rp. 1.445.061.600,- (89,48%)

Disamping dana kegiatan dimaksud, Dinas Perkebunan juga melaksanakan kegiatan pusat yang melekat atau wewenang pada Dinas Perkebunan dalam bentuk Dana APBN (Dekonsentrasi).

e. Penilaian antara Program dan Realisasi

1) Luas areal perkebunan mencapai peningkatan sebesar 0,99% terutama pada tanaman kelapa sawit dan tanaman kelapa, sedangkan produksi menurun mencapai 0,77% terutama pada tanaman kelapa sawit kelapa dan karet hal tersebut disebabkan tanaman yang muda (tanaman belum menghasilkan) belum berproduksi, disertai pula dengan adanya pemeliharaan yang lebih intensif oleh petani maupun oleh Perkebunan Besar swasta.

2) Produktivitas tanaman perkebunan pada tahun 2003 sama dibandingkan dengan tahun 2002 yang diperhitungkan dari produktivitas potensial, hal ini disebabkan petani sudah mulai memahami manfaat pemeliharaan kebun serta penggunaan pupuk sebagai upaya peningkatan produksi tanaman.

3) Pendapatan Petani dibidang perkebunan pada saat sekarang masih kadang kadang turun naik, tergantung dengan harga produk perkebunan di pasar, perbandingan tahun 2003 dengan tahun 20O2 bahwa pendapatan petani tidak ada kenaikan yang diperhitungkan pada satuan satu hektar (Ha) dan secara nyata bahwa petani yang memiliki kebun seluas satu hektar pendapatannya belum mampu mencapai sebesar US $ 1.500 2.000 per KK per tahun.

4) Peranan perkebunan dalam perekonomian daerah cukup baik terlihat bahwa adanya perbedaan yang nyata pada perhitungan kontribusi kenaikan perkebunan terhadap PDRB Kalimantan Tengah pada dua tahun terakhir. Kenaikan tersebut rata rata; 3,70% (tahun 2001 tahun 2002).

5) Dengan adanya kegiatan pembangunan UPH karet maka untuk mutu karet yang dihasilkan oleh petani dapat ditingkatkan yaitu dari mutu slab tebal menjadi mutu slab tipis, karena UPH karet sebanyak 615 buah dapat operasi 386 buah. Sedangkan komoditas lain seperti kelapa, kelapa sawit lada dan kopi masih terbatas pada pengolahan secara tradisional.

6) Penerimaan Daerah (PAD) Tahun 2003 sudah melampaui target (101), namun dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2003 belum ada perubahan/perbedaan yang nyata, karena hal tersebut masih mengharapkan hasil penjualan dari produksi tanaman perkebunan yang berasal dari Kebun Produksi Pundu dan pada tahun yang akan datang Kebun Produksi Pundu akan diadakan penilaian ulang agar mampu memperoleh peningkatan PAD dari hasil kebun tersebut dari sektor Perkebunan yang dilakukan oleh Pengusaha Perkebunan, hampir semua retribusi ataupun pajak ditarik oleh unit kerja lain, antara lain ; PBB, BPHTB/HGU, pajak penghasilan dan lainnya.

7) Luas perkebunan rakyat khusus komoditi kelapa, karet lada dan lain lain banyak diusahakan oleh masyarakat, oleh sebab itu masyarakat petani pemilik kebun tiap tahun semakin bertambah dengan adanya bertambah angkatan kerja bidang pertanian (khusus perkebunan) dapat mendorong pembukaan areal kebun baru.. Angkatan kerja juga dapat tertampung pada Perkebunan Besar Swasta (PBS/PBN) terutama pada perkebunan kelapa sawit.

8) Untuk penanganan pemasaran hasil petani diperlukan suatu kebersamaan maka telah disosialisasikan Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang ditumbuh kembangkan di UPP pada saat sekarang berjumlah 5 unit tetapi masih belum berfungsi secara baik. Asosiasi petani berbasis komoditi sudah berdiri di Kalimantan Tengah berjumlah 4 (empat) buah yaitu APKARINDO (Asosiasi Petani Karet Indonesia) I (satu) buah di Propinsi dan 6 (enam) buah di Kabupaten, APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) 1 (satu) di Propinsi dan 3 (tiga) di Kabupaten, APKI (Asosiasi Petani Kelapa Indonesia) 2 (dua) buah di Kabupaten, APLI (Asosiasi Petani Lada Indonesia) 1 (satu) buah di Propinsi dan 1 (satu) buah di Kabupaten.

9) Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN) sebanyak 28 buah sampai akhir tahun 2005 nantinya merupakan kawasan yang melaksanakan pengembangan agribisnis dimaksud untuk mengoperasionalkan pembangunan sistem dan usaha usaha agribisnis yang mengarahkan agar seluruh sub sistem agribisnis dapat secara produktif dan efisien menghasilkan berbagai produk pertanian yang memiliki nilai tambah dan daya saing yang tinggi di pasar domestik maupun pasar internasional. Pembinaan dan penumbuhan KIMBUN dilakukan secara bertahap sesuai kondisi di lapangan dan Tahun 2003 sudah dibina /V Unit KIMBUN dari rencana 10 Unit KIMBUN. Unit KIMBUN ini sebagian besar merupakan sentra sentra produksi dan atau eks eks kegiatan Proyek serta Daerah-Daerah/lokasi sekitar PBS/PIR Bun KKPA.

Anggaran Pembangunan Perkebunan tahun 2003 sebesar Rp. 1.615.000.000,- merupakan dana pembangunan yang bersumber dari APBD, ditambah dengan Anggaran Rutin sebesar Rp. 3.376.275.000,- serta berasal dari APBN merupakan kegiatan pusat yang melekat pada Dinas Perkebunan Tahun 2003.

f. Permasalahan dan Penanggulangan

1) Petani kebun pada umumnya memilih lahan kebun berkisar antara 2 3 Ha, secara nyata di lapangan bahwa kepernilikan lahan kebun seluas 2 3 Ha tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan maksimal keluarga petani dengan 2 (dua) orang anak, oleh sebab itu diupayakan setiap KK petani memiliki lahan pertanian minimal seluas 5 Ha dengan mengusahakan diversifikasi komoditi atau diversifikasi usaha, guna peningkatan pendapatan keluarga petani.

2) Kelemahan petani dalam posisi pemasaran hasil, akibat selalu bergantung kepada konsumen (pembeli), oleh sebab itu diharapkan petani membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) / Koperasi yang dapat mendorong petani pada posisi penawaran yang seimbang dengan posisi pembeli.

3) Selain posisi penawaran yang lemah, petani juga dihadapkan pada keadaan lemah dalam permodalan, kurang menerapkan teknologi produksi panen, maka salah satu cara untuk meningkatkan posisi petani tersebut diperlukan kemitraan antara petani dengan pengusaha perkebunan yang saling menguntungkan.

4) Akses petani atau usahatani terhadap kepemilikan modal atau Bank sangat terbatas. Upaya yang akan dilakukan adalah membina dan mengembangkan kelembagaan petani dengan mendorong upaya upaya untuk membentuk/membangun usaha ekonomi rumah tangga yang berbasis usaha perkebunan.

5) Industri hilir hasil perkebunan masih banyak diolah diluar daerah yang mengakibatkan Kalimantan Tengah sebagai pemasok bahan baku industri daerah lain. Upaya pendirian industri hilir di Kalimantan Tengah secara bertahap dilakukan dengan cara realokasi pabrikan, pemberian pelayanan yang baik serta antisipati produk bahan baku di Kalimantan Tengah seperti karet (slab/latek), CPO (kelapa sawit), kelapa (kopra/kelapa butir).

6) Penanganan PKS (Pabrik Kelapa Sawit) untuk mengolah TBS (Tandan Buah Segar) menjadi CPO pada kebun kebun perusahaan perkebunan swasta yang arealnya belum mencapai luasan minimal. Pendirian unit PKS terlambat akibat adanya krisis ekonomi pada tahun 1997 (Luas kebun tidak bertambah). Pendirian pabrik oleh investor baru dengan melakukan kerjasama dengan pemilik kebun (konsorsium). Perlu dilakukan promosi dan pengkajian di lapangan.

MATRIK

Lampiran Badan/Dinas/Unit Dinas Perkebunan Propinsi Kalimantan Tengah

 

NO

PROGRAM / PROYEK

TARGET

REALISASI

MASALAH

UPAYA PEMECAHAN

KET

1

2

3

4

5

6

7

1

KIMBUN DAN KETAHANAN PANGAN

a. Berdasarkan Renstra luas areal perkebunan tahun 2003 775.761 Ha. Hasil Produksi komoditi perkebunan 1.252.813 ton

-  Kondisi awal tahun 2003 sama dengan data akhir tahun 2002

 

1.   Luas Areal tanaman perkebunan 718.101,13 Ha

 

 

 

 

 

 

2.   Produksi 1.447.609, 44 ton

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.  Luas areal sampai dengan bulan Oktober 2003 berdasarkan renstra terealisasi sebesar 93,22% dan realisasi lapangan sebesar 723.163,83 Ha (100,70%)

 

2.  Produksi tanaman perkebunan sebesar 89,06% dari target renstra dan realisasi lapangan sebesar 1.115.854,57 ton (77,08%).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-  Pembukaan lahan baru masih ada penambahan, sehingga berpengaruh pada pencapaian luas areal

 

 

-  Dengan masih dilaksana-kannya perluasan dan pendataan tanaman yang menghasilkan sehingga produksi masih belum tercapai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-   Kembali menggalak-kan para petani/ pekebun untuk kembali berusaha di sektor perkebunan melalui program/ proyek maupun swadaya masyarakat

 

 

-   Mengadakan himbauan dan penyuluhan untuk mening-katkan produksi tanaman perkebunan melalui penggunaan paket teknologi, sarana dan prasarana perkebunan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-  Pendataan masih terus berlang-sung hingga pada akhir tahun 2003

 

 

1

2

3

4

5

6

7

 

 

3. Produktivitas rata-rata 70% dari produktivi-tas potensial

 

 

 

 

 

4. Pendapatan petani rata-rata US$ 1.500-2.000 per KK per tahun

 

 

 

5. Peningkatan mutu melalui UPH dan PKS

 

   

3. Produktivitas rata-rata tahun 2003 sudah mencapai 52,50% dari produktivitas potensial

 

 

 

 

4. Mencapai rata-rata sebesar Rp. 6.282.136 (US$ 689)

 

 

 

 

5. Khusus karet sudah dalam bentuk slab tipis UPH karet sebanyak 615 buah dan yang bisa idoperasionalkan 386 buah. PKS ter-bangun/operasional 15 unit dengan kapasitas 745 ton TBS/jam secara khusus tahun 2002 s/d tahun 2003 sudah dibangun 7 unit PKS dengan kapasitas 305 ton TBS/ jam

 

 

 

-  Penggunaan teknolo-gi terutama sekali kurangnya penggu-naan bibit/benih unggul, disamping pupuk dan obat-obatan lainnya

 

-  Pendapatan petani belum mencapai tar-get akibat produksi yang masih rendah dan pengaruh  moneter

 

-  Jumlah UPH dan PKS masih belum men-cukupi disamping itu penyebarannya tidak merata

 

 

 

-  Diperlukan lagi be-berapa UPH dan PKS dengan kapasitas yang lebih tinggi

-  Melakukan kerjasama dengan sumber-sumber benih baik melalui proyek/program maupun swadaya masyarakat

 

 

 

-  Memfasilitasi penggunaan kerjasama dengan pihak swasta dalam menunjang peng-gunaan teknologi yang lebih baik

 

-  Melakukan kerjasama dengan lembaga swasta yang saling menguntung-kan

 

 

 

 

-  Memfasilitasi kerjasama dengan lembaga permodalan

 

 

1

2

3

4

5

6

7

 

 

6.  Kontribusi PDRB tahun 2000 terhadap tahun 1999, sebesar 3,06% dan tahun 2000 terhadap 2001 sebesar 1,60%

 

 

 

 

7.  Penerimaan Daerah (PAD) sebesar Rp.7.500.000,- dan nilai ekspor 11.015.862,30 per tahun

 

8.  Tenaga kerja :

-   Petani kebun 294.725 KK

-   Tenaga kerja pada perusahaan perke-bunan 18.427 KK

 

 

 

9.  Kelompok usaha ber-sama / koperasi di UPP sampai akhir 2002 sebanyak 5 unit, asosiasi petani berbasis komoditi 1 buah yaitu APKARINDO (Asosiasi Petani Karet Indonesia tingkat propinsi dan 4 buah di kabupaten

 

6.   Peranan sektor perke-bunan dalam pereko-nomian daerah di-hitung dari kenaikan kontribusinya terha-dap PDRB tahun 2002 terha-dap tahun 2001 sebesar 3,70% dari 2,8% yang ditargetkan

 

7.   Penerimaan daerah dan dapat disetor mencapai Rp.7.600.000,- (101,33%)

 

 

 

8.   Tenaga Kerja :

-  Petani kebun sebanyak 242.240

-  Tenaga kerja yang terlibat sebagai pe-kerja (tidak memiliki kebun sebesar 18.427 KK

 

9.   Kelompok usaha bersama / koperasi di UPP tahun 2003 sebanyak 5 (lima) unit. Dan asosiasi petani berbasis komoditi tahun 2002 berjumlah 4 (empat) buah yaitu : APKARINDO (Asosiasi Petani Karet Indonesia) 1 (satu) buah di Propinsi

-  Tidak ada permasalahan

 

 

 

 

 

 

 

 

-  Penerimaan daerah tidak ada masalah dan bahkan melampaui target

 

 

 

-  Adanya pekerjaan lain di luar usaha perkebunan yang bersifat sementara maupun permanen, sehingga target belum tercapai

 

 

-  Kelompok usaha ber-sama/koperasi masih belum dimanajemen dengan baik, sehingga berakibat para petani / pekebun masih kurang antusias bergabung

-  Memfasilitasi berbagai kemudahan dalam berusaha di sektor perkebunan melalui penetapan Perda di bidang perkebunan

 

 

 

 

-  Peningkatan pengelola-an dalam dari usaha perkebunan secara lebih profesional

 

 

 

-  Memfasilitasi petani/ pekebun agar lebih giat dalam berusaha di bidang perkebunan, mengingat sektor ini cukup mampu dalam menopang kehidup-an keluarga petani/ pekebun

 

-  Memfasilitasi kegiatan dan pembinaan kelom-pok usaha bersama dan mengaktifkan asosiasi-asosiasi melalui pem-binaan berjenjang serta meningkatkan peran serta mereka dalam usaha perkebunan

 

1

2

3

4

5

6

7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

APBD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10. Pendataan kimbun sejak tahun 2001 ditetapkan 28 buah hingga tahun 2005 dan untuk tahun 2003 sebanyak 10 buah

 

 

 

 

11. APBD Dinas/Pem-bangunan Tahun 2002

- Dana rutin PAGU (Murni + ABT) berjumlah Rp.3.325.300.000,-

- Proyek pembangunan perkebunan Rp.1.650.000.000,-

 

 

     dan 6 (enam) di kabupaten. APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) 1 (satu) di propinsi dan 3 (tiga) di kabupaten, APKI (Asosiasi Petani Kelapa Indonesia) 2 (dua) buah di kabupaten, APLI (Asosiasi Petani Lada Indonesia) 1 (satu) buah di propinsi dan 1 (satu) buah di kabupaten

 

10. Telah terbentuk 14 buah kimbun atau (140%)

 

 

 

 

 

 

 

11. Untuk APBD

- Rutin (SPJ) Rp.   3.053.830.100,-

   (94,81 % dari PAGU)

- Pembangunan perkebunan Rp. 1.628.724.000,- (98,71% dari PAGU)

- Proyek peningkatan prasarana fisik  ( --% dari PAGU)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-  Tidak ada permasa-lahan yang terjadi, hal ini dapat dilihat dari prosentasenya cukup tinggi dan diharapkan pada tahun 2005 dapat dicapai 28 buah kimbun

 

-  Tidak ada permasa-lahan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-  Penetapan areal kimbun yang menjadi sasaran pelaksanaan program

 

-  Membantu dan memfasilitasi sarana prasarana pendukung

 

 

 

 

1

2

3

4

5

6

7

 

 

- Proyek peningkatan prasarana fisik sebesar Rp.

- Jumlah total APBD sebesar Rp.

 

 

12. Anggaran pembangun-an perkebunan tahun 2003 yang berasal dari APBD Propinsi Kalimantan Tengah berdasarkan Perda No. 11 Tahun 2002 tanggal 12-12-2001 tentang APBD Propinsi Kalimantan Tengah sebesar Rp.4.991.275.000,-

 

Terdiri dari :

Dana Rutin :

-    PAGU Murni berjumlah Rp. 3.376.275.000,-

 

Dana Pembangunan  / Proyek (satu proyek)

-    PAGU Murni berjumlah Rp. 1.615.000.000,-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rp. 4.991.275.000,-

                             (100%)

 

 

 

Rp. 2.495.591.986,83

                        (73,92%)

 

 

 

Rp.  1.445.061.600,-

(89,48%)